Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.
Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...
Penasaran dengan alurnya? yukk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PERWIRA 20
"Sialan!" Bayangan radina yang bergumul panas bersama lelaki bejat itu tiba-tiba berkelibatan dan membuyarkan semuanya.
"Kenapa, Om. Sakit, ya?" tanya selina yang menyadari akan kemarahan di wajah Aabid yang begitu kentara, bahkan napasnya yang memburu membuatnya khawatir.
"Apa kau belum selesai, selina?!" Suasana hati Aabid berubah seketika. Nada bicaranya pun terdengar ketus dan tak bersahabat.
"Su-sudah, Om. Ini sudah mau selesai."
"Dito, bantuin rapiin ini, dong!" bisik selina pada sang adik yang sejak tadi hanya mematung seperti mandor pabrik.
***
"Nggak harus bawa boneka Rara yang segede ini juga kali, selina," seloroh Aabid di jok belakang di tengah dingin udara pagi yang menembus tulang.
Hari yang dikatakan selina akhirnya tiba untuk ke rumah sakit memeriksakan kondisi Aabid.
Sebelum pukul empat selina keluar dari rumah dengan sepeda motor Yamaha Mio keluaran 2010 miliknya, sepeda yang sudah sering keluar masuk bengkel itu akhirnya bisa lagi dipakai setelah turun mesin dan menginap di bengkel selama hampir satu bulan lamanya.
Selina duduk di depan sementara Aabid, berbekal jaket milik Dito dan juga helm duduk di bangku belakang.
Seringkali Aabid harus membenahi posisi duduk karena jok yang sudah berukuran kecil menjadi semakin sempit akibat boneka beruang yang mereka bawa sebagai pembatas.
"Sabar, Om, sebentar lagi kita berhenti di masjid. Kita shalat dulu di depan rumah sakit."
"Iya, tapi kaki saya pegel. Sudah saya bilang saya aja yang nyetir."
"Jangan, Om. Nanti jatuh kalau tangan Om tiba-tiba sakit. selina teh mau nikah, Om. Mana mungkin membahayakan diri."
Aabid berdecak sembari terus membenahi boneka yang sedikit-sedikit bergoyang di tengah mereka.
Selina meletakkan boneka tersebut dengan alasan agar tidak ada sentuhan atau kontak fisik diantara mereka.
Selina yang bertubuh kecil mungkin tak merasa kesusahan dalam mengatur posisi. Namun, Aabid yang berpostur tinggi, besar sejak tadi lumayan kerepotan supaya tidak sampai terjatuh hanya demi menuruti keinginan selina yang di luar nalar.
Adzan subuh berkumandang bertepatan dengan sampainya mereka di masjid depan rumah sakit yang selina katakan.
"Perkiraan waktu kamu oke juga, selina," puji Aabid, namun sebenarnya rasa kesal masih menaunginya akibat boneka Rara.
"selina teh geus apal ...."
"Bisa pakai bahasa Indonesia yang baku aja enggak kalau ngomong sama saya?" sergah Aabid yang suka pusing setiap kali mendengar percakapan selina dan keluarga kala bercengkerama di rumah.
"Maksudnya selina teh, Selina sudah khatam sama daerah sini dan waktu tempuhnya juga," ralat selina sembari melepas helm bogo berwarna coklat.
"Oh, ya?"
"Iya, kam .... " selina terdiam, seolah hampir saja salah dalam berucap.
"Kam apa selina?"
"Kami, selina dan Bapak sering ke sini. Di sebelah masjid ini tempat bapak kerja dan selina sering ke sana."
"Ngapain? Nginep sama pacarmu yang katanya managernya itu?" celetuk Aabid yang mulai negatif thinking lagi dan lagi.
Seketika mata selina membulat.
Ia menatap tajam ke arah pria di sebelahnya yang terlihat kesusahan melepas pengait helm karena memang sudah sedikit berkarat, pria yang terlihat begitu santai meski perkataan yang dilontarkannya barusan mampu membuat dada selina berdetak cepat dan sekujur tubuhnya memanas.
