Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fratelli di Sangue: Ikatan Darah dan Cinta
Kembalinya klan De Luca dari tanah Eropa tidak hanya membawa pulang kemenangan taktis atas faksi bayangan Prancis, tetapi juga sebuah transformasi psikologis yang mendalam bagi ketiga bersaudara penguasa dunia bawah itu. Di bawah langit Milan yang dingin, mereka sempat saling melempar ego demi memperebutkan perhatian seorang gadis biasa dari Palmerah. Namun, begitu roda pesawat jet pribadi mereka kembali menyentuh aspal Bandara Soekarno-Hatta, atmosfer belantara beton Jakarta langsung mengembalikan mereka pada realitas yang baru: bahwa mereka kini bukan lagi sekadar pelarian politik, melainkan sebuah keluarga yang utuh di bawah satu atap ruko berlantai tiga.
Fratelli di Sangue—Ikatan Darah—bukan lagi sekadar sumpah mati ala mafia Sisilia yang diikrarkan dengan tetesan darah di atas gambar orang suci yang dibakar. Di ruko Palmerah yang berfungsi sebagai markas tim Aegis Esports ini, sumpah kuno itu mengalami sinkronisasi budaya dengan konsep gotong royong lokal. Dan di tengah-tengah sirkuit emosional tersebut, Bianca berdiri sebagai poros utamanya, perekat spiritual yang berhasil menjinakkan keliaran tiga monster Roma.
Aroma khas Jakarta Barat—perpaduan antara udara panas sisa hujan, asap knalpot ojek online, dan keharuman bumbu pecel ayam dari warung tenda seberang jalan—menyambut kedatangan rombongan Lorenzo sore itu. Luka tembak di dada Bianca sudah jauh membaik berkat perawatan medis berjalan selama penerbangan melintasi benua, meskipun ia masih harus berjalan agak perlahan dengan topongan tangan dari Lorenzo.
"Pelan-pelan, Bianca," ucap Lorenzo dengan suara baritonnya yang rendah namun sarat akan proteksi mutlak. Tangan kanannya yang kekar memeluk pinggang Bianca dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada guncangan yang bisa menarik kembali benang jahitan di dada gadis itu.
"Aduh, Mas Lorenzo, saya udah nggak apa-apa kok. Ini kalau disuruh lari ngejar diskon baju di pasar juga udah sanggup," canda Bianca, meskipun wajahnya sedikit merona karena jarak tubuh mereka yang begitu dekat.
Begitu pintu ruko lantai dasar terbuka, suara lengkingan melengking langsung menyambut mereka tanpa permisi.
"Ya ampun, Neng Bianca!!! Akhirnya pulang juga Gusti Nu Agung!" Ibu Sukeni, pemilik warung kelontong sebelah ruko, langsung berlari masuk sambil membawa sebungkus besar kerupuk kaleng dan sapu lidi. "Itu mukanya kok pucat banget? Pasti di luar negeri sana makannya cuma roti tawar pakai keju basi ya? Ini Ibu udah masakin sayur asem sama sambal terasi kesukaan Neng Bianca, biar badannya seger lagi!"
Sebelum Bianca sempat menjawab, seekor makhluk berbulu oranye pekat melompat dari atas meja resepsionis dengan kecepatan taktis yang mengejutkan. Kopral Gatito mendarat tepat di depan sepatu bot kulit Lorenzo, mendongak, lalu mengeluarkan suara mengeong yang sangat menuntut.
Meong.
"Gatito," Lorenzo menatap kucing itu dengan pandangan mata elangnya yang dingin, namun ada sedikit kedutan senyum di sudut bibirnya. "Aku melihat laporan digital dari Dante bahwa kau mengencingi keset kamarku selama aku di Venesia. Itu adalah pelanggaran disiplin militer tingkat berat."
Kopral Gatito tidak peduli. Kucing itu justru berjalan mendekati kaki Bianca, mengosokkan badannya yang gembrot ke kain celana Bianca seolah-olah sedang memberikan laporan bahwa ruko Palmerah aman terkendali di bawah pengawasannya.
Dante dan Valerio masuk dari arah belakang sambil membawa koper-koper taktis. Dante langsung menuju ke sudut ruangan, menyalakan komputer server utama Aegis Esports, dan menghela napas lega saat melihat indikator lampu berwarna hijau menyala dengan stabil. "Algoritma lokal ruko ini merindukanku. Lalu lintas data dari server regional Moonton menunjukkan ada lonjakan aktivitas pendaftaran turnamen baru untuk anak-anak kita besok pagi."
