NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENJADI ISTRI KONTRAK ZAYN DEVANDRA

TERPAKSA MENJADI ISTRI KONTRAK ZAYN DEVANDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Menikah Karena Anak / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesona Aluna

POV Zayn

Malam itu akhirnya tiba juga—malam yang sejak pagi terasa seperti beban panjang bagi Zayn. Keputusannya sudah bulat. Ia akan menghadiri gala dinner itu, dan Aluna akan ikut bersamanya.

Bukan karena keinginan pribadi.

Melainkan karena perintah.

Perintah dari Tuan Misra Devandra ayahnya

Zayn berdiri tegak di depan mobilnya, tatapannya datar saat menunggu Aluna keluar dari dalam rumah. Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya, memancarkan wibawa yang dingin dan sulit ditembus. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara pikirannya melayang pada percakapan singkat dengan ayahnya tadi pagi.

“Bawa dia,” suara Ayahnya tegas tanpa ruang bantahan. “Dan pastikan dia pantas berdiri di sisimu.”

Zayn tidak menyukai cara ayahnya berbicara tentang Aluna seolah gadis itu hanya objek yang harus “dipoles”.

Namun, untuk sekali ini, ia memilih diam.

Pintu rumah terbuka perlahan.

Zayn menoleh.

Aluna melangkah keluar dengan ragu. Penampilannya masih sederhana kaos longgar dan celana jeans yang sudah sedikit pudar. Rambutnya diikat asal, tanpa riasan berarti. Sangat jauh dari kata “layak” untuk sebuah gala dinner elit.

Zayn menghela napas pelan.

“Masuk,” ucapnya singkat, membuka pintu mobil tanpa menatap langsung.

Aluna mengangguk cepat, lalu masuk tanpa banyak bicara. Ia sudah cukup memahami bahwa pria di sampingnya bukan tipe yang suka basa-basi.

Perjalanan menuju pusat perbelanjaan berlangsung dalam keheningan.

Namun, keheningan itu tidak sepenuhnya kosong.

Zayn beberapa kali melirik ke arah Aluna dari sudut matanya. Gadis itu tampak gelisah, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan.

“Kenapa gugup?” tanya Zayn tiba-tiba, suaranya tetap datar.

Aluna sedikit terkejut. “Aku… tidak pernah ke acara seperti itu.”

Zayn mengangguk kecil. Jawaban yang sudah ia duga.

“Kalau begitu, ikuti saja arahanku,” katanya.

Mobil berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan mewah. Lampu-lampu terang menyambut, menciptakan kesan megah yang langsung membuat Aluna terdiam sesaat.

“Turun,” ujar Zayn.

Aluna menelan ludah sebelum membuka pintu.

Langkahnya terasa canggung saat memasuki gedung tersebut. Matanya bergerak ke sana kemari, memperhatikan etalase-etalase berisi pakaian mahal yang bahkan mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Zayn berjalan di depan, tanpa ragu. Ia sudah terbiasa dengan tempat seperti ini.

“Pilihkan yang pantas untuknya,” ucap Zayn kepada salah satu pegawai butik dengan nada tegas.

Pegawai itu langsung tersenyum ramah. “Tentu, Tuan.”

Aluna hanya bisa berdiri kaku saat beberapa pakaian mulai dibawakan kepadanya.

“Silakan mencoba, Nona,” ujar pegawai itu.

Aluna melirik Zayn, seolah meminta persetujuan.

Zayn hanya mengangguk singkat.

Dengan langkah ragu, Aluna masuk ke ruang ganti.

Beberapa menit berlalu.

Zayn duduk dengan tenang, namun pikirannya tidak sepenuhnya fokus. Ia tidak tahu mengapa ia bersedia melakukan semua ini. Jika bukan karena perintah ayahnya, mungkin ia tidak akan pernah membawa Aluna sejauh ini.

Pintu ruang ganti terbuka.

Zayn mengangkat pandangan.

Untuk sesaat ia terdiam.

Aluna berdiri di sana dengan gaun panjang berwarna lembut yang membingkai tubuhnya dengan anggun. Rambutnya masih sederhana, namun entah bagaimana, ada sesuatu yang berbeda.

Lebih hidup.

Lebih… menarik.

Zayn segera mengalihkan pandangan, berusaha menjaga ekspresinya tetap datar.

“Lumayan,” ucapnya singkat.

Namun, dalam hati, ia tahu itu lebih dari sekadar “lumayan”.

Aluna menunduk, pipinya sedikit memerah. “Ini… tidak terlalu berlebihan?”

“Tidak,” jawab Zayn tegas. “Itu cukup.”

Setelah urusan pakaian selesai, Zayn membawa Aluna ke salon.

Di sanalah perubahan yang sebenarnya terjadi.

Rambut Aluna ditata dengan rapi, riasan tipis mempertegas fitur wajahnya tanpa menghilangkan kesan alami. Saat semuanya selesai, gadis itu hampir tidak mengenali dirinya sendiri.