"Emangnya selina cewek apaan? Dasar, udah tua bicara nggak dijaga!" ucap selina dengan nada kesal, kemudian meninggalkan Aabid yang terperangah.
"Eh, selina, tunggu." Aabid menarik kuat pengait helm yang membuatnya hilang kesabaran dan ... lepas.
"selina, kamu marah sama, Om?" tanya Aabid setelah susah payah ia menahan sakit di kakinya demi untuk menyamai langkah selina.
"Udah mau shalat, tuh," ujar selina dengan nada yang masih sama.
Tak mau menjawab pertanyaan Aabid dan hanya melenggang pergi.
Selina masuk ke barisan wanita dan Aabid, meski jalannya sedikit pincang, namun masih bisa mengambil shaff paling depan.
"Rapatkan shafnya." Sang imam berseru, makmum pun merapatkan barisan tak terkecuali Aabid.
"Allahuakbar."
Sholat berjamaah dilakukan, dengan penuh ketenangan, menggambarkan suasana subuh yang memang masih tenang karena minimnya aktivitas.
Aabid bergegas keluar setelah salam. Do'a masih enggan ia minta setelah Tuhan seolah tak mengabulkannya. Kemudian ia duduk di teras dekat dengan sendal yang berjajar. Sesekali ia menoleh ke arah shaf wanita yang terpisah dengan shaf lelaki menggunakan kain berwarna hijau sebagai pembatasnya.
Kadang ia mendesah ketika para jamaah subuh mulai berhamburan keluar sedangkan selina masih belum terlihat batang hidungnya.
Sedang apa anak itu? Adalah pertanyaan yang berulang kali terucap dalam hatinya.
Merasa lelah dan masih mengantuk parah ia pun bersandar di pilar masjid yang lumayan besar tersebut saat tak terlihat lagi jamaah berlalu lalang di sana.
Sebenarnya ia ingin masuk dan bertanya pada selina. Tapi keinginannya urung ia lakukan kala mengingat wajah selina yang menyeramkan di akhir pertemuan.
"Om, bangun, sarapan!" Suara selina terdengar nyaring dan sedikit melengking setelah beberapa saat mata Aabid terpejam.
"Selina ... jangan ganggu dulu, lah. Jam berapa ini?" jawab Aabid dengan suara agak parau, nadanya pun masih sangat malas.
"Jam 8, Om."
Aabid tersentak kaget. Matanya terbuka lebar.
"Jam 8?!" tanyanya sambil menatap ke arah sekitar tepatnya di tempat ia menyandarkan badan sebelum akhirnya benar-benar terlelap.
"Iya."
"Saya tidur di sini sejak habis subuh tadi dan kamu membiarkan saja? Kenapa nggak bangunin saya dari tadi?!" tanya Aabid sembari membayangkan bagaimana dirinya tidur bak seorang gelandangan.
"selina tadi pergi ke depan cari sarapan. Kalau sama Om malah ribet, jadi selina biarian aja tidur. Toh nggak ada orang. Cuma marbot dan selina sudah titipin Om ke dia. Nggak mungkin diculik orang, lagian siapa yang mau nyulik orang seperti Om." Sembari berujar selina menunjuk ke arah pria yang tengah membersihkan kaca masjid.
"selina ...." Aabid meremas kedua tangannya, jengkel.
Ingin memukul kepala gadis manis yang nyatanya mampu menguji kesabarannya habis-habisan itu.
Namun ia berusaha menahan ketika sadar bahwa dia memang tak punya tempat di Bandung dan itu artinya dia memang gelandangan.
Tangan Aabid turun pada akhirnya. Dalam hati Aabid terus menyerukan kata sabar. Peran yang sebetulnya begitu menyiksa terpaksa dijalaninya demi tanggung jawab sebagai abdi negara.
double up Thor 🙏
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