Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Di dalam kamar yang tertutup rapat, Hakan berjalan mondar-mandir seperti singa yang terperangkap dalam sangkar.
Suara bentakan ayahnya di bawah tadi masih terngiang jelas, menghina martabat ibunya dan membawa masuk orang asing yang diklaim sebagai kakaknya.
Hakan berhenti di depan cermin besar, menatap bayangannya sendiri yang tampak kacau.
Ia mencengkeram erat kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya memendam ke telapak tangan.
Kemarahan yang membara di dadanya membuat napasnya terasa panas.
"Ayah sudah buta, dia membuang ibu yang sudah menemaninya puluhan tahun demi anak haram itu," desis Hakan dengan nada suara yang penuh kebencian.
Ia tidak peduli apakah ibunya memang bersalah atau menggunakan cara-cara terlarang.
Baginya, Zaenab adalah satu-satunya orang yang selalu mendukung ambisinya untuk menjadi penguasa tunggal klan Karadağ setelah Emirhan.
Melihat ibunya dipermalukan di depan orang luar seperti Zartan adalah penghinaan yang tidak bisa ia maafkan.
"Kalian pikir sudah menang?" Hakan memukul permukaan meja riasnya hingga barang-barang di atasnya berhamburan.
Matanya berkilat gelap, memancarkan dendam yang mendalam.
Ia mengambil sebuah foto keluarga yang ada di atas meja, lalu perlahan merobek bagian wajah Onur dan Zartan.
"Aku bersumpah demi namaku sendiri. Apa yang kalian perbuat kepada Ibuku hari ini, akan kubalas berkali-kali lipat," janjinya dengan suara rendah yang mengerikan.
"Zartan, jangan harap kamu bisa tidur nyenyak di rumah ini. Dan Ayah, kamu akan menyesal karena telah meremehkanku."
Hakan kemudian mengambil ponselnya, mencari sebuah nomor yang selama ini ia simpan sebagai rencana cadangan.
Ia tahu, jika ayahnya dan Emirhan sudah tidak bisa diandalkan, maka ia harus mencari sekutu dari luar—musuh-musuh klan Karadağ yang pasti akan senang hati membantunya menghancurkan tatanan baru yang sedang dibangun oleh Onur.
Badai di mansion Karadağ belum berakhir; Hakan baru saja menyalakan api yang lebih besar.
Kabar mengenai penahanan Zaenab menyebar cepat ke telinga Emirhan.
Tanpa membuang waktu, Emirhan meninggalkan rumah sakit dan memacu mobilnya menuju kantor polisi pusat, tempat di mana Onur tengah menyelesaikan proses hukum.
Sesampainya di sana, Emirhan melihat ayahnya sedang duduk dengan raut wajah yang keras dan kaku.
Onur tampak tidak tergoyahkan dengan keputusannya.
"Ayah, tolong jangan seperti ini," ucap Emirhan pelan sambil duduk di samping ayahnya.
Suaranya tidak membela, namun penuh dengan pertimbangan seorang putra sulung.
"Dia melakukan kejahatan, Emir! Dia meracuni Aliya dan mencoba mengendalikan hidupku dengan cara yang menjijikkan!" Onur menjawab dengan nada tinggi, matanya masih memancarkan kemarahan yang meluap.
Emirhan menunduk sejenak, ia mengerti rasa sakit ayahnya.
"Aku tahu, Ayah. Aku juga marah atas apa yang terjadi pada Aliya. Tapi bagaimanapun, dia adalah wanita yang membesarkanku dan Hakan. Jika dia masuk penjara sekarang, Hakan akan semakin liar dan kehormatan keluarga kita akan hancur dalam skandal yang lebih besar. Lebih baik Ayah memberikan hukuman lain."
Onur terdiam. Kata-kata Emirhan mengenai Hakan menyentuh titik lemahnya.
Ia tidak ingin kehilangan satu putra lagi karena dendam yang berkepanjangan.
Onur menghela napas panjang, sebuah napas yang terasa sangat berat seolah membuang sebagian beban di dadanya.
"Baiklah," ucap Onur akhirnya.
Ia memanggil pengacaranya dan secara resmi mencabut tuntutan pidana terhadap Zaenab.
Namun, Onur tidak membiarkannya begitu saja. Ia masuk ke ruang pemeriksaan tempat Zaenab meringkuk ketakutan.
"Kamu bebas dari penjara, Zaenab. Tapi kamu tidak lagi memiliki tempat di klan Karadağ, tidak di mansion, dan tidak di Istanbul," ucap Onur dingin.
"Aku akan mengirimmu kembali ke kampung halaman lamamu di Erzurum, di desa terpencil di kaki gunung itu. Kamu akan tinggal di sana, tanpa fasilitas mewah, tanpa akses ke keluargaku, dan tanpa sepeser pun harta Karadağ."
Zaenab membelalakkan matanya. Baginya, diasingkan ke wilayah pegunungan yang dingin dan terisolasi seperti Erzurum hampir sama buruknya dengan penjara. Namun, melihat tatapan Onur yang tak kenal ampun, ia tahu ini adalah satu-satunya cara agar ia tidak membusuk di balik jeruji besi.
