NovelToon NovelToon
ISTRIKU TERNYATA SULTAN

ISTRIKU TERNYATA SULTAN

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:48.4k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
​Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
​Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
​Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
​Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20: Ratu Gudang Arsip dan Gerobak Penyesalan

​Siska melangkah masuk ke ruangan CEO yang kini ditempati Kara. Ruangan itu dingin, wangi aromaterapi sandalwood, dan sangat mengintimidasi.

​Kara duduk di kursi kebesarannya, sedang memutar-mutar pulpen mahal. Dia tidak mempersilakan Siska duduk.

​"Bu... Bu Kara..." suara Siska bergetar. Bedaknya yang tebal tidak bisa menutupi pucat di wajahnya. "Saya bisa jelaskan, Bu. Rio yang ngejar-ngejar saya! Dia bilang dia manajer kaya, dia bilang dia mau cerai... Saya cuma korban, Bu!"

​Kara menatap Siska datar. Tatapan yang membuat Siska merasa telanjang.

​"Korban?" Kara terkekeh pelan. "Kamu menikmati makan siang pakai uang belanja saya. Kamu minta dibeliin tas pakai uang token listrik rumah saya. Itu namanya penadah, Siska. Bukan korban."

​Siska menunduk, meremas roknya. "Maafkan saya, Bu. Jangan pecat saya... Saya punya cicilan apartemen, saya punya cicilan mobil..."

​"Tenang. Saya tidak akan memecat kamu," potong Kara.

​Wajah Siska langsung cerah. "Benarkah, Bu? Terima kasih! Saya janji akan kerja lebih giat!"

​"Tapi," lanjut Kara, senyum miring terukir di bibirnya. "Saya tidak butuh staf marketing yang jago menggoda atasan. Saya butuh orang yang teliti di tempat sepi."

​Kara melempar selembar Surat Keputusan (SK) Mutasi ke meja.

​"Mulai besok, kamu dipindahkan ke Divisi Arsip Manual. Lokasinya di Basement 3. Tugasmu menyortir dokumen perusahaan dari tahun 1990 yang berdebu dan penuh rayap."

​Mata Siska melotot. "Basement 3? Tapi Bu... di sana nggak ada sinyal! Di sana panas! Saya alergi debu!"

​"Oh, kalau nggak mau, silakan resign," tantang Kara santai. "Tapi ingat, Anindita Group punya network luas. Kalau kamu resign dengan catatan buruk dari sini, saya pastikan tidak ada satu pun perusahaan bonafide di Jakarta yang mau terima kamu. Paling banter kamu jadi sales panci keliling."

​Siska membeku. Dia terjebak. Cicilannya menumpuk. Dia butuh gaji ini.

​"Ba-baik, Bu... Saya terima mutasinya," jawab Siska sambil menahan tangis. Bayangan dirinya yang cantik dan wangi harus berkutat dengan tikus got di basement membuatnya mual.

​"Bagus. Selamat bekerja, Ratu Gudang," usir Kara dingin.

​Siska keluar ruangan dengan air mata bercucuran. Kariernya tamat. Masa mudanya yang glamor berakhir di tangan istri sah yang dia remehkan.

​Siang harinya, di sebuah pos ronda di pinggiran kampung kumuh.

​Bu Ratna sedang kipas-kipas pakai kardus. Dia sudah membayangkan Rio pulang membawa gaji terakhir atau setidaknya pesangon pelicin untuk sewa kontrakan baru.

​Sosok Rio muncul di kejauhan. Jalannya terseok-seok. Wajahnya seperti mayat hidup.

​"Mana duitnya, Yo?" todong Bu Ratna begitu Rio sampai. "Cukup nggak buat sewa petakan?"

​Rio menggeleng lemah. Dia duduk di lantai pos ronda yang berdebu, menatap kosong ke jalanan.

​"Nggak ada pesangon, Bu."

​"HAH?! Maksud kamu apa?!"

​"Aku dipecat tidak hormat, Bu. Kara yang pecat aku sendiri. Dia bos barunya. Aku diusir satpam. Nggak dapet serupiah pun."

​Bu Ratna terdiam. Mulutnya menganga, tapi tidak ada suara yang keluar.

Otaknya yang serakah tidak mampu memproses informasi itu.

Anaknya dipecat.

Mantan menantunya jadi bos.

Dan mereka... nol besar.

​"BOHONG!" jerit Bu Ratna tiba-tiba, matanya mendelik ke atas. Tubuhnya kejang.

​"Bu! Ibu kenapa?!" Rio panik menangkap tubuh ibunya yang ambruk.

