Zein Aditya Atmanegra seorang pemilik Perusahaan terbesar dan seorang Putera Mahkota dikeluarganya harus berhadapan dengan wanita yang sangat menyebalkan yang bernama Karren Puteri Pratama seorang Puteri dari keluarga yang sama kayanya dengan Zein.
Zein tidak menyadari kalau Karren adalah anak gendut yang selalu mengganggu dan mengikutinya dulu.
Bagaimana keseruan Zein dan Karren yang selalu tidak pernah akur ketika bertemu,akankah akhirnya mereka saling jatuh cinta?sementara keduanya saat ini sama-sama sedang menjalin hubungan dengan pasangan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Keluarga
👑
👑
👑
👑
👑
1 jam kemudian, meeting pun selesai dan berjalan dengan lancar, Karren terus saja mengekori Zein tanpa berbicara sedikitpun. Moodnya masih jelek gara-gara kejadian tadi pagi.
Karren mengikuti Zein dari belakang sembari menundukan kepalanya, dia males melihat wajah Bosnya itu yang sangat menyebalkan dan menjengkelkan.
Zein dan Karren menuju lift untuk pergi ke ruangannya, Zein menunggu lift yang terbuka karena Karren selalu menunduk, akhirnya dia menabrak punggung Zein yang berdiri tegap di depannya.
"Astaga."
Saking kerasnya tuh punggung, Karren sampai terpental ke belakang dengan sigap Zein berbalik dan menarik tangan Karren dan tangan satu lagi melingkar di pinggang ramping Karren.
Sesaat Karren dan Zein saling pandang satu sama lain, ada debaran tak biasa di jantung mereka masing-masing. Darah mereka berdua terasa berdesir dengan cepatnya, jantung mereka pun berdebar tak karuan.
Ting...
Suara terbukanya pintu lift menyadarkan mereka berdua, dengan cepat Karren dan Zein menegakkan tubuhnya dan masuk kedalam lift.
"Lain kali hati-hati, makannya kalau jalan itu jangan menunduk terus lihat ke depan," seru Zein dengan ketusnya.
Karren tidak bisa menjawab ucapan Zein, Karren masih terlihat kaget dengan kejadian tiba-tiba yang barusan dia alami. Lagipula jantungnya pun belum kembali normal masih berdetak dengan kencangnya.
Tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka, hening seketika Karren dan Zein sama-sama sedang menetralkan jantungnya, cuma bedanya Karren tidak bisa menyembunyikan kegugupannya, sementara Zein lebih bisa menguasai dirinya walaupun tidak dipungkiri kalau Zein juga merasakan hal yang sama seperti Karren.
Ting....
Pintu lift akhirnya terbuka, Karren dengan cepat menuju meja kerjanya dan langsung mengerjakan pekerjaannya. Begitu pun dengan Zein yang langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Piiyuuhhhh....kok jantung gue berdebar kaya gini ya setiap dekat dengan manusia kutub itu," batin Karren.
Karren memegang dada kirinya yang masih berdebar hebat.
Hal yang sama dirasakan oleh Zein, dia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Ada apa dengan jantung gue? kok kaya gini sih, pertama bertemu dengan Siska aja ga seperti ini? Ah, ga beres nih kayanya jantung gue sudah mulai bermasalah," gumam Zein.
Karren tampak menarik nafas terus menghembuskannya secara perlahan, hingga Karren melakukannya berkali-kali supaya detak jantungnya kembali normal.
Romi yang baru datang setelah mewakili Zein bertemu Klien merasa aneh dengan kelakuan Karren.
"Kamu kenapa Karren?" tanya Romi.
"Eh, Pak Romi aku gapapa kok Pak cuma lagi latihan pernafasan saja," ucap Karren dengan cengirannya.
"Latihan pernafasan? kamu kaya Ibu-ibu yang mau melahirkan pake ngelakuin kaya gitu."
Karren hanya bisa cengengesan mendengar ucapan Romi tidak tahu harus menjawab apa.
"Zein ada di dalam kan?" tanya Romi.
"Ada Pak, beliau ada di dalam."
"Ok, kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu, aku mau menemui Zein dulu."
"Baik Pak."
Romi pun masuk kedalam ruangan Zein, untuk melaporkan hasil pertemuannya dengan Klient.
Waktu berjalan begitu cepat, waktu makan siang pun tiba, Karren sudah membereskan meja kerjanya bersiap-siap akan meninggalkan mejanya untuk makan siang.
