NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

MASUK KE KEDIAMAN SHERKAN

Akhirnya aku mengangguk perlahan dan menerima uluran tangan yang diberikan Sherkan. Telapak tanganku yang terasa lebih kecil itu mendarat di atas genggamannya yang besar, kokoh, dan terasa sangat mantap. Dalam sekejap, jari-jarinya melingkar dan menggenggam tanganku. Genggamannya tidak terlalu erat hingga terasa menekan, namun cukup kuat dan pasti sehingga aku yakin ia tidak akan melepaskannya begitu saja. Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak aku kembali dari kematian dan memulai hidup yang baru ini, rasanya beban di dadaku terasa sedikit lebih ringan. Seolah aku akhirnya mendapatkan perlindungan dari sosok yang memang selama ini aku butuhkan—seseorang yang cukup kuat dan berkuasa untuk menghentikan segala mimpi buruk serta rencana kejam yang ingin dijalankan oleh Arga dan Eliana.

Sherkan tidak mengucapkan sepatah kata pun sepanjang perjalanan menuju mobil. Wajahnya tetap terlihat datar, dingin, dan sulit untuk ditebak seperti kebiasaannya selama ini. Namun perlahan aku mulai menyadari satu hal yang tidak kusangka sebelumnya: cara ia menggenggam tanganku terasa sangat berbeda, dilakukan dengan penuh kehati-hatian seolah-olah aku adalah benda yang mudah rusak dan harus dijaga dengan baik. Selain itu, genggamannya juga terasa sangat hangat, jauh lebih hangat dari yang pernah kubayangkan sebelumnya. Aku tidak pernah mengira bahwa sentuhan tangan seseorang bisa memberikan rasa aman dan ketenangan seperti ini.

Perjalanan berlangsung sekitar dua puluh menit, hingga akhirnya kendaraan yang kami tumpangi memasuki sebuah kawasan perumahan elit yang sangat tenang dan tertata rapi. Semakin jauh kami melaju masuk ke dalam, semakin jarang terlihat bangunan rumah lain di sekeliling jalan. Hingga akhirnya kendaraan berhenti tepat di depan sebuah gerbang besar yang terbuat dari besi berkualitas tinggi, dan gerbang itu perlahan terbuka lebar secara otomatis. Aku menatap ke luar jendela dengan pandangan terkejut, dan tanpa sadar terdiam melihat pemandangan yang ada di hadapanku. Tempat itu tidak bisa disebut sekadar rumah biasa; lebih tepat disebut sebuah rumah megah atau istana pribadi. Bangunan berdiri kokoh dengan gaya arsitektur modern yang terlihat mewah namun tetap elegan, dikelilingi taman luas yang terawat sempurna, serta sebuah air mancur besar yang terletak tepat di bagian depan. Semuanya terlihat megah tanpa kesan berlebihan, persis seperti karakter dan penampilan pemiliknya sendiri—kuat, mewah, dan penuh kelas.

Begitu mobil berhenti di halaman depan, Sherkan turun terlebih dahulu dan segera membukakan pintu kendaraan untukku, lalu kembali mengulurkan tangannya agar aku dapat turun dengan aman. Aku menerima uluran tangannya itu sekali lagi dan merasakan kehangatan yang sama seperti sebelumnya. Saat kami melangkah masuk ke dalam bangunan, beberapa orang pelayan yang sudah berbaris rapi di lorong utama segera membungkuk memberi salam dengan sikap yang sangat hormat.

“Selamat datang, Nyonya Muda,” ucap mereka serempak.

Aku sempat membeku mendengar sapaan itu, terutama ketika salah satu dari mereka menambahkan sebutan lengkapnya: “Selamat datang, Nyonya Muda Sherkan.”

Dadaku berdebar perlahan mendengar sebutan yang terasa sangat asing itu. Beberapa jam yang lalu, aku masih dikenal sebagai Violet Wibisono yang biasa saja dan sering diremehkan banyak orang, namun kini secara resmi aku telah menjadi istri dari Sherkan Satria—status yang bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiranku sebelumnya. Aku mengamati ekspresi para pelayan itu, dan mereka tampak menerima kehadiranku dengan tulus, tidak ada tatapan penuh rasa ingin tahu yang berlebihan, tidak ada pandangan meremehkan, serta tidak ada bisikan-bisikan yang mencurigakan. Seolah-olah mereka memang sudah siap dan mengetahui bahwa kehadiranku akan terjadi sejak lama.

Aku menoleh ke arah Sherkan, namun pria itu hanya terus berjalan dengan tenang seolah-olah semua yang terjadi adalah hal yang paling biasa dalam kesehariannya. Ia kemudian membawaku naik ke lantai atas melalui tangga lebar yang diapit lampu hias yang indah. Kami melewati lorong panjang yang ditutupi karpet tebal berwarna gelap, diterangi lampu kristal yang memberikan cahaya lembut, serta menciptakan suasana yang sangat tenang dan damai. Akhirnya kami berhenti tepat di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi. Sherkan membuka pintu itu dan mempersilahkanku masuk lebih dulu.

