NovelToon NovelToon
Mawar Indah Tuan Ferguson

Mawar Indah Tuan Ferguson

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Di bawah langit London yang selalu mendung, Alex Ferguson berdiri sebagai predator puncak di dunia bawah tanah Inggris. Baginya, kematian Brandon Warming karena sakit jantung adalah sebuah "penghinaan"—ia kehilangan kesempatan untuk membalas nyawa ibunya dengan tangannya sendiri.
Namun, Brandon meninggalkan satu-satunya harta yang tersisa: Tiana Luxemburg Warming. Gadis berusia 18 tahun yang masih memiliki binar polos di matanya, sama sekali tidak tahu bahwa seluruh hidupnya kini telah beralih menjadi milik Alex sebagai pelampiasan dendam yang belum tuntas. Bagi Alex, Tiana bukan sekadar mangsa, melainkan mahakarya yang akan ia hancurkan perlahan di balik dinding kastelnya yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kau hanyalah sampah

Di sebuah sudut kota London yang dingin, suasana di dalam ruangan kerja itu terasa mencekam. Aroma cerutu mahal dan kayu ek memenuhi udara.

"Tuan Alex... Brandon sudah tiada. Dia meninggal karena sakit jantung," lapor salah satu anak buahnya dengan kepala menunduk.

Alex Ferguson (30), yang sedang menyesap wiski mahalnya, terdiam sejenak. Matanya yang tajam dan sedingin es menatap lurus ke jendela yang menampilkan gemerlap lampu kota yang buram karena hujan.

"Hanya jantungan?" jawab Alex dengan nada rendah, namun penuh penekanan.

Ada kilat kekecewaan di matanya. Baginya, kematian Brandon yang "alami" adalah sebuah ketidakadilan. Dia sudah menyiapkan ribuan cara yang jauh lebih menyakitkan untuk menghabisi pria yang telah membunuh ibunya itu.

"Begitu mudah dia pergi setelah apa yang dia lakukan?" Alex meremas gelas di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia pikir kematian bisa menghapusnya dari dendamku?"

"Tapi Tuan... Brandon meninggalkan seorang putri. Tiana Luxemburg Warming. Dia sekarang sendirian di mansion," tambah anak buahnya lagi.

Mendengar nama itu, sudut bibir Alex terangkat, membentuk senyum tipis yang mematikan. "Putrinya? Jadi Brandon meninggalkan boneka kecil untuk menggantikan posisinya?"

Alex bangkit dari kursi kebesarannya, merapikan setelan jas hitamnya yang sempurna. "Siapkan mobil. Aku ingin melihat seberapa berharga 'warisan' yang ditinggalkan musuhku itu."

"Tapi Tuan, Anda harus menemui Kakek Anda malam ini di kediaman utama," sela asisten pribadinya dengan nada hati-hati. Pertemuan dengan sang patriark Ferguson bukanlah sesuatu yang bisa ditunda, bahkan oleh Alex sekalipun.

Alex terdiam sejenak, rahangnya mengeras. Ia benci jika rencananya tertunda, namun ia tahu aturan main di keluarganya.

"Kalau begitu, awasi saja dia. Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang apa yang terjadi di mansion itu," perintah Alex dingin. Matanya berkilat penuh selidik. "Jangan biarkan satu detail pun lolos."

"Siap, Tuan. Laksanakan."

Sementara itu, suasana di mansion Warming terasa sangat kontras. Tak ada lagi tempat tidur king size dengan sprei sutra untuk Tiana.

Gadis itu kini meringkuk di sebuah kamar sempit di area pelayan yang lembap dan pengap. Ruangan itu hanya berisi satu ranjang kayu tua yang keras dan sebuah lemari usang. Tiana memeluk boneka pemberian ayahnya erat-erat, satu-satunya benda yang memberikan kehangatan di tengah dinginnya lantai basemen.

Di luar kamar, beberapa pelayan lama dan pengawal yang dulu bekerja untuk Brandon hanya bisa menatap pintu kayu itu dengan rasa iba yang mendalam. Mereka ingin membantu, ingin membawakan selimut yang lebih tebal atau sekadar makanan hangat, namun mereka tidak berani.

Mata tajam Angelia dan Liona ada di mana-mana. Siapa pun yang berpihak pada Tiana akan langsung didepak keluar tanpa ampun.

"Hiks... Ayah... Ana takut..." bisik Tiana lirih di tengah kegelapan. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, seorang predator bernama Alex Ferguson sedang mulai menenun jaring untuk menangkapnya.

Pagi itu, sinar matahari yang tipis menembus celah gorden kecil di kamar pelayan, memaksa Tiana untuk membuka matanya yang masih sembab. Rasa sakit di hatinya belum hilang, tapi kenyataan pahit sudah menunggunya.

Ia segera bangun, mandi dengan air dingin yang menusuk kulit, lalu mengenakan seragam pembantu pemberian Liona. Kainnya kasar dan terasa sangat lusuh di kulitnya yang biasanya terbiasa dengan sutra halus. Dengan langkah ragu, Tiana keluar dari area bawah tanah, menuju lantai atas—ke arah kamar lamanya yang kini sudah berpindah tangan.

Di depan pintu kamar yang dulu adalah miliknya, Tiana menarik napas panjang. Ia harus mengetuk pintu itu, bukan lagi sebagai pemilik, tapi sebagai pelayan.

Tok... Tok... Tok...

"Liona... ini aku, Tiana," ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan tangis.