Malam harinya, setelah suasana riuh penyambutan dari Ibu Sukeni dan tetangga sekitar mereda, lantai dua ruko Palmerah berubah menjadi ruang ritual yang sangat tidak biasa. Di atas meja makan kayu yang biasanya dipenuhi oleh kertas-kertas strategi draft pick Mobile Legends, kini tersaji hidangan makan malam yang sangat kontras: semangkuk besar sayur asem buatan Ibu Sukeni, sepiring penuh tahu-tempe goreng, sambal terasi yang aromanya menyengat, dan sebotol anggur merah Brunello di Montalcino tahun 2015 yang dibawa Lorenzo langsung dari ruang bawah tanah kastilnya di Roma.
Tiga bersaudara De Luca duduk melingkari meja bersama Bianca dan Reno. Lorenzo berada di kepala meja, Dante di sisi kiri dengan gawai tablet yang menyala di samping piringnya, dan Valerio di sisi kanan, sibuk mengasah pisau komando kecilnya sebelum digunakan untuk memotong tempe goreng dengan tingkat simetri yang sempurna.
"Malam ini," Lorenzo membuka suara, mengangkat gelas kristal berisi anggur merahnya tinggi-tihi. "Kita tidak merayakan hancurnya faksi Prancis di Venesia. Kita juga tidak merayakan kematian Fabrizio. Kita merayakan kembalinya jantung klan ini... keselamatan Bianca."
Dante ikut mengangkat gelasnya, matanya menatap Bianca di balik lensa kacamatanya dengan ketulusan yang jarang ia tunjukkan. "Secara matematis, peluang keberhasilan operasi medis Bianca kemarin malam adalah delapan puluh delapan persen. Namun, kenyataan bahwa kau duduk di sini malam ini, mengunyah tahu goreng dengan fungsionalitas organ tubuh yang utuh, adalah sebuah anomali emosional yang sangat kusyukuri, Bianca."
Valerio meletakkan pisau komandonya, mengangkat gelasnya dengan gerakan militer yang khidmat. "Kau telah menerima peluru yang seharusnya ditujukan untuk Capo kami. Di bawah hukum kuno klan De Luca, tindakanmu menjadikanku berutang nyawa padamu seumur hidupku, Bianca. Mulai detik ini, tidak akan ada satu bilah senjata pun di Asia Tenggara yang bisa diarahkan kepadamu tanpa melewati mayatku terlebih dahulu."
Bianca memandangi ketiga pria itu satu per satu. Rasa haru yang teramat sangat mendadak menyumbat tenggorokannya, membuat matanya yang bulat berkaca-kaca. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pertemuannya dengan seorang bos mafia internasional di sebuah dermaga Jakarta beberapa bulan lalu akan membawanya pada ikatan persaudaraan sekental ini.
"Aduh, kalian ini... kok jadi formal banget sih," bisik Bianca sambil menghapus setitik air mata di sudut matanya dengan tisu warung. "Saya kan jadi malu. Saya juga minta maaf kalau selama ini sering ngomel-ngomel masalah token listrik ruko yang cepet habis gara-gara komputernya Mas Dante nyala terus dua puluh empat jam. Tapi... makasih banyak ya. Bagi saya, kalian bukan cuma sekadar bos atau orang asing lagi. Kalian sudah kayak kakak-kakak kandung saya sendiri yang paling aneh, paling serem, tapi paling sayang sama saya."
Lorenzo tersenyum—sebuah senyuman penuh kebanggaan penguasa yang telah menemukan kedamaian sejatinya. "Fratelli di Sangue, Bianca. Kita adalah ikatan darah yang baru. Darah yang tumpah di Venesia telah menyatukan takdir kita dengan tanah Palmerah ini untuk selamanya."
Setelah makan malam yang emosional itu selesai, Dante dan Valerio kembali ke lantai dasar ruko untuk membantu Reno menyusun jadwal latihan tim Aegis Esports yang akan menghadapi laga penentuan di liga lokal minggu depan. Sementara itu, Lorenzo menuntun Bianca menuju area balkon lantai tiga ruko—sebuah tempat terbuka kecil yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu jalanan Palmerah dan jembatan penyeberangan orang yang mulai sepi.
Hujan tipis khas malam Jakarta mulai turun, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Lorenzo melepaskan jas tuksedo hitamnya, lalu menyampirkannya ke atas bahu mungil Bianca agar gadis itu tidak kedinginan oleh embusan angin malam.
"Mas Lorenzo nggak dingin?" tanya Bianca, merapatkan jas mewah beraroma parfum maskulin milik Lorenzo ke tubuhnya.
"Tubuhku sudah terlatih menahan suhu minus nol derajat di pegunungan Alpen, Bianca. Angin Jakarta tidak akan bisa membuatku sakit," jawab Lorenzo sambil bersandaran pada pagar besi balkon, memandangi wajah Bianca dari samping di bawah temaram lampu neon ruko.
