NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Traktir Bakso

Collins mengikuti. Ternyata Ipah tidak mentertawakannya, melainkan mengajarkan pria itu cara membaca Alquran yang benar. Collins terlihat bersungguh-sungguh mempelajarinya.

Setelah satu halaman, Ipah mengakhiri. "Kayaknye lu jarang baca, ye. Kenapa tiba-tiba belajar? Ada yang ditaksir?" Ia tersenyum meledek.

Jelas Collins sewot. "Apa sih ...." 'Kenapa perempuan kalo nebak suka bener ya? Hah ....'

"Eleh! Cewek mane? Ustadzah pasti!" Ipah menunjuk wajah Collins dengan sengit.

'Perempuan itu keturunan penyihir, apa ya? Dibanding insting, tebakannya lebih jitu.'

"Tapi gak pape sih, kalau orang ntuh menularkan kebaikan. Semangat yee ...." Wanita itu mencubit pipi Collins dengan gemas.

"Ah!" Secepat kilat pria itu menepisnya karena sudah keterlaluan. "Apaan sih, Mpok, cubit-cubit pipi! Memangnya aku anak kecil, apa!" Collins menautkan alisnya.

"Habis, kulit lu tuh bagus banget. Mpok aje udah pake macem-macem skincare gak bisa kulitnye putih mulus kayak lu. Lu pake apaan sih, bisa begitu?"

Collins tertegun dengan pertanyaan yang terdengar konyol itu karena ia sebenarnya dari lahir sudah punya kulit seperti itu tanpa perlu merawatnya. "Ya ngak ada, Mpok, cuma cuci muka aja! Paling sama sabun cuci muka yang untuk cowok, yang ada di kamar mandi!" sahut pria itu memberi tahu.

"Heran ye, cowok gak pake ape-ape aje bisa ganteng. Gua aje udah pake masker pemutih ampek bodylotion pemutih, juga gak putih-putih kayak lu, Bara," keluh Ipah merengut. Ia yang berkulit kuning, merasa tak nyaman dengan warna kulitnya sendiri.

"Ya ... aku mana tau, Mpok. Coba tanya sama temen Mpok yang sesama perempuan. Barangkali ada yang tau."

Ipah masih merengut.

"Udah, keluar ya. Bara mau tidur," bujuk Collins mencoba mengusirnya secara halus. Kalau tidak sekarang, Ipah akan mengajaknya ngobrol hal-hal yang gak penting seperti soal skincare ini. Ia pusing membicarakan soal itu.

Wanita itu melirik Collins dengan kesal. "Kok gak ada terima kasih sih, udah dibantuin juga belajar Alqurannye. Eh ... malah diusir ...."

"Bukan ngusir, Mpok ...." Collins menggaruk-garuk kepala sambil melirik kedua mata Ipah yang malas. Ia tahu, pasti ada maunya, Collins sudah tau dari nada bicara. "Ya udah deh ... sekarang maunya apa?"

"Traktir dong!" Mata Ipah melirik dari sudut matanya.

"Traktir apa?"

"Bakso kek!" Bola mata wanita itu menatap ke arah lain dengan merengut.

Collins kembali menghela napas. "Ya udah, iya ... traktir."

"Beneran ye?" Wajah Ipah seketika ceria dengan menyentuh kedua bahu adik angkatnya itu. "Mmh ... kita makannye pulang kursus aja ye, oke!?" Kemudian ia berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan telunjuk. "Nanti makannye di warung bakso mang kumis aje. Ntar Ipah kasih tau!"

Sebelum Collins sempat menjawab, Ipah beranjak berdiri dan meninggalkannya menuju pintu. Ipah keluar tanpa bicara lagi. Collins hanya bisa menghela napas sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Demi bantuan yang tidak seberapa ia harus mentraktir. Sebenarnya tanpa alasan itu pun Collins akan lakukan. Tidak perlu Ipah pura-pura membantunya hanya demi bisa makan bakso, karena ia senang Ipah sering mengajaknya mengobrol, walau dengan obrolan perempuan yang tidak jelas seperti itu. Ternyata semenyenangkan itu punya saudara.

****

Kedai bakso itu lumayan ramai. Di tengah udara panas, Collins menarik perhatian karena wajahnya yang tampan. Ia berusaha acuh tapi Ipah terlihat bangga. Mereka duduk di sebuah meja panjang yang disandarkan ke salah satu dinding di mana keduanya berbagi meja dengan yang lain. Collins duduk di samping Ipah lalu memesan bakso dan mi ayam. Ketika makanan datang, mereka langsung makan.

Collins mulai terbiasa makan makanan pinggir jalan. Bersama Ipah ia menambah saos dan sambal yang ada. "Mpok, nanti temenin Bara beli ponsel ya?"