Zayn memperhatikannya dalam diam.

Ada sesuatu yang menggelitik dalam dirinya—sesuatu yang jarang ia rasakan.

“Sudah selesai,” kata Zayn akhirnya. “Sekarang tinggal satu hal lagi.”

Aluna mengerutkan kening. “Apa lagi,kamu tahu semua ini terasa gatal dikulitku?”protesnya

"jangan komplen,oke"timpal zayn

Zayn menunjuk ke arah sepatu hak tinggi yang sudah disiapkan.

“Pakai itu.”

Aluna menatap benda itu seolah sedang melihat sesuatu yang berbahaya.

“Aku… tidak pernah memakai itu,” katanya jujur.

Zayn mengangkat alis. “Belajar.”

Dengan ragu, Aluna mencoba mengenakan sepatu tersebut.

Langkah pertamanya—

Hampir membuatnya terjatuh.

Zayn refleks menahan lengannya.

“Pelan pelan saja” katanya, sedikit lebih lembut dari biasanya.

Aluna menggigit bibir, mencoba menyeimbangkan tubuhnya.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu

Ia tersandung lagi.

Kali ini Zayn tidak bisa menahan reaksi.

Sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya.

Langka.

Sangat langka.

Aluna menatapnya dengan wajah kesal. “Kenapa tertawa,lucu,kamu kira ini komedi?”

Zayn menggeleng pelan, masih menyisakan senyum tipis yang hampir tak terlihat.

“Kamu… benar-benar tidak bisa berjalan dengan itu,rasanya tidak lucu jika kamu pergi dengan sandal jepit”ucap zayn

“Aku sudah bilang,aku tidak bisa”

Zayn menghela napas, lalu berdiri di hadapannya.

“Perlahan. Ikuti langkahku.”

Ia mundur sedikit, memberi ruang.

Aluna mencoba lagi.

Langkahnya masih kaku, namun kali ini lebih baik.

Zayn memperhatikan dengan saksama.

Tanpa sadar, sudut bibirnya kembali terangkat.

Ada sesuatu yang menghibur dari kepolosan Aluna.

Sesuatu yang berbeda dari dunia dingin yang selama ini ia jalani.

“Cukup,” kata Zayn akhirnya. “Kita tidak punya banyak waktu.”

Aluna mengangguk, meskipun jelas ia masih belum sepenuhnya nyaman.

Mereka kembali ke mobil.

Namun, kali ini suasananya berbeda.

Tidak lagi sekaku sebelumnya.

Zayn melirik ke arah Aluna yang kini duduk dengan hati-hati, berusaha menjaga keseimbangan bahkan saat tidak berjalan.

“Jangan jatuh di acara nanti,” ucapnya.

Aluna mendengus pelan. “Kalau aku jatuh, itu salahmu.”

“Kenapa jadi salah saya?”

“Karena kamu yang memaksaku pakai ini semua”

Zayn tidak langsung menjawab.

Namun, kali ini—

Ia tersenyum lagi.

Tipis, namun nyata.

Dan untuk pertama kalinya, perjalanan menuju gala dinner itu tidak terasa sepenuhnya seperti kewajiban.

Melainkan… awal dari sesuatu yang belum bisa ia pahami.

Perjalanan menuju lokasi gala dinner berlangsung dalam suasana yang tidak sepenuhnya hening. Mesin mobil melaju stabil membelah jalanan malam yang dipenuhi cahaya lampu kota, sementara Zayn tetap fokus pada kemudi, ekspresinya kembali dingin seperti biasa.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

“Aku mau minta sesuatu.”

Suara Aluna memecah keheningan. Zayn tidak langsung menoleh, hanya mengangkat sedikit alisnya sebagai tanda bahwa ia mendengar.

“Apa?” tanyanya singkat.

Aluna menarik napas sejenak, seolah mengumpulkan keberanian. “Di acara nanti… jangan ada alkohol.”

Zayn akhirnya melirik sekilas ke arahnya, sorot matanya datar. “kenapa?”

"dosa"timpalnya polos yang membuat Zayn menggeleng

“Dan juga jangan ada yang merokok. Atau asap apa pun,” lanjut Aluna lagi, nadanya mulai terdengar tegas. “Aku tidak bisa kena asap. Sesak.”

Zayn mengembalikan pandangannya ke jalan, wajahnya kembali tanpa ekspresi.

“Acara itu bukan saya yang membuat,” jawabnya tenang. “Saya tidak mengatur apa pun yang ada di sana.”

Jawaban itu membuat Aluna mendengus pelan, jelas tidak puas.

“Ya terus? kamu diam saja begitu? Bukankah Kamu orang penting, pasti bisa memberitahu mereka, tentang semua itu” balasnya cepat, tanpa jeda. Nada suaranya mulai meninggi, khas gadis muda yang tidak terbiasa menahan apa yang ada di pikirannya.

Zayn tetap diam beberapa detik, membiarkan kata-kata itu menggantung.

