Hidup Lylac yang datar tapi penuh perjuangan karena orangtuanya yang miskin, berubah total ketika tak sengaja ia bertemu hantu cantik Mika, di gudang sekolah saat ia ingin sendiri.
Mika terus merengek pada Lylac untuk mendekati Evan, Anak basket yang populer. Itu idolanya dulu saat masih hidup. ini membuat Lylac harus berhadapan dengan Angel geng cewek cantik dan populer yang merasa kesal melihat Lylac ada disekitar Evan. Padahal Lylac hanya disuruh Mika, hantu cantik itu.
Baca dan lihat bagaimana Lylac yang malas mengurusi orang malah bertemu dengan geng cowok dan cewek paling populer itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20 Mereka berdua
Kelas Evan.
Bel pelajaran berikutnya sudah berbunyi sejak beberapa menit lalu. Guru yang mengajar belum datang, membuat obrolan kecil masih terdengar.
Evan baru saja menarik kursinya ketika Jay sudah berdiri di samping meja dengan senyum usil yang sulit disembunyikan. "Kamu bikin kejutan hari ini."
Evan mendongak sekilas. "Hm?"
"Aku sama Niki lihat semuanya di perpustakaan," lanjut Jay sambil menyandarkan pinggul ke meja. "Sejak kapan kamu bela cewek?"
Tanpa terburu-buru, Evan mulai menjawab, "Lylac?"
"Bahkan kamu tahu namanya," ujar Jay surprise.
"Aku kan kerjakan tugas satu meja tadi." Evan punya alasan. "Dia enggak salah tadi."
Jay langsung terkekeh. "Nah, itu dia. Biasanya kamu paling malas ikut campur urusan orang."
Niki yang duduk dua bangku di depan mereka ikut menoleh. Cowok berwajah dingin itu menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Jarang lihat kamu sampai menegur Angel."
Evan membuka buku pelajarannya dengan tenang. "Situasinya berbeda."
"Berbeda bagaimana?" tanya Jay cepat.
Evan mengangkat pandangannya. "Lylac sudah duduk di sana lebih dulu. Aku yang datang belakangan. Kalau begitu, dia tidak pantas disalahkan."
Nada suaranya tetap datar, tetapi cukup tegas.
"Sebenarnya sih emang Angel kadang suka berlebihan," kata Nuno yang sejak tadi sibuk membaca buku akhirnya ikut menutup bukunya perlahan. Dia tahu sendiri soal ini.
Jay mengembuskan napas pendek, lalu menggeleng sambil tertawa kecil. "Aku sih tahu, tapi kan kamu ngerti Evan enggak peduli."
Nuno hanya membalas dengan senyum tipis tanpa berniat memperpanjang pembicaraan. Beberapa detik kemudian suasana menjadi hening. Jay kembali menatap Evan dengan tatapan penuh selidik.
"Jadi... kamu suka sama cewek aneh itu?"
Kali ini Evan tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya hanya terangkat tipis, disusul gelak pelan yang nyaris tak terdengar. "Bukan begitu."
"Lalu?"
Evan menyandarkan punggungnya ke kursi. Pandangannya beralih ke luar jendela kelas. Bayangan Lylac kembali muncul di benaknya.
Ia teringat tatapan datar gadis itu. Caranya tetap tenang ketika Angel menyindirnya, hingga sikapnya yang memilih membereskan barang lalu pergi tanpa mengatakan apa pun. Bahkan setelah dibela, Lylac tidak terlihat canggung ataupun berusaha mendekatinya. Seolah keributan di perpustakaan tadi hanyalah gangguan kecil yang tidak layak dipikirkan.
Hal itu terasa aneh.
Dan justru karena keanehan itulah, perhatian Evan tanpa sadar tertuju pada gadis tersebut.
"Dia menarik," ucapnya akhirnya.
Jay sontak menyeringai lebar. "Nah! Akhirnya keluar juga."
Evan menggeleng kecil. "Menarik bukan berarti suka."
"Terus bedanya apa?"
Beberapa detik berlalu sebelum Evan menjawab. Pandangannya kembali jatuh pada halaman buku yang masih kosong.
"Cuma ingin tahu sih."
Jay bersiul pelan sambil melipat kedua tangannya di dada. "Kalau menurutku sih, itu sudah termasuk tahap awal."
Evan tidak menanggapi. Ia hanya membuka bukunya tepat ketika guru memasuki kelas. Namun, jauh di dalam benaknya, ia mulai menyadari satu hal.
Lylac memang berbeda.
Bukan karena wajahnya. Bukan pula karena gosip yang beredar tentangnya. Melainkan karena, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang benar-benar tidak tampak peduli pada dirinya. Dan entah mengapa, sikap itulah yang membuat Evan ingin mengenal Lylac lebih jauh.