Disaat Karren beranjak dari duduknya dan hendak melangkahkan kaki, bersamaan dengan Zein yang baru saja keluar dari ruangannya.
Lagi-lagi, Karren tidak melihat dan menabrak Zein sehingga tubuhnya oleh dan jatuh kepelukan Zein. Kedua mata itu kembali saling menatap satu sama lain.
"Kenapa gue selalu merasa tatapan si manusia kutub ini mirip dengan seseorang, tapi siapa?" batin Karren.
"Mata ini, kenapa mata ini berasa familiar buat gue," batin Zein.
"Eehhmm..ehmm..."
Romi berdehem dengan kerasnya sehingga membuat dua orang yang sedang saling menatap itu sadar.
"Kamu itu kenapa sih suka sekali menabrakku?" ketus Zein.
"Maaf Pak, tadi saya tidak melihat ada Bapak."
"Kamu mau kemana buru-buru amat?" tanya Zein dengan juteknya.
"Ya mau makanlah Pak, kan sekarang waktunya makan siang lagipula saya tadi belum sarapan karena sarapan saya Bapak yang makan," celoteh Karren dengan lantangnya.
Mendengar celotehan Karren membuat Zein kembali dilanda salah tingkah karena mengingat kelakuannya yang sangat memalukan.
Tanpa bicara apapun, Zein langsung meninggalkan Karren dan disusul oleh Romi.
"Karren, kita duluan ya!"
"Iya Pak, silahkan."
Karren sengaja membiarkan Zein dan Romi pergi duluan, karena kalau dalam satu lift bersama Zein dia sudah merasa tidak kuat, kakinya sudah terasa lemas dan jantungnya pun selalu konser ga jelas kalau berada di dekat Zein.
Darren, Milly, dan Selly sudah menunggu Karren di Kantin Kantor.
"Sorry gue telat," seru Karren dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Cieee...yang sudah jadi Sekertarisnya Kak Zein sibuk banget sampai jarang kumpul bareng kita," goda Milly.
"Siapa yang Sekertaris? aku Asistennya Pak Romi ya, bukannya Sekertaris Pak Zein," jawab Karren dengan ketusnya.
"Jangan ketus-ketus, bukannya kalian sebentar lagi akan menikah ya," Milly menaik turunkan alisnya.
"Siapa bilang? ogah banget nikah sama si manusia kutub itu, dengar ya walaupun di dunia ini cowok hanya tinggal Pak Zein doang, gue ga mau sama dia," tegas Karren.
"Masa?" sahut Milly.
"Awas lo hati-hati kalau ngomong, emang biasanya benci-benci dulu tapi lama-kelamaan pasti bucin juga," sambung Selly.
"Enggak akan," tegas Karren.
"Lo sekarang pulang jam berapa?" tanya Darren.
"Kayanya normal deh jam 17.00 sore, soalnya pekerjaan gue sudah beres tapi ga tahu deh kalau ada kerjaan lagi, soalnya Pak Zein suka ngasih kerjaan mendadak."
"Ya udah, nanti kasih tahu gue kalau lo pulang jam berapa," seru Darren.
"Iya Dugong."
Mereka pun makan dengan lahapnya, tak ada pembicaraan lagi hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Setelah selesai makan, jam istirahatpun sudah berakhir mereka memutuskan untuk pergi keruangan masing-masing. Karren tampak berjalan dengan gontai hingga suara dering Ponselnya berbunyi dengan nyaringnya.
"Hallo Mah, ada apa Mah? tumben nelpon?" tanya Karren.
"Nanti pulang jam berapa?"
"Kayanya jam 17.00 sore, memangnya ada apa Mah?"
"Nanti malam Mamah mau mengajak kamu makam malam di Restoran langganan kita, soalnya sudah lama kita tidak makan malam bersama diluar, Mamah kangen seperti dulu lagi," seru Mamah April.
"Oh ok Mah, nanti kita makan malam bersama kalau gitu sudah dulu ya Mah, soalnya Karren harus kembali bekerja."
"Ok Sayang."
Karren sampai dimejanya, karena dari tadi Karren mengangkat telpon sembari berjalan. Karren kembali memulai pekerjaannya lagi dengan serius.
Ternyata bukan Karren saja yang mendapat telpon dari Mamahnya, Zein juga dihubungi oleh Mommy Kinan untuk pulang cepat karena Mommy Kinan akan mengajak keluarga makan malam bersama.
Berbeda denga keluarga April dan Radit yang memang setiap hari mereka selalu makan malam bersama dengan anak-anaknya, keluarga Mommy Kinan jarang sekali bisa berkumpul bersama keluarga.
