NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 Kedekatan Berbahaya

Hujan turun sejak sore tanpa jeda dan tidak menunjukkan tanda akan mereda. Langit kota menggelap lebih cepat dari biasanya, sementara jalanan berubah menjadi barisan lampu merah panjang yang memantul di aspal basah. Air hujan membentuk bayangan kabur dari gedung-gedung tinggi, membuat semuanya terlihat jauh dan sedikit asing.

Di dalam daycare, suasana jauh lebih sunyi dibanding hari biasa. Sebagian besar anak sudah dijemput lebih awal karena cuaca yang memburuk, menyisakan beberapa anak yang duduk diam sambil menunggu. Suara tawa yang biasanya memenuhi ruangan kini berganti dengan bisik pelan dan langkah kaki pengasuh yang lebih sering terdengar.

Rheon duduk di kursi kecil dekat jendela dengan tubuh sedikit meringkuk. Ia memeluk tasnya erat, seperti mencari rasa aman, sementara matanya tampak berat. Pipi anak itu memerah tidak wajar, dan napasnya terasa lebih hangat dari biasanya.

Bu Siska menyentuh dahinya perlahan, lalu menghela napas kecil.

"Panasnya naik lagi."

Rheon mengerjap pelan, mencoba tersenyum meski lemah.

"Aku cuma capek."

"Kita tunggu Mommy ya. Sudah di jalan."

Ia mengangguk pelan, lalu kembali bersandar. Pandangannya kosong mengarah ke jendela, mengikuti garis air hujan yang turun tanpa pola.

Di sisi lain kota, Elvara berdiri di lobi gedung Alvero dengan napas sedikit terburu. Ponselnya menempel di telinga, sementara matanya berkali-kali melirik ke arah pintu keluar yang penuh orang.

"Aku sudah keluar. Tunggu sebentar ya, sayang."

Suara Rheon di ujung sana kecil dan pelan.

"Iya..."

Panggilan terputus.

Elvara menurunkan ponsel perlahan. Jemarinya mengencang di sekitar perangkat itu, menahan rasa gelisah yang mulai naik. Ia mencoba lagi memesan kendaraan, tetapi layar kembali menunjukkan pembatalan.

Hujan membuat semua jadi sulit. Jalan padat, pengemudi enggan mengambil pesanan, dan waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Jam di dinding menunjukkan pukul enam lewat dua puluh, waktu yang seharusnya sudah membawa Rheon pulang.

Perasaan bersalah mulai menekan, pelan tapi pasti.

"Sial..."

"Masalah?"

Suara itu datang dari sampingnya, tenang seperti biasa namun terasa lebih tajam di tengah situasi.

Elvara menoleh cepat.

Zayden berdiri dengan jas gelap yang masih rapi meski udara lembap, payung hitam di tangan, dan tatapan yang langsung menangkap apa yang sedang terjadi.

"Saya harus jemput anak saya," katanya tanpa basa-basi. "Dia demam."

"Di mana."

"Daycare dekat kantor."

"Mobil saya di parkiran."

"Saya bisa naik taksi."

"Tidak ada taksi yang mau ambil rute ini saat hujan deras."

Elvara ingin membantah, tetapi layar ponselnya kembali menunjukkan kegagalan. Ia menahan napas sejenak, mencoba berpikir, namun bayangan Rheon yang pucat membuatnya tidak punya banyak pilihan.

Zayden sudah berjalan menuju pintu.

"Ayo."

Ia berdiri beberapa detik, ragu, sebelum akhirnya melangkah mengikuti. Keputusan itu terasa seperti menyerahkan sesuatu yang selama ini ia jaga sendiri, tetapi ia tidak punya waktu untuk mempertahankan jarak saat ini.

Perjalanan menuju daycare terasa lebih panjang dari biasanya. Hujan menutup pandangan, membuat lampu jalan terlihat samar, dan suara wiper yang bergerak cepat mengisi keheningan di dalam mobil. Elvara duduk kaku di kursi penumpang, tangannya saling menggenggam tanpa sadar.

"Dia sudah panas sejak tadi?" tanya Zayden, matanya tetap fokus ke jalan.

"Sepertinya baru sore. Tadi pagi dia masih baik-baik saja."

"Kenapa tidak langsung pulang."

"Saya kerja."

Nada suaranya lebih tajam dari yang ia maksud. Ia sadar itu bukan jawaban yang adil, tetapi rasa bersalah membuatnya sulit mengendalikan emosi.

Zayden tidak membalas. Ia hanya mengangguk sedikit, seolah mencatat, lalu kembali diam.

Beberapa menit berlalu dengan hanya suara hujan dan mesin mobil. Ketegangan tidak hilang, tetapi berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi.

"Ada obat di rumah?" tanyanya lagi.

"Ada."

"Dokter?"

"Saya bisa bawa dia besok kalau belum turun."

"Baik."

Percakapan berhenti di sana. Tidak ada nasihat, tidak ada kritik, hanya pertanyaan yang terasa praktis. Namun di balik itu, Elvara tahu pria itu memperhatikan lebih dari yang ia katakan.

Saat mereka tiba, daycare hampir tutup. Lampu sebagian sudah dimatikan, menyisakan cahaya redup di ruang utama. Begitu pintu dibuka, Bu Siska langsung berdiri dengan wajah lega.

