"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai di ikuti
"Masya Allah nak, kamu kenapa datang ke sini?" tanya Jamal langsung menghampiri Kaelan dan Karna.
Jamal sedang mengumpulkan kayu bakar yang dia jemur sejak pagi, rumahnya terlihat kotor dengan banyak bekas lumpur karena di lempari warga yang kesal setelah Narno mengatakan kalau Kaelan sudah mengambil bayi Maryani yang ada di dalam kubur.
"Anak Kaelan tidak bisa jauh dari kampung ini pak, makanya Kaelan kembali ke sini, kenapa rumah kotor sekali pak? mana ibu?" tanya Kaelan
"Tadi pagi warga mengamuk dan melempari rumah kita dengan lumpur, ibu kamu masih sedih di dalam, masuklah mungkin dia akan senang setelah melihat cucunya, bapak mau membereskan kayu bakar ini ke dapur belakang" ucap Jamal mengusap punggung Kaelan dan Karna bahkan mengecup kening Kalingga.
"Nanti Karna akan bantu bersih bersih tempat ini kak, supaya Kalingga bisa nyaman di sini" ucap Karna
"Kalingga?"
"Iya kak, nama cucu kakak adalah Kalingga" jawab Karna
"Nama yang cantik, sama seperti orangnya" ungkap Jamal
Mereka masuk, Saidah langsung memeluk Kaelan dan Kalingga bagitu dia melihat anaknya pulang, air matanya kembali jatuh bahkan dia tidak memperdulikan luka di keningnya akibat lemparan batu para warga di sana.
Karna bagitu marah melihat adiknya di perlakukan seperti itu, dia bahkan hampir mengeluarkan Kalana dalam tubuhnya tapi di tahan Kaelan karena untuk sekarang, mereka tidak bisa membalas dengan serangan, ari ari Kalingga masih di tangan Malak dan mereka hanya bisa menunggu waktu yang tepat.
"Saidah, jangan menangis lagi, kakak akan bilang pada ayah kamu di kampung Mahoni untuk mengirimkan peringatan kepada tetua kampung cadas karena sudah melakukan kekerasan terhadap warganya" ucap Karna segera mengobati Saidah.
"Jangan kak, nanti akan ada kerenggangan dalam hubungan dua kampung, hanya Mbah Narno saja yang seperti itu, tetua lain tidak, jadi Saidah masih bisa menahannya" ungkap Saidah
"Iya Karna, kami juga masih punya kebun untuk kebutuhan sehari-hari kami, kami tidak mengemis pada mereka bahkan tidak meminta setetes air pun dari sumur mereka, Alhamdulillah mata air Ciherang mengalir ke sumur kami yang tidak pernah kering meskipun musim kemarau" ungkap Jamal
"Kenapa kamu kembali nak, ceritakan pada kami" ucap Saidah
Kaelan mulai menjelaskan apa yang terjadi saat mereka sudah terbebas dari kampung cadas, semuanya di ceritakan Kaelan tanpa ada yang ditutup tutupi bahkan tentang ari ari Kalingga yang di curi Jayandanu dan Malak. Jamal dan Saidah bahkan sampai melotot karena apa yang di katakan Kaelan begitu persis dengan apa yang di lihat Jamal larut malam di sekitar hutan cadas, Jayandanu membawa sesuatu dalam sebuah kain hitam dan pergi menuju ke arah dalam hutan.
"Innalillahi, mungkin kantung yang di bawa Jayandanu itu adalah ari ari Kalingga" kaget Jamal
"Jadi bapak melihat Jayandanu malam itu?" tanya Kaelan
"Iya, malam itu bapak ingin membuang jejak kaki kalian yang ada di sekitar jalan ke perbatasan, anjing Narno kan bisa mencium jejak kaki jadi bapak khawatir kalian di kejar, saat itulah bapak melihat Jayandanu masuk ke hutan dalam" jawab Jamal
"Alhamdulillah sudah ada petunjuk, mungkin ari ari Kalingga ada di sana" ucap Karna
"Tapi hutan itu bahkan lebih luas dari hutan kampung Mahoni yah, bagaimana kita mencarinya tanpa tersesat?" tanya Kaelan
"Iya, banyak orang tersesat di sana, ibu dengar tadi kalau seorang ibu hamil tadi pagi meninggal karena tersesat setelah mencari buah liar di hutan" ucap Saidah membuat Kaelan dan Karna saling tatap.