Daddy Zidan yang saat ini merupakan pemilik Rumah Sakit tempat dulu dia bekerja, harus sering-sering meninggalkan keluarganya ke luar kota karena ada pertemuan ataupun meeting dengan pemilik Rumah Sakit lainnya.
Begitu pun dengan Zein, semenjak Mommy Kinan memutuskan untuk mundur mengurusi Perusahaan, Zeinlah yang mengurus semuanya baik Perusahaan yang ada didalam Negeri maupun yang ada di Luar Negeri.
Mommya Kinan sebenarnya sangat kasihan melihat Zein bekerja keras seperti itu, bahkan diam dirumah pun Zein tidak pernah berhenti bekerja.
Bukan tanpa alasan Mommy Kinan menjodohkan Zein dan ingin melihat Zein cepat-cepat menikah, tujuannya supaya Zein mempunyai orang yang akan menjadi sandaran hidupnya.
Setidaknya kalau Zein mempunyai istri, bakalan ada orang yang akan menjadi obat lelahnya.
"Kenapa Zein?" tanya Romi.
"Mommy ngajak kita makan malam diluar malam ini."
"Ada acara apa?"
"Tidak ada acara apa-apa, Katanya Mommy hanya ingin berkumpul saja sudah lama kita tidak berkumpul dan makan malam bersama diluar."
Romi hanya ngangguk-ngangguk mendengar penjelasan Zein.
Waktu sudah menunjukan pukul 17.00 sore, Karren siap-siap dan hendak memasuki ruangan Zein untuk pamit pulang.
Tok..tok..tok..
"Masuk."
"Sore Pak, maaf saya mengganggu sebentar. Pekerjaan saya sudah selesai dan saya mau minta izin untuk pulang," seru Karren dengan sangat hati-hati.
"Ok, kamu boleh pulang," sahut Zein tanpa melihat kearah Karren dan masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Terima kasih Pak, kalau begitu saya permisi Pak."
Karren pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Zein. Setelah Karren keluar, Zein baru menghentikan pekerjaannya dan melihat kearah pintu yang sudah tertutup itu.
"Sekarang gue baru ingat, mata itu sama dengan mata si anak Perempuan gendut yang suka ngejar-ngejar gue dulu, hmm..bagaimana kabarnya tuh anak sekarang? apa dia masih gendut?" gumam Zein sembari mengetuk-ngetukan bolpoin keatas meja.
***
Malam pun tiba, keluarga Mama April dan Papa Radit sudah sampai di Restoran mewah yang merupakan langganan keluarga mereka. Mama April sudah memesan privat room untuk mereka supaya lebih nyaman.
Mamah April dan Papah Radit berjalan didepan sembari saling menggenggam tangan seperti anak ABG, mereka berdua memang selalu seperti itu romantis walaupun usia sudah tidak muda lagi tapi tidak pernah menyurutkan kemesraan diantara mereka.
Sedangkan Darren dan Karren berjalan dibelakang mengikuti kedua orang tuanya. Karren mengalungkan tangannya kelengan Darren, orang yang tidak tahu pasti mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih.
Mereka pun sampai disebuah ruangan...
"Maaf Mbak,Mas kami terlambat," seru Papah Radit.
Karren yang awalnya santai melihat kearah depan, dan betapa terkejutnya Karren didalam ruangan itu sudah ada Mommy Kinan dan Daddy Zidan yang sudah menunggu.
Lagi-lagi Karren kecolongan dan berhasil dibodohi oleh kedua orang tuanya.
"What? apa-apaan ini? ah gue kena jebakan lagi," batin Karren.
Keempat pasang paruh baya itu saling rangkul satu sama lain.
"Perasaan gue ga enak nih, mana tuh si manusia kutub kok ga kelihatan? apa dia ga ikut ya, syukurlah seenggaknya malam ini gue aman," batin Karren.
"Nyet, kayanya bakalan ada pembahasan penting nih," bisik Darren ditelingan Karren.
"Hallo Sayang, kamu cantik banget malam ini," seru Mommy Kinan sembari memeluk Karren.
"Terima kasih Tante."
Mereka semua pun duduk dan saling berbincang satu sama lain.
"Zia ga ikut Tante?"
"Enggak Sayang, katanya dia ngantuk jadi dia dirumah saja sama Bi Eni," jawab Mommy Kinan.
"Maaf ya, sepertinya Zein akan sedikit terlambat soalnya masih ada pekerjaan katanya, tapi sekarang sudah dijalan kok paling sebentar lagi sampai," seru Daddy Zidan.
