Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Di kediaman keluarga besar yang megah itu, Onur duduk di sofa ruang tengah dengan raut wajah yang sulit dibaca.
Pikirannya masih tertuju pada percakapan telepon dengan Emirhan tadi.
Ada kemarahan yang tertahan, namun juga rasa lega karena putranya selamat.
Langkah kaki terdengar mendekat. Zaenab, istri Onur sekaligus ibu Emirhan, muncul dengan gurat kecemasan yang tak bisa disembunyikan.
Sejak semalam, perasaannya tidak tenang karena putranya itu tidak pulang.
"Ada apa? Di mana putra kita?" tanya Zaenab langsung, matanya menatap tajam ke arah suaminya.
"Aku mencarinya ke kamar, tapi dia tidak ada. Teleponnya juga sulit dihubungi semalam."
Onur mengalihkan pandangan dari ponselnya, mencoba tetap tenang.
Ia tahu istrinya memiliki jantung yang lemah dan sangat emosional jika menyangkut Emirhan.
Jika ia tahu putranya nyaris tewas tertembak, keadaan rumah bisa kacau.
"Dia ada di lapangan," jawab Onur pendek, memberikan jawaban yang sudah ia siapkan.
Sebuah kebohongan demi menjaga ketenangan sang istri.
"Di lapangan? Sampai tidak pulang?" Zaenab mengerutkan kening, tidak langsung percaya.
"Proyek mana yang begitu penting sampai dia harus bermalam di sana?"
"Proyek baru di pinggiran Istanbul. Ada kendala teknis pada materialnya, jadi dia memilih untuk mengawasi langsung bersama Kabir," lanjut Onur dengan suara yang lebih tegas agar terdengar meyakinkan.
"Kamu tahu sendiri bagaimana sifat putra kita, dia tidak akan tenang sebelum semuanya sempurna."
Zaenab menghela napas panjang, sedikit merasa lega meski belum sepenuhnya puas.
"Dia persis sepertimu, Onur. Selalu mendahulukan bisnis di atas segalanya."
Onur hanya mengangguk kecil, membiarkan istrinya percaya pada kebohongan itu. Namun, di dalam hatinya, Onur sedang menyusun rencana.
Ia tidak bisa membiarkan Emirhan terlalu lama berurusan dengan gadis asing yang menyelamatkannya itu.
Baginya, setiap detik yang dihabiskan Emirhan di rumah sakit adalah risiko yang bisa merusak nama baik keluarga jika terendus oleh media.
"Aku akan segera memintanya pulang setelah urusannya selesai," tambah Onur sambil beranjak berdiri, bermaksud menghindari pertanyaan lebih lanjut dari Zaenab.
Laura berdiri mematung di balik pilar besar yang memisahkan ruang tengah dengan koridor menuju dapur.
Napasnya tertahan, telinganya tajam menangkap setiap kata yang diucapkan paman dan bibinya.
Sebagai seseorang yang sudah lama menyimpan rasa pada sepupunya itu, radar Laura selalu menyala jika menyangkut Emirhan.
"Menginap?" gumam Laura sangat pelan, nyaris berupa bisikan yang tertelan udara.
Ia mengerutkan kening. Penjelasan pamannya, Onur, terasa sangat janggal di telinganya.
Laura tahu betul kebiasaan Emirhan; meskipun pria itu seorang penggila kerja, Emirhan paling benci mengenakan pakaian yang sama selama dua hari berturut-turut.
Tidak mungkin seorang Emirhan yang perfeksionis mau menginap di lokasi proyek yang berdebu tanpa persiapan apa pun.
Ada yang tidak beres, pikir Laura sambil menyilangkan tangan di dada.
Sorot matanya menjadi tajam. Ia merasa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya dan dari Bibi Zaenab.
Jika itu hanya masalah bisnis, Onur tidak perlu terlihat seformal dan sekaku itu saat menjawab.
Siapa yang kau temui sebenarnya, Emirhan? Laura segera merogoh ponsel di saku gaun rumahnya yang elegan.
Ia tidak akan tinggal diam. Jika ia tidak bisa mendapatkan jawaban dari paman dan bibinya, maka ia akan mencari tahu dengan caranya sendiri.
Dengan langkah anggun namun penuh tekad, ia berjalan menjauh menuju kamarnya, bersiap untuk menghubungi salah satu kenalannya yang bekerja di bagian administrasi Emirhan Grup atau bahkan menyewa orang untuk melacak keberadaan mobil Emirhan.