"Bu Elvara, akhirnya."

Elvara tidak menjawab. Ia langsung berjalan cepat ke dalam, matanya mencari satu sosok kecil yang kini terlihat semakin lemah.

"Rheon."

Anak itu mengangkat kepala pelan. Matanya setengah terbuka, wajahnya memerah.

"Mommy..."

Suara itu membuat dada Elvara terasa sesak. Ia langsung memeluknya, menyentuh dahinya, dan panas itu langsung terasa jelas.

"Kenapa tidak bilang dari tadi?"

"Aku tidak mau Mommy khawatir."

Jawaban itu sederhana, tetapi cukup membuat matanya panas. Ia menelan emosi yang hampir keluar, berusaha tetap tenang di depan anaknya.

"Ayo pulang."

Ia mencoba menggendong Rheon, tetapi tubuh kecil itu terasa berat karena lemas. Tenaganya sendiri sudah terkuras sejak sore, dan ia sadar gerakannya tidak sekuat biasanya.

Zayden melangkah mendekat tanpa banyak bicara.

"Biar saya."

"Saya bisa."

"Kamu kelelahan."

Sebelum Elvara sempat menolak lagi, ia sudah mengangkat Rheon dengan hati-hati. Gerakannya mantap, tidak ragu, seolah sudah terbiasa melakukan hal itu.

Rheon membuka mata sedikit, lalu bergumam pelan.

"Om dingin..."

Zayden menatapnya.

"Iya."

"Aku panas."

"Tahu."

Ia menyesuaikan posisi, memastikan kepala anak itu tersandar dengan nyaman. Rheon tidak protes, justru langsung menyandarkan tubuhnya lebih dekat, mencari kehangatan tanpa sadar.

Elvara memperhatikan dari samping. Dadanya terasa aneh, seperti ada sesuatu yang perlahan bergeser dari tempatnya.

Pemandangan itu terlalu mudah terjadi.

Di dalam mobil, hujan masih turun tanpa jeda. Jalanan tetap padat, lampu kendaraan memanjang seperti garis tanpa akhir. Elvara duduk di kursi depan, sesekali menoleh ke belakang.

Zayden memilih duduk di kursi belakang bersama Rheon. Ia tidak kembali ke depan, mungkin karena tidak ingin mengganggu posisi anak itu yang sudah tertidur.

Kepala kecil itu bersandar di bahunya, napasnya hangat dan tidak teratur. Tangan kecilnya mencengkeram sedikit kain jas, seperti mencari pegangan.

Zayden tidak bergerak banyak. Ia hanya menyesuaikan posisi agar Rheon tetap nyaman, menahan diri agar tidak mengganggu tidurnya.

Mobil berjalan pelan, dan keheningan di dalamnya terasa penuh, bukan kosong.

Elvara ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata tidak datang. Terima kasih terasa tidak cukup, sementara menolak situasi ini sudah tidak mungkin.

Di kursi belakang, Zayden menunduk sedikit. Tatapannya tertuju pada wajah Rheon yang tenang saat tidur.

Ia memperhatikan setiap detail dengan terlalu saksama.

Bulu mata yang panjang.

Garis hidung yang tegas untuk anak seusianya.

Cara bibirnya sedikit terbuka saat bernapas.

Semua itu tidak lagi terasa seperti kebetulan.

Tangan kecil Rheon bergerak sedikit, lalu mencengkeram jasnya lebih erat. Refleks sederhana, tetapi cukup membuat dada Zayden terasa berat.

Ia menarik napas pelan.

Pikirannya mulai menyusun potongan yang selama ini ia tahan.

Cara anak ini berbicara.

Cara ia berpikir terlalu cepat.

Cara ia menyebut hal-hal yang seharusnya tidak biasa untuk anak seusianya.

Dan sekarang, cara ia bersandar dengan begitu mudah.

Semua terlalu dekat.

Terlalu masuk akal.

Terlalu sulit diabaikan.

Kalau anak ini benar milikku...

Kalimat itu berhenti di tengah. Ia tidak melanjutkan, karena kelanjutannya terlalu besar untuk diucapkan bahkan dalam pikirannya sendiri.

Ia mengangkat tangan perlahan, menyentuh rambut Rheon dengan sangat hati-hati. Sentuhan itu ringan, tetapi cukup untuk memastikan bahwa semua ini nyata.

Di depan, Elvara melihat semuanya dari pantulan kaca spion. Tangannya di setir mengencang tanpa sadar, jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia mengenali tatapan itu.

Bukan sekadar penasaran.

Bukan sekadar curiga.

Itu tatapan seseorang yang mulai menghubungkan potongan yang seharusnya tetap terpisah.

Dan ia tahu, waktu yang ia miliki semakin sedikit.

Mobil terus melaju di tengah hujan. Kota di luar terlihat kabur, tetapi suasana di dalam mobil justru semakin jelas.

Tiga orang dalam satu ruang sempit.

Satu hubungan yang belum diakui.

Satu rahasia yang tidak bisa bertahan selamanya.

Dan satu kebenaran yang perlahan, tanpa suara, mulai menemukan jalannya keluar.

1
Lisa
Jgn keras hati Elvara..Zayden tdk akan mengambil Rheon dr kamu.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
terlalu n makin mbuleeddd, n heran nya masih aq baca🤣🤣🤣🤣
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!