Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Double Date
Laras mengempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk dengan perasaan yang meluap-luap. Ia memeluk guling erat-erat, berguling ke sana kemari, sementara kakinya menendang-nendang udara seperti anak kecil. Senyum di wajahnya seolah sudah dipatenkan—tak bisa luntur sedikit pun. Rasanya mustahil, namun nyata; ia baru saja memenangkan lotre takdir. Bukan hanya resmi jadian dengan cowok yang ia suka, tapi ia juga baru mengetahui bahwa Bara adalah pahlawan kecil yang pernah menggendongnya dua belas tahun lalu.
Tanpa membuang waktu, jemarinya lincah menekan kontak Denandra. Begitu nada sambung berganti dengan suara napas di seberang, tawa Laras pecah bahkan sebelum salam terucap.
"Ndra! Aku jadian!" seru Laras tanpa basa-basi.
"Hah? Santai, tarik nafas, baru cerita"
Laras mengikuti intruksi dari Denandra.
"Iya. Aku jadian sama Bara!"
"Ciyeee... PJ dong, PJ! Pajak Jadian jangan lupa!" sahut Denandra di seberang sana, suaranya ikut melonjak antusias.
"Apa? Kamu mau minta apa? Aku turutin semua! Sebut aja mau makan di mana!" Laras tertawa lepas, merasa seluruh dunia kini berada di genggamannya.
"Eh... gaya banget nih tuan putri. Mentang-mentang hatinya lagi berbunga-bunga," goda Denandra.
Laras membalikkan posisi menjadi tengkurap, jarinya memainkan ujung sprei dengan gemas.
"Hmm, sekarang gantian aku yang butuh bantuanmu"
"Apa itu?"
"Hmm, izinin aku, Ndra ke keluargaku. Kamu tahu kan, aku enggak boleh keluar kalau engga sama kamu. Kita double date yuk? Please!" ajak Laras tiba-tiba.
"Boleh. Kapan?"
"Lusa. Malam minggu. Kita jalan berempat," ucap Laras mantap, nadanya penuh dengan rencana manis.
"Oke, deal. Aku kabari Aurel nanti," jawab Denandra.
Setelah menutup telepon, keheningan kamar kembali menyergap, namun rindu justru datang lebih cepat dari yang dibayangkan.
"Aku kangen Bara..." gumam Laras pelan, membenamkan wajahnya di bantal.
Tiba-tiba, sebuah ide melintas. Ia bangkit dan melangkah menuju lemari besar di sudut kamar. Di laci paling bawah, terkubur di antara tumpukan kotak kenangan, Laras mengeluarkan sebuah ponsel lama yang masih mulus. Ia menyalakannya sejenak; layarnya berkedip, masih berfungsi sempurna.
"Aku kasih ke Bara aja besok, biar aku bisa chat dia setiap hari," bisiknya dengan mata berbinar.
Esok paginya, koridor sekolah terasa lebih cerah bagi Laras. Di dalam tasnya, sebuah kotak kecil sudah terbungkus rapi. Saat jam istirahat tiba, ia sudah menunggu di rooftop, tempat rahasia milik mereka berdua.
"Nih," Laras menyodorkan kotak itu begitu sosok Bara mendekatinya.
Bara menerimanya dengan dahi berkerut, mencoba memecah suasana canggung.
"Apaan nih, Ras? Bom?" candanya.
Ia berusaha keras menutupi gurat kelelahan di matanya akibat badai pikiran semalaman.
"Buka aja."
Begitu melihat isinya, Bara langsung menggeleng cepat. "Ras, ini—"
"Bar, dengerin," potong Laras sambil menggenggam tangan Bara erat.
"Aku butuh kamu tiap detik, Bar. Mungkin kamu nggak percaya, tapi ini nyata. Aku kangen kamu setiap waktu. Kamu mau terima, kan? Mau ya?" Rengek Laras dengan tatapan yang sulit ditolak.
Bara terdiam. Ia menatap ponsel di tangannya, lalu beralih pada wajah Laras yang begitu tulus. Kehangatan gadis itu merambat ke hatinya, namun di saat yang sama, ingatannya justru berisik. Bayangan penderitaan keluarganya selama tiga tahun terakhir mendadak muncul seperti film hitam putih yang menyakitkan.
