Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk kandang singa
Langkah kaki Hanum dan Alvaro yang tenang di atas rumput taman memecah tawa riuh di antara Tuan Sanjaya dan kedua cucunya. Aliya dan Adiba segera bersikap biasa saja, meski sisa-sisa binar rencana rahasia mereka masih terlihat di mata.
"Wah, asyik sekali sepertinya. Sedang bicarakan apa sampai Kakek tertawa begitu?" tanya Hanum sembari mengusap bahu kedua putrinya.
Tuan Sanjaya berdehem, mencoba menetralkan suaranya. "Hanya bicarakan masa kecil kalian dulu, Num. Ayo, kalian pasti lelah. Sebaiknya segera masuk dan bersiap untuk makan malam."
Aliya dan Adiba mengangguk patuh, mereka saling melirik penuh arti di balik punggung Hanum dan Alvaro, menyimpan rapat rencana manis yang baru saja mereka susun bersama sang kakek.
*
*
Malam semakin larut. Hanum masih berkutat di meja kerjanya, meneliti beberapa dokumen kontrak yang akan menjadi senjata untuk menjerat Johan. Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka perlahan. Alvaro masuk dengan nampan kecil berisi secangkir teh chamomile yang masih mengepulkan uap.
"Terima kasih, Kak Al, Kakak selalu tahu apa yang aku butuhkan," ujar Hanum tulus dengan senyuman yang membuat hati Alvaro berdesir.
"Gimana, Num? Apakah kau sudah mulai paham soal kerumitan di Sanjaya Group?" tanya Alvaro sembari duduk di kursi di hadapan Hanum.
"Alhamdulillah sudah, Kak. Sedikit demi sedikit aku bisa menguasainya, meskipun belum sepenuhnya," jawab Hanum tenang.
Alvaro menatap wajah Hanum yang tampak sedikit letih. "Jangan terlalu diforsir, Num. Jaga juga kesehatanmu. Aku tidak mau kau jatuh sakit sebelum rencana kita terlaksana."
Hanum terkekeh pelan. "Tenang saja, Kak. Aku ini wanita tangguh. Kakak sudah tahu kan sifatku dari dulu?"
Alvaro menghela napas panjang, Ia tahu betul Hanum bukan hanya tangguh, tapi juga kepala batu jika sudah memiliki kemauan.
"Ya, ya... kau memang adikku yang paling susah diatur," candanya untuk menutupi kecanggungan.
Keheningan sesaat menyelimuti ruangan tersebut. Hanum menopang dagunya, lalu menatap Alvaro dengan pandangan menyelidik.
"Kak Al, selama ini apakah Kakak tidak berkeinginan untuk mencari pendamping hidup?"
Deg!
Jantung Alvaro seolah berhenti berdetak sesaat. Tubuhnya mendadak kaku.
"Apakah Kakak takut menikahi wanita lain karena Papah menginginkan Kakak menikahi ku?" tanya Hanum lagi, suaranya terdengar sangat polos tanpa beban.
"Bukan begitu, Num, tapi..." Alvaro tercekat. Kalimatnya menggantung di udara.
"Tapi apa, Kak? Aku yakin Kakak pasti memiliki seseorang yang sangat Kakak cintai. Kak... jangan pikirkan permintaan Papah, tapi pikirkanlah kebahagiaan Kakak sendiri."
Alvaro menunduk, menatap pantulan dirinya di permukaan teh. Dalam hati, ia menjerit perih.
'Hanum, kebahagiaanku selama ini adalah kamu. Aku selalu menantimu, dan tak ada satu wanita pun yang bisa menggantikan posisimu di hatiku!'
"Kak Al kok malah diam? Ayo katakan saja siapa wanita yang Kakak suka, nanti biar aku bicara sama Papah!" desak Hanum lagi.
Alvaro menghela napas berat, mencoba mengulas senyum tipis yang pahit.
"Wanita yang Kakak suka tidak mencintai Kakakmu ini, Num. Rasanya wanita itu begitu sulit untuk Kakak gapai."
Mata Hanum membelalak. "Hah? Kak Al jangan bercanda! Mana mungkin pria setampan, sebaik, dan seterhormat Kakak ini ditolak wanita? Hanya wanita bodoh yang menolak pria sepertimu, Kak!"
Alvaro hanya bisa membatin pilu,
'Kamu termasuk wanita bodoh itu, Num... ck, kau ini ada-ada saja.'
"Sudahlah, Num. Kamu tidak usah membahas masalah itu lagi, lebih baik kau fokus dengan rencanamu," pungkas Alvaro, mengalihkan pembicaraan. Hanum menghela napas kecewa, ia merasa kakaknya masih terlalu tertutup padanya.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Hanum mulai menguap, rasa kantuk tak lagi bisa ia tahan. Alvaro yang berpura-pura membaca buku di sofa terus melirik ke arahnya. Saat Hanum bangkit dari kursi, mendadak kepalanya terasa berat. Pandangannya kabur dan tubuhnya oleng.
