NovelToon NovelToon
Dinginmu, Hangatku

Dinginmu, Hangatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CAFÉ DU PONT

Raka tidak tidur.

Bukan karena tidak mencoba. Ia berbaring di ranjang sempit kamar hotel yang dipesan terburu-buru—empat kamar di lantai yang sama, satu koridor, cukup dekat untuk saling mendengar jika ada yang berteriak—dan menatap langit-langit selama dua jam sebelum menyerah dan duduk di tepi ranjang dengan laptop dan secangkir air panas yang ia seduh dari ketel kecil di sudut kamar.

Ia tidak memberitahu yang lain soal pesan itu.

Bukan karena tidak percaya. Melainkan karena instruksinya jelas: datang sendiri. Dan Raka cukup mengenal mekanisme informan untuk tahu bahwa syarat seperti itu bukan paranoia kosong—melainkan ujian pertama. Jika ia datang dengan rombongan, sumber itu akan menghilang sebelum kopi pertama dingin.

Pukul 05.47 ia sudah berpakaian.

Pukul 06.10 ia menyelinap keluar dari hotel.

Zurich di pagi buta adalah kota yang berbeda.

Trotoar batu yang kemarin basah oleh gerimis kini kering dan dingin, napas Raka mengepul tipis di udara. Toko-toko masih bertirai, lampu jalan menyala kuning di atas kanal yang tenang. Sesekali trem pagi melintas dengan bunyi rel yang halus—kota ini bahkan bising pun dengan tertib.

Raka berjalan dengan tangan di saku, kerah jaket ditegakkan, matanya menyapu kanan-kiri bukan karena panik melainkan karena kebiasaan yang sudah menjadi refleks. Ia sudah mengunduh peta offline semalam. Café du Pont ada di tepi Jembatan Rathausbrücke, tujuh menit jalan kaki dari hotel.

Ia tiba pukul 06.51.

Sembilan menit lebih awal—cukup untuk membaca ruangan sebelum siapa pun yang ingin membacanya tiba.

Kafe itu kecil dengan cara yang disengaja.

Enam meja kayu gelap, lampu kuning yang menggantung rendah, jendela besar menghadap jembatan dan sungai di bawahnya. Aroma kopi dan roti panggang mengisi udara dengan cara yang membuat orang ingin duduk lebih lama dari yang direncanakan. Seorang barista muda dengan celemek hijau tua sedang menyusun cangkir di balik konter tanpa terburu-buru.

Dua tamu sudah ada di dalam. Seorang pria tua membaca koran berbahasa Jerman di pojok kiri. Seorang perempuan muda dengan headphone besar mengetik di laptopnya di dekat jendela.

Tidak ada yang terlihat seperti informan.

Namun Raka tahu lebih baik dari siapa pun bahwa informan yang baik memang tidak terlihat seperti informan.

Ia memilih meja di tengah—bukan pojok, bukan dekat pintu. Titik yang memberikan pandangan ke seluruh ruangan sekaligus mudah dijangkau dari dua arah keluar. Lama kebiasaan lama.

Barista menghampiri. Raka memesan espresso dan croissant yang tidak akan ia makan—tangan harus sibuk dengan sesuatu agar terlihat wajar.

Pukul 07.00 tepat.

Tidak ada yang masuk.

Pukul 07.03.

Pukul 07.06—

"Kamu memilih meja yang sama dengan yang akan aku pilih."

Suara itu datang dari kursi di seberangnya.

Raka menajamkan pandangannya.

Perempuan dengan headphone besar itu—yang sejak tadi mengetik di laptopnya dekat jendela—kini duduk di hadapannya. Headphone sudah turun ke lehernya. Laptopnya ditutup. Dan untuk pertama kalinya Raka melihat wajahnya dengan jelas: empat puluhan awal, tulang pipi tinggi, mata yang terlalu tenang untuk situasi seperti ini, dan rambut hitam pendek yang dipotong rapi di bawah telinga.

Ia sudah ada di sini sebelum Raka tiba.

Raka merasa seperti baru saja dikalahkan dalam langkah pertama.