Pintu terbuka lebar, menampilkan Liona yang masih memakai piyama sutra milik Tiana. Ia berdiri angkuh sambil menunjuk ke arah lantai.

"Lama sekali! Cepat masuk dan bersihkan sepatuku. Aku mau keluar siang ini, dan aku tidak mau melihat ada satu noda pun di sana!" bentak Liona sambil melemparkan sepasang sepatu hak tinggi ke arah kaki Tiana.

Tiana tersentak, ia berlutut di lantai yang dingin, mulai mengelap sepatu itu dengan tangan gemetar. Di sudut ruangan, ia bisa melihat barang-barang kesayangannya mulai dibuang ke tempat sampah oleh sepupunya itu.

------------------------------

Tiana berdiri dengan punggung yang terasa kaku setelah berlutut cukup lama membersihkan sepatu. Peluh tipis membasahi keningnya yang pucat. Belum sempat ia menghela napas, Liona sudah berkacak pinggang di depan lemari besar Tiana.

"Sekarang siapkan baju untukku. Aku ingin pergi berkencan dengan pacarku siang ini," perintah Liona dengan nada tinggi. Matanya yang rakus menyisir deretan gaun desainer milik Tiana. "Berikan baju itu untukku!"

Jari Liona menunjuk pada sebuah gaun sutra berwarna biru pucat yang sangat cantik—gaun terakhir yang dibelikan Brandon untuk ulang tahun Tiana.

"Jangan... itu bajuku, Liona. Itu pemberian terakhir Ayah," bisik Tiana, mencoba melindungi gaun itu dengan tubuhnya. Suaranya bergetar hebat.

"Dasar pelit! Kau hanya pelayan sekarang, kau tidak butuh baju bagus!" Liona berteriak murka. "IBUUUUUU! IBUUUUUUU!"

Suara langkah kaki yang angkuh terdengar mendekat. Angelia masuk ke dalam kamar dengan wajah dingin yang langsung berubah masam melihat Tiana.

"Ada apa, Liona? Kenapa kamu berteriak-teriak?" tanya Angelia ketus.

"Lihat, Bu! Dia tidak mau meminjamkan bajunya padaku! Dia pelit sekali!" adu Liona sambil menunjuk Tiana dengan wajah yang dibuat sedih.

Angelia melangkah maju, sorot matanya tajam menembus manik mata Tiana yang basah. "Tiana, sadarlah. Di rumah ini tidak ada lagi milikmu. Jika adikmu menginginkannya, berikan! Jangan membuatku harus memberikan pelajaran padamu di pagi yang masih sepagi ini."

Tiana menunduk dalam, jari-jarinya meremas ujung seragam pembantunya yang kasar. Ia tahu, melawan hanya akan memperburuk keadaan. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, ia menyerahkan gaun biru kesayangannya—kenangan terakhir dari ayahnya—ke tangan Liona yang rakus.

"Pakailah, Liona..." ucap Tiana pasrah. Suaranya nyaris hilang, tertelan oleh rasa sesak di dada.

Liona menyambar gaun itu dengan kasar, lalu tersenyum puas seolah baru saja memenangkan lotre. "Nah, begitu dong. Dari awal harusnya kau sadar diri."

Namun, penderitaan Tiana belum berakhir di situ. Angelia melangkah mendekat, bayangannya menutupi tubuh mungil Tiana yang gemetar.

"Jangan merasa tugasmu sudah selesai hanya dengan memberikan baju itu," ucap Angelia dingin. Ia menunjuk ke arah jendela yang memperlihatkan halaman mansion yang sangat luas, tertutup daun-daun kering dan sisa hujan semalam. "Sekarang, pergi ke bawah dan bersihkan seluruh halaman rumah. Aku ingin semuanya bersih sebelum tamu-tamuku datang siang ini."

Tiana tersentak, ia melirik jam dinding yang terus berputar. "Tapi, Bi... aku harus berangkat sekolah sekarang. Ini hari Senin, aku bisa dihukum kalau terlambat lagi..."

Angelia tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar mengerikan di telinga Tiana.

"Sekolah?" Angelia mencibir sambil mengelus kuku-kuku mahalnya. "Kau pikir pelayan sepertimu masih punya hak untuk duduk di bangku sekolah mewah itu? Tugasmu sekarang adalah bekerja, Tiana. Jika kau melangkah keluar dari gerbang ini untuk ke sekolah tanpa seizinku, jangan harap kau bisa tidur di dalam mansion ini lagi malam nanti!"

Tiana mematung. Sekolah adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa menjadi manusia biasa, tempat di mana ia bisa sedikit melupakan duka kematian ayahnya. Tapi kini, Angelia bahkan ingin merampas masa depannya.

1
partini
don't worry uncle,,tuan Alex nanti dia sendiri yg masuk ke permainan nya sendiri bucin akut
partini: okeh Thor lnajut
total 2 replies
partini
good story
partini
lanjut Thor ceritanya bagus 👍
Nur Sabrina Rasmah: makasih kak support nya😍🙏
total 1 replies
partini
aduh paman masa langsung percaya aja
partini
visual keren ,tapi ceweknya rada kurang pas Thor cari yg cewek latin mata biru
Nur Sabrina Rasmah: kamu bayangin sendri aja ya ..maaf 🙏
total 1 replies
Mia Camelia
tahan ya alex🤣🤣🤣
Mia Camelia
jahat banget alex, aduh kasian dikit dong🤣
Mia Camelia
lanjut thor👍👍cerita nya keren🥰🥰🥰
Wayan Sucani
Ayok dong up lg
Nur Sabrina Rasmah: siap🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!