Baginya, tidak ada rahasia yang boleh tersimpan terlalu lama jika itu menyangkut lelaki yang ia impikan untuk menjadi suaminya.
Di tengah hiruk pikuk kota Istanbul, suasana di rumah makan milik Maria sedang berada di puncak kesibukan.
Aroma rempah khas masakan rumahan memenuhi ruangan, beradu dengan suara denting sendok dan percakapan para pelanggan yang memenuhi hampir setiap meja.
Zarta, kakak laki-laki Aliya, tampak gesit bergerak di antara meja-meja.
Ia membawa nampan besar berisi pesanan, sementara peluh mulai membasahi pelipisnya.
Berbeda dengan Aliya yang lebih lembut, Zarta adalah sosok yang praktis dan menjadi tumpuan Maria dalam mengelola usaha keluarga ini.
"Meja nomor lima, dua porsi Pide dan teh hangat!" seru Zarta sambil meletakkan pesanan dengan cekatan.
Di balik meja kasir, Maria tampak sibuk mencatat pesanan sambil sesekali mengawasi dapur.
Meskipun tangannya bekerja dengan cepat, pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana. Wajahnya terlihat lebih tegang dari biasanya.
"Ibu, istirahatlah sebentar. Wajah Ibu pucat," ucap Zarta saat ia kembali ke kasir untuk mengambil nota baru.
Maria hanya menggeleng kaku. "Ibu tidak apa-apa, Zarta. Hanya saja, Ibu merasa aneh. Aliya tidak biasanya menginap mendadak seperti ini, apalagi ponselnya mati."
Zarta mencoba menenangkan ibunya. "Tadi Leyla sudah menelepon, kan? Mungkin mereka memang sedang sibuk dengan tugas sekolah. Aliya sudah besar, Bu, dia tahu cara menjaga diri."
Maria terdiam sejenak. Ia teringat kejadian di sekolah kemarin, tentang betapa kerasnya ia melarang Aliya menari.
Ada secercah rasa bersalah yang ia tekan dalam-dalam.
"Dia anak yang keras kepala, Zarta. Ibu hanya takut dia salah jalan karena terlalu asyik dengan dunianya sendiri."
"Aliya anak yang baik. Dia tidak akan melakukan hal yang memalukan keluarga," balas Zarta meyakinkan, meski ia sendiri sebenarnya merasa ada yang janggal karena Aliya tidak mengiriminya pesan satu pun sejak kemarin siang.
Kesibukan di rumah makan itu terus berlanjut, menutupi kecemasan yang perlahan tumbuh di hati ibu dan anak tersebut.
Mereka tidak tahu bahwa saat mereka sedang berjuang melayani pelanggan, Aliya sedang berada di sebuah kamar mewah dengan penjagaan ketat, di bawah perlindungan pria paling berkuasa di kota itu.
Sore harinya, udara di dalam kamar VVIP terasa semakin sunyi. Aliya berkali-kali mengubah posisi duduknya, menatap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Istanbul, namun rasa bosan mulai menghimpitnya.
Ia terbiasa bergerak aktif, berlatih tari berjam-jam, sehingga berdiam diri di atas ranjang terasa seperti siksaan baginya.
Emirhan, yang sejak tadi sibuk dengan tablet di tangannya, menyadari kegelisahan gadis itu. Ia meletakkan pekerjaannya dan berdiri.
"Kamu terlihat seperti burung yang terkurung di sangkar," ucap Emirhan pelan.
Ia melangkah menuju pojok ruangan dan mengambil sebuah kursi roda yang sudah disiapkan.
"E-eh? Kita mau ke mana?" tanya Aliya bingung.
"Keluar sebentar. Menghirup udara segar lebih baik daripada menatap tembok putih ini terus-menerus," jawab Emirhan.
Dengan sangat hati-hati, ia membantu Aliya berpindah ke kursi roda, memastikan gerakan itu tidak menarik jahitan di dadanya.
Tujuan pertama mereka adalah kantin rumah sakit yang terletak di lantai dasar.
Meski berstatus sebagai CEO besar, Emirhan tidak keberatan mendorong sendiri kursi roda Aliya, mengabaikan tatapan heran dari beberapa staf rumah sakit yang mengenalinya.
Di sana, Emirhan membelikan segelas kopi hitam untuk dirinya sendiri dan segelas susu coklat hangat untuk Aliya.
"Minumlah, ini akan membuat suasana hatimu lebih baik," ucap Emirhan sambil menyerahkan minuman itu.