"Kamu sudah menguji aku sejak aku masuk," kata Raka.

"Sejak kamu berjalan di trotoar seberang jembatan," koreksi perempuan itu. Aksen Indonesianya sempurna—bukan ekspatriat, bukan keturunan. Seseorang yang tumbuh dengan bahasa itu. "Kamu berjalan seperti orang yang terbiasa dilihat tanpa mau dilihat. Kebiasaan menarik."

"Nama kamu," kata Raka. Bukan pertanyaan.

Perempuan itu memesan teh dari barista yang melintas, lalu menatap Raka dengan ekspresi yang sulit diartikan—seperti seseorang yang sedang memutuskan seberapa besar ia akan membuka pintu.

"Margareth," ucapnya akhirnya. "Margareth Sekar Anindhita."

Dunia di kepala Raka berhenti satu detik penuh.

M.S.A.

"Kamu bukan yang aku cari," kata Raka. "Kamu adalah yang semua orang cari."

"Perbedaan yang tepat." Margareth menyesap tehnya. "Dan itulah mengapa aku masih hidup sementara orang-orang di sekitar arsip itu satu per satu tidak."

"Berapa lama kamu bersembunyi?"

"Bersembunyi adalah kata yang terlalu dramatis." Ia meletakkan cangkirnya dengan presisi yang rapi. "Aku bekerja. Dari tempat yang tidak ada di peta Hendrawan." Matanya menatap Raka dengan cara yang terasa seperti pemindaian. "Bramantyo memberitahuku tentang kamu. Setahun sebelum dia jatuh."

Raka diam.

"Dia bilang: jika semuanya runtuh sebelum selesai, akan ada seseorang muda yang akan sampai ke titik ini. Seseorang yang berpikir dengan cara yang tidak linier. Berikan dia konteks yang cukup untuk membuat kesimpulan sendiri—jangan berikan jawabannya, karena jawaban yang tidak ditemukan sendiri tidak akan bertahan lama." Margareth tersenyum tipis. "Dia mengenalmu lebih baik dari yang kamu kira, Raka Adiwangsa. Padahal secara teknis kalian belum pernah bertemu."

"Siapa kamu sebenarnya dalam semua ini?"

Margareth meletakkan kedua tangannya di atas meja—gerakan yang terbuka, disengaja. "Aku adalah orang yang membangun algoritma di balik teknologi Pondasi Abadi. Bukan Bramantyo, bukan tim risetnya. Aku." Tidak ada kesombongan dalam kalimat itu. Hanya fakta yang sudah lama disimpan dan akhirnya dikeluarkan. "Bramantyo adalah visioner dan pendananya. Aku adalah arsiteknya yang sebenarnya. Dan cetak biru aslinya—yang bukan salinan, yang bukan versi yang ada di server Valen Group—ada bersamaku."

Raka memandangnya lama. "Lalu kenapa Hendrawan tidak pernah bisa menemukannya? Dia jelas tahu kamu ada."

"Karena dia tahu namaku, tapi tidak tahu wajahku." Margareth menyandarkan punggungnya ke kursi. "Dan di dunia ini, identitas yang paling aman adalah identitas yang hanya dikenal sebagai inisial dalam dokumen terenkripsi."

"Sampai malam kemarin."

"Sampai malam kemarin," ia mengangguk. "Saat namaku muncul dalam data yang diekstrak dari server Valen Group dan tersebar ke Interpol dan entah siapa lagi yang memiliki akses ke berkas itu." Ia menatap Raka dengan sesuatu yang menyerupai teguran halus. "Kamu menggerakkan terlalu banyak bidak sekaligus, Raka. Efektif untuk menjatuhkan Hendrawan. Namun berisiko untuk hal-hal yang lebih besar."

"Aku tidak tahu ada hal yang lebih besar."

"Sekarang kamu tahu."

Margareth membuka laptopnya. Ia memutar layar ke arah Raka.

Di sana bukan dokumen, bukan peta, bukan skema teknis. Melainkan sebuah tabel panjang—nama kota, koordinat, tanggal, dan di kolom terakhir: angka-angka dalam format yang Raka kenali sebagai indeks stabilitas pasar.

