Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolong
Sesampainya di rumah sakit pak Ujang berlari masuk ke dalam rumah sakit terlebih dahulu lalu tidak lama keluar bersama perawat yang sudah membawa brangkar.
Reina mengikuti neneknya dengan masih terus menangis. Saat sampai di depan ruang UGD dia tidak di perbolehkan ikut masuk.
" Mohon maaf ya tunggu di luar saja." Ucap suster yang ingin menutup pintu.
" Tapi saya ingin menemani nenek saya sus...hiks" Ucap Reina sesegukan.
" Mohon pengertiannya ya biar dokter yang menangani." Ucap suster itu lalu benar-benar menutup pintu.
" Duduk Re,biar dokter menangani nenek...kita doakan semoga nenek baik-baik saja." Ucap pak Ujang menuntun Reina duduk.
Reina duduk dengan masih terus menangis. Pak Ujang memberi kabar ke istrinya apa yang terjadi dengan nenek Sri dan di suruh menutup pintu rumah Reina karena tadi mereka sangat terburu-buru sampai tidak ingat. Bi Sumi begitu kaget mendapatkan kabar itu,dia juga sampai menangis karena kasian dengan Reina kalau sampai terjadi apa-apa dengan neneknya.
Hampir 1 jam dokter berada di dalam menangani nenek Sri, Reina bolak balik berdiri karena dokter tak kunjung keluar.
Akhirnya lampu berubah menjadi hijau dan tidak lama dokter pun keluar dari ruangan UGD.
" Dok gimana keadaan nenek saya ?" Tanya Reina yang langsung berdiri menghampiri dokter.
" Kondisi nenek kamu saat ini masih kritis karena tadi sempat kehilangan banyak darah dan ada darah yang menggumpal di otaknya jadi kita harus segera melakukan operasi." Ucap dokter panjang lebar.
" Selamatkan nenek saya dok tolong." Ucap Reina memohon dan meneteskan air mata lagi karena begitu takut.
" Saya akan berusaha semaksimal mungkin,saya permisi dulu untuk menyiapkan operasi nenek anda,tolong segera ke bagian administrasi untuk melunasi biayanya." Ucap dokter itu sebelum pergi.
Reina pun mengusap air matanya dan menoleh ke pak Ujang yang juga melihatnya dengan sendu.
" Saya pergi ke administrasi dulu ya pak,titip nenek saya." Ucap Reina lemah.
" Iya nak...kamu kuat jalan sendiri ?" Tanya pak Ujang yang tidak tega karena Reina juga sudah terlihat pucat.
***
Di sekolah Shasa merasa kesepian karena teman satu-satunya tidak masuk sekolah. Iya juga begitu khawatir dengan keadaan nenek Sri. Pasti Reina merasa hancur saat ini,harusnya ada yang menemani dan menguatkan dia. Namun Shasa harus mengikuti ulangan sampai berakhir.
Setelah pulang Shasa pun segera memesan ojek online. Ia sudah memberi kabar ke kedua orang tuanya kalau ingin menyusul Reina ke rumah sakit.
Saat menunggu ojeknya datang di depan gerbang Shasa juga melihat ada mobil mewah yang berhenti di depan sekolahnya dan ada lelaki yang sedang melihat setiap siswa yang keluar. Laki-laki itu pun menghampiri Shasa yang kebetulan tidak terlalu jauh dengan ia berada.
" Maaf apa kelas 11 sudah pulang semua ?" Tanya laki-laki itu.
" Sudah semua kok kak,kakak cari siapa, adiknya ?" Tanya Shasa dengan terus memperhatikan laki-laki itu dengan terpesona karena ketampanannya.
" Saya mencari teman saya namanya Reina,apakah kamu mengenalnya ?" Tanya Bramasta dengan sopan. Ya dia Bramasta yang mencari Reina karena di suruh mamanya untuk menjemputnya ke sekolah dan di suruh membawa ke rumahnya.
" Reina ? Reina Wulandari maksutnya kak ? Yang pakai motor metik ?" Tanya Shasa.
" Haaaa iya kamu kenal ?" Tanya Bramasta dengan antusias.
" Kalau itu saya kenal kak dia temen baik sekaligus tetanggaku. Tapi hari ini dia tidak masuk sekolah kak." Jawab Shasa dengan sendu.
