ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT I
“Wah, kau benar-benar keras kepala.” Tahu rencana keduanya gagal dan usahanya sia-sia melawan Dianna yang setinggi 168 cm ini, maka ia pun tidak punya pilihan lain selain menggunakan cara terakhir. Ya, gulat. Adu kekuatan fisik dan ketangkasan ini adalah cara paling adil untuk menentukan pemenang. Jadi tanpa basa-basi, ia langsung melepas jas seragamnya, menggulung lengan seragamnya, melonggarkan dasi pitanya, dan melakukan peregangan tangan sebelum siap menerkam.
“Aakk..!” Dianna menjerit, kesakitan saat Karinn berhasil mengunci kedua tangannya di belakang tubuhnya dengan sekali serangan.
“Kau sudah kalah. Serahkan uangnya padaku!” Karinn memicingkan mata. Rupanya Dianna tak menyerah semudah yang dipikirkannya, justru gadis itu mempertahankan uang yang disembunyikannya di balik kepalan tangannya dengan sangat erat.
Akhirnya dalam tiga detik, pergulatan pun benar-benar tidak dapat terelakkan. Keduanya bergulat sungguhan di lantai kantin dan saling menyerang baik menggunakan senjata seadanya maupun dengan tangan kosong bermodalkan tekad.
Ah, pokoknya, sejak dimulainya perseteruan ini, Karinn tampak mendominasi. Dia pandai dalam membaca setiap gerakan Dianna, juga paham bahwa si lawannya itu selalu mencari kesempatan untuk menyerang tangan kirinya lebih dulu guna melumpuhkan sumber kekuatannya. Namun kesalahannya adalah dia meremehkan Karinn tanpa tahu jika ia sudah menggigit, maka tidak akan mudah untuk dilepaskan. Jadi pada serangan terakhirnya, Dianna pun memutuskan untuk kabur melarikan diri. Tentu uang si korban juga dibawa pergi dan masih dipertahankan dalam kepalan tangannya.
“Kau ... benar-benar gila. Hahh.. Hahh..” Napas Dianna tersengal-sengal. Dia menyodorkan telapak tangannya, meminta Karinn yang berjarak lima meter darinya tidak bangkit dan mengejarnya lagi. “Sial, rasanya seperti aku akan mati. Hahh.. Hahh..”
Karinn tersenyum menyeringai, lalu berkata, “Bagaimana? Kau menyerah?”
Karinn bersungut-sungut setiap kali menyendok mi pedas kesukaannya yang mendadak jadi tidak berselera. Enam teman sekelasnya yang duduk di seberangnya, sibuk menyantap makan siangnya dengan kepala tertunduk, tanpa obrolan atau topik hangat membicarakan si anu, dan tanpa kenikmatan di depan menu makan siangnya sedikit pun. Atmosfer yang mengelilingi meja ini tampak tegang, mencekam, dan penuh sensasi mengerikan.
Karinn membanting sumpitnya, lalu bangkit dengan gerakan kasar. Dia merajuk. Uang bernominal cukup besar yang tadi diperebutkannya dengan Dianna, lenyap dalam sekedip mata. Di akhir aksi mengejar si pelaku, sebenarnya sudah tampak bahwa kemenangan akan berpihak pada dirinya. Namun begitu Dianna melepas kepalan tangannya untuk menyerahkan uang miliknya, entah dari mana asalnya tiba-tiba semilir angin sepoi bertiup. Bahkan belum sempat Karinn memulai aba-aba untuk mengambil kembali uangnya, selembar kertas tipis itu sudah lebih dulu melayang di udara, terbang bebas bersama angin.
Tentu kalau sudah begini keadaannya tidak ada yang bisa disalahkan. Karinn tahu itu, dia tidak bisa mengamuk pada Dianna yang jahil, juga tidak bisa menyalahkan dirinya yang tidak gesit. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah ... merelakannya sambil menahan kesal. Kesal yang sangat membara.
“Kau terlambat. Rasa anggur baru saja terjual habis.” Bibi Tera tersenyum kepadanya, berujar perihal minuman dingin yang sering dibelinya.
