NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 15: "Retak dalam Diam dan Riuh Surabaya"

​Aspal jalan raya menuju Surabaya terasa begitu panjang dan membosankan bagi Shania. Jika biasanya ia akan sibuk mengomentari cara orang lain menyalip atau memaksa Zain menyetel radio dengan lagu-lagu berirama cepat, kini ia hanya terpaku pada pantulan dirinya di kaca jendela. Di balik cadar hitamnya, bibir Shania terkatup rapat. Ada rasa sesak yang tak kunjung hilang, seperti ada bongkahan kerikil yang tersangkut di dadanya setiap kali bayangan foto di dalam kotak kayu itu muncul.

​Zain, yang biasanya memiliki kendali penuh atas situasi, merasa kehilangan arah. Ia berkali-kali melirik spion tengah, berharap menemukan binar mata Shania yang "meledak-ledak" itu kembali. Namun, yang ia dapati hanyalah sepasang mata yang redup dan kosong.

​"Shania," panggil Zain lembut saat mereka mulai memasuki perbatasan kota.

​"Ya?" jawab Shania singkat, tanpa menoleh.

​"Kamu, benar tidak mau makan sate? Ini warung langganan, Abi. Dulu, kamu sering bilang kalau ke Surabaya harus mampir ke sini."

​"Enggak lapar, Mas. Terserah Mas saja kalau mau makan. Aku tunggu di mobil," sahutnya dingin.

​Zain akhirnya menepikan mobil di bahu jalan yang agak sepi, bukan di warung sate. Ia mematikan mesin. Keheningan seketika menyergap kabin SUV itu.

​"Shania, pindahlah ke depan. Bicara dengan saya. Jangan menghukum saya dengan jarak seperti ini," pinta Zain.

Suaranya rendah, namun ada getaran permohonan di sana.

​Shania menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.

"Aku, lebih nyaman di sini, Mas. Lagipula, bukankah ini tempat yang pantas untuk 'titipan'? Di belakang, supaya tidak mengganggu pemandangan pengemudinya."

​Zain memejamkan mata sejenak, tangannya mencengkeram kemudi dengan erat.

"Demi Allah, Shania. Kamu, bukan sekadar titipan, kamu istri, saya."

​"Istri yang dipilihkan karena terpaksa, kan? Karena janji orang tua," potong Shania cepat.

"Sudahlah, Mas. Kita ke Surabaya bukan untuk berkencan seperti yang Mas bilang kan? tapi untuk urusan pesantren, kan? Ayo jalan lagi. Jangan buang waktu buat bahas hal yang sudah jelas."

​Zain tahu, berdebat dengan Shania dalam kondisi seperti ini hanya akan memperlebar luka. Ia menyalakan mesin kembali, namun hatinya terasa lebih berat dari beban karung bawang di dapur umum kemarin.

"​Gemuruh di Tengah Kota"

​Surabaya menyambut mereka dengan cuaca yang terik dan kemacetan yang menyebalkan. Namun, bagi Shania, hiruk-pikuk kota ini terasa sunyi. Mereka tiba di sebuah hotel tempat pertemuan antar pengurus pesantren akan diadakan. Shania turun dari mobil dengan gerakan kaku. Ia tetap mengikuti Zain, berjalan dua langkah di belakang suaminya, benar-benar memosisikan diri sebagai sosok yang "hanya ikut".

​Saat memasuki lobi, beberapa rekan ustadz Zain menyapa dengan ramah.

​"Ah, Ustadz Zain! Ahlan wa sahlan. Dan ini... Ning Shania?" tanya seorang pria paruh baya dengan sorban hijau.

​Zain mengangguk sopan.

"Nggih, ini istri, saya."

​"Masya Allah, serasi sekali. Ustadz muda yang cerdas dengan istri yang terlihat sangat anggun dan teduh," puji pria itu.

​Shania hanya menundukkan kepala.

'Teduh?' batinnya miris.

Kalau saja mereka tahu di balik cadar ini ada api yang sedang padam karena siraman air es.

​Zain mencoba menggandeng tangan Shania untuk mengajaknya masuk ke ruang pertemuan, namun Shania dengan halus menarik tangannya, pura-pura membetulkan letak tasnya. Penolakan halus itu terasa seperti sayatan tipis di hati Zain.