"Nah lho, bener kan dugaan gue apa lagi sih yang direncanakan mereka?" batin Karren.
Lima belas menit kemudian, pintu ruangan pun terbuka dengan menampilkan sosok dua pria tampan siapa lagi kalau bukan Zein dan Romi.
"Maaf Mom,Dad kita terlam----" ucapan Zein terhenti saat melihat diruangan itu ternyata sudah ada keluarga Karren juga.
"Lho, kok ada Tante April sama Om Radit?" tanya Zein bingung.
"Sudah sini kalian duduk dulu, ga sopan ngomong sambil berdiri seperti itu," sahut Mommy Kinan.
"Karena semuanya sudah berkumpul, Daddy akan membahas apa yang menjadi tujuan kita bertemu disini, Pak Radit dan Bu April saya selaku orang tua dari Zein malam ini ingin melamar Puteri anda yang bernama Karren untuk menjadi istri Zein dan menjadikan menantu kami," sery Daddy Zidan.
"Tidak bisa.." jawab Karren dan Zein bersamaan sembari berdiri.
"Zein..."
"Karren.."
Mamah April dan Mommy Kinan berbicara lantang secara bersamaan.
"Duduk.." tegas Daddy Zidan.
"Tapi Dad---"
"Daddy bilang duduk," tegas Daddy Zidan dengan penuh penekanan.
Karren dan Zein pun menurut, mereka duduk karena merasa ngeri juga melihat raut wajah Daddy Zidan yang tampak dingin melebihi dinginnya AC yang ada didalam ruangan itu, Sampai-sampai Karren bergidik ngeri.
"Daddy tidak peduli kalian mau menolak perjodohan ini, tapi kita semua sudah memutuskan minggu depan kalian akan bertunangan dan satu bulan kedepannya kalian menikah," tegas Daddy Zidan.
"Apaaaa...?" lagi-lagi Karren dan Zein menjawab bersamaan.
"Mah,Pah.." ucap Karren dengan tampang memelasnya.
"Kami sudah memutuskannya Karren, tidak ada bantahan lagi," seru Papah Radit.
"Dad, apa tidak bisa dibicarakan dulu? atau setidaknya beri kami waktu untuk berpikir," seru Zein mencoba merayu sang Daddy.
"Tidak ada lagi waktu, sampai kapanpun kalian pasti akan menolaknya jadi jangan membantah lagi," tegas Daddy Zidan.
"Tapi Dad, kita berdua tidak saling cinta."
"Zein, cinta itu bisa datang dengan seiringnya waktu dan bisa tumbuh karena terbiasa, jadi nanti juga kalian akan saling mencintai," sahut Mommy Kinan.
Lemas sudah Karren dan Zein mendengar penuturan kedua orang tua mereka masing-masing. Bahkan saat ini Karren menenggelamkan wajahnya ke pundak Darren.
Hening seketika tidak ada yang berbicara sepatah katapun, hingga akhirnya Zein beranjak dati duduknya dan berdiri semua orang tampak melihat kearah Zein.
Dengan langkah lebar Zein menghampiri Karren dan menarik tangan Karren dan membawanya pergi dari sana. Semua orang melongo melihat tingkah Zein, tapi sedetik kemudian merekapun tersenyum.
"Sudahlah, biarkan saja mereka saling mengenal satu sama lain toh selama ini mereka belum pernah berbicara berdua kan," seru Mamah April.
"Benar juga, lebih baik sekarang kita makan saja soalnya perutku sudah sangat lapar," sahut Mommy Kinan.
Mereka semua pun akhirnya makan malam bersama dan tidak menghiraukan kedua anak mereka yang pergi entah kemana karena semuanya yakin kalau Karren dan Zein lama-kelamaan akan saling jatuh cinta juga hanya butuh waktu saja untuk mereka berdua saling memantapkan hati.
👑
👑
👑
👑
👑
Hai..hai..apakabar semuanya, mana nih suaranya yang kangen sama Karren dan Zein🤗🤗
Maaf nih baru bisa up lagi, jangan lupa dukungannya sebanyak-banyaknya supaya Authornya makin semangat lagi🙏🙏😘😘
Oh iya, mampir yuk di Novel terbaru Author yang berjudul " KESEDERHANAAN CINTA", menceritakan percintaan sepasang manusia berbeda Negara🤗🤗
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU💜💜💜
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
aku mau baca berurutan sesuai yg disarankan. supaya ga bingung baca novel berikutnya.