Di depan lemari pendingin, Karinn menatap nanar pantulan dirinya yang berwajah kusut di kaca, tidak memberi respons atas ucapan Bibi Tera barusan. Dia tahu walaupun rasa kesukaannya tersedia pun dia bahkan tidak dapat membelinya. Jadi tujuannya datang ke sini hanyalah untuk mengasihani dirinya yang baru saja tertimpa kesialan.
“Ah, kebetulan ada gadis yang salah memesan jumlah minuman. Kau bisa mengambilnya jika mau.” Bibi Tera tersenyum canggung, kemudian menyodorkan segelas susu kocok rasa stroberi.
Namun reaksi Karinn di luar dugaan. Dia cuma melirik sekilas tanpa mengucapkan sepatah kata walau bermaksud menolaknya.
“Berikan ini padaku.” Seseorang muncul dari arah belakang, memotong antrean lalu mengambil gelas minuman tersebut. Gerakan tangannya yang cepat membawa atensi Karinn untuk mendongakkan kepalanya, melihat seorang wanita yang tak lain adalah,
“Bu Kaila.”
Si pemilik nama tersenyum, menunjukkan garis matanya yang melengkung di bawah alisnya. “Sebagai gantinya, ambillah ini.” Dia menyodorkan segelas es latte dengan sedotan yang masih tersegel di dalam kemasan, lalu berbalik badan dan berlalu dari hadapannya.
Kejadian singkat ini tentu membuat Karinn sulit mencerna situasi. Dia memikirkan banyak hal. Namun, tidak. Yang dimaksudnya bukanlah tentang minuman dingin itu, melainkan tindakan Bu Kaila yang mengambil susu kocok stroberi dan menukarkannya dengan es latte. Kalau saja tidak ada topping keju di atas susu kocoknya, ia pasti sudah menerimanya dengan senang hati. Dan dari fakta ini, ia kemudian sadar bahwa ada orang lain yang mengetahuinya.
Tidak bisa dibiarkan. Ia harus mencari tahu.
...• • • • •...
Twang..! Satu anak panah meluncur dengan kecepatan tinggi, menembus udara sebelum akhirnya menghujam tepat di titik sasaran. Suara dentingan yang dihasilkannya terdengar cukup keras saat anak panah tersebut menancap kuat dan merobek papan bidik di kejauhan belasan meter.
Dia mengambil posisi lagi, kali ini lebih fokus. Tangannya berada di posisi stabil saat menarik busur, sementara matanya tetap terkunci pada sasaran. Pada ambilan napas kedua, satu tembakan berikutnya pun meluncur dalam sekedip mata. Lalu disusul dengan tembakan ketiga, keempat, dan seterusnya sampai ia tidak sadar darah telah mengalir dari jarinya ke lengannya, Tes.. Tes.. jatuh ke tanah.
“Apa Villy ada di dalam?” Ayaa yang baru tiba di depan pintu masuk klub memanah, bertanya pada dua junior yang kebetulan berpapasan saat hendak keluar.
“....Kak Ayaa, maaf, tapi sepertinya kau tidak bisa masuk tanpa izin ketua,” jawab si salah satunya dengan kepala tertunduk, menghindari kontak mata si senior.
“Benar. Pekan lalu kelas 10-7 tertangkap kamera cctv melakukan siaran langsung dan mengacaukan properti memanah. Karena itu Kak Villy meminta semua anggota untuk melapor setiap kali ada yang mau memasuki klub,” lanjut yang di sebelahnya.
Ayaa mengacak rambut, frustasi. Jelas dia tahu itu hanyalah omong kosong belaka. “Sungguh? Villy meminta kalian melakukannya?”
Keduanya mengangguk serempak.
“Wah, kalian sungguh tidak pandai berakting.” Ayaa menyilangkan kedua tangannya ke dada, mulai memasang sikap mengintimidasi. “Soal mereka yang mengacaukan properti memanah, itu benar. Tapi solusi atas masalah itu adalah para anggota diwajibkan menunjukkan kartu keanggotaan mereka kepada pengawas. Oh ya, bagaimana aku mengetahuinya? Akulah yang membawa anak-anak nakal itu ke kantor guru dan bersaksi atas tindakan mereka.”
Mendapat balasan telak, kedua junior itu pun bersamaan menegak ludah sambil bersitatap satu sama lain. Karena sudah ketahuan begini, terlebih dengan Ayaa yang dikenal berperangai gigih pada pendiriannya, jadi apa boleh buat. Dengan gugup mereka pun mengatakan, “Sebenarnya suasana hati Kak Villy sedang tidak baik hari ini. Dia meminta kami untuk tidak berlatih, juga merahasiakan kondisinya padamu, Kak Ayaa.”