"Hanya itu kesempatanmu untuk bertaubat," tambah Onur sebelum berbalik pergi bersama Emirhan.
"Jika kamu menginjakkan kaki di Istanbul lagi, aku sendiri yang akan memastikan kamu tidak akan pernah melihat matahari lagi."
Zaenab merangkak mendekat, jemarinya yang gemetar mencoba menggapai ujung kemeja putra sulungnya.
Wajahnya yang biasanya penuh keangkuhan kini hancur oleh tangis ketakutan.
Ia menatap Emirhan dengan sorot mata memohon yang paling dalam, berharap anak yang ia besarkan dengan segala kemewahan itu akan luluh.
"Emir, tolong bantu Ibu, Nak," isak Zaenab dengan suara serak.
"Jangan biarkan Ayah membuang Ibu ke tempat terpencil itu. Ibu bisa mati kedinginan dan kesepian di sana. Tolong bicara pada Ayahmu sekali lagi, Emir. Kamu adalah putra kesayangannya, dia pasti mendengarmu."
Emirhan berdiri mematung. Ia menatap wanita di bawahnya itu dengan perasaan yang berkecamuk antara kasih sayang masa kecil dan kekecewaan yang teramat dalam.
Perlahan, Emirhan menarik kakinya mundur, menjauh dari jangkauan tangan Zaenab.
Emirhan menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku sudah membantumu, Ibu. Aku sudah memohon kepada Ayah agar Ibu tidak membusuk di dalam sel penjara," ucap Emirhan dengan nada suara yang sangat dingin dan datar.
"Itu adalah bantuan terakhir yang bisa kuberikan sebagai seorang putra."
"Tapi Emir—"
"Ibu hampir membunuh Aliya," potong Emirhan, suaranya naik satu oktav namun tetap terkendali.
"Ibu menggunakan cara-cara kotor yang tidak bisa kuterima demi ambisi pribadi. Jika aku membantumu lebih jauh, itu artinya aku mengkhianati Aliya dan mengkhianati kebenaran."
Emirhan memperbaiki letak jam tangannya, lalu memalingkan wajah, tidak tahan melihat kehancuran wanita yang telah melahirkannya itu.
"Pergilah ke Erzurum, Ibu. Gunakan waktu di sana
untuk merenungi semua dosa yang telah Ibu perbuat. Mungkin dengan hidup sederhana di desa, Ibu bisa menemukan kembali hati nurani yang sudah lama hilang," lanjut Emirhan.
Tanpa menoleh lagi, Emirhan melangkah pergi meninggalkan ruang pemeriksaan. Suara jeritan histeris Zaenab yang memanggil namanya terus bergema di lorong kantor polisi, namun Emirhan terus berjalan lurus.
Ia tahu, untuk menyelamatkan sisa-sisa klan Karadağ, ia harus memutus rantai kejahatan ini, meskipun itu berarti harus bersikap kejam kepada ibunya sendiri.
Setelah pintu kantor polisi tertutup di belakangnya, ketegangan yang menahan tubuh Emirhan seolah runtuh seketika.
Ia masuk ke dalam mobil, mengunci pintu, dan menyalakan mesin, namun ia tidak segera menginjak pedal gas.
Tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat erat hingga buku-jarinya memutih.
Begitu mobil melaju menjauh dari keramaian, pertahanannya jebol.
Emirhan menangis sesenggukan di balik kemudi. Suara isak tangisnya memenuhi kabin mobil yang kedap suara, sebuah ledakan emosi yang selama ini ia pendam demi terlihat kuat di depan Aliya, Zartan, dan ayahnya.
Dilema moral yang ia hadapi terasa sangat menyiksa.
Di satu sisi, ia adalah seorang pria yang mencintai Aliya dan menjunjung tinggi keadilan, namun di sisi lain, ia tetaplah seorang putra yang baru saja membuang ibunya sendiri ke pengasingan.
Bayangan wajah Zaenab yang memohon di kakinya terus terbayang, menghujam jantungnya dengan rasa bersalah yang luar biasa.
"Maafkan aku, Ibu. Maafkan aku," bisiknya di sela tangis, meskipun ia tahu keputusannya sudah benar.
Ia meminggirkan mobilnya sejenak di bahu jalan yang sepi.
Emirhan menyandarkan kepalanya di setir, membiarkan air matanya membasahi kulit jok mobil yang mewah.
Sebagai pewaris Karadağ, ia selalu diajarkan untuk menjadi baja yang tak tergoyahkan, namun hari ini, ia menyadari bahwa ia hanyalah seorang manusia biasa yang hancur karena kehancuran keluarganya.
Setelah beberapa menit, ia mengambil napas dalam-dalam dan menyeka air matanya dengan kasar menggunakan sapu tangan.
Ia tidak boleh sampai di rumah sakit dengan mata sembab. Aliya membutuhkannya.
Zartan membutuhkannya. Ia harus kembali mengenakan topeng kekuatannya, meski di dalam hatinya, luka karena "membuang" ibunya sendiri mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Ia kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit, membawa beban rahasia dan duka yang hanya ia sendiri yang tahu betapa beratnya.