Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan anak kandung
Keesokan harinya...
Leo benar-benar datang ke rumah Dimas. Bukan sebagai tamu yang hadir dengan sopan dan santun. Pria itu datang justru dengan amarah yang membabi buta.
Panggilan yang lebih mirip seperti teriakan menggema di luar pagar. Ia memanggil nama Dimas lalu Leya yang tak kunjung keluar untuk menemuinya.
Amarahnya semakin meninggi. Sekarang ia bukan hanya berteriak, tapi juga menendang-nendang pagar besi yang menjulang... hingga menimbulkan suara kegaduhan menarik perhatian sang pemilik rumah.
"Ada apa pagi-pagi sudah ribut sekali?" tanya Dimas, datang bersama Leya yang baru saja bangun dari tidurnya.
Seorang security menghampiri. "Itu Pak di luar ada seorang pemuda yang maksa ngotot mau masuk. Katanya dia anak bapak namanya Leo!" jawab security tersebut.
Dimas dan Leya saling pandang. "Itu pasti Kak Leo Pa!" ucap Leya.
Tiba-tiba perasaannya mendadak tak enak. Leya kenal betul dengan sifat dari kakaknya. Kedatangan pria itu pasti bukan dengan niat yang baik. Apalagi Leya tahu jika keadaan keluarga Hardiman sudah tidak seperti dahulu.
"Ya sudah buka pagarnya!" titah Dimas.
Pria paruh baya itu tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya datar, nyaris tanpa senyum apalagi kerinduan yang sama sakali tidak terlihat dimatanya.
Saat pintu pagar dibuka, Leo merangsek masuk. Wajahnya merah, tangannya mengepal dengan dada yang naik turun.
"Bagus ya Pa!" baru saja masuk, Leo mulai bicara dengan nada tinggi. "Papa sudah kembali ke Indonesia, tapi Papa sama sekali tidak mencari aku!"
Leo sudah seperti singa yang ingin melahap mangsanya. Tapi Dimas tetap tenang, mendengarkan semua amarah Leo hingga selesai.
"Aku juga anak Papa! kenapa hanya Leya dan Angkasa saja yang Papa ajak tinggal disini? Bahkan Papa menyerahkan semua perusahaan ke Angkasa yang hanya sebagai menantu! Seharusnya aku Pa! Aku yang Papa percaya untuk menghandle semua perusahaan milik Papa, bukan Angkasa!"
Leo terus mengeluarkan amarahnya. Ia tidak memberikan Dimas maupun Leya untuk membuka suara. Ia ingin mereka mendengarkan semua kekesalannya yang tidak dianggap anak dan tidak diperlakukan dengan adil oleh ayahnya.
Deru nafasnya memburu, dadanya naik turun setelah mengeluarkan semua amarah yang sejak kemarin menumpuk di dalam dada.
"Aku gak mau tahu. Pokoknya Papa harus kasih setengah dari seluruh harta Papa untuk aku! Aku gak terima, jika hanya Leya yang dapetin semuanya. Dia cuma anak perempuan. Dia gak berhak jadi penerus keluarga!" lanjutnya.
Sejauh dan sebanyak apapun ia bicara, ujung-ujungnya semua tertuju pada satu hal... Harta.
Dimas hanya menggeleng, sebelum mulai bicara.
"Jadi kamu datang kesini marah-marah cuma demi harta?" akhirnya Dimas buka suara.
"Lalu untuk apa lagi? Aku gak terima diperlakukan gak adil kayak gini!" balas Leo, suaranya masih tetap mendominasi.
"Jadi kamu merasa Papa pilih kasih?" tanya Dimas, sambil memperhatikan setiap ucapan, gerakan dan ekspresi Leo.
"Iya! dan aku mau menuntut keadilan!"
Dimas kembali menggeleng. Tapi kali ini diiringi dengan helaan nafas panjang.
"Kalau begini saja kamu sudah merasa diperlakukan tidak adil! Bagaimana dengan Leya selama ini? tidak mungkin kamu tidak tahu bagaimana kakek dan ibumu memperlakukan kalian berdua!"
"Aku tahu, tapi itu bukan urusan aku. Itu hak Kakek dan Mama dong mau memanjakan siapa!" jawabnya. Tidak terdengar sedikitpun rasa iba apalagi kasih sayang Dimata pria itu untuk adiknya. Bahkan saat ini Leo melayangkan tatapan benci ke adiknya yang sedang hamil itu.