“Sebelum kami memutuskan untuk keluar, kulihat Kak Villy sedang menembak anak panahnya dengan kasar ... seolah jiwanya dikuasai oleh amarah.”
Kesaksian dari dua junior itu cukup sudah untuk membuatnya semakin khawatir. Maka tanpa mengulur-ulur waktu lagi, ia pun langsung bergegas masuk ke dalam klub menggunakan kartu keanggotaan salah satu junior tadi.
“Oi, kau gila?” Ayaa menyambar paksa busur Villy, membuangnya ke lantai. “Apa yang salah denganmu? Sadarlah!”
“Kenapa kau di sini?!” Manik mata Villy bergetar pelan menyaksikan busur pelampiasan amarahnya dibuang tanpa seizinnya. “Kenapa kau di sini?! Pergilah! Jangan mengacaukanku!”
Ayaa menepis tangan Villy yang mendorong bahunya. Dia sadar amarah seseorang tidak akan bisa dipadamkan dengan amarah juga. Maka ia pun bertanya dengan lembut, “Kali ini ada apa? Katakan padaku.”
“Siapa kau berhak memerintahku?! Siapa kau berani bertindak sesukamu?! Siapa kau—”
“Dengar! Aku temanmu!” Ayaa berkata dengan tegas, nada suaranya terdengar lantang sampai ke segala sudut arena panahan. Kedua tangannya yang menggenggam lengan Villy semakin erat, membuatnya langsung bergeming tanpa lagi menyalak. Dia mempertemukan sepasang mata mereka, seolah sedang menyampaikan tentang kekhawatirannya. “Belasan tahun lalu aku juga temanmu, sama seperti sekarang.”
Kaki Villy mendadak melemah. Berangsur-angsur tubuhnya pun juga bereaksi serupa sampai kemudian dia terduduk sambil menangis. Area panahan yang kosong, juga dinding besar yang mengelilinginya memantulkan suara tangisnya. Sesak.
“Ak!” Villy menjerit, lecet di tangannya baru terasa sakit saat Ayaa mengobatinya menggunakan salep. Rasanya amat tersiksa karena senar terus menyayat permukaan kulitnya setiap kali ia menembakkan panah, mamun apa boleh buat, ia sendirilah yang memutuskan untuk tidak mengenakan pelindung jari.
“Sakit, kan? Biar tahu rasa kau.” Ayaa mencibir.
“Diam kau, dasar.”
Ayaa terkekeh. Setelah dia membereskan peralatan pengobatannya, dia mengeluarkan dua kotak stainless dari sebuah kantong, kemudian membaginya kepada Villy. Itu adalah makan siang yang diambilnya dari kafetaria. “Bagaimana dengan seleksimu? Apa berjalan lancar?”
“Jika lancar, mana mungkin aku akan berakhir begini, dasar bodoh.”
“Dasar, kau.” Ayaa balas balik meninju pipi Villy. Tak heran kesabaran si sobatnya itu cocok sekali diibaratkan sebagai selembar tisu yang tercelup air. Toh, menilai basa-basi saja dia tidak pandai. “Aku tahu ada masalah yang terjadi. Maka itu ceritalah.”
Bukannya menghargai simpatinya, Villy malah asik menyantap menu makan siangnya sampai kepalanya menari-nari ke kanan dan ke kiri. Daging sapi yang dibakar bersama rempah-rempah lebih terasa nikmat dibanding mata seseorang di sebelahnya yang sedang melotot sinis.
“Kau baru mau cerita kalau kupukul, ya?”
Villy tidak menggubris.
“Kau selalu lolos selama olimpiade sains yang kau ikuti, mustahil kau gagal kali ini,” lanjutnya.
“Aku mengacaukannya. Semuanya buruk.”
Ayaa menoleh, merasakan getaran si sobatnya akan mulai berterus terang.
