Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Sekedar untuk hiburan.
***
Ari seorang pemuda tampan penakluk wanita, suatu hari bertemu dengan gadis yang tak mudah ia taklukkan. Ia pun jatuh hati pada gadis polos bernama Vidya. Kesederhaan Vidya telah memikat hatinya dan iapun menikahi sang gadis.
Namun ternyata pernikahan tak mampu menghentikan petualangan cintanya. Ia merasa hambar dengan perasaannya terhadap Vidya. Diana, mantan kekasih terindah yang tak mampu ia hapus dari ingatannya, telah hadir menjadi orang ketiga dalam biduk rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zian Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Impian Andy
(Masih) Pov Andy
Aku mengirimkan pesan di akun Facebooknya. Lama aku menanti balasannya. Esok harinya aku mendapat telfon darinya dan dia bersedia menemuiku di sebuah tempat yang sama saat aku menemui suaminya.
Jam baru menunjuk angka 09.15 pagi, Cafe masih sepi pengunjung, aku duduk sendiri disebuah kursi yang ada di pojok, setelah menanti agak lama, aku melihat ada seorang wanita berjalan ke arahku. Ia mengenakan gamis bunga-bunga perpaduan berwarna peach-tosca serta khimar warna peach polos di kepalanya, khimar panjang menutupi kepala hingga separuh badannya. Ia nampak begitu anggun dan menyejukkan mata siapapun yang memandang. Wajahnya yang manis begitu sederhana dengan riasan yang tak berlebihan, begitu meneduhkanku. Diakah istri Ari? Aku mengulurkan tanganku hendak menyalaminya, Namun dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Masya Allah..Aku memujinya dalam hati. Beruntung sekali laki-laki brengsek itu memiliki istri seperti ini. Sudah Anggun, meneduhkan saat dipandang, solehah pula, terbukti dari cara berpakaiannya dan iapun enggan bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahromnya. Sungguh aku kagum dibuatnya.
Aku mempersilahkan ia duduk, diapun duduk dihadapanku. Kami saling berhadap-hadapan namun terhalang meja. Sendu aku menatap matanya yang meneduhkan itu. Ia menunduk merasakan pandanganku.
"Jadi anda siapa?dapat dari mana foto itu?" ucapnya memulai pembicaraan.
"uhukk..uhukk.." aku terbatuk walau sebenarnya aku tidak mengalami batuk.
"Aku boleh memanggilmu dengan sebutan namamu saja?"
Ia mengangguk.
"Jadi perempuan dalam foto itu, yang memeluk suamimu itu..., dia adalah istriku" Aku berusaha mengucapkannya dengan wajah tenang walau hatiku diliputi amarah dan kecewa terhadap istriku.
"Maafkan, atas kesalahan suami saya" Ia kembali menunduk tak berani menatapku.
"Kau, masih sanggup meminta maaf untuk suamimu, setelah apa yang ia lakukan padamu? terbuat dari apa hatimu?" Aku tak habis pikir bagaimana bisa ia justru meminta maaf atas perilaku suaminya yang menyakitkan hatinya. Aku menatapnya dengan tatapan mata yang tajam namun bukan sebuah tatapan kemarahan, melainkan tatapan penuh simpati karena aku merasa prihatin padanya
"Dari mana anda mendapat foto itu?" Ia masih memandang kearah bawah, seolah dikakinya sedang ada berlian yang berharga.
"Dari ponsel istriku!"
"Apa anda yakin itu foto asli?bukan hasil rekayasa? kita sama-sama tau dunia sekarang semakin canggih, apapun bisa dimanipulasi, termasuk foto itu, bisa saja hasil rekayasa!" ia masih terus mencoba membela suaminya.
"Kamu pikir aku merekayasa?Apa untungnya buat aku, Vidya?"
"Atau kamu ingin lihat foto-foto lebih banyak lagi?" Aku memperlihatkan ponselku padanya. Ia mulai menatap benda hitam berbentuk pipih yang ada di tanganku. Sesekali aku menggeser layar ponsel dengan tangan kiriku. Ia menutup matanya, air bening itu tak mampu lagi dibendungnya. Ada air yang mulai menganak sungai membanjiri pipinya. Tak tega aku melihatnya yang mulai terlihat rapuh.
"Masih kurang puas dengan fotonya?perlu aku perlihatkan yang lain?" ujarku
..."Allahumma salli ala sayyidina Muhammad"...
Suara sholawat Nabi itu adalah nada dering panggilan telfon diponselku. Ada telfon dari temanku yang intel itu
"Hallo Assalamualaikum, Ndan...?"
"Hallo bos Andy"
"Ia Ndan, mohon dipantau dan dikirimkan foto-fotonya bila ada info terbaru"
"Ada info yang saya dapat dari teman-teman di lapangan ini bos, memang saudari Dista ini merupakan salah satu gadis PL yang ada di rumah karaoke Happy Tuppy. Ia sebagai PL freelance disana, dan pria bernama Ari itu merupakan HRD di PT Dinamika Corporation, Tbk. Kantornya bersebelahan dengan Happy Tuppy. Bersama rekan kerjanya mereka memang sering berkaraoke dan menggunakan jasa PL termasuk menggunakan jasa Dista sebagai PL freelance itu, begitu info yang bisa saya sampaikan bos"
Aku sedang serius mendengarkan informasi yang disampaikan temanku.