Begitu melangkah masuk, aku kembali terdiam terkesima. Ruangan itu bahkan terasa lebih luas dan megah dibandingkan sebagian apartemen mewah yang pernah aku kunjungi sebelumnya. Kamar tidur itu didesain dengan gaya elegan bernuansa warna gelap yang menenangkan, dilengkapi jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pemandangan kota yang terlihat indah di malam hari, memiliki area duduk santai tersendiri, sudut ruangan yang diatur menjadi perpustakaan kecil, serta berbagai fasilitas lain yang membuatnya terasa senyaman kamar suite di hotel bintang lima terbaik. Namun hal yang membuatku tertegun bukanlah kemewahannya semata, melainkan kenyataan bahwa semua yang ada di ruangan ini sudah dipersiapkan dan diatur sedemikian rupa untukku, tanpa banyak kata penjelasan dan tanpa membuang waktu, seolah seseorang sudah memahami apa saja yang aku butuhkan sejak lama.

“Ikutlah ke sini,” suara rendah Sherkan terdengar memecah keheninganku.

Pria itu melangkah menuju sisi kiri kamar, dan aku segera mengikuti langkahnya. Ia membuka satu lagi pintu besar di sudut ruangan, dan saat pintu itu terbuka, aku kembali terkejut melihat apa yang ada di dalamnya. Ruangan itu adalah lemari pakaian pribadi berukuran sangat luas, bahkan ukurannya saja melebihi kamar tidur yang biasa aku tempati di rumah keluarga Wibisono sebelumnya. Di dalamnya terlihat deretan gantungan yang tersusun rapi, berisi berbagai jenis pakaian mulai dari gaun resmi, pakaian santai, hingga pakaian untuk keperluan bekerja. Di bagian rak lainnya tersedia koleksi sepatu, tas, dan juga kotak perhiasan yang tersusun rapi. Semuanya terlihat dipilih dengan selera yang tinggi dan disusun dengan sangat teratur.

Aku menatap ruangan itu cukup lama, masih merasa sulit mempercayai bahwa semua persiapan ini bisa dilakukan hanya dalam waktu beberapa jam saja sejak keputusan pernikahan diambil.

“Semua ini… untukku?” tanyaku akhirnya berhasil mengeluarkan suara yang sempat tercekat.

Sherkan berdiri tepat di sampingku, lalu menatap sekilas ke seluruh isi ruangan sebelum menjawab dengan nada datar, “Ya, semuanya untukmu.”

Aku berkedip beberapa kali seolah ingin memastikan bahwa pendengaranku tidak salah. “Maksudku… semuanya ini diberikan kepadaku sepenuhnya?”

“Iya,” jawabnya singkat dan tegas.

Aku benar-benar tidak dapat menemukan kata-kata untuk merespons. Pria ini bahkan belum mengetahui secara pasti ukuran tubuhku, warna yang aku sukai, gaya berpakaian yang biasa aku kenakan, atau hal-hal mendasar lainnya tentang diriku, namun ia tetap mempersiapkan semuanya dengan sangat lengkap dan matang, seolah ingin memastikan bahwa aku tidak akan kekurangan apa pun selama tinggal di rumahnya.

“Jika ada barang yang terasa tidak pas, ukurannya tidak cocok, atau warnanya tidak kamu sukai,” suara Sherkan kembali terdengar, “kau boleh membuangnya begitu saja.”

Aku menoleh ke arahnya, melihat raut wajahnya yang tetap terlihat sangat serius saat mengucapkan kalimat itu. “Bahkan jika perlu, gantilah semuanya dengan barang yang benar-benar kamu inginkan dan nyaman dipakai.”

Aku menatapnya dalam beberapa detik, merasakan sesuatu yang mulai menggetarkan hatiku. Selama dua tahun masa pernikahanku yang kelam dengan Arga, aku selalu menjadi pihak yang harus menyesuaikan diri, mengalah, mengorbankan keinginan sendiri, serta selalu berusaha memahami segala kebutuhan dan keinginan suamiku saat itu. Namun baru beberapa jam saja menjadi istri Sherkan, pria ini justru mengatakan dengan jelas bahwa aku berhak mengganti apa pun yang tidak sesuai dengan keinginanku, seolah pendapat dan kenyamananku adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Perasaan yang asing itu kembali muncul dan menyebar perlahan di dalam dadaku—rasa hangat yang perlahan memenuhi ruang kosong yang telah lama terabaikan di hatiku. Sementara itu, Sherkan masih berdiri diam di sampingku dengan wajah datarnya yang usual, sama sekali tidak menyadari bahwa tindakan dan ucapannya yang sederhana itu perlahan mulai meruntuhkan dinding pertahanan tebal yang telah aku bangun sejak kembali dari kematian.

1
Amidah Anhar
maaak bab selanjutnya pengumuman Meraka udah jadi sepasang suami istri iya..
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
Nana Colen
jadi ikutan deh deg an ya... ini violet beda cerita lagi sama violet sherkan ya
Evve Miss Plot twist: beda mak, lagi malas nyari nama pemeran 🤭
total 1 replies
Nana Colen
buanglah suami benalu itu violet
Nana Colen
akhirnya netes juga karya baru nya... semangat thor aku pendukung karya karyamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!