"Teknologi Pondasi Abadi bukan hanya untuk menilai stabilitas infrastruktur bangunan," ucap Margareth. "Itu yang selalu dikomunikasikan ke publik dan investor. Namun versi penuhnya—cetak biru aslinya—mampu melakukan sesuatu yang jauh lebih kompleks."

"Memprediksi pergerakan pasar modal," kata Raka. "Hendrawan sudah menyebutkan itu."

"Hendrawan menyebutkan satu lapisan." Margareth memperbesar tabel di layarnya. "Algoritma ini bisa memetakan korelasi antara stabilitas fisik sebuah wilayah—tanah, bangunan, infrastruktur publik—dengan pola investasi, migrasi penduduk, dan pada akhirnya: keputusan kebijakan pemerintah." Ia menatap Raka. "Jika kamu tahu lebih dulu bahwa fondasi sebuah kawasan akan gagal—bukan karena gempa, melainkan karena kombinasi faktor tanah dan beban pembangunan yang bisa diprediksi dua hingga lima tahun ke depan—kamu bisa memposisikan aset sebelum orang lain tahu. Kamu bisa membeli tanah murah di area yang tampak tidak menarik, lalu menjualnya dengan harga sepuluh kali lipat saat pemerintah terpaksa membangun ulang."

Raka merasakan sesuatu mengendap di dadanya. Bukan keterkejutan—melainkan pemahaman yang datang perlahan seperti air yang mengisi wadah.

"Itu yang dilakukan jaringan Hendrawan."

"Selama delapan tahun." Margareth menutup laptopnya. "Tiga kota sudah terdampak. Warga yang kehilangan tanah bukan karena penggusuran paksa yang kasar—melainkan karena serangkaian keputusan yang terlihat masuk akal, sah secara hukum, dan menguntungkan segelintir orang yang sudah lebih dulu tahu akhir dari permainan itu."

Raka menarik napas panjang. "Dan warung-warung di wilayah barat Jakarta—"

"Adalah target berikutnya. Tanah di sana memiliki indeks yang akan bergeser signifikan dalam delapan belas bulan ke depan." Margareth menatap Raka dengan serius. "Bukan buldoser yang perlu kamu hentikan, Raka. Buldoser adalah akibat. Yang perlu dihentikan adalah akses ke algoritma ini—dan dua nama yang tersisa setelah Hendrawan ditangkap."

"R. Soebagyo dan Larasati Wulan Dewi."

Margareth terdiam satu detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

"Soebagyo sudah tidak relevan," ucapnya akhirnya. "Dia hanya perantara administratif. Sudah sakit, sudah ketakutan, sudah siap bersaksi asal dijamin perlindungan." Ia menatap Raka. "Yang berbahaya adalah Larasati."

"Kenapa?"

"Karena Larasati Wulan Dewi bukan hanya direktur perusahaan investasi." Margareth meraih tasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tipis dan meletakkannya di atas meja di antara mereka. "Dia adalah orang yang selama ini mendanai persembunyianku. Dan tiga minggu lalu, dana itu berhenti masuk."

Ruangan terasa sedikit lebih dingin.

"Dia membalikkan pihak," kata Raka.

"Atau sejak awal tidak pernah benar-benar di pihak yang aku kira." Margareth mendorong amplop itu ke arah Raka. "Di dalam amplop itu ada salinan fisik dari bagian pertama cetak biru asli. Bukan semuanya—aku tidak sebodoh itu. Tapi cukup untuk membuktikan kepada Interpol dan Komisi Antikorupsi bahwa teknologi ini ada dan sudah disalahgunakan secara sistematis."

Raka tidak langsung mengambil amplop itu. "Kenapa kamu memberikannya kepadaku? Kamu bisa langsung ke Interpol sendiri."

Margareth tersenyum—kali ini ada sesuatu yang lebih kompleks di dalamnya. "Karena Interpol bekerja dengan protokol. Protokol butuh waktu. Dan Larasati sudah tahu aku ada di Zurich—entah dari mana." Matanya tidak bergerak dari wajah Raka. "Aku butuh seseorang yang bergerak lebih cepat dari birokrasi. Dan Bramantyo bilang—jika ada orang itu, namanya Raka Adiwangsa."

