NovelToon NovelToon
Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Novi Setyowati

Menjadi istri kontrak Sagara bukanlah hal mudah bagi Amara. Pria itu masih mencintai kekasihnya yang menghilang seminggu sebelum pernikahan mereka, sementara pernikahan ini hanyalah kesepakatan demi kepentingan masing-masing.

Mereka berjanji untuk tidak saling jatuh cinta. Namun kebersamaan perlahan mengaburkan batas itu.

Di tengah hubungan yang semakin rumit, Denisa kembali sebagai bom waktu yang siap menghancurkan pernikahan mereka kapan saja. Belum lagi Dirga, kakak Sagara, yang misterius dan terus berusaha menjauhkan Amara dari adiknya seolah menyimpan rahasia besar tentang dirinya.

Saat cinta, pengkhianatan, dan rahasia keluarga mulai terungkap, mampukah Amara dan Sagara bertahan pada perjanjian mereka? Atau perpisahan memang sudah menunggu sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Setyowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisa Disentuh namun Sulit Digapai

Keesokan harinya, Amara terbangun dengan sedikit terkejut. Tubuhnya refleks menegang saat merasakan sesuatu melingkar hangat di pinggangnya. Ia pun meraba dan merasakan sebuah tangan kekar dan hangat yang begitu dikenalinya.

Dengan mata yang masih setengah terbuka, Amara menyingkap selimut hingga ke pinggang. Lalu, ia menunduk dan menatap tangan itu beberapa saat.

"Oh... Mas Aga," ucap Amara dengan santainya.

Namun sepersekian detik kemudian, kesadaran Amara pulih sepenuhnya. Napasnya sontak saja tertahan menyadari bahwa tangan Sagara benar-benar memeluknya. Jantungnya langsung berdebar tak karuan.

"Mas Aga memelukku?" bisik Amara panik, "Oh, tidak... No no no no."

Dengan gerakan hati-hati, Amara mencoba mengangkat lengan Sagara yang melingkar di perutnya. Ia berharap bisa lolos tanpa membangunkan lelaki itu. Namun baru saja ia berhasil menggeser sedikit, tangan itu bergerak kembali.

Sagara yang masih memejamkan mata menarik lengannya dari cekalan Amara, lalu melingkarkannya lagi dengan lebih erat. Bahkan, tanpa membuka mata, ia menarik tubuh Amara hingga punggung gadis itu menempel sempurna di dadanya.

Amara hampir kehilangan napas mendapat serangan mendadak itu.

"Nyenyak tidurnya semalam?" tanya Sagara dengan suara berat khas orang bangun tidur.

"Nyenyak kok. Ish... Mas Aga, jangan begini," protes Amara sambil berusaha memberontak.

Sagara justru terkekeh pelan, lalu menyahut nakal, "Jelas nyenyak. Orang semalaman tidur di pelukanku."

Wajah Amara memanas. Jantungnya seakan kehilangan kendali dan berdetak sesuka hati.

"Aih, mata keranjang! Bisa-bisanya cari kesempatan dalam kesempitan. Lepas! Aku mau bantu Mama," tegur Amara terus mengelak.

"Hadap sini dulu, nanti kulepas," bisik Sagara dengan suara manja.

Amara memejamkan mata frustrasi ketika napas Sagara benar-benar menyentuh daun telinganya. Bulu kuduknya meremang seketika.

"Ish... apaan sih? Nggak boleh kayak gini, Mas," protes Amara sambil berusaha melepaskan pelukan Sagara.

Namun, Sagara makin mengeratkan pelukannya, "Balik badan dulu. Ngomongnya sambil lihat aku."

Nada suara Sagara terdengar santai, tapi ada sesuatu yang tak berhasil ia sembunyikan. Dengan enggan, Amara akhirnya memutar tubuhnya dalam pelukan lelaki itu

Kini, mereka saling berhadapan. Jarak mereka begitu dekat hingga Amara bisa melihat jelas kantung tipis di bawah mata Sagara dan rambutnya yang sedikit berantakan.

Sagara tersenyum. Senyum yang biasanya selalu membuat hati Amara hangat sekaligus ketakutan.

"Selamat pagi, Ara," sapa Sagara dengan suara dan tatapan yang senada lembutnya.