​Sepanjang acara, Shania duduk di barisan belakang khusus ibu-ibu nyai dan ustadzah. Biasanya, ia akan merasa gelisah dan ingin cepat pulang. Tapi kali ini, ia justru menikmati rasa asing itu. Ia memperhatikan bagaimana para wanita di sana berbicara dengan lembut, menggunakan bahasa Arab yang fasih saat mengutip ayat atau hadits, dan memiliki ketenangan yang luar biasa.

​Mereka semua seperti Fatimah, pikir Shania.

Pantas saja Mas Zain menyimpan foto itu. Dia merindukan dunia ini. Dunia yang berisi wanita-wanita sempurna, bukan wanita yang hobi balapan, liar pembangkang dan baru bisa memotong bawang setelah menangis bombay.

"​Pertemuan yang Tak Terduga"

​Usai acara, saat Shania sedang berdiri di dekat koridor menuju mushola, ia mendengar beberapa ibu-ibu berbisik-bisik.

​"Eh, itu tadi istrinya Ustadz Zain Malik Muammar, ya? Kok beda ya dengan kabar yang beredar?"

​"Iya, kabarnya kan dia itu 'liar' banget di Jakarta. Anak orang kaya yang susah diatur. Kasihan ya Ustadz Zain, harusnya kan beliau dapat yang selevel, seperti putri Kyai dari Mesir itu dulu..."

​"Maksudmu Fatimah? Iya, denger-dengar dulu mereka sudah hampir khitbah. Tapi ya itu, bakti kepada orang tua memang segalanya. Ustadz Zain luar biasa sabar ya mau menerima wanita seperti itu."

​Telinga Shania berdenging. Rasanya seperti baru saja dijatuhkan dari gedung lantai sepuluh. Ternyata, bukan hanya perasaannya saja yang berkata demikian. Seluruh dunia—atau setidaknya dunia Zain—menganggapnya sebagai sebuah "beban kesabaran".

​Shania berbalik, tidak jadi ke mushola. Ia berjalan cepat menuju area parkir. Ia butuh oksigen. Ia butuh keluar dari ruang pengap yang penuh dengan standar kesempurnaan ini.

​Zain menemukannya sepuluh menit kemudian, sedang berdiri di samping mobil, menatap jauh ke arah gedung-gedung tinggi Surabaya.

​"Shania? Kenapa di sini? Acara ramah tamah baru saja dimulai," tanya Zain cemas.

​Shania tidak menoleh. Suaranya terdengar bergetar.

"Mas... aku mau pulang. Sekarang!"

​"Ada apa? Ada yang menyakitimu?"

Zain mendekat, mencoba menyentuh bahu Shania.

​Shania menghindar dengan langkah lebar.

"Semuanya menyakitiku, Mas! Tempat ini, orang-orang di sini, dan cara mereka menatapku seolah aku adalah noda di baju putihmu yang bersih!"

​Zain tertegun.

"Jangan dengarkan ucapan orang, Shania. Saya, yang menjalani hidup denganmu, bukan mereka."

​"Tapi mereka benar, kan?"

Shania akhirnya menoleh, matanya merah karena menahan tangis.

"Mas, itu sabar banget menghadapi aku. Mas, itu 'terpaksa' baik karena itu perintah agama, karena itu sunnah Rasulullah. Tapi di hati Mas... apa benar-benar ada, Shania? Atau cuma ada rasa tanggung jawab buat 'menjinakkan' aku?"

​"Shania, dengarkan saya—"

​"Enggak, Mas. Aku, capek, aku mau pulang ke Kediri. Kalau Mas masih mau di sini, aku bisa naik taksi atau bus."

"​Perjalanan Sunyi Menuju Pulang"

​Zain akhirnya mengalah. Ia membatalkan jadwal menginap di Surabaya dan memutuskan untuk langsung pulang ke Kediri sore itu juga. Di dalam mobil, suasana justru lebih mencekam daripada keberangkatan tadi. Shania kembali duduk di bangku belakang.

​Kali ini, Shania benar-benar menutup diri. Setiap kali Zain mencoba memulai percakapan, Shania hanya menjawab dengan gumaman atau anggukan kecil.

​"Kamu, mau air?"

​"Enggak."

​"AC-nya terlalu dingin?"

​"Pas."

​"Shania, soal foto itu... saya akan membuangnya kalau itu membuatmu tenang."

​Mendengar itu, Shania justru tertawa pahit.

"Buang saja, Mas. Buang fotonya. Tapi apa Mas bisa buang kenangannya dari kepala, Mas? Apa Mas bisa hapus bayangan dia yang 'sempurna' itu saat melihat aku yang berantakan begini?"

