Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Danau pribadi di pinggiran kota itu tampak tenang, permukaannya seperti cermin raksasa yang memantulkan langit biru dan pepohonan pinus yang mengelilinginya. Tempat ini adalah pelarian favorit keluarga Cavanaugh dan Mettond sejak dulu. Di sini, tidak ada bising klakson kota, hanya ada suara kicau burung dan gesekan dedaunan.
Liam duduk di ujung dermaga kayu, memegang joran pancing dengan santai. Di sampingnya, Angelina duduk dengan kaki menjuntai ke air, mengenakan topi jerami besar yang menutupi wajahnya dari terik matahari. Suasana yang seharusnya sempurna untuk mengenang masa kecil mereka justru terasa berat bagi Angelina.
"Kau ingat tidak, Angel? Waktu umur Dua belas tahun, kau menangis histeris karena kailmu tersangkut di bajuku dan kau pikir kau baru saja menangkap monster?" Liam tertawa, matanya berbinar menatap Angelina.
Angelina tersenyum tipis. "Aku tidak menangis, Liam. Aku hanya... terkejut."
"Bohong. Kau memelukku sampai ingusmu menempel di kaos favoritku," goda Liam lagi.
Tepat saat Angelina hendak membalas ejekan itu, ponsel di saku celana Liam bergetar hebat. Melodi dering yang khusus disetel untuk satu orang itu memecah keheningan. Senyum di wajah Liam perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang sulit diartikan.
Liam melihat layar ponselnya. Clarissa calling.
Ia tidak langsung mengangkatnya. Matanya melirik ke arah Angelina yang kini pura-pura sibuk memperhatikan pelampung pancingnya. Ada keraguan di mata Liam. Ia tahu Clarissa sangat menuntut perhatian akhir-akhir ini, terutama setelah pesta semalam.
"Angkat saja, Liam. Mungkin penting," ucap Angelina pelan, tanpa menoleh.
Liam akhirnya menghela napas dan menggeser layar. "Halo, Clarissa?"
"..."
"Aku sedang di danau bersama Angelina. Aku sudah bilang padamu tadi pagi, kan?"
"..."
Suara Clarissa terdengar cukup keras dari speaker ponsel hingga Angelina bisa menangkap nada melengking yang penuh tuntutan.
Clarissa tidak suka Liam menghabiskan waktu dengan "adiknya/sahabatnya". Ia ingin Liam menemaninya ke mal untuk memilih sepatu baru untuk acara makan malam keluarga Cavanaugh pekan depan.
"Clarissa, aku baru sampai sejam yang lalu. Tidak mungkin aku langsung pulang," Liam mencoba menjelaskan dengan nada sabar, namun jemarinya mengetuk-ngetuk dermaga kayu dengan gelisah.
"..."
"Bukan begitu... tapi aku sudah janji pada Angel. Hey, jangan mulai lagi."
Angelina merasa dadanya sesak. Ia melihat bagaimana Liam terbagi. Tubuhnya ada di sini, bersamanya, tapi pikirannya kini sedang ditarik paksa ke tempat lain oleh suara di seberang telepon.
Liam mulai berdiri, berjalan menjauh beberapa langkah untuk memberikan privasi pada percakapannya dengan sang kekasih, namun matanya tetap mengawasi Angelina dari kejauhan.
Bagi Angelina, melihat Liam yang berusaha membujuk Clarissa adalah bentuk siksaan baru. Liam yang dominan dan tegas bisa menjadi begitu lunak hanya karena satu panggilan telepon.
Angelina berdiri, merasa tidak nyaman terus duduk di sana mendengarkan Liam yang berulang kali menyebut nama Clarissa dengan nada memohon. Ia melangkah menuju tepi dermaga yang sedikit lebih licin karena lumut.
Pikirannya melayang, membayangkan bagaimana jika suatu saat nanti, telepon dari Clarissa benar-benar akan membuat Liam berhenti menatapnya sama sekali.
Tiba-tiba, pelampung pancing Angelina tenggelam dengan sentakan kuat. "Liam! Aku dapat!" serunya tanpa sadar.