"Ara?" tanya Amara menyembunyikan kegugupannya.

"Itu panggilan khusus dariku. Biar mudah ngucapinnya," jawab Sagara tersenyum sangat manis.

"Oh..." sahut Amara membulatkan bibir, "Ya udah. Lepasin aku! Kan aku udah nurut balik badan."

"Kamu belum membalas sapaanku," protes Sagara, "Selamat pagi, Ara, Istriku."

Namun kali ini, hati Amara justru terasa sesak mendapat ucapan dan senyum yang seharusnya begitu manis itu. Entah mengapa, bayangan percakapannya dengan Dirga semalam 0 terngiang. Tentang perasaan Sagara. Tentang masa lalunya. Tentang kemungkinan-kemungkinan yang selama ini tak pernah berani ia pikirkan.

Seketika,seluruh kehangatan yang tadi sempat mengalir di dadanya, mendadak runtuh begitu saja.

"Pagi," balas Amara singkat.

Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibir Amara. Senyum tipisnya formalitas belaka. Tampak begitu dingin. Terasa sangat asing. Sagara pun langsung merasakan perubahannya.

Belum sempat Sagara bertanya, Amara terlebih dulu mendorong dada lelaki itu. Kemudian, perlahan, ia berusaha keluar dari ranjang. Tak ada senyum. Tak ada raut malu. Tak ada wajah merah yang biasanya selalu muncul setiap kali mereka berada sedekat ini. Yang ada hanya raut murung yang sulit dibaca.

Sagara spontan melepaskan pelukannya. Dadanya mendadak terasa tidak enak.

"Ara..." panggil Sagara diselimuti cemas.

Amara tak menjawab. Ia turun dari ranjang dan hendak pergi.

Dengan panik, Sagara segera bangkit lalu berdiri menghalangi jalannya.

"Kamu kenapa?" tanya Sagara sambil merentangkan kedua tangan.

Amara masih diam.

Sagara menundukkan badan sedikit agar bisa menangkap tatapan gadis itu.

"Kamu kenapa sih?" ulang Sagara lebih pelan, "Tadi malam baik-baik aja. Sekarang kok tiba-tiba cuek begini."

"Nggak apa-apa," jawab Amara datar.

Jawaban itu terdengar terlalu cepat. Terlalu singkat. Dan, terlalu tidak jujur.

"Aku salah apa?" tanya Sagara lagi penuh kecemasan yang makin kentara, "Kita selesaikan baik-baik kalau memang ada masalah."

Amara menggigit bibir bawahnya. Sebagian dirinya ingin bertanya. Ingin meminta penjelasan. Ingin mengetahui semua hal yang membuat hatinya berantakan sejak semalam.

Namun, sebagian lainnya juga takut. Takut jika jawaban yang ia dengar justru semakin melukainya.

"Nggak ada salah apa-apa," timpal Amara tetap menghindari mata Sagara, "Aku cuma lagi malas ngomong."

"Ara..." rengek Sagara.

"Tolong jangan ganggu aku dulu," sambar Amara dengan nada tak mau dibantah.

Kalimat Amara tidak diucapkan keras, tetapi cukup dingin untuk membuat dada Sagara seperti diremas.

Untuk beberapa detik, ruangan itu mendadak sunyi. Sagara menatap istrinya tanpa berkedip seolah berharap menemukan sesuatu dari wajah Amara. Entah itu petunjuk, alasan, atau apa pun agar ia tak dibayangi rasa bersalah tanpa tahu di mana kelirunya. Namun, ia tidak menemukan apa-apa selain jarak yang tiba-tiba muncul di antara mereka.

Perlahan, kedua tangan Sagara turun ke samping tubuhnya. Ia memberi jalan.

Amara segera melangkah menuju pintu. Akan tetapi, sebelum gadis itu sempat membukanya, Sagara kembali bergerak cepat.

Tangannya meraih lengan Amara dengan hati-hati. Tak ingin menahannya. Ia hanya belum siap membiarkannya pergi begitu saja.

"Hari ini, jadi mulai kerja di kafe?" tanya Sagara.

Amara mengangguk, "Iya."

"Kalau capek, mulai besok aja nggak apa-apa," bujuk Sagara.

