Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.
Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Milik Widitama
"Kak Rakha," ucap Amaia yang tak kalah kaget.
Melihat kehadiran Widitama dan Amaia, Rakha berbalik dan menjauh meninggalkan keduanya menuju lorong yang terhubung ke halaman utama. Amaia berjalan cepat menyusul pria itu.
"Kak, tunggu!" sergah Amaia berhasil meraih lengan Rakha. Namun, Rakha berusaha untuk menepisnya. "Kak!"
"Lepas, Amaia!" Rakha berseru.
Sepasang mata Rakha tak hanya menatap Amaia, tapi Widitama yang berdiri santai menyandarkan punggung pada pilar besar. Seringai di bibir Rakha terlukis. Menghadirkan keheranan di wajah Amaia.
"Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan? Sampai kapan kamu mau bersembunyi? Lalu sekarang, kenapa tiba-tiba kamu muncul di sini? Kamu pikir, kamu nggak berhutang penjelasan padaku?" Amaia menatap lekat ke wajahnya.
"Penjelasan apa? Semuanya sudah kukatakan, Amaia. Sekarang minggirlah! Aku nggak ada urusan dengan kalian."
"Lalu, untuk apa kamu ke sini?"
"Bukan urusanmu!"
"Kak ...." Amaia berkata sedikit lirih.
Rakha tersenyum hambar. "Lagipula bukannya kamu sudah menikah dengan Mas Widi? Tak ada lagi urusan apa pun di antara kita. Rupanya benar, kalian selama ini bermain-main di belakangku. Senang kan kamu bisa menikah dengan Mas Widi setelah mengkhianatiku?"
"Apa yang kamu bicarakan?!" sergah Amaia.
Lengan Rakha meraih kedua bahu Amaia. Ia mencengkeramnya dengan kasar. "Kamu pikir aku nggak tau? Selama ini kamu dan Mas Widi selingkuh, kan? Makanya kamu menerima pernikahan tanpa berpikir panjang. Jujur saja, Amaia, selama ini kamu hanya menginginkan Mas Widi."
"Brengsek!" hardik Amaia seraya mendorong kasar kedua lengan Rakha. "Begini cara kamu melimpahkan kesalahan padaku? Bukannya kamu yang ...." Kalimat Amaia tertahan. Entah kenapa tenggorokannya terasa sakit untuk mengungkap semua perbuatan Rakha.
Suara langkah kaki yang begitu tenang mengusik pembicaraan mereka. Meski tak bersuara, tapi aura gelap seolah-olah melekat dalam diri pria itu. Sehingga, baik Amaia maupun Rakha terdiam karena kedatangannya.
Widitama menarik pergelangan Amaia dan dirangkulnya sang istri. "Sudahlah, Mai Kecil. Percuma berbicara dengan pengecut ini."
"Mas Widi juga sama saja. Kamu pikir aku nggak tau, kalau ini semua juga perbuatanmu? Kamu sengaja mendekati Amaia untuk menggantikan aku di dekat papa. Iya, kan?" Rakha menatap nyalang kakaknya.
"Dasar bodoh. Kamu yang berbuat, lalu sekarang kamu menyalahkan orang lain? Bukankah kamu yang memilih untuk pergi dengan perempuan itu dan memberontak pada papa? Sekarang apa yang kamu harapkan? Ibumu itu?" Kata-kata tajam Widitama membuat Rakha terlihat kehabisan cara untuk berucap. "Yakin sekali kamu. Kamu pikir siapa dirimu? Kamu pikir orang yang bahkan kamu anggap orang terdekat, tak bisa mengkhianatimu? Dewasalah sedikit, Rakha."
"Apa maksudmu?" Rakha menyergah.
Alih-alih menjawab, Widitama menurunkan tangan ke pinggang Amaia dan mengeratkan pegangannya di sana. Sama seperti Rakha, Amaia juga sedikit kebingungan oleh kalimat Widitama tentang 'pengkhianatan'. Ia mendongak heran pada sang suami.
"Ayo, Amaia, kita masuk saja. Tak perlu buang-buang waktu untuk hal yang tak penting," ajak Widitama.
"Apa maksudmu tadi, Mas Widi?!" Suara Rakha meninggi di lorong itu.
Widitama dan Amaia yang hendak berbalik pergi pun menahan langkah. Kedua kaki Widitama kembali memutar agar bisa menatap sang adik. Aura yang dipancarkan lelaki itu terasa lebih dingin dari biasanya. Sorot mata Widitama terlihat tenang, tetapi mematikan. Tak ada ekspresi berarti di wajahnya; begitu datar, sehingga sulit terbaca.
"Saya benar-benar tak suka suaramu yang berisik dan keras itu." Widitama mendekat selangkah. Bisa Amaia lihat ekspresi6 Rakha langsung menciut. "Sepertinya pikiranmu terlalu bodoh dan terlalu jauh salah paham."
