10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Mereka yang Tinggal Gelap.
Tidak ada cahaya. Tidak ada arah. Tidak ada waktu.
Raka berdiri di tengah kehampaan yang terasa hidup.
Ia tidak tahu sudah berapa lama ia berada di sana. Detik dan jam kehilangan makna. Yang ada hanya napasnya sendiri… dan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang mengawasinya.
Awalnya hanya perasaan.
Seperti ada mata yang menatap dari segala arah.
Lalu datang suara.
Bisikan.
Lemah… tapi banyak.
“Dia datang…”
“Pengganti…”
“Yang baru…”
Raka menutup telinganya, tapi suara itu tidak berasal dari luar.
Mereka muncul langsung di dalam kepalanya, berputar seperti kabut yang tak bisa diusir.
“Diam!” teriaknya.
Sunyi.
Sesaat.
Lalu—
Tawa.
Pelan… lalu membesar.
Tawa yang tidak manusiawi.
Raka mundur beberapa langkah, tapi kakinya seperti menginjak sesuatu yang lembut. Ia menunduk.
Tanah.
Atau sesuatu yang menyerupai tanah.
Hitam, basah… dan bergerak.
Ia tersentak dan melompat menjauh.
Saat itulah… cahaya redup muncul.
Bukan dari atas.
Tapi dari bawah.
Seperti pijaran merah dari dalam bumi.
Dan di sanalah Raka melihat mereka.
Puluhan.
Ratusan.
Sosok-sosok tanpa bentuk jelas berdiri mengelilinginya. Tubuh mereka seperti bayangan yang terus berubah—kadang tinggi, kadang membungkuk, kadang merangkak.
Namun satu hal yang sama—
Mereka semua menghadap ke arahnya.
Menatap.
Menunggu.
“Ini… tempat apa…” bisik Raka, suaranya hampir hilang.
Salah satu dari mereka melangkah maju.
Tubuhnya perlahan membentuk sosok manusia.
Wajahnya mulai terlihat.
Dan jantung Raka seakan berhenti.
“Itu… aku?”
Sosok itu memiliki wajah yang sama persis dengannya.
Namun matanya kosong.
Dan senyumnya… terlalu lebar.
“Kamu bukan aku…” kata Raka, mundur.
Sosok itu tertawa pelan. “Aku adalah kamu… yang tertinggal.”
“Apa maksudmu?!”
“Kami semua… adalah mereka yang pernah membuka pintu.”
Raka menatap sekelilingnya.
Sosok-sosok itu kini mulai berubah.
Sebagian memiliki wajah manusia.
Sebagian tampak seperti bayangan dari masa lalu.
Ada anak kecil, pria tua, perempuan menangis…
Mereka semua—
Pernah menjadi manusia.
“Kalian… terjebak di sini?” tanya
Raka.
“Bukan terjebak,” jawab sosok itu. “Kami menjadi bagian dari tempat ini.”
Raka menggeleng. “Tidak… aku tidak akan seperti kalian.”
Sosok itu mendekat.
Langkahnya tidak bersuara.
“Kamu sudah seperti kami,” bisiknya. “Kamu hanya belum menyadarinya.”
Tiba-tiba, Raka merasakan sesuatu di tangannya.
Ia melihat.
Kulitnya mulai menghitam.
Retak.
Seperti terbakar dari dalam.
“Apa ini?!” paniknya.
“Perubahan,” kata sosok itu tenang. “Setiap jiwa yang masuk ke sini akan larut… menjadi bagian dari kegelapan.”
Raka mencoba mengusap tangannya, tapi retakan itu menyebar.
Naik ke lengannya.
Seperti sesuatu yang hidup.
“Tidak… tidak… aku harus keluar dari sini!” teriaknya.
Ia berlari.
Tanpa arah.
Tanpa tujuan.
Namun setiap langkahnya terasa sia-sia.
Karena tempat itu…
Tidak memiliki ujung.
Tidak memiliki batas.
Ia berlari… dan berlari… hingga akhirnya jatuh tersungkur.
Napasnya berat.
Tubuhnya gemetar.
Dan suara itu kembali.
Lebih dekat.
Lebih jelas.
“Kamu tidak bisa lari…”
“Kamu milik kami…”
Raka menutup matanya.
Putus asa mulai merayap.