Hening di antara mereka.

Di luar jendela, trem pagi melintas di atas jembatan. Cahaya musim gugur mulai jatuh miring di atas permukaan sungai, mengubah airnya menjadi warna tembaga pucat.

Raka mengambil amplop itu.

Ia baru melangkah dua blok dari kafe ketika ponselnya bergetar.

Dian.

"Di mana kamu?" suara Dian langsung terdengar tanpa pembukaan.

"Jalan-jalan pagi."

"Jangan bohong padaku, Raka, aku sudah bangun sejak subuh dan kamu tidak ada di hotel." Suaranya bukan marah—melainkan khawatir yang dibalut dengan kemarahan agar terdengar lebih rapi. "Arsenia juga tidak ada. Ia pergi ke rumah sakit tadi pagi jam lima. Aku meneleponnya dan dia baik-baik saja. Tapi kamu—"

"Aku baik-baik saja, Dian."

"Itu kalimat yang selalu diucapkan orang sesaat sebelum tidak baik-baik saja."

Raka menghentikan langkahnya di tepi kanal. Refleksi kotanya terbalik di air bawahnya—langit, jembatan, dan siluetnya sendiri.

"Pertemukan aku dan yang lain di lobby hotel satu jam lagi," ucapnya. "Ada yang perlu aku ceritakan."

Keheningan tiga detik di ujung telepon.

"Baik," jawab Dian. "Tapi kamu traktir sarapan."

"Deal."

Mereka duduk di sofa pojok lobby dengan empat piring sarapan yang setengahnya tidak tersentuh karena Raka sudah mulai bicara sebelum makanannya datang.

Ia menceritakan semuanya. Margareth, inisial M.S.A., cetak biru asli, Larasati yang membalikkan pihak, dan amplop cokelat yang kini ada di tengah meja di antara empat gelas jus jeruk.

Arka yang mendengarkan dengan tangan terlipat di dada, mengerutkan kening saat nama Larasati disebut. "Wulan Dewi. Aku pernah mendengar nama itu."

Semua orang menatapnya.

"Di mana?" tanya Dian.

"Saat aku masih bekerja untuk jaringan Hendrawan—sebelum aku sadar bahwa pekerjaan itu lebih busuk dari yang dijelaskan di awal." Arka meluruskan punggungnya. "Ada satu nama yang tidak pernah muncul dalam rapat, tidak pernah ada di dokumen yang kami akses, namun sesekali Hendrawan menyebutnya dalam telepon yang ia kira tidak terdengar. La. Hanya dua huruf itu."

"La," ulang Dian.

"Larasati," sambung Raka.

Arka mengangguk pelan. "Dan satu hal yang aku ingat—Hendrawan tidak pernah menyebut nama itu dengan nada perintah. Selalu dengan nada yang..." ia mencari kata, "...berbeda. Seperti seseorang yang melapor, bukan memerintah."

Ruangan itu terasa seperti bergeser satu derajat.

"Hendrawan bukan puncaknya," ucap Dian pelan. Bukan pertanyaan.

"Hendrawan adalah arsitek lapangan," kata Raka. "Larasati adalah—"

"Kliennya," potong Arka. "Atau lebih dari itu."

Raka menatap amplop cokelat di meja. Di dalamnya, separuh dari cetak biru yang paling dicari selama bertahun-tahun. Dan di luaran sana, seorang perempuan yang namanya bahkan tidak pernah muncul dalam rapat—yang tidak perlu hadir karena semua orang di bawahnya sudah cukup takut.

"Kita perlu menghubungi Komisaris Wirawan," kata Dian.

"Sudah aku kirim pesan tadi," kata Raka. "Dia akan tiba di Zurich besok pagi bersama tim koordinasi Interpol."

"Jadi hari ini?"

Raka menarik napas. "Hari ini, kita pastikan amplop ini sampai ke tangan yang benar tanpa Larasati tahu bahwa Margareth sudah menemuiku."