"Apa yang kamu ...."
"Dengar baik-baik, kamu menuduh saya dan Amaia seenaknya? Yang benar saja. Saya hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik saya, Rakha." Widitama mengenggam jemari Amaia erat-erat. "Sudah cukup kamu bermain-mainnya. Muak sekali saya melihat kelakuanmu selama ini. Sekarang, sudah saatnya saya membawa Amaia keluar dari permainan bodohmu."'
Tanpa mendengar respons Rakha, Widitama menarik tangan Amaia. Ia membawa perempuan itu menjauh dari lorong yang sedikit sepi. Sementara di dalam rumah, tamu-tamu masih berbincang, musik klasik mengalun, dan hingar-bingar pesta menyemarakkan malam itu.
*****
"Apa maksudnya tadi itu? Siapa yang berkhianat?" bisik Amaia saat Widitama mengandengnya untuk diperkenalkan kepada tamu-tamu lain.
"Itu hanya dugaan saya." Widitama mencondongkan tubuh dan berbisik di telinga istrinya. "Situasi ini terlalu tenang. Nanti saya jelaskan di rumah."
Baru saja Amaia hendak menjawab, tapi suara pembawa acara menghentikan mereka. Sudah masuk sesi dansa, katanya. Amaia tak percaya acara yang hampir formal ini ternyata ada bagian menari seperti itu. Sontak beberapa tamu yang datang mulai mengundang pasangan mereka untuk berdansa. Lampu sedikit dibuat temaram, musik dansa mengalun lembut.
Tepat di hadapannya, Widitama mengulurkan tangan pada Amaia untuk mengajaknya berdansa. Amaia gelagapan. Sebenarnya pikiran gadis itu agak tak tenang mengingat keberadaan Rakha. Namun, dia sudah berjanji pada Widitama untuk menikmati malam ini, layaknya suami-istri dimabuk cinta.
Amaia menerima uluran tangan Widitama. Dari jarak yang begitu dekat, dia bisa mencium aroma parfum maskulin Widitama. Untuk yang ke sekian kali, tangan pria itu berada di pinggangnya. Untung Amaia bisa menyamakan gerakan kaki Widitama. Dalam cahaya yang agak temaram, keduanya berdansa dengan beberapa tamu lain.
"Apa-apaan kamu tadi?" tanya Amaia sedikit ketus. "Milik saya? Jangan mengaku seenaknya, dong. Memangnya aku ini barang, yang seenaknya bisa diklaim begitu?"
Widitama terkekeh. "Saya ada bilang 'milik saya' itu adalah kamu? Apa saya menyebut namamu tadi? Terlalu percaya diri," cetusnya.
Kedua pipi Amaia spontan terasa panas. Malu sekali karena terlalu gede rasa. Ia berdeham mengusir rasa malunya.
"Terus maksudnya apa?"
"Bisa saja yang saya maksud itu, posisi Rakha sebagai ahli waris papa. Itu semua kan seharusnya jadi milik saya," bisik Widitama.
"Oh, aku lupa kamu ini ambisius."
Widitama menarik pinggang Amaia agar lebih dekat. Bahkan Amaia sedikit kaget. "Baguslah kalau kamu tau saya ini ambisius. Karena kalau suatu saat saya benar-benar menginginkan kamu, saya nggak akan menyerah meskipun kamu mendorong saya pergi berkali-kali."
Kedua mata Amaia menatap lekat wajah Widitama. Lagi-lagi seringainya yang menyebalkan terlihat di sana.
Amaia hendak menjawab, tapi sepasang matanya lebih dulu terarah pada Denara. Wanita itu tak ikut berdansa, tetapi berdiri di anak tangga lantai dua sembari memainkan flute berisi sampanye. Tatapan murkanya begitu jelas meski dari kejauhan. Amaia menyeringai penuh kemenangan.
Saat ini, Amaia tahu Denara pasti amat kesal dan marah besar padanya. Tapi Amaia tak takut. Tak peduli pada perasaan wanita itu.
Tanpa pikir panjang, Amaia melangkah lebih dekat dengan Widitama. Kedua lengannya terkalung di leher Widitama sehingga membuat sang suami agak kaget. Senyum Amaia terlukis selama sekian detik.
"Aku suka melihat ekspresi jengkel Denara," bisik Amaia.
Widitama seolah-olah mengeri. Lalu dengan pelan ia memeluk Amaia. Tubuh mereka bergerak pelan mengikuti musik yang mengalun.
Dari balik punggung Widitama, Amaia kembali mengamati Denara. Tangan wanita itu menggenggam flute dengan erat. Senyum mengejek terlihat di bibir Amaia. Sampai akhirnya Denara bergegas menaiki anak tangga, menjauh dari keramaian itu.