"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.
Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?
Atau ia justru ikut terjerumus juga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBELAS
Nada Bastian turun satu oktaf.
"Apa yang Papa lakukan bukan untuk bikin kamu tidak nyaman. Papa cuma jaga kamu. Kamu kelihatan panik waktu karyawan laki-laki itu datang. Papa pikir kamu nggak suka ada pria asing mendekat," ujar Bastian.
Adelia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Bastian melanjutkan dengan suara pelan dan halus, yang justru membuat kalimat itu terasa lebih menekan.
"Kalau ada orang salah paham... itu urusan mereka.
Yang penting kamu aman di dekat Papa!" lanjut Bastian.
Kata aman itu tidak terdengar seperti perlindungan.
Terdengar seperti kepemilikan.
Adelia meremas tasnya di pangkuan, menunduk, berusaha mengontrol napas.
"Del," panggil Bastian lagi sambil menyalakan mesin mobil. "Kamu nggak perlu takut sama ekspresi Papa. Papa cuma perhatian ke kamu."
Mobil mulai melaju keluar dari area parkir. Adelia menatap jalanan tanpa benar-benar melihat apa pun.
Sementara itu, jauh di tempat lain, suasana kantor Vander Group justru berbeda.
Meeting baru saja selesai, dan Lukas menghela napas lega sambil merapikan berkas. Sean menepuk bahunya.
"Bos, kalau kerjaan kita kayak tadi terus, kita bisa dapet bonus akhir tahun gede banget nih!" ujar Sean.
Lukas tersenyum kecil. "Bonus nggak penting, yang penting proyeknya jalan."
Tiba-tiba Sean menarik kursinya mendekat. "Tapi, Bos agak nggak fokus di tengah meeting tadi. Ada apa? Capek banget ya?"
Lukas menghela napas. "Nggak, cuma sedikit kepikiran hal kecil."
Hal kecil bernama Intan, batin Sean.
Seolah alam membaca pikirannya...
Ketika Lukas melangkah keluar dari ruang meeting, Intan Vadella sudah bersandar di dinding koridor dengan gaun ketat warna krem. Rambutnya dibiarkan terurai, dan parfum manisnya menguar.
Ia melambai kecil. "Hei, Luk..."
Lukas mengerutkan kening. "Intan? Kamu ngapain di sini?"
Intan mendekat, wajahnya menampilkan senyum percaya diri yang dulu pernah membuat Lukas jatuh berkali-kali sebelum akhirnya bangkit.
"Aku cuma mau bilang... kamu makin keren kalau lagi serius kerja gini," ucap Intan sambil memandang Lukas seperti sedang mempelajari tiap inci ekspresinya.
Lukas memijit pelipis. "Intan... aku lagi kerja. Jangan ganggu!"
Intan tersenyum lebih lebar. "Oh ayolah, jangan dingin gitu! Kamu nggak kangen ngobrol sama aku?Sebentar aja?"
Lukas menatapnya tajam. "Kita sudah selesai sejak lama, Intan. Jangan buat masalah!"
Intan nyengir, tidak terlihat tersinggung. "Masalah?
Lukas... justru aku datang untuk kembali memperbaiki 'yang dulu itu'. Kamu nggak rindu sama aku, ya?"
Lukas menatapnya lama, kemudian berkata pelan.
"Tidak."
Jawaban itu keras, tajam, dan final.
Namun, bukan Intan kalau ia mudah menyerah. Ia
mendekat sedikit, menunduk agar wajah mereka sejajar.
"Hmm... kita lihat aja nanti, Luk. Kadang hati manusia
suka berubah tanpa sadar," ucap Intan.
Tatapan itu... ambisius... Seolah Intan tidak sekadar ingin masa lalu, tapi ingin merebut sesuatu.
Ekspresi Lukas mengeras, ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama...
Adelia sedang berada di dalam mobil, ketakutan, bersama pria yang seharusnya ia panggil "Papa".
÷÷÷
Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Adelia langsung turun dengan langkah cepat. Nafasnya masih belum stabil sejak kejadian di supermarket. Ia berusaha menjaga agar tidak terlihat panik, tapi getaran kecil di tangannya sulit disembunyikan.
"Bik Vivi! Mbak Sisil!" panggil Adelia begitu masuk ke dalam rumah, suaranya terdengar sedikit lebih tinggi dari biasanya.
Kedua pekerja rumah tangga itu muncul tergesa-gesa dari dapur.
"Iya, Bu Adel?" tanya Mbak Sisil.
"Ini... tolong bawa barang belanjaannya ke dapur, ya!" ucap Adelia sambil menunjuk ke arah pintu.
"Baik, Bu!" jawab Bik Vivi sambil berjalan ke arah luar.
Bastian menyusul dari belakang, membawa dua kantong besar dan menurunkannya dengan tenang di lantai dekat sofa. Ia terlihat begitu santai, seolah perjalanan barusan adalah kegiatan biasa yang menyenangkan, bukan pengalaman mencekam bagi Adelia.
"Del, tadi Papa pilihkan buah yang bagus. Kamu nanti jangan lupa makan, ya?" ucapnya dengan nada lembut.
Adelia hanya mengangguk cepat, tidak berani menatap langsung. "Iya, Pa. Makasih."
Tanpa menunggu lagi, Adelia bergerak menuju tangga. Ia ingin sampai ke kamar secepat mungkin, karena itu satu-satunya tempat yang terasa aman.
Begitu Adelia naik, Bik Vivi dan Mbak Sisil otomatis saling pandang. Ekspresi Adelia yang pucat jelas tidak luput dari perhatian mereka.
"Mbak Sis... Bu Adel kok kayak ketakutan gitu, ya?" bisik Bik Vivi.
"Entah, Bik... dari tadi mukanya lain. Tapi, kita nggak boleh ikut campur. Takut salah!" jawab Mbak Sisil, menelan ludah.
Sementara itu, Bastian masih berdiri di ruang tengah.
Pandangannya mengikuti langkah Adelia yang terburu-buru. Matanya menyipit sedikit, seolah sedang memikirkan sesuatu.