NovelToon NovelToon
Love Mercenary Killer

Love Mercenary Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: bgreen

Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mengalahkan musuh

Dor Dor Dor

Suara tembakan kembali bersahutan, memecah keheningan malam dengan dentuman yang menggetarkan dada. Namun Rex dan kawan-kawan mampu menghadapi situasi itu dengan tenang dan terampil.

Mata Rex sempat tertuju pada Maple—ia terlihat begitu lincah dan presisi saat menarik pelatuk senjatanya, gerakannya luwes seolah sudah terbiasa dengan situasi berbahaya. Di sisi lain, Rey, putranya, tetap mempertahankan ketenangan yang luar biasa; wajah kecilnya tak menunjukkan rasa takut, hanya fokus yang tajam.

Mereka akhirnya berlari dan bersembunyi di samping bodi mobil yang dingin, menahan tembakan sambil mengamati jumlah musuh yang menyerang. Rex hanya melihat dua pria saat ini—besar kemungkinan merekalah yang menjadi penyerang.

"Apa kau mengenal mereka?" tanya Rex, suaranya rendah namun tegas, matanya tetap terpaku pada dua sosok itu.

Maple mengeratkan cengkeramannya pada senjata, matanya menyipit saat melihat mereka masuk ke dalam kafe. "Pria yang punya bekas luka di wajah... dia yang selama ini selalu memburu kami."

"Siapa mereka sebenarnya?" tanya Rex lagi.

"Aku tak tahu pasti. Tapi kemungkinan besar, mereka orang suruhan Vandross," jawab Maple, nada suaranya bercampur rasa benci dan waspada.

Tiba-tiba, Rex melihat Orion memberi isyarat kepadanya dari sisi lain—gerakan tangan yang cepat namun jelas.

"Masuklah ke dalam mobil. Kita pergi dari sini," perintah Rex pada Maple, lalu perlahan membuka pintu mobil dan memberi isyarat agar ia dan Rey segera masuk.

"Why? Kenapa tidak kita habisi saja mereka di sini?" protes Maple, matanya masih berapi-api.

"Kita harus tahu siapa dalang di balik semua ini. Yang harus kau lawan bukan hanya mereka, tapi orang yang menyuruh mereka membunuhmu," jawab Rex lembut namun tegas.

"Sudah pasti itu keluarga Vandross," tegas Maple.

"Maple... dengarkan aku. Yang mengincar nyawamu bukan hanya keluarga Vandross. Ketua Organisasi Ordo Wolf juga memburumu karena kau membunuh wanita yang ia cintai, Camille. Jadi sekarang kita harus pergi ke tempat aman untuk membicarakan semua ini dengan tenang," ucap Rex. Ia pun dengan pelan membuka pintu mobil dan menyuruh Maple dan Rey masuk.

Di sisi lain, Orion melihat Rex dan yang lain  sudah aman di dalam mobil. Ia segera mengambil posisi strategis, berniat memancing musuh agar Rex bisa pergi lebih dulu.

"Tunggulah di sini. Aku akan memancing perhatian mereka," ucap Orion pada Sue dan Storm.

"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Sue, tangannya cepat menahan lengan Orion—ada rasa cemas yang menyelinap di matanya.

Orion menoleh, wajahnya menampilkan senyum tengil yang khas, lalu mengedipkan satu mata. "Tenanglah, baby. Tak akan lama, dan aku pasti baik-baik saja."

Sue menghela napas panjang, matanya memutar pelan melihat tingkah laki-laki itu. "Ciiis... Haaah..."

"Hati-hati, Kakak Ipar," ucap Storm dengan nada hormat.

Orion tersenyum tipis, lalu bergerak dengan cepat dan terlatih ke arah belakang kafe—tujuannya mengalihkan perhatian dua pria yang baru saja masuk.

"Jangan memanggilnya dengan sebutan seperti itu, Storm!" seru Sue sedikit kesal, pipinya sedikit memerah.

Storm hanya mengedikkan bahunya, seakan tak peduli dengan peringatan kakaknya.

*

*

*

Dor dor dor...