"Ohh, jadi benar??" ada rasa kecewa dihatiku, ternyata benar apa yang disampaikan suami Vidya ini. Bahwa istriku merupakan Gadis pemandu lagu. Mukaku seperti dilempar kotoran, Bagaimana bisa ia bekerja seperti itu, sementara uang yang kuberikan tak kurang-kurang? apa sebenarnya yang ia cari? aku bertanya dalam hatiku
"Kalau soal hotel tempat mereka waktu itu cek in, dari pantauan cctv yang kami dapat, posisi saudara Ari sedang mabuk berat, ia kondisi tak sadar dibawa oleh saudari Dista dari room karaoke menuju sebuah hotel ABC yang letaknya tak jauh dari lokasi Happy Tuppy" Pandanganku menerawang jauh mendengar penjelasan temanku itu.
"Oke, Ndan. Ditunggu bukti-buktinya selanjutnya, terimakasih Assalamualaikum" aku melepaskan benda pipih itu dari telingaku dan meletakkannya diatas meja.
Seorang waiters berseragam merah marun dipadu rok span hitam datang membawakan dua minuman dalam nampan yang ia bawa. Ada dua porsi French Fries yang diletakkan diatas piring tembikar persegi panjang berwarna hitam.
" Silahkan..." dengan ramah Mbak waiters tersebut meletakkan makanan itu diatas meja kami. Tadi Aku sudah memesan makanan dan diminuman sebelum Vidya tiba di cafe ini.
"Ayo dimakan" Ujarku sambil mencomot sepotong French Fries yang ada di depanku. Kemudian aku mencocolkannya pada saos sambal yang ada dimangkuk kecil yang diletakkan ditengah-tengah french fries.
"Tak perlu menangisi laki-laki bangsat itu. Baiknya mereka dibuang ke tong sampah aja karena kelakuan mereka layaknya sampah" Ucapku berusaha santai berusaha menahan amarah di dadaku sambil menkunyah French Fries dimulutku.
Wanita itu masih tergugu. Mencoba menguasai keadaan. Ia tampak mengusap air mata yang menetes dipipinya. Ingin rasa aku mendekap dan menenangkan hatinya yang pasti sedang tergores luka. Ia memakan satu potong French fries itu..
"uweeeekkkkk..."
Wanita itu menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, ia memegangi kepalanya. Wajahnya tampak pucat dan ia lalu terkulai jatuh dari tempat duduknya.
Aku segera menghampirinya. Tak ada cara lain, terpaksa aku harus menyentuhnya. Aku mengangkat tubuh yang sedang pingsan itu. Saat tubuhnya berhasil kuangkat, tercium aroma manis parfum yang berasal dari tubuhnya. Aku berjalan membawa tubuh yang lemah itu. Seorang petugas cafe yang tadi melihat Vidya pingsan datang menghampiriku dan ia mempersilahkan Vidya dibaringkan diruangan kantor managemen cafe ini, dengan dibantu karyawan tadi, aku membaringkan tubuhnya diatas kursi panjang yang ada diruangan tersebut. Aku posisikan kepalanya diatas pahaku, lalu seorang petugas memberiku sebotol minyak kayu putih. Aku segera mengoleskan minyak kayu putih itu dipelipis kanan dan kirinya, serta mengoleskannya di depan hidung mungilnya itu.
Sekitar 5 menit kemudian ia menggeliat, lalu membuka matanya. Ia segera mengangkat kepalanya dari pangkuanku.
Aku mendengar ia mengucap istighfar dengan lirih.
"Ma-af.." mungkin ia sungkan atas kejadian baru saja karena ia terbaring dipangkuanku.
Lalu kembali ia muntah-muntah, ia berlari ke kamar mandi dan tak lama kembali duduk disebelahku
"Kau hamil?" tanyaku.
Ia menggeleng. Kemudian ponselnya berdering, tampak ia menerima panggilan telfon dari guru anaknya. Iapun pamit untuk pergi, sebelum ia berlalu aku sempat menanyakan berapa anaknya? Dia menjawab baru dua. Itu sama dengan jumlah anakku.
Tiba-tiba aku jadi berkhayal, jika aku dan Dista bercerai, dia dan suaminya juga bercerai. Sepertinya, tak ada yang salah jika aku menjadikannya istri. Rumah tangga kita tentu akan bahagia, wanita seperti dialah istri yang kudambakan selama ini. Andai Dista bisa berperilaku seperti Vidya, alangkah sempurnanya hidupku.
Ahh tapi Allah yang maha tau. Setiap ujian yang terjadi sudah Allah takar sesuai dengan kesanggupan setiap hambanya. Bukankah hidup ini untuk saling melengkapi?Dia berjodoh dengan suaminya berarti dia itu merupakan pelengkap bagi suaminya. Begitupun aku, bisa saja aku menjadi pelengkap untuk istriku. Ah, tapi tak ada salahnya kita berusaha untuk memperbaiki hidup dan mengejar impian agar sesuai dengan harapan yang kita mau. Ya tak ada salahnya juga aku mengimpikan wanita seperti Vidya untuk menjadi istriku. Kasian dia jika harus bersama laki-laki brengsek seperti Ari
Bersambung
Yuk baca karya pertamaku " Aku Seorang Mafia" silahkan cek di profilku. semangat berkarya author ♥️