semoga suka ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak org, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 20
Tengah malam, di jalanan yang sepi dari kendaraan dan pejalan kaki yang lain. Aluna berjalan menyusuri jalanan raya dengan langkah pelan dan wajah yang sendu.
Hatinya masih sangat sakit atas perbuatan kakaknya tadi, yang tega memperlakukan dirinya dengan tidak manusiawinya.
Aluna sering berpikir, apakah dirinya ini bukanlah bagian dari keluarga ayahnya? bahkan kedua saudaranya saja juga tidak pernah menganggap dirinya itu adalah bagian dari mereka juga.
ibunya yang sering memarahinya walau bukan dirinya yang bersalah. terkadang ketika salah satu saudaranya yang berbuat salah pasti yang kena imbasnya itu adalah dirinya dan ayahnya bahkan juga tidak peduli akan dirinya.
hidup Aluna benar-benar tidak pernah bisa tenang. setiap hari akan ada saja kejadian-kejadian yang tidak terduga. dan akan berakhir dengan dirinya yang menjadi sasarannya.
meskipun begitu, Aluna tidak pernah membenci keluarganya itu. dia akan terus menyayangi keluarganya itu apapun keadaannya, walau dirinya saja tidak pernah dianggap seperti itu.
Aluna terus berjalan tanpa arah. keluarga yang dia anggap rumah kini rumah itu tidak akan pernah menjadi bagian darinya.
tatapan Aluna begitu sendu. dia terus berjalan dengan keadaan linglung hingga sebuah butiran kecil dari atas membuat pandangan Aluna menolak ke langit.
butiran itu terus bermunculan sedikit demi sedikit. hingga butiran kecil bening itu turun diikuti oleh banyaknya butiran-butiran yang lain.
Aluna yang sudah basah kuyup itu tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. dia memejamkan kedua matanya, menikmati rintik hujan itu dan mendengarkan setiap alunan nada yang begitu menenangkan.
seolah rasa sakitnya tadi dapat terbalaskan. hanya dengan sebutir air hujan, Aluna merasa hatinya tenang dan nyaman.
lalu Aluna melepaskan kedua sandalnya, dengan dress putihnya yang sudah basah kuyup masih melekat di tubuhnya, Aluna berjalan dengan perlahan di tengah jalan raya. lalu berputar-putar dengan kedua tangan yang ia rentangkan. sesekali Aluna berlari dan melompat di genangan air di jalanan itu.
tawa Aluna terdengar begitu menyenangkan. dengan perasaan senang dan tidak terlihat lelah sama sekali, Aluna terus menikmati hujan yang terus-menerus turun dengan kedua mata yang terpejam. seolah juga ikut merasakan bahagianya Aluna yang berlari ke sana kemari, layaknya anak kecil yang sedang bermain hujan.
karena terlalu fokus berlari ke sana kemari, tanpa Aluna sadari ada sebuah mobil hitam yang melaju kencang menuju ke arahnya.
Aluna terus bermain dengan hujan hingga bunyi klakson mobil itu berhasil menyadarkan kesadarannya sejenak dan.......
Brak!
"astaga, kenapa malah menabrak orang sih. Apa dia baik-baik saja ya" ucap orang itu lalu membuka pintu mobilnya dan keluar dengan tergesa-gesa menuju ke arah Aluna yang tidak sengaja ia tabrak tadi.
"apa kau baik-baik saja nona?" orang itu berjongkok di depan Aluna yang sedang memegang sikunya.
Saat Aluna mengalihkan pandangannya, betapa terkejutnya orang itu melihat Aluna yang terlihat sangat cantik dan manis. Dengan kulit seputih susu, bulu mata yang lentik, serta sebuah bibir berwarna merah muda seperti Cherry dengan sedikit air hujan yang menempel di bibirnya itu membuat mata orang itu tidak berkedip sama sekali.
"sshh!" desis Aluna merasa perih dengan sikunya yang berdarah.
"Ah! Apa kau baik-baik saja nona?" tanya orang itu, tersadar dengan kondisi mereka sekarang ini
"I-iya, aku baik-baik saja. cuma sepertinya siku ku agak lecet sedikit" jawab Aluna lirih.
"bagaimana kalo kau ikut aku saja. Ke rumah sakit biar nanti luka mu bisa disembuhkan"
"sekalian untuk menebus kesalahan saya tadi yang sudah membawa mobil secara ugal-ugalan"
"T-tidak perlu, tuan. nanti lukanya juga bakal sembuh kok. lagian saya juga salah tadi. seharusnya saya nggak berlarian di tengah jalan seperti ini. tapi saya malah berlarian ke sana kemari" ucap Aluna dengan pipi memerah menahan malu
Bukannya marah atau apa, orang itu malah tersenyum manis ke arah Aluna. "sudah, nona. Lebih baik anda ikut saja dengan saya. Karena ini juga salah saya takutnya nanti luka kamu malah infeksi loh"
"tapi-"
"kalo kamu menolak, nanti saya akan merasa bersalah banget loh. Dan saya akan terus-menerus kepikiran dengan kondisi kamu ini sekarang " ucap orang itu berusaha membujuk Aluna agar mau dibawa ke rumah sakit.