"Num!"
Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Alvaro melompat dan merangkul pinggang Hanum sebelum tubuh wanita itu menyentuh lantai. Hanum jatuh tepat ke dalam pelukan Alvaro.
Napas mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Hanum yang terkejut hanya bisa mematung, menatap dalam ke mata hitam Alvaro. Di sisi lain, Alvaro merasakan debaran jantungnya berdegup sangat kencang, seolah ingin melompat keluar. Ia terus menatap wajah Hanum tanpa berkedip, memuja setiap inci paras wanita yang selama belasan tahun ini ia cintai dalam diam.
'Num, kau masih saja cantik seperti dulu. Aku sangat mencintaimu...' batin Alvaro, tangannya mendekap Hanum seolah enggan untuk melepaskannya lagi.
Sesaat, dunia seolah berhenti berputar bagi mereka berdua, menyisakan keheningan yang penuh dengan perasaan yang terpendam rapat.
Keheningan di ruang kerja itu mendadak pecah oleh deru napas Hanum yang memburu. Tersadar betapa dekatnya wajah mereka, Hanum segera mendorong pelan dada Alvaro dan menjauh dengan gerakan canggung.
"A... aku pamit ke kamar dulu, Kak. Maaf sudah merepotkan mu!" ucap Hanum gugup. Wajahnya merona merah hingga ke telinga. Tanpa menunggu jawaban, ia menyambar ponselnya dan keluar dari ruangan dengan langkah seribu.
Setibanya di koridor menuju lantai tiga, Hanum menyandarkan punggungnya di dinding, memegangi dadanya yang berdegup kencang.
"Ish, kenapa tatapan mata Kak Al sangat berbeda? Begitu teduh tapi sangat tajam," gumamnya pelan. Ia menggelengkan kepala seolah ingin mengusir bayangan tatapan Alvaro tadi. "Hanum, apa yang kau pikirkan? Ingat, Kak Al itu kakakmu!"
Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri sebelum masuk ke kamar untuk mengecek kedua putrinya yang sudah terlelap pulas.
*
*
Keesokan harinya, di kantor pusat Sanjaya Group, Alvaro sedang menatap layar tabletnya dengan dahi berkerut. Asisten Adam berdiri tegap di hadapannya.
"Tuan, ini laporan yang Anda minta. Perusahaan Go Green baru saja mengirimkan proposal kerjasama secara resmi. Mereka menawarkan pengadaan mobil listrik khusus untuk transportasi di dalam area resort golf dan tempat wisata kita," lapor Adam.
Alvaro menyeringai tipis, kilat dingin muncul di matanya. "Jadi, mangsanya sendiri yang datang menyerahkan lehernya? Bagus sekali, Adam."
"Lalu, apakah kita akan memberitahu Nona Hanum?" tanya Adam.
Alvaro menggeleng. "Jangan dulu. Hanum sedang kurang sehat. Aku sudah melarangnya masuk kantor selama tiga hari sampai kondisinya benar-benar pulih. Biarkan aku yang menyiapkan pembukaannya."
Alvaro kemudian menuliskan instruksi pada sebuah kartu undangan eksklusif. "Kirimkan undangan makan malam resmi untuk Johan besok malam di Restoran The Grand. Katakan padanya, Sanjaya Group sangat tertarik dengan proposal mobil listriknya."
Perusahaan Go Green
Di kantor Go Green, suasana sangat meriah. Johan baru saja menutup telepon dari Assistennya Sanjaya Group yang mengundangnya makan malam. Ia merasa seolah-olah baru saja memenangkan lotre triliunan rupiah.
"Perhatian semuanya!" teriak Johan di tengah area kantor. "Hari ini, semua karyawan boleh makan siang sepuasnya di restoran manapun di gedung ini, semuanya saya yang bayar! Rayakan kemenangan kita!"
Sorak-sorai karyawan menggema, namun Johan hanya fokus pada bayangan kesuksesannya. Ia kembali ke ruangannya dan mendapati Monica yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Ada apa, Mas? Kok kelihatannya senang sekali?" tanya Monica manja.
"Proposal kita diterima, Sayang! Besok malam aku diundang makan malam oleh pihak Sanjaya Group!" Johan memeluk Monica dengan erat. "Akhirnya, sedikit demi sedikit aku akan menjadi pengusaha yang sangat sukses."
Ia menatap ke luar jendela dengan tatapan penuh kesombongan. "Ternyata membuang Hanum adalah keputusan yang sangat tepat. Wanita itu telah bermetamorfosa menjadi pembawa sial bagi hidupku. Sangat berbeda denganmu, Monica... kau adalah dewi keberuntunganku!"
Johan tertawa puas, sama sekali tidak menyadari bahwa undangan makan malam itu bukanlah sebuah awal kesuksesan, melainkan sebuah undangan resmi menuju pintu kehancuran yang telah disiapkan dengan sangat rapi oleh Alvaro dan Hanum.
Bersambung....