Suara tembakan kembali terdengar keras dari dalam kafe, membuat udara di sekitar Sue dan Storm terasa tegang. Wajah mereka penuh cemas, menunggu Orion yang sedang berhadapan dengan dua musuh itu sendirian.

Sementara itu, Rex sudah membawa Maple dan Rey menjauh dari lokasi itu, meninggalkan debu yang beterbangan di belakang mobil.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam bagi Sue. Setiap detik yang berlalu membuat rasa cemas di dadanya semakin membesar. Hingga akhirnya, terdengar suara langkah kaki dari samping kafe. Refleks, Sue dan Storm segera mengarahkan senjata mereka ke arah sumber suara.

"Wow... Wow... Ini aku," ucap Orion sambil mengangkat kedua tangannya, wajahnya masih tenang meski ada sedikit keringat di dahinya.

Sue segera menurunkan senjatanya, napasnya terhembus lega. "Kenapa kau lama sekali?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar—campuran antara lega dan kesal.

Orion tertawa kecil, mendekat perlahan. "Haha... Kau mencemaskanku, ya?"

"Kau masih bisa tertawa di situasi seperti ini?" sungut Sue, memukul pelan lengan Orion—gerakan kecil yang penuh perhatian.

"Apakah dua pria itu sudah Kakak Ipar lumpuhkan?" tanya Storm, matanya berbinar penasaran.

Orion mengangguk, lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Asap tipis mengepul dari bibirnya saat ia berbicara. "Hmm... Aku menyisakan satu. Membawanya hidup-hidup ke markas untuk kita interogasi."

"Waah... Kau sangat keren, Kakak Ipar!" puji Storm, lalu melirik ke arah kakaknya seolah meminta persetujuan.

"Aku memang keren," jawab Orion dengan senyum tipis yang memikat.

"Hentikan pembicaraan tak jelas ini. Bukankah saatnya kita pergi dari sini sebelum bala bantuan musuh datang?" potong Sue, berusaha menyembunyikan rasa leganya yang masih terlihat jelas di wajahnya.

"Hmm... Ayo kita pergi. Storm, bantu aku membawa pria itu," ucap Orion, lalu berjalan santai masuk ke dalam kafe.

Orion mengikat salah satu pria itu dan membiarkannya hidup—agar bisa mendapatkan informasi tentang siapa dalang di balik penembakan ini. Storm dengan sigap membantu Orion membawa pria yang sudah pingsan akibat pukulan keras itu ke dalam mobil.

Segera setelah itu, Orion masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju markas miliknya, meninggalkan lokasi kejadian yang kini sunyi kembali.

*

*

*

*

*

Deru mesin mobil Orion terdengar saat mereka tiba di sebuah lokasi terpencil di Las Vegas. Di sana, berdiri sebuah bangunan kokoh dengan tembok tinggi yang menjulang, tampak begitu megah dan aman.

Mobil Orion masuk ke dalam pagar tinggi yang terbuka secara otomatis. Beberapa pengawal bersenjata lengkap berjaga di sekitar area itu, memastikan keamanan tempat tersebut.

"Tempat apa ini?" gumam Sue, matanya memandang sekeliling dengan takjub dan sedikit waspada.

"Kalian akan aman di sini," jawab Orion dengan nada yakin.

"Woww... Kakak Ipar... Siapa sebenarnya dirimu?" tanya Storm, rasa penasarannya semakin memuncak.

Orion hanya tersenyum tipis, tidak menjawab pertanyaan itu—ia lebih memilih membiarkan misteri itu tetap ada untuk sementara waktu.

"Apakah Maple sudah ada di sini?" tanya Sue, mengalihkan pembicaraan.

"Ya... Seharusnya mereka sudah sampai. Karena ini adalah tempat paling aman untuk kalian saat ini," jawab Orion.

Mobil pun berhenti di depan pintu besar bangunan yang tampak begitu kokoh di balik pagar tinggi itu, menandakan perjalanan mereka yang berbahaya baru saja berakhir, dan babak baru pun akan segera dimulai.

1
perahu kertas
😯😯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!