Ada kekhawatiran tulus di mata Sagara. Namun, justru Amara hanya menggeleng dengan raut tak bersahabat.

"Aku mau hari ini," desak Amara dengan suara sedikit lebih lembut meski tetap menyisakan jarak, "Nanti setelah sarapan kita pulang. Aku mau ganti baju dulu."

Sagara menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan, "Oke."

Hening kembali turun. Hening yang terasa makin menyakitkan. Hening yang membeku dan sulit dipecahkan.

"Apa kita pulang sekarang aja?" usul Sagara akhirnya.

Sagara mengusulkan itu bukan karena terburu-buru, melainkan karena ia tak tahan berada dalam ruangan yang sama dengan Amara ketika gadis itu memperlakukannya seperti orang asing. Ia ingin pulang agar gadis itu tak lagi menahan diri. Mungkin, di kediaman keluarganya membuat Amara tak berani menunjukkan emosi sepenuhnya.

"Sarapan dulu," putus Amara tegas.

Jawaban Amara seperti harga mati. Tak memberi ruang untuk dibantah.

Setelah itu, Amara melepaskan cekalan lembut Sagara di lengannya. Lalu, membuka pintu perlahan.

Sebelum pergi, Amara pun berhenti sejenak. Ia kembali menutup pintu karena teringat sesuatu.

Tanpa menoleh dan masih memegang gagang pintu, Amara pun berpesan, "Jangan sampai ada yang tahu tentang pernikahan kita di kafe. Biar aku nyaman bekerja dan takkan berpengaruh jika kita sudah bercerai nanti."

Sagara pun menyeka wajah dengan kasar. Pikirannya kalut mendengar kata cerai dari bibir istrinya.

"Amara, bisakah kita nggak usah ngobrolin tentang perceraian? Aku udah bilang, kita jalani aja dulu," bantah Sagara tak terima.

"Cepat atau lambat, Denisa akan kembali. Lalu, untuk apa aku berharap lebih soal pernikahan ini? Tujuanku menikah denganmu juga karena aku ingin mendapatkan pekerjaan dan lari dari bayangan masa lalu dengan mantanku," tegas Amara dengan suara lirih namun penuh penekanan.

"Jadi, ini alasanmu menghindariku?" tanya Sagara masih penasaran.

Amara pun berbalik badan dan menatap lurus ke mata Sagara.

"Aku hanya mengikuti semua kesepakatan yang kita buat dulu. Harmonis dan romantis hanya di depan keluargamu. Selebihnya, kita jalani hidup masing-masing, kan? Kita punya batas privasi yang nggak bisa dilanggar," jawab Amara dengan tatapan menohok.

"Bisakah kita lupakan soal perjanjian pranikah itu? Kali ini, aku serius ingin mengenalmu," pinta Sagara memohon.

"Lupa? Lalu, kalau Denisa kembali, perjanjian itu akan berlaku lagi, kan? Sudahlah. Kita lebih baik jaga jarak aja deh. Perhatianmu itu kadang membuatku salah paham. Nggak perlu lah kita terlalu dekat. Kalau pisah, nanti akan lebih sulit dan canggung," tolak Amara tanpa tedeng aling-aling.

Sagara pun terdiam.

Sementara, Amara pun menajamkan tatapannya pada Sagara.

"Kalau Denisa kembali, apa yang akan kamu lakukan, Mas?" tanya Amara merendahkan suara.

Sagara berpikir sejenak. Lalu, tak ada jawaban pasti di kepalanya. Ia tak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi, ia merasa hatinya masih terikat oleh Denisa. Namun, di sisi lain, ia tak ingin melepaskan Amara begitu saja.

Lalu, Amara pun melengos dan membuka pintu lebar-lebar.

"Udah nggak usah dijawab. Aku udah tahu jawabannya," tegas Amara.

Tanpa senyum dan tanpa satu pun kalimat tambahan, pintu kamar tertutup pelan. Ia meninggalkan Sagara seorang diri di dalam sana.

Sementara, lelaki itu masih berdiri di tempat yang sama. Ia tatap pintu yang baru saja tertutup. Dadanya terasa berat. Dan yang paling menyakitkan, ia merasa Amara begitu dekat untuk disentuh, namun begitu jauh untuk digapai.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!