“Kamu terlalu banyak berasumsi,” ucapnya akhirnya. “Saya hadir sebagai tamu, bukan penyelenggara.”

Aluna memutar mata kesal. “Ya tapi setidaknya bisa melakukan sesuatu? Ini kan soal kesehatan. Masa iya orang-orang kaya itu tidak bisa bikin acara tanpa alkohol? Aneh sekali.”

Zayn menarik napas perlahan. Ia mulai menyadari satu hal—Aluna tidak tahu cara menyaring ucapannya.

Dan itu… cukup mengganggu.

“Jaga ucapanmu,” katanya, nada suaranya mulai lebih rendah. “Tidak semua hal perlu dikomentari.”

Namun, peringatan itu tampaknya tidak terlalu berpengaruh.

“Bukannya aku komentar, aku cuma,,,” Aluna terhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan, “aku cuma tidak nyaman. Kalau nanti aku sesak napas bagaimana?”

Zayn kembali meliriknya, kali ini sedikit lebih lama.

Ada ketulusan dalam nada itu. Bukan sekadar keluhan.

“Kalau memang tidak kuat, kita bisa keluar lebih cepat,mudah saja” katanya akhirnya, lebih singkat.

Aluna terdiam sesaat, lalu mendesah pelan. “Ya sudah…”

Namun, keheningan itu hanya bertahan beberapa detik.

“Tapi tetap saja aneh,” gumamnya lagi. “Acara formal tapi isinya begitu semua…”

Zayn menutup matanya sejenak, jelas menahan sesuatu.

“Aluna.”

Satu panggilan itu cukup membuat gadis itu berhenti bicara.

“Apa?” jawabnya, sedikit lebih pelan.

“Diam sejenak tidak akan membuatmu mati.”

Aluna menatapnya tidak percaya. “baiklah Tuan Zayn Devandra yang menyebalkan ”

Aluna menghela napas kasar, lalu memalingkan wajah ke jendela. Kali ini benar-benar diam, meskipun jelas raut kesalnya masih terlihat.

Zayn kembali fokus ke jalan, namun dalam hati ia menyadari sesuatu.

Gadis itu… terlalu jujur.

Dan entah mengapa, kejujuran itu terasa merepotkan sekaligus—mengusik.

Mobil akhirnya memasuki area hotel tempat gala dinner diselenggarakan. Gedung megah itu berdiri dengan pencahayaan yang elegan, dipenuhi tamu-tamu berpakaian formal yang tampak berkelas.

Zayn memarkirkan mobil dengan rapi, lalu mematikan mesin.

Beberapa detik hening.

Ia menoleh ke arah Aluna.

Gadis itu tampak kembali gugup, tangannya saling menggenggam di atas paha. Rasa kesalnya tadi seolah berganti menjadi kecanggungan.

Zayn menghela napas pelan.

“Dengarkan saya baik-baik,” ucapnya, suaranya kini lebih tegas.

Aluna menoleh, sedikit terkejut dengan perubahan nada itu.

“Di dalam nanti,” lanjut Zayn, “jaga sikapmu.”

Aluna mengerutkan kening. “Maksudnya?”

“Bersikap anggun. Jangan banyak berbicara. Jangan bertanya hal-hal yang tidak perlu,” jelasnya tanpa jeda. “Ikuti saja apa yang saya lakukan”

"kalau kamu minum Alkohol,aku harus mengikuti begitu,tidak mungkin"ucap Aluna yang membuat Zayn menghela napas kesal

"Aluna, please stop,bisa tidak bicaramu di kontrol"ucap Zayn tegas

Aluna menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas panjang.

“Banyak aturan sekali,” gumamnya pelan.

“Itu bukan aturan,” balas Zayn. “Itu cara bertahan di tempat seperti ini.”

Aluna terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung membantah.

Zayn membuka pintu mobil, lalu keluar lebih dulu. Ia berjalan memutar, kemudian membuka pintu untuk Aluna.

Gadis itu menatap tangannya sejenak, lalu keluar dengan hati-hati, berusaha menyeimbangkan diri dengan sepatu hak tinggi yang masih terasa asing baginya.

Zayn memperhatikan sejenak, memastikan ia tidak terjatuh.

“Bisa berjalan?” tanyanya singkat.

Aluna mengangguk, meskipun terlihat ragu. “Bisa… mungkin.”

Zayn mengulurkan lengannya.

“Pegang.”

Aluna menatapnya sejenak, lalu perlahan menyambut uluran itu.

Dan sebelum mereka melangkah masuk ke dalam gedung megah tersebut, Zayn berkata sekali lagi, dengan nada rendah namun penuh penekanan—

“Jangan membuat masalah.”

Aluna mendengus pelan.

Namun kali ini, ia hanya menjawab singkat.

“Iya, Tuan Zayn Devandra yang menyebalkan”

Mereka pun melangkah masuk bersama.

Satu dengan sikap tenang dan terkendali.

Yang satu lagi… berusaha keras menyesuaikan diri dengan dunia yang bukan miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!