" Loooo kenapa ? Bukannya hari ini ulangan ?kemarin malam dia juga baik-baik aja." Ucap Bramasta yang bingung kenapa Reina tidak masuk sekolah.
" Neneknya kena musibah kak,saya mau ke rumah sakit sekarang mau nyusul Reina dan lihat keadaan neneknya." jawab Shasa menjelaskan menatap Bramasta kembali.
" Astagfirullah...kalau begitu saya ikut ya,kamu mau naik apa ?" Tanya Bramasta yang langsung terlihat khawatir.
" Saya nungguin ojek online kak nggak tau ni belum nyampek-nyampek." Jawab Shasa menggerutu dengan mencari-cari dan menghentak-hentakan kakinya karena tidak sabar.
" Kalau begitu bareng saya saja,mari." Bramasta mengajak Shasa menuju mobilnya.
" Boleh kak,ayo." Ucap Shasa yang langsung mengikuti Bramasta masuk ke dalam mobil tanpa berfikir panjang.
Di perjalanan Bramasta hanya diam karena fikirannya tertuju pada Reina. Pasti sangat sedih saat ini. Dia hanya sendiri. Bagaimana kalau sampai nenek Sri kenapa-kenapa. Berbagai fikiran negatif mulai muncul di kepala Bramasta.
Shasa juga tidak berani bertanya-tanya siapa sebenarnya laki-laki yang ada di sebelahnya kenapa bisa kenal Reina. Ia pun hanya bisa diam memperhatikan jalanan yang lumayan padat.
***
Di lain sisi Reina yang begitu terkejut dengan nominal angka saat menyelesaikan administrasi karena neneknya harus segera di operasi merasa bingung harus mencari uang sebanyak itu dari mana.
" Ya Allah bagaimana aku bisa mendapatkan uang 20 juta,nenek juga harus segera di operasi" Ucap Reina lirih.
" Sus apa tidak bisa saya meninggalkan kartu identitas saya nanti saya pasti akan melunasi biayanya setelah nenek saya di operasi." tanya Reina ke suster yang berada di bagian administrasi.
" Mohon maaf ya dek tidak bisa, paling tidak kamu harus membayar separuh baru kita akan menjalankan operasi." Ucap suster itu. Sebenarnya dia juga merasa kasian melihat Reina yang bingung. Namun dia juga tidak bisa membantu.
Saat Reina masih bingung dan berdiri di depan administrasi Bramasta dan Shasa masuk dan ingin bertanya dimana ruangan nenek Sri dia bertemu dengan Reina.
" Reina..." Ucap Shasa yang langsung memeluk Reina.
Reina yang mendapatkan pelukan pun meneteskan air matanya lagi. Ya dia tidak bisa berhenti menangis. Ia sangat takut kehilangan neneknya, kehilangan orang yang dia sayangi untuk ke dua kalinya.
" Udah yah,sssttt...jangan nangis gue di sini bakal nemenin loe" Ucap Shasa lembut sambil mengusap punggung Reina.
" Nenek...kritis Sha...dia harus segera di operasi...tapi aku bingung harus cari uang 20 juta ke mana ? Hiks hiks aku takut Sha" Ucap Reina sesegukan.
Reina sampai tidak melihat keberadaan Bramasta karena dia menangis. Bramasta yang melihat Reina begitu hancur pun merasa hatinya seperti tertancap sebilah pisau,dia merasa begitu sakit melihat Reina menangis.
" Biar saya yang bayar" Ucap Bramasta yang membuat Reina dan Shasa terkejut lalu menatap Bramasta.
" Kak Bram,kok bisa di sini ?" Tanya Reina saat sudah terlepas dari pelukan Shasa dan menghapus air matanya.
" Nanti saja saya jelaskan,lebih baik kita urus dulu administrasinya biar nenek cepat masuk ke meja operasi." Ucap Bramasta yang langsung menuju ke meja administrasi dan menyodorkan ATMnya.
" Baik silahkan di tunggu saya akan mengabari dokter yang menangani nenek anda." Ucap suster itu dengan sopan.
" Makasih kak,nanti pasti Reina ganti." Ucap Reina berbalik menatap Bramasta.
" Jangan di pikirkan Re,ayo kita lihat nenek pasti sebentar lagi dia di pindahkan ke ruang operasi." Ucap Bramasta dengan lembut.
--->>>