"Dan Margareth sendiri?" tanya Arka.

"Ia sudah berpindah tempat sejak aku meninggalkan kafe," jawab Raka. "Ia tahu cara bertahan. Itu yang membuatnya masih hidup sampai sekarang."

Dian mengetuk meja pelan dengan ujung jarinya—kebiasaan saat ia sedang memproses informasi. "Ada satu hal yang mengganjal."

"Apa?"

"Margareth bilang Larasati mendanai persembunyiannya. Berarti Larasati tahu Margareth ada, tahu kira-kira di mana, dan memilih untuk menjaga itu tetap—sampai tiga minggu lalu dana berhenti." Dian menatap Raka. "Kenapa tiga minggu lalu? Apa yang berubah tiga minggu lalu?"

Raka membuka laptopnya. Ia menelusuri arsip berita dengan cepat.

Tiga minggu lalu.

Sebuah artikel. Kecil, terkubur di halaman ekonomi. Pengumuman merger antara dua perusahaan infrastruktur besar yang salah satunya memiliki proyek di wilayah barat Jakarta.

Raka memperbesar layarnya dan menunjukkannya ke yang lain.

Di baris terakhir artikel itu, nama direktur yang menandatangani perjanjian merger tercantum.

Larasati Wulan Dewi.

"Dia tidak membutuhkan Margareth lagi," ucap Raka pelan. "Karena dia sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan dari Margareth selama bertahun-tahun tanpa Margareth sadari."

Dian menutup matanya sejenak. "Margareth bukan hanya disembunyikan oleh Larasati. Margareth digunakan oleh Larasati. Selama Margareth bersembunyi, cetak biru itu aman dari Hendrawan—dan Larasati memiliki akses diam-diam ke Margareth yang tidak dimiliki siapa pun."

"Sampai merger selesai," lanjut Arka. "Sampai posisinya cukup kuat untuk tidak membutuhkan perantara lagi."

Hening yang berat turun di antara mereka.

Di luar lobby, Zurich berjalan dengan ritmenya yang rapi dan tidak tahu menahu tentang percakapan yang sedang terjadi di sudut sofanya. Tram melintas. Orang-orang berjalan dengan langkah yang pasti. Kota yang indah dan tidak bersalah atas apapun yang dilakukan manusia di dalamnya.

Raka menutup laptopnya.

"Kita sudah tidak sedang membongkar jaringan Hendrawan," ucapnya. Suaranya rendah namun jelas. "Kita sedang membongkar sesuatu yang jauh lebih lama, jauh lebih rapi, dan jauh lebih sabar dari yang kita perkirakan."

Tidak ada yang menyangkal.

Tidak ada yang perlu.

Di Linden Medical Center, pukul 11.23 pagi, Arsenia duduk di sisi ranjang ayahnya ketika jari-jari Bramantyo Valen bergerak untuk kedua kalinya—lebih kuat dari semalam, lebih terarah.

Ia menggenggam tangan putrinya.

Dan di bibirnya yang kering dan pecah-pecah setelah berbulan-bulan dalam keheningan yang dipaksakan, satu kata terbentuk. Nyaris tidak terdengar. Hanya hembusan napas yang kebetulan berbentuk bahasa.

Arsenia membungkuk lebih dekat.

Kata itu diulang. Pelan. Namun kali ini cukup jelas.

Satu nama.

Nama yang membuat Arsenia mematung di tempat duduknya—karena nama itu bukan Hendrawan, bukan Larasati, bukan siapa pun yang sudah masuk dalam daftar mereka.

Nama yang belum pernah disebut oleh siapa pun.

Nama yang membuka kemungkinan bahwa papan catur ini memiliki satu lapisan lagi yang belum satu pun dari mereka melihatnya.

Arsenia mengambil ponselnya dan menghubungi Raka.

Telepon baru berdering sekali sebelum tersambung.

"Raka," ucapnya. Suaranya tenang—terlalu tenang untuk situasi yang tidak tenang. "Ayahku baru saja menyebut sebuah nama. Dan aku pikir kamu perlu mendengarnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!