"Oh iya, Bar," lanjut Laras bersemangat.
"Besok malam minggu, kita double date ya sama Denandra."
Bara tersentak. Double date? Di saat kepalanya masih dipenuhi bayangan penderitaan keluarganya selama tiga tahun?
"Bar? Kok bengong?" Laras melambaikan tangan di depan wajah Bara.
Bara memaksakan senyum paling tulus yang ia punya.
"Ah, iya. Boleh. Lusa ya?"
Laras tersenyum puas, ia berjinjit kecil dan berbisik di telinga Bara, "Nanti malam kita sleep call ya."
Begitu punggung Laras menghilang di balik pintu jati, senyum Bara luruh seketika. Ia menggenggam ponsel itu begitu erat hingga buku jarinya memutih. Takdir benar-benar sedang bercanda; memberinya cinta paling indah, sekaligus beban paling berat di bahu yang sama
Malam harinya, sebuah pesan masuk di ponsel pemberian Laras.
[Laras]:
Bar, udah sampai rumah? Lagi ngapain? Aku lagi pilih baju buat lusa. Kamu suka aku pakai warna apa?
Bara menatap pesan itu dengan mata panas. Di sudut ruangan, foto almarhum Papanya yang sudah kusam seolah menatapnya balik. Pria itu meninggal dengan nama baik yang hancur, dianggap mekanik lalai yang menyebabkan nyawa orang hilang. Jari Bara gemetar di atas keyboard.
"Suka warna apa aja, Ras. Yang penting kamu nyaman," tulisnya.
Ia tidak bisa membenci Laras. Baginya, Eyang Retno hanyalah korban kesalah pahaman informasi yang sengaja dirancang musuh keluarga Widjaya.
"Aku harus segera menebus laptop Om Adi," bisik Bara pada kegelapan kamar. Ia harus membersihkan nama Papanya. Ia tidak ingin cintanya pada Laras berdiri di atas pondasi yang rapuh.
Malam Minggu - Taman Kota
Laras menarik-narik tangan Bara dengan riang, membawanya menuju stand es krim.
"Bar, kamu mau rasa apa? Aku mau cokelat kayak waktu kecil dulu!"
"Aku apa aja, Ras," jawab Bara, mencoba menikmati suasana.
"Ih, nggak seru! Ya udah, aku pesenin vanila ya?"
Laras berlari kecil meninggalkan mereka.
Denandra menyenggol bahu Bara.
"Bar, lo kenapa sih? Dari tadi kayak lagi mikirin utang negara."
"Nggak apa-apa, Ndra."
Tak lama, Laras kembali dengan empat cone es krim.
"Nih, dua es krim buat pasangan bucin, dan ini buat pacarku"
Bara menerima es krim itu. Teksturnya yang dingin mengingatkannya pada memori dua belas tahun lalu. Tunggu aku, Ras, batinnya. Setelah nama Papa bersih, aku akan ceritakan semuanya.
"Bar, kok malah bengong? Es krimnya meleleh tuh," tegur Laras sambil tertawa. Jari telunjuknya dengan nakal mencolek ujung hidung Bara yang terkena tetesan vanila. Bara tersadar. Ia tertawa kecil, membalas dengan sengaja mengusapkan hidungnya ke pipi Laras.
"Ihh! Baraaa! Jadi lengket!" jerit Laras manja.
Laras tidak mau kalah. Ia mengambil tisu yang masih ada sisa es krimnya, lalu mencoba mengejar Bara yang menghindar dengan gesit. Tawa mereka berkejaran di bawah temaram lampu taman kota yang mulai menguning.
"Sini kamu, Bara! Tanggung jawab nggak!" Laras terengah-engah, namun wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan.
Di bawah naungan pohon beringin, Bara berhenti dan menangkap tangan Laras. Dengan lembut, ibu jarinya mengusap noda es krim di pipi Laras. Sentuhan kulit yang hangat itu membuat keduanya terdiam. Mata mereka bertemu, saling mengunci di tengah riuh rendah taman kota.
Malam itu, rahasia besar masih tersimpan rapat, namun cinta mereka terasa begitu nyata.
Ijin mampir🙏