Namun di tengah keputusasaan itu…
Ia mengingat sesuatu.
Perempuan itu.
Yang membantunya.
Yang memperingatkannya.
“Kalau pintu ditutup…” gumamnya. “Mereka akan kembali…”
Artinya…
Masih ada harapan.
Ia membuka matanya.
“Kalau aku bisa masuk…” katanya pelan, “harusnya aku juga bisa keluar.”
Tawa langsung pecah di sekelilingnya.
“Keluar?” kata salah satu sosok. “Tidak ada yang pernah keluar.”
“Semua berpikir begitu…” tambah yang lain.
“Tapi akhirnya… tetap tinggal.”
Raka berdiri perlahan.
Tangannya masih retak, tapi ia menggenggamnya kuat.“Aku tidak peduli,” katanya tegas. “Aku akan menemukan jalan.”
Sosok yang menyerupai dirinya sendiri menatapnya lama.
Lalu tersenyum.
“Kamu berbeda…”
“Aku manusia,” jawab Raka.
“Tidak lagi,” balas sosok itu.
Tiba-tiba, tanah di bawah Raka bergetar.
Retakan besar muncul.
Dari dalamnya, cahaya merah menyala semakin terang.
Dan sesuatu…
Mulai bangkit.
Sosok raksasa.
Lebih besar dari yang lain.
Tubuhnya terbentuk dari kumpulan bayangan.
Wajahnya tidak jelas.
Namun matanya—
Menyala.
Merah.
Penuh amarah.
“Penjaga…” bisik sosok-sosok lain serempak.
Raka menatap makhluk itu dengan napas tertahan.
“Apa itu…?”
“Yang memastikan…” kata sosok di depannya, “tidak ada yang keluar.”
Makhluk itu menggerakkan kepalanya perlahan.
Seolah mencium keberadaan
Raka.
Lalu…
Menatapnya.
Langsung.
Jantung Raka berdetak kencang.
Instingnya berteriak—
Lari.
Namun kakinya tidak bergerak.
Makhluk itu mengangkat tangannya.
Dan menunjuk.
Ke arah Raka.
Sekejap, semua sosok lain mundur.
Memberi ruang.
Seolah…
Pertarungan akan dimulai.
Raka menelan ludah.
Tubuhnya masih melemah.
Namun matanya tetap menatap lurus.
“Kalau ini satu-satunya cara…” gumamnya, “aku akan melawannya.”
Makhluk itu mengeluarkan suara.
Bukan raungan.
Bukan jeritan.
Tapi sesuatu yang lebih dalam.
Seperti suara dari kehampaan itu sendiri.
Lalu—
Ia bergerak.
Cepat.
Terlalu cepat.
Raka hampir tidak sempat bereaksi saat tangan raksasa itu menghantam tanah di sampingnya.
DUAARR!
Tanah retak.
Gelombang energi menghantam tubuh Raka dan membuatnya terpental jauh.
Ia jatuh keras.
Tubuhnya terasa hancur.
Namun ia masih hidup.
Masih sadar.
Masih punya satu pilihan—
Bertahan.
Ia bangkit dengan susah payah.
Matanya menatap makhluk itu.
“Aku tidak akan menyerah…” katanya pelan.
Makhluk itu mendekat.
Langkahnya mengguncang tanah.
Dan saat jarak mereka semakin dekat…
Tiba-tiba—
Cahaya putih muncul.
Kecil.
Namun terang.
Di kejauhan.
Raka membeku.
“Itu…?”
Sosok-sosok lain langsung panik.
“Tidak mungkin…”
“Itu cahaya—”
“Pintu?!”
Raka menatap cahaya itu dengan harapan yang kembali menyala.
Satu-satunya jalan keluar.
Namun makhluk penjaga itu berhenti.
Lalu berbalik.
Menatap cahaya itu dengan kemarahan yang lebih besar.
Seolah…
Ia tidak ingin Raka mencapainya.
Raka menarik napas dalam.
Inilah kesempatan satu-satunya.
Ia menatap makhluk itu.
Lalu ke cahaya.
Dan tanpa ragu—
Ia berlari.
Bab berikutnya akan mengungkap…
Apakah Raka berhasil mencapai cahaya itu… atau justru penjaga kegelapan akan menghentikannya sebelum semuanya terlambat?