Setelah itu, mereka menuju ke taman belakang rumah sakit.
Taman itu cukup luas, dipenuhi pohon-pohon yang mulai rimbun dan bangku kayu yang tertata rapi. Angin sore berembus lembut, memainkan helaian rambut Aliya yang tergerai.
Aliya menyesap susu coklatnya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia menoleh ke arah Emirhan yang berdiri di sampingnya sambil memandang cakrawala.
"Maaf sudah merepotkan kamu," ucap Aliya dengan nada tulus, meski suaranya masih sedikit lemah.
"Seharusnya Anda... ah, maksudku, kamu, tidak perlu melakukan semua ini. Kamu pasti sangat sibuk di kantor."
Emirhan menunduk, menatap Aliya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aliya, nyawaku jauh lebih berharga daripada beberapa jam waktu kerjaku. Dan melihatmu bisa tersenyum lagi seperti itu bukan sebuah kerepotan."
Aliya terdiam, jantungnya berdebar sedikit lebih kencang bukan karena rasa sakit, melainkan karena perlakuan lembut pria yang baru dikenalnya ini.
Di taman yang tenang itu, perbedaan status di antara mereka seolah memudar, digantikan oleh kedekatan yang tumbuh secara perlahan di antara dua orang asing yang dipertemukan oleh takdir yang berbahaya.
Angin sore berembus sedikit lebih kencang, membawa aroma tanah dan bunga-bunga taman yang bermekaran.
Emirhan menyesap kopinya yang mulai mendingin, lalu menoleh ke arah Aliya yang tampak termenung menatap gelas susu cokelat di pangkuannya.
"Setelah lulus, kamu berencana melanjutkan kuliah ke mana?" tanya Emirhan, mencoba membuka percakapan yang lebih pribadi.
Aliya terdiam sejenak, matanya menunjukkan keraguan yang mendalam.
"Entahlah," jawabnya pelan.
"Jujur saja, jiwaku ada di seni. Aku ingin masuk ke akademi seni, fokus menari dan mengasah bakatku di sana."
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat, "Tapi, Ibu sangat menentangnya. Dia memintaku—bahkan menuntutku—untuk menjadi dokter. Katanya, seni tidak punya masa depan yang pasti."
Mendengar itu, Emirhan menghela napas panjang. Ia teringat akan ayahnya sendiri, Onur, yang juga selalu mendikte setiap langkah hidupnya demi kepentingan perusahaan.
Ia tahu rasanya hidup dalam bayang-bayang ekspektasi orang tua yang mencekik.
"Turuti kata hatimu, Aliya," ucap Emirhan dengan nada bicara yang dalam dan penuh penekanan.
Aliya menoleh, sedikit terkejut dengan saran pria itu.
"Tapi Ibu bisa sangat marah. Aku tidak ingin mengecewakannya lagi."
"Mengecewakan orang lain itu sementara, tapi mengkhianati dirimu sendiri itu selamanya," balas Emirhan sambil menatap lurus ke depan.
"Dunia medis butuh orang-orang yang berdedikasi, tapi dunia ini juga butuh keindahan yang kamu ciptakan lewat tarianmu. Jika kamu menjadi dokter hanya karena paksaan, kamu hanya akan menjadi tawanan di dalam jas putihmu sendiri."
Aliya terpaku mendengar kata-kata Emirhan. Selama ini, tidak ada yang pernah mendukung mimpinya dengan begitu tegas.
Bahkan Leyla hanya bisa menghiburnya tanpa memberi solusi.
Di hadapan CEO yang terlihat kaku ini, Aliya justru menemukan keberanian yang selama ini ia sembunyikan.
"Kenapa kamu begitu yakin?" tanya Aliya lirih.
Emirhan menatapnya, ada kilatan kagum di matanya.
"Karena aku sudah melihatmu menari di video itu, Aliya. Seseorang dengan bakat sebesar itu tidak seharusnya menghabiskan hidupnya di dalam ruang operasi yang dingin. Kamu diciptakan untuk panggung."
Pipi Aliya merona merah. Dukungan dari Emirhan terasa seperti energi baru yang mengalir ke dalam dirinya, lebih kuat daripada obat apa pun yang diberikan dokter tadi pagi.
Di taman rumah sakit itu, Aliya mulai merasa bahwa hidupnya mungkin memang akan berubah total sejak ia memutuskan untuk menyelamatkan pria di sampingnya ini.