"Bukan meninggal karena tersesat Bu tapi di sesatkan, ibu hamil itu adalah pengganti Maryani dan Kalingga" ucap Kaelan.
"Ibu jadi semakin khawatir dengan kalian" ungkap Saidah
"Kami akan baik baik saja Bu, ada ayah, Kakek Arsana, kak Liam dan Lintang, Mbah Rumi, Mbah Abidin bahkan Mbah Panca juga sudah memberikan bantuan mereka pada kami termasuk NYI Kalia" jawab Kaelan
"Nyi Kalia juga membantu kalian?" tanya Jamal
"Iya pak" jawab Kaelan
"Kaelan, panggil pasukan tanpa nama, minta mereka berjaga di sekitar rumah ini, biarkan Narno tahu kalau kamu datang dengan persiapan dan dia tidak bisa membuat kamu takut" ucap Karna
"Iya yah"
Kaelan mengusap cincin yang di berikan Lintang, dia lalu memanggil nama Parta dan seketika itu juga Parta muncul di depan Kaelan sambil bersimpuh. Kalingga tetap tertidur dengan nyenyak karena semalaman dia terus menangis di tambah dengan pusarnya yang berdarah, jadilah Kalingga tidak terganggu meskipun mereka mengobrol di depan Kalingga.
"Saya nak" ucap Parta
"Panglima Parta, tolong jaga sekitar rumah ini dan pastikan tidak ada gangguan gaib masuk untuk mengganggu Kalingga dan kedua orang tuaku" perintah Kaelan
"Baik nak" jawabnya lalu menghilang dari sana dan meminta para pasukannya yang ada di luar untuk menjaga tanah milik Jamal dan rumahnya.
"Mereka itu apa? kenapa pakaian mereka mirip prajurit jaman dulu?" tanya Jamal shok
"Mereka pasukan milik Lintang kak, mereka yang dulu membantu Liam Lintang berperang dengan pasukan gaib milik Rajasa" jawab Karna
"Apa mereka tidak akan membahayakan Kalingga?" tanya Saidah
"Tidak akan, aku jamin itu" jawab Karna
"Hari sudah sore, ayo kita shalat ashar setelah itu kita bersihkan rumah dan teras depan dari lumpur, supaya Kalingga bisa istirahat dengan tenang, susunya masih ada kan di dalam kotak pendingin? besok orang suruhanku akan mengantarkan asi baru untuk Kalingga" ucap Karna.
"Masih ada yah, semoga cukup sampai besok pagi, Kalingga juga tadi tidak mau minum susu karena gelisah, sekarang dia tidur" jawab Kaelan
"Kotak pendingin?" tanya Jamal dan Saidah
"Di rumah beberapa orang di kampung Mahoni sudah ada kulkas pak, Bu, asi dari ibu susu Kalingga bisa di masukkan ke dalam kotak pendingin dan tinggal di hangatkan kalau akan di berikan pada Kalingga" jawab Kaelan
"Tapi di sini tidak ada listrik, bagaimana kamu tetap menjaga asi itu tetap segar?" ucap Jamal
"Iya juga yah, bagaimana kalau asinya jadi basi?" tanya Kaelan
"Ayah juga bingung, apa di sini ada orang yang mau jadi ibu susu Kalingga?" tanya Karna
"Pasti tidak ada yang mau yah" jawab Kaelan
"Itu kita pikirkan nanti, sekarang kita shalat saja dulu, mungkin Kalingga mau minum susu formula" ucap Karna
"Semoga Kalingga mau minum susu formula" ucap Kaelan tanpa dia ketahui Maryani sedang mengawasi mereka sejak mereka masuk ke dalam kampung cadas.