​Zain terdiam. Ia menyadari satu hal: Shania sedang mengalami krisis identitas yang hebat. Selama ini, keliaran Shania adalah bentuk pertahanan dirinya. Dan sekarang, setelah ia mencoba untuk luluh dan berubah, ia justru merasa tidak cukup baik untuk pria yang ia cintai.

​Perjalanan tiga jam itu dilalui dalam kebisuan yang menyiksa. Saat mereka tiba di gerbang pesantren Al-Muammar, hari sudah gelap. Lampu-lampu jalan pesantren memberikan bayangan temaram yang menambah kesan melankolis.

​Begitu mobil berhenti di depan rumah, Shania langsung turun tanpa menunggu Zain. Ia masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan diri di atas sajadah yang masih terhampar, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

​Zain menyusul masuk, namun ia tidak mendekat. Ia duduk di kursi kayu di sudut kamar, memandangi istrinya yang sedang tergugu dalam diam.

​"Shania," panggil Zain setelah beberapa lama.

"Dulu, saat saya di Mesir, saya memang mengagumi Fatimah. Itu manusiawi. Dia adalah gambaran ideal yang diajarkan di buku-buku. Tapi tahukah kamu apa yang membuat saya akhirnya menerima perjodohan ini tanpa protes berlebihan?"

​Shania tidak menjawab, namun isakannya mulai mereda.

​"Karena saya bosan dengan kesempurnaan yang dipaksakan," lanjut Zain. "Saya, melihat kamu di foto yang dikirim, Abi. Kamu, sedang tertawa di atas motor besar, rambutmu berantakan terkena angin, dan matamu... matamu sangat hidup. Di sana saya melihat kejujuran yang tidak saya temukan di tempat lain."

​Zain berdiri, berjalan perlahan lalu duduk bersimpuh di lantai, di samping sajadah Shania.

​"Fatimah, adalah doa yang dijawab dengan cara yang berbeda. Tapi kamu adalah kejutan yang Allah kirimkan untuk mengetuk pintu hati saya yang kaku. Mengupas bawang bersamamu di dapur tadi pagi, melihatmu menangis karena pedihnya uap, itu jauh lebih nyata dan berharga bagi saya daripada sekadar bayangan wanita salihah di dalam kotak kayu itu."

​Shania perlahan membuka tangannya, menatap Zain dengan mata sembab.

"Tapi Mas masih simpan fotonya..."

​"Itu kelalaian, saya. Saya, menyimpannya bukan untuk dikenang sebagai kekasih, tapi sebagai pengingat masa muda di Kairo. Tapi jika itu menjadi penghalang antara saya dan istri saya, maka kotak itu tidak punya hak untuk ada di rumah ini."

​Zain mengeluarkan kotak kayu itu dari sakunya—ternyata ia sudah membawanya sejak dari Surabaya. Di depan mata Shania, Zain mengambil foto itu. Tanpa ragu, ia merobeknya menjadi potongan-potongan kecil.

​"Sudah selesai, Shania. Tidak ada lagi, Fatimah. Yang ada hanya Shania yang liar, yang jujur, dan yang sedang belajar bersabar. Dan saya... saya adalah suami yang masih sangat amatir dalam memahami hati wanita sehebat, kamu."

​Shania terpaku melihat serpihan kertas itu jatuh ke lantai. Ada rasa lega yang merayap, namun juga rasa bersalah karena telah meragukan suaminya sedalam itu. Namun, egonya yang masih terluka membuatnya belum bisa kembali ceria seketika.

​"Mas... aku mau sendiri dulu. Tolong," bisik Shania.

​Zain mengangguk pelan. Ia tahu, luka hati tidak sembuh hanya dengan sekali robekan foto.

"Baik. Saya, akan di ruang tengah. Kalau kamu butuh apa-apa, panggil, saya."

​Zain keluar dari kamar, menutup pintu dengan sangat pelan. Di dalam kamar yang remang, Shania kembali meringkuk. Ia menatap serpihan foto di lantai. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan sekaligus melegakan: Perang terbesarnya bukanlah melawan masa lalu Zain, melainkan melawan rasa rendah dirinya sendiri.

​Malam itu, di bawah langit Kediri yang tenang, ada dua hati yang sedang berjuang di jalannya masing-masing. Zain dengan tasbihnya di ruang tengah, dan Shania dengan air matanya di atas sajadah. Rahasia di balik sorban telah terungkap, namun goncangan di hati mereka baru saja dimulai.

​Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!