"Kalau begitu suka-suka Papa dong mau mewariskan semua harta Papa ke siapa!" sahut Dimas, masih tetap tenang dan tidak terpancing dengan Leo yang emosian.
Leo mengepalkan tangan. "Gak bisa gitu dong! Aku juga anak kandung papa. Aku yang lebih berhak mewarisi semuanya. Karena ku anak laki-laki, dan hanya anak laki-laki yang bisa meneruskan keluarga!"
Ajaran Hardiman sudah tertanam kuat pada diri Leo. Bukan hanya itu, bahkan sifat serakah, egois dan mau menang sendiri juga sudah mengakar kuat dalam dirinya.
"Kamu salah Leo. Ini keluarga Darmono bukan Hardiman. Sejak dulu mau laki-laki maupun perempuan, hanya garis keturunan sah keluarga Darmono yang bisa mewarisi semua harta kekayaannya!" jelas Dimas.
Jika Leo sedikit lebih pintar. Mungkin ia bisa menyimpulkan sesuatu dari ucapan yang baru saja ayahnya katakan. Tapi sayangnya, sifat egois dan amarahnya yang mudah meledak-ledak. Membuat Leo tidak bisa menggunakan otaknya yang cukup pintar untuk berfikir.
"Tapi aku anak kandung Papa! Anak pertama Papa. Jadi aku yang lebih berhak untuk mewarisi semuanya." sahut Leo.
Sejak kedatangannya, tekad Leo susah benar-benar bulat. Kedatangannya kali ini harus membawa hasil, jika tidak bisa mendapatkan semuanya... minimal ia dapat setengahnya. Karena ia tahu, keluarga Hardiman sudah hampir tidak bisa diharapkan lagi.
"Kamu salah Leo! Anak kandung Papa hanya Leya!" ucap Dimas.
Ya, ternyata Leo bukan anak kandung Sukma dan Dimas. Leo anak kandung Sukma dengan cinta pertamanya. Tapi Dimas yang dulu sangat mencintai Sukma, menerima wanita itu apa adanya. Bahkan sejak dalam kandungan, Dimas sudah menganggap Leo sebagai anak kandungku sendiri. Tapi sayangnya semakin hari, sifat Leo semakin mirip dengan ayah kandungnya.
"Enggak! Itu gak mungkin. Aku anak kandung Papa!" Leo menggeleng tidak percaya.
"Kamu bisa tanyakan semua ini sama Ibu kamu. Intinya anak kandung saya hanya Leya. Dan semua harta kekayaan saya, pasti akan saya wariskan ke dia!" kata Dimas dengan tegas.
Setelah mengatakan hal itu, Dimas memerintah security untuk mengusir Leo dari rumahnya.
"Lepaskan aku! Papa pasti bohong! Aku anak kandung Papa. Aku mau setengah harta Papa!" Leo memberontak dan mengamuk saat dibawa pergi.
"Papa gak bisa giniin aku! Aku anak Papa. Aku anak kandung keluarga Darmono!" teriaknya.
Tapi sekuat apapun Leo berteriak, nyatanya pagar tinggi nan menjulang itu sudah tertutup rapat. Bahkan Dimas dan Leya sudah masuk ke dalam rumah.
"Jadi Kak Leo bukan anak Papa?" tanya Leya yang sejak tadi hanya diam.
"Iya sayang. makanya Leo pakai nama belakang Hardiman, sedangkan kamu tidak. Karena pria tua itu hanya menganggap Leo sebagai cucunya!" jawab Dimas.
Selama ini Leya berfikir jika ia tidak memakai nama Hardiman. Karena dirinya yang tidak disukai oleh sang kakek. Tapi ternyata, alasan sebenarnya jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
"Sudah jangan dipikirin. Orang seperti Leo sama sekali tidak bisa ditolong. Jika ditolong, dia pasti akan jadi lintah penghisap darah yang tidak akan berhenti sebelum dia kenyang!"
Leya setuju dengan apa yang ayahnya katakan. Memang selama ini tidak ada satupun dari perlakuan maupun kata-kata Leo yang mencerminkan sebagai seorang Kakak.
Yang salama ini terlihat, justru keegoisan dan sifat tidak mau kalah dari Kakaknya. Bahkan Leya sempat berfikir mungkinkah dia anak pungut?