“Penyihir itu. Dia memberiku minuman yang telah dicampur fentanil. Bodohnya aku langsung menerimanya tanpa curiga. Sial! Pandanganku jadi kabur dan aku sulit fokus melihat soal.” Villy berhenti sejenak, kemudian atensinya beralih melihat kepalan tangannya yang memar akibat memukul dinding terlalu sering. “Sejujurnya aku masa bodoh dengan apa yang dilakukannya. Tapi dia selalu bertingkah seolah punya kekuatan lebih untuk menantangku, dan merasa pantas melakukannya. Memikirkan wajahnya saja sudah membuatku muak. Aku sungguh kesal pada diriku sendiri yang menjadi pengecut begini. Berapa kali pun aku punya keinginan melawannya, aku selalu sadar bahwa pada akhirnya akulah yang hanya akan beradu dengan amarahku. Aku benci.”
“Psikopass sepertinya memang tidak bisa ditangani dengan cara biasa. Kau tahu itu, begitu juga denganku. Tapi apa gunanya mengetahui fakta itu jika tidak ada yang berubah? Tidak ada yang bisa melihat ada pemandangan menyeramkan apa di dasar laut karena mereka hanya melihat keindahan dari permukaan.”
Villy manggut-manggut menyetujui perkataannya. Ia tahu gadis itu memang cukup pandai dalam memberi saran, namun apalah daya mulutnya selalu tidak sabaran saat hendak mengatakan sesuatu. Alhasil kata-kata yang keluar jadi berantakan, justru lebih terdengar seperti orang sedang berkumur-kumur. “Psikopat, bodoh.”
...• • • • •...
“Yang benar saja?!” Tangannya diletakkan di perutnya, merasakan getaran aneh yang bergerak tak beraturan. Sepanjang ia menaiki tangga hingga ke lantai dua, tak sedikit pun terpikir olehnya bahwa suara getaran di perutnya adalah suara keroncongan para cacing yang meminta jatah makan lagi. “Sial.. Kali ini kesialanku yang ke berapa..?”
Dia menjatuhkan dirinya di salah satu anak tangga, meratapi nasibnya sambil melotot sinis pada orang-orang yang berlalu-lalang di sampingnya. Walau sebagian besar berkomentar macam-macam, beberapa dari mereka hanya bereaksi mengangkat bahu, tidak peduli. Fenomena ini sudah bukan menjadi keajaiban dunia yang kedelapan lagi karena yang melakukannya masih orang yang sama; Karinn.
Jendela-jendela yang terpasang di sepanjang dinding koridor menampakkan cuaca terik pada siang dini hari. Larik cahayanya yang ganas pun bahkan terasa mampu mencolok mata siapa saja yang melihatnya. Sungguh kesialan yang amat sial. Sudahlah kepalanya hampir meledak perihal rangkaian DNA yang harus dibayangkannya sebagai struktur terkecil di dalam kromosom pada pelajaran Biologi pagi tadi. Di kantin pun teman sekelasnya yang brengsek malah berulah menipunya sehingga selembar uang kertas miliknya yang berharga terbang terbawa angin. Dan sekarang, dia malah mendapat masalah baru dengan perutnya sendiri.
“Uwaaakkhhhh, kesalnyaaa!” Kantin snack terletak persis di sebelah kafetaria, namun dari banyaknya pilihan camilan yang tersedia, tidak ada satu pun yang harganya setara dengan garuk-garuk kantong. “Kesalnya! Kesalnya! Kesalnya!” Dia meninju-ninju pembatas tangga, menendangnya beberapa kali dan berusaha keras mematahkannya.
“Oi, Karinn!” Seseorang berseru lantang dari kejauhan.
Si pemilik nama yang tengah bergelayut di tiang tangga, menoleh dengan malas. “Hu? Apa?” Tahu ternyata orang yang memanggil namanya adalah salah seorang dari ketiga teman sekelasnya, raut wajahnya yang semula sudah kusut lantas berubah makin kusut. Dia amat kenal di antara ketiganya ada sesosok orang yang menjadi partner bergulatnya saat di kantin tadi; Dianna.
“Ckckck, kali ini pun kau berulah apa?” Dia geleng-geleng sambil mendesah berat. Diedarkan pandangannya pada seluruh tubuh Karinn, dari ujung rambutnya yang berantakan karena kepalanya dimasukkan ke dalam celah pembatas tangga, hingga ujung sepatunya yang tampak nyaris lepas karena kakinya yang satu sudah melayang di udara dengan tumpuan pembatas tangga.