Karena tidak enak menolak permintaan orang itu, akhirnya dengan berat hati Aluna pun menganggukkan kepalanya. yang membuat orang itu makin tersenyum lebar ke arahnya.
saat orang itu membantu Aluna berdiri membuat tubuh Aluna sedikit linglung. hingga tanpa sadar Aluna malah menempelkan tubuhnya di dada bidang orang itu.
baru saja dua langkah mereka melangkah, tiba-tiba terdengar suara yang sangat tegas, dan keras juga berat dari arah belakang mereka yang membuat tubuh Aluna menegang seketika.
"Aluna!!" teriak orang itu, menatap tajam ke arah Aluna dan seseorang yang sedang memegang lengan Aluna.
"mas Aryan" ucap Aluna lirih.
Aryan mendekat ke arah Aluna dan pria itu dengan langkah tegas. Tangannya terkepal erat di dalam saku celananya dengan wajah bengisnya yang membuat aura disekitarnya menjadi menegang
"sedang apa kau di sini Aluna?" ucap Aryan dingin
"mas A-"
"Dan kenapa kau malah berada bersama seorang pria di luar, Aluna!!" bentak Aryan, menatap wajah Aluna dengan tajam.
"mas, bukan begitu aku-"
Aryan menepis kasar tangan Aluna yang hendak memegang lengannya. Lalu menatap pria yang berdiri di samping Aluna dengan tatapan yang mematikan
"kau!" tekan Aryan, mencengkeram kerah baju pria itu dengan kuat.
Tapi bukannya takut, pria itu malah hanya memperlihatkan wajah santainya. Yang semakin membuat Aryan murka dan kesal dengan pria ini.
Aluna yang takut suaminya melakukan yang tidak-tidak kepada pria itu, berusaha berani untuk mendekat ke arah suaminya dan mencoba mencegahnya.
"mas lepas, apa yang kamu lakukan" ucap Aluna berusaha menghentikan suaminya
Aryan menolehkan kepalanya, menatap Aluna dengan tatapan tajamnya. Terlihat sangat jelas urat-uratnya yang menegang di sekitar keningnya
"apa dia ini selingkuhan mu, hah!!"
Aluna menggelengkan kepalanya terburu-buru "enggak, mas. Dia bukan selingkuhan ku"
"kalo bukan, kenapa kalian terlihat sangat dekat sekali, hah!"
"bahkan kau Dengan beraninya malah mendekatkan tubuhmu dengannya. Apa itu! Kalo bukan namanya selingkuh, Aluna!!"
Tubuh Aluna bergetar begitu hebatnya melihat sang suami yang begitu marah dengannya. Dikiranya dirinya ini sedang berselingkuh dengan pria lain.
"Dan kau juga malah hanya diam saja saat dia memegang dirimu Aluna!!"
Pria itu yang melihat Aluna ketakutan tidak bisa tinggal diam saja. Dia berusaha berbicara dengan Aryan walau Aryan sedang diliputi oleh kemarahan.
"tuan, aku mohon tolong jaga nada bicara Anda. Dia ketakutan" ucap pria itu tenang namun tegas
Aryan yang diperintahkan seperti itu mengalihkan pandangannya ke arah pria itu dengan wajah datar "diam kamu! Ini semua bukan urusan kamu. Tapi ini urusan saya dan istri saya" ucap Aryan, menarik tangan Aluna kasar dan menyeretnya ke arah mobilnya.
Lalu berlalu dari sana. Meninggalkan pria itu yang masih menatap Aluna dengan raut wajah cemas
Sedangkan di dalam mobil
Aluna memegang sabuk pengamannya dengan erat dan kuat. Wajahnya terlihat khawatir dan cemas. Sesekali Aluna melirik ke arah suaminya yang begitu fokus mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.
Dapat Aluna lihat wajah suaminya mengeras. Kilatan matanya bercahaya dan genggaman tangannya pada kemudi mobil begitu kuat sampai memperlihatkan urat-urat tangannya
Aluna ingin menghentikan aksi suaminya ini sebelum terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Tapi karena takut dengan suaminya yang terlihat marah, Aluna hanya bisa terdiam dan berdoa. Semoga mereka baik-baik saja dan selamat sampai tujuan.
maaf kalo gak nyambung dan typo bertebaran 😁 jangan lupa di like sama komen nya❤️ masa cuma baca doang sih.