Jay akhirnya kembali ke bangkunya sendiri setelah guru matematika menaruh tumpukan buku di meja depan. Kelas mendadak senyap, menyisakan suara gesekan kapur di papan tulis.
Evan menatap rumus-rumus di depannya, tetapi fokusnya tidak sepenuhnya di sana. Pikiran cowok itu masih tertahan pada ekspresi dingin Lylac saat beres-beres buku tadi.
Biasanya, cewek-cewek di sekolah ini selalu mencari perhatiannya dengan berbagai cara. Namun, Lylac justru sebaliknya. Ggadis itu seolah membangun dinding pembatas yang tebal dengan dunia luar. Hal itu membuat Evan sadar bahwa Lylac berbeda. Juga soal dia yang sering bicara dan melihat ke arah satu titik. Seperti bisa lihat sesuatu yang orang lain tidak bisa lihat.
***
Kelas Angel.
Angel melangkah memasuki kelas dengan langkah yang tetap anggun. Wajahnya dihiasi senyum tipis seperti biasa, seolah tidak terjadi apa pun beberapa menit yang lalu. Baru saja ia meletakkan tas di atas meja, dua teman cheerleader yang duduk di dekatnya langsung menoleh dengan wajah penasaran.
"Gimana? Ketemu Evan?" tanya salah satu dari mereka.
Angel mengangguk kecil sambil mengeluarkan binder dari dalam tasnya. "Ketemu."
"Terus? Jadi ngerjain tugas bareng?"
Gerakan tangan Angel sempat terhenti sepersekian detik. Namun, senyum di wajahnya sama sekali tidak berubah. "Aku tadi baru ingat kalau kami memang tidak satu kelompok."
"Oh iya juga." Temannya tertawa kecil sambil menepuk dahinya sendiri. "Aku sampai lupa."
"Aku juga," balas Angel ringan, bahkan ikut terkekeh pelan. "Makanya aku langsung balik."
"Pantesan cepat."
"Iya. Bel juga hampir bunyi."
Percakapan itu berakhir ketika guru memasuki kelas. Semua murid kembali ke tempat duduk masing-masing. Angel ikut membuka buku pelajarannya, lalu mengembuskan napas pelan. Syukurlah, tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di perpustakaan.
Suara guru menjelaskan materi terus terdengar memenuhi ruangan. Angel membalik halaman buku sesuai instruksi, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di dalam kelas. Tanpa sadar, ia kembali mengingat kalimat Evan yang terus terngiang di kepalanya.
"Lain kali tidak usah cari aku kalau hanya mau mengerjai orang lain."
Jari Angel yang memegang pulpen perlahan mengencang. Selama bertahun-tahun mengenal Evan, cowok itu memang bukan tipe yang banyak bicara ataupun pandai menunjukkan perhatian.
Namun, ia juga tidak pernah menolak keberadaan Angel. Kalau Angel menghubunginya, Evan selalu membalas. Kalau Angel mengajaknya pergi, Evan juga tidak pernah keberatan selama tidak berbenturan dengan latihan basket.
Sikap datar Evan justru membuat Angel yakin bahwa dirinya berbeda dari gadis lain. Ia percaya, kedekatan mereka selama ini bukan sesuatu yang dimiliki sembarang orang.
Namun, hari ini keyakinan itu seperti mendapat retakan kecil.
Bukan karena Evan membela Lylac. Melainkan karena untuk pertama kalinya, Evan memilih menegurnya. Itu yang membuat Angel merasa kesal. Dan semua itu terjadi di depan orang lain.
Angel memejamkan mata sesaat. Bayangan Lylac kembali muncul di benaknya. Yang paling mengganggunya bukanlah ucapan gadis itu, melainkan sikapnya. Lylac tidak membalas, tidak terpancing emosi, bahkan memilih pergi begitu saja. Seolah semua sindiran yang Angel lontarkan tidak cukup penting untuk mengusik pikirannya.
Perlahan Angel membuka matanya kembali. Tatapannya menjadi lebih tenang, tetapi juga lebih dingin.
Mungkin aku memang terlalu terburu-buru.
Napasnya yang tadi memburu kini mulai teratur. Marah-marah langsung di depan Lylac ternyata salah besar, karena hal itu justru bikin panggung dramanya hancur dan malah membuat Evan jadi pahlawan.
Angel melirik ke luar jendela dengan senyum tipis yang penuh arti. Kali ini dia harus bermain rapi. Dia akan mencari cara halus dari balik layar yang bisa bikin Lylac mundur dengan sendirinya, tanpa membuat Evan tahu kalau itu semua adalah ulahnya.