"O iye, lu gak punya ye? Mau nyang harga berapaan?"

"Yang murah aja, Mpok. Yang second juga boleh."

"Ade kok nyang baru, tapi murah. Daripada beli second!"

Collins mengangguk. "Ya udah, oke."

****

Motor Collins melewati rumah Aida. Terlihat sepi. Sepertinya wanita itu belum pulang dari tempat kerjanya. Apa ia ke sana saja?

Pria itu kemudian menjalankan motornya ke sebuah sekolah MTS di daerah itu. Tempatnya agak jauh tapi Collins tahu tempat itu. Ia tak sengaja melewatinya kemarin ketika mengantar beras untuk seorang pelanggan.

Terlihat sebuah bangunan sekolah berdiri kokoh di pinggir jalan. Sepertinya sekolah sudah bubar sedari tadi karena ada beberapa murid yang berada di luar sekolah. Collins melihat Aida tengah berbicara dengan seorang murid laki-laki. Murid itu terlihat tengah membujuk wanita itu untuk ikut dengannya.

"Ayo, Bu. Saya anterin pulang, ya!" sahut murid itu.

"Eh, Ibu bisa pulang sendiri kok." Aida berusaha menolak dengan sopan.

"Orang buta nanti bermasalah di jalan, Bu."

"Ngak, papa. Ibu udah terbiasa." Aida tetap bertahan.

Tiba-tiba murid itu merampas tongkat sang wanita sehingga Aida kebingungan. "Udah, ikut Saya aja, Bu. Ibu gak bisa ke mana-mana, 'kan kalo gak ada tongkat?"

"Fahri ...." Aida berusaha bicara lembut. "Kembalikan tongkat Ibu, sini." Ia mengulurkan tangannya.

Alih-alih mendengarkan, murid itu mengandengnya. "Ayo, Bu."

"Eh, Fahri ...."

"Ojek!"

Keduanya menoleh. Seorang pria dengan helm di kepala datang menghampiri. "Ayo, Mbak, naik."

Aida mengenali suara Collins. "Oh, a—"

"Tolong tongkatnya. Dia udah pesen ojek sama Saya," pinta Collins pada murid itu. Ia sengaja memotong kalimat Aida karena tidak ingin wanita itu salah bicara. Ia tengah menolongnya dari murid yang tengah menggoda Aida.

"Ck, berapa sih? Sini aku ganti!" ucap Fahri sinis. Murid itu terlihat seperti anak orang berada yang meremehkan keberadaan Collins.

"Maaf ya, Saya gak bisa batalin kecuali Mbaknya bilang enggak." Kekeh Collins.

Fahri menoleh ke arah Aida. Saat itulah, Collins merampas tongkat sang wanita dari tangan murid itu. Tongkat itu dikembalikan pada Aida.

"Eh!"

Collins tak peduli dengan teriakan Fahri karena terkejut tongkat itu dirampas dari tangannya dengan tiba-tiba. Ia bahkan meminta Aida untuk naik motornya. "Ayo naik, Mbak."

"Eh, lo mau cari masalah ama gue, hah!" Fahri menunjuk-nunjuk sambil bertelak pinggang. "Lo mau gue hajjar, ya!" Kedua matanya mulai melotot.

Aida tampak ragu untuk naik motor. Ia berusaha untuk mendengarkan kelanjutannya dengan cemas.

"Anak kecil kayak kamu tuh ya, harusnya belajar yang rajin, bukan ngejahilin gurunya di sekolah. Apa kamu mau dapat nilai jelek di rapotmu?" sindir Collins pedas dengan mata menyipit.

"Brengsek lo!" Fahri geram dengan ucapan Collins sambil memamerkan kepalan tangannya. "Gue bisa ...."

"Bisa nyuap seluruh guru dan kepala sekolah di sini, hah? Wah, hebat!" Collins bertepuk tangan pada kalimatnya yang penuh dengan penekanan. "Sial bener orang tuamu punya anak kayak kamu. Makanya ... belajar itu pakai otak jangan pakai duit!"

"Bang Bara." Aida menyentuh lengan Collins agar menyudahi.

"Sudah, kamu naik aja," sahut Collins pada Aida dengan nada rendah. Ketika wanita itu naik, pria itu masih bicara dengan Fahri. "Dia itu masih keluarga Saya, jadi jangan berani-berani ganggu dia," ucapnya dengan tegas. "Awas ...!" Collins memberi peringatan sambil menunjuk wajah Fahri.

Motor yang membawa Collins dan Aida memutar arah dan menjauh. Tinggal Fahri yang mengamuk di samping mobilnya.

Bersambung ....

1
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!