Ikan yang memakan umpannya sepertinya cukup besar. Joran itu melengkung tajam. Angelina yang tidak siap kehilangan keseimbangan saat ikan itu menarik dengan kekuatan yang mengejutkan. Kakinya tergelincir di atas kayu dermaga yang basah.
"Aaa!"
Ponsel Liam masih menempel di telinganya. Clarissa sedang berada di tengah-tengah kalimat histeris tentang betapa dia merasa diabaikan.
Di saat yang bersamaan, mata Liam menangkap tubuh Angelina yang oleng dan tercebur ke dalam air danau yang cukup dalam dan dingin.
"Angel!" teriak Liam spontan.
"Liam! Kau masih mendengarkanku tidak sih?! Siapa yang berteriak itu?!" suara Clarissa memekik dari ponsel.
Liam berdiri di ambang pilihan. Ponselnya masih di tangan, Clarissa menuntut penjelasan dan mengancam akan memutuskan hubungan jika Liam menutup telepon begitu saja. Namun di bawah sana, Angelina timbul tenggelam, sepertinya kakinya kram karena air yang dingin.
Tanpa berpikir dua kali, Liam melemparkan ponsel mahal itu ke atas dermaga—membiarkan suara Clarissa menghilang begitu saja saat ponsel itu terbentur kayu—dan melompat ke dalam air dengan suara deburan yang keras.
BYUR!
Dinginnya air menyergap Liam, tapi fokusnya hanya pada satu hal: sosok berdress hitam yang mulai menjauh dari permukaan. Ia berenang dengan cepat, merengkuh pinggang Angelina dan menariknya ke permukaan.
"Liam... Liam..." Angelina terengah-engah, memeluk leher Liam dengan sangat erat.
"Tenang, Angel. Aku di sini. Aku memegangmu," bisik Liam parau. Ia membawa Angelina ke tepian danau yang dangkal.
Setelah berhasil naik ke daratan, mereka berdua duduk di atas rumput dengan napas memburu dan pakaian yang basah kuyup. Liam segera melepas kaos polonya dan menyampirkannya di bahu Angelina yang gemetar karena kedinginan.
"Kau bodoh! Kenapa tidak hati-hati?" bentak Liam, namun matanya memancarkan kecemasan yang luar biasa. Ia merangkup wajah Angelina dengan kedua tangannya yang basah. "Kau membuatku hampir mati ketakutan!"
Angelina menatap Liam, air danau menetes dari rambutnya. "Ponselmu... Clarissa..."
Liam melirik ke arah dermaga, di mana ponselnya tergeletak diam, layarnya retak. Ia tidak peduli. Ia tidak peduli jika Clarissa marah besar atau jika hubungan mereka berakhir detik ini juga.
"Persetan dengan ponsel itu," gumam Liam. Ia menarik Angelina ke dalam pelukannya yang hangat dan posesif. "Ponsel bisa diganti, Angel. Tapi kau... tidak ada gantinya di dunia ini."
Angelina menyandarkan kepalanya di dada bidang Liam, mendengarkan detak jantung pemuda itu yang berpacu kencang. Di tengah rasa dingin yang menusuk, ada sebuah kehangatan yang menjalar di hatinya. Liam memilihnya. Di antara tuntutan kekasihnya dan keselamatan Angelina, Liam menjatuhkan pilihannya tanpa ragu.
Namun, di balik kebahagiaan kecil itu, Angelina tahu satu hal: perang dengan Clarissa baru saja dimulai secara resmi. Dan kali ini, ia tidak akan lagi menjadi pihak yang hanya diam dan menonton.
Jika Liam bersedia membuang dunianya demi dirinya, maka Angelina akan memastikan bahwa tempatnya di sisi Liam tidak akan pernah tergoyahkan oleh siapa pun.
"Terima kasih, Liam," bisik Angelina.
"Jangan pernah lakukan itu lagi, Angel. Jangan pernah menjauh dariku," balas Liam sambil mencium puncak kepala Angelina yang basah.
Di bawah langit sore yang mulai menguning, rahasia di antara mereka semakin dalam. Dan di kejauhan, sebuah ponsel yang retak memberikan tanda bahwa beberapa ikatan mungkin harus hancur agar ikatan yang lain bisa tetap bertahan.