"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Diamnya Sang Brondong
Setelah adu mulut yang menguras emosi dengan Adrian di lobi kantor, suasana di atas motor sport Juna terasa sangat berbeda.
Tidak ada lagi candaan garing, tidak ada manuver rem mendadak yang sengaja, dan tidak ada celotehan "bidadari stroberi" yang biasanya memenuhi gendang telinga Cantik.
Juna mengendarai motornya dengan sangat tenang, namun ketenangan itu justru terasa mencekam bagi Cantik.
Angin sore Jakarta menerpa wajah Cantik di balik kaca helm, namun pikirannya jauh lebih bising daripada suara knalpot di sekitarnya. Ia terus terngiang kata-kata Juna di lobi tadi. “Calon suaminya Cantik.”
Kata-kata yang tadinya terdengar seperti lelucon konyol, mendadak berubah menjadi proklamasi yang sangat berat saat Juna mengucapkannya dengan mata yang berkilat tajam di depan Adrian.
Begitu motor berhenti tepat di depan pagar rumah Cantik, Juna tidak langsung mematikan mesin. Ia hanya diam, menatap lurus ke depan, kedua tangannya masih mencengkeram stang motor dengan urat-urat yang menonjol.
Cantik turun dari boncengan, melepas helmnya, dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia merasa ada sesuatu yang hilang: keceriaan Juna.
"Jun..." panggil Cantik pelan. "Mampir dulu yuk? Gue... gue baru beli stok camilan banyak di dalam. Ada kopi enak juga kalau lu mau."
Ini adalah pertama kalinya Cantik secara sukarela menawarkan "wilayah pribadinya" kepada Juna tanpa embel-embel keterpaksaan.
Ia berharap Juna akan langsung melonjak kegirangan seperti biasanya. Namun, yang ia dapatkan justru sebuah gelengan kepala pelan.
"Nggak usah, Kak. Makasih," jawab Juna singkat. Suaranya rendah, tanpa nada tengil yang biasa menghiasi.
Cantik tertegun. Ia melangkah mendekat ke samping motor Juna. "Lu kenapa? Masih kepikiran soal Mas Adrian tadi? Udahlah, nggak usah dimasukin hati. Dia emang orangnya agak... kaku kalau soal strata sosial."
Juna akhirnya menoleh. Untuk pertama kalinya, Cantik melihat mata Juna yang merah, bukan karena menangis, tapi karena menahan amarah yang sangat besar. Ada luka di sana, luka karena diremehkan, dan luka karena melihat Cantik ikut menertawakannya di depan pria itu.
"Gue nggak kesel sama dia karena dia kaya, Kak," ujar Juna pelan, menatap Cantik dengan tatapan yang membuat Cantik merasa sangat kecil.
"Gue kesel karena dia berhak ngetawain gue setelah lu sendiri yang ngetawain gue di depan dia. Lu ikut bilang gue bocah, lu ikut bilang gue cuma hobi bercanda. Padahal tadi gue lagi mempertaruhkan seluruh harga diri gue buat ngebelain lu."
Cantik terdiam. Lidahnya kelu. Ia tidak menyangka tawa kecilnya tadi—yang sebenarnya bertujuan untuk mencairkan suasana—ternyata melukai Juna sedalam itu.
"Gue mau balik sekarang," lanjut Juna sambil memasang kembali helmnya.
"Gue butuh waktu buat tenangin diri. Gue nggak mau lu liat gue pas lagi emosi kayak gini. Gue nggak mau lu liat sisi ugal-ugalan gue yang sebenernya kalau lagi marah, karena gue nggak mau bikin lu takut."
"Jun, tapi—"
"Gue balik, Kak. Istirahat yang bener. Jangan dipikirin soal 'anak ingusan' ini," potong Juna.
Tanpa menunggu jawaban lagi, ia menarik gas motornya dalam-dalam. Raungan mesinnya terdengar menyayat, meninggalkan kepulan asap dan keheningan yang menyesakkan di depan rumah Cantik.
Cantik berdiri mematung di depan pagarnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa rumahnya yang sepi terasa jauh lebih dingin.
Tembok "Brotherzone" yang ia bangun dengan susah payah selama ini, kini justru terasa seperti penjara yang ia buat untuk dirinya sendiri.
Ia menyadari satu hal: Juna mungkin lebih muda, tapi keberaniannya untuk jujur tentang rasa sakitnya jauh lebih dewasa daripada Adrian yang menyembunyikan kesombongan di balik jas mahalnya.
Malam itu, Cantik tidak bisa tidur. Ia terus melihat ke arah jendela, berharap ada lampu motor sport yang menyorot di depan pagarnya, namun jalanan tetap gelap.