Suasana hening tercipta di antara mereka berdua selama beberapa saat, hanya ditemani oleh suara rintik hujan yang menghantam atap seng ruko sebelah dan suara klakson motor dari kejauhan. Keheningan itu tidak terasa canggung, melainkan penuh dengan ketegangan romantis yang matang.
"Bianca," panggil Lorenzo perlahan, suaranya terdengar jauh lebih lembut dibandingkan saat ia memberikan perintah militer kepada pasukannya.
"Iya, Mas Bos?" Bianca menoleh, menatap langsung ke dalam manik mata elang Lorenzo yang malam ini tampak begitu teduh dan dalam, seperti samudera tanpa dasar.
"Saat peluru itu menembus tubuhmu di Venesia... aku merasakan sebuah ketakutan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku," ucap Lorenzo jujur, sebuah pengakuan emosional yang sangat mahal dari seorang pria tertinggi De Luca. "Aku pernah tertembak tiga kali, aku pernah dikhianati oleh paman kandungku sendiri, dan aku tidak pernah gemetar sedikit pun. Namun melihatmu menutup mata... aku menyadari bahwa seluruh kekuasaan dan jutaan euro yang kumiliki di Eropa tidak akan ada gunanya jika aku tidak bisa mendengar suaramu yang berisik di ruko ini lagi."
Lorenzo melangkah mendekat, memotong jarak di antara mereka hingga Bianca bisa merasakan kehangatan nafas Lorenzo di atas keningnya. Ia mengangkat tangan kirinya, jemarinya yang besar menyentuh pipi Bianca dengan kelembutan yang luar biasa halus, mengusap seuntai rambut hitam Bianca yang basah oleh sisa rintik hujan.
"Aku menyukaimu, Bianca. Bukan karena jiwamu pernah terperangkap di dalam tubuhku, tetapi karena kau adalah satu-satunya manusia yang mampu melihat sisi monster di dalam diriku dan tetap memilih untuk membuatkanku segelas wedang jahe hangat di malam hari," bisik Lorenzo, matanya mengunci seluruh fokus spiritual Bianca. "Aku tidak bisa menjanjikanmu sebuah kehidupan yang normal seperti gadis-gadis Jakarta lainnya. Duniamu sekarang akan selalu dikelilingi oleh kaca antipeluru dan pengawalan taktis. Namun, aku berjanji... aku akan menjadi perisai paling kokoh yang akan menjagamu dari marabahaya apa pun di dunia ini."
Bianca merasakan jantungnya berdegup kencang dengan irama yang sangat tidak beraturan, jauh lebih cepat daripada saat ia dikejar oleh anjing tetangga di kompleks rumahnya dulu. Wajahnya terasa sangat panas, rona merah muda yang pekat kini muncul menghiasi kedua pipinya di balik keremangan malam.
"Mas Lorenzo..." Bianca menelan ludah, tangannya tanpa sadar meremas ujung jas Lorenzo yang ia kenakan. "Saya... saya juga nggak tahu sejak kapan rasanya begini. Awalnya saya pikir saya cuma takut sama Mas Bos karena penampilan Mas Bos kayak algojo di film-film bioskop. Tapi... tiap kali Mas Lorenzo nggak ada di ruko, rasanya ada yang kurang. Tiap kali saya ngelihat Mas Lorenzo minum kopi espresso pahit itu, bawaannya pengen saya manis-manisin pakai senyuman saya aja... Eh, maksudnya pakai gula pasir!"
Lorenzo terkekeh rendah mendengarkan kepolosan kalimat Bianca yang masih sempat-sempatnya salah tingkah di tengah momen romantis tersebut. Tanpa banyak bicara lagi, Lorenzo menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara bibir mereka lenyap seutuhnya di bawah perlindungan malam Jumat yang syahdu di kawasan Palmerah.
Sebuah ciuman yang lembut, penuh dengan komitmen perlindungan dan cinta yang murni, mengunci janji tak tertulis di antara penguasa mafia Roma dan gadis biasa Jakarta Barat tersebut. Di balik rintik hujan yang semakin deras membasahi bumi, ikatan darah klan De Luca malam itu resmi bertransformasi menjadi ikatan cinta yang tak akan pernah bisa dihancurkan oleh senjata api atau konspirasi politik mana pun dari benua Eropa. Mereka telah pulang, mereka telah menemukan koordinat akhir dari pencarian jiwa mereka, dan di dalam ruko berlantai tiga yang sederhana itu, sebuah fajar baru bagi klan De Luca dan tim Aegis Esports kini siap menyambut masa depan dengan segala kemegahan lokal yang tak ternilai harganya.