​Bu Ratna terkena serangan syok berat (stroke ringan). Mulutnya miring sebelah, tangannya kaku.

​"Argh... argh... duit... duit..." racau Bu Ratna tidak jelas.

​Hari itu, Rio benar-benar sendirian. Dengan ibu yang sakit, tanpa uang, tanpa rumah, dan tanpa harga diri. Dia menangis meraung-raung di pos ronda, disaksikan anak-anak kecil yang menertawakannya.

​Satu Bulan Kemudian.

​Lampu merah di perempatan jalan raya Jakarta yang sibuk.

​Kara duduk di kursi belakang mobil Rolls-Royce-nya. Dia sedang membaca laporan keuangan kuartal pertama. Keuntungan perusahaannya naik 20% sejak dia mengambil alih. Wajahnya bersinar, kulitnya terawat, dan auranya semakin mahal.

​"Nona, lampu merahnya agak lama. Ada pengamen di depan," lapor Pak Supir.

​Kara menoleh ke luar jendela kaca film gelap.

​Di trotoar, di bawah terik matahari yang menyengat, ada pemandangan yang menyedihkan.

​Seorang laki-laki kurus, kulitnya hitam terbakar matahari, memakai kaos partai yang sudah bolong, sedang mengais tong sampah di dekat lampu merah. Dia memungut botol plastik bekas air mineral orang, lalu memasukkannya ke dalam karung goni.

​Di sebelahnya, ada gerobak kayu reyot. Di atas gerobak itu, duduk seorang wanita tua dengan rambut putih acak-acakan, sedang marah-marah sendiri sambil memukul-mukul kardus.

​"Minta duit... minta duit..." racau wanita tua itu pada setiap mobil yang lewat.

​Kara mengenali mereka.

Sangat mengenali.

​Itu Rio. Dan Bu Ratna.

Mantan suami yang dulu dia puja bagai raja, dan mantan mertua yang dia hormati.

Kini mereka hanyalah debu jalanan.

​Hati Kara berdesir.

Apakah dia sedih? Tidak.

Apakah dia puas? Mungkin sedikit.

Tapi lebih dari itu... dia merasa asing.

​Rasanya seperti melihat orang asing yang tidak pernah dia kenal. Rasa cinta, rasa benci, rasa sakit hati... semuanya sudah hilang. Kosong.

​Kara menekan tombol intercom mobil.

​"Jalan, Pak. Lampu sudah hijau."

​"Baik, Nona."

​Mobil mewah itu melaju perlahan, meninggalkan Rio yang masih sibuk berebut botol plastik dengan pemulung lain.

​Rio sempat mendongak saat mendengar suara mesin halus mobil itu lewat. Dia melihat plat nomor cantik mobil itu menjauh.

Mata Rio berkaca-kaca. Dia tahu siapa di dalam sana.

​Tapi dia tidak berani mengejar. Dia sadar, dia hanyalah sampah yang sudah dibuang pada tempatnya.

​Kara Anindita tidak menoleh ke belakang lagi. Di depannya, jalanan terbentang luas dan cerah. Masa depannya baru saja dimulai.

...****************...

...Bersambung......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...

...****************...

1
Roynaldi Ananda
dan dia kan punya mobil kreditan sama motor matic? trus disimpan dimana thor? dalam saku kecilnya kayak cerita sistem?
Hartini Tin
bahasamu atlas kyk mbh gogle
Hartini Tin
atlas jenius
Hartini Tin
selamat kara dah jd ibu
Hartini Tin
damian manis sekali...kara jd baper
Hartini Tin
bagus ceritanya thor
Leni Martina
penasaran ya Thor,KLO perempuan nya masih gobl*k bin tol*l aku skip,ngk lanjut
Simba Berry
gimana kabarnya rio dan ibunya?seharusnya ada cerita nasib mereka.🙏
Simba Berry
kasihan juga ya rio.melihat kondisi rio sekaranh membuay aku dilema antata sedih dan senang.senang karena dia pantas mendapat seperti itu karena hasil dari perbuatannya.sedih karena karena dia hidupnya benar2 jadi gembel tak punya apa2.mau makan susah.serba susah.cuma kenapa dia belum juga bertobat.
Lesmana
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Himna Mohamad
yesss👍👍👍👍👍 lanjut
Himna Mohamad
kk thoor,kata2 untuk rio lucu n good ceritanya👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
lanjut thoor
Himna Mohamad
lanjut kk👍👍👍👍👍
ms. S
mmg janda selalu di depan🤭
Lesmana
clarissa boneng 😄😄 rio dibuang setlh kara sukses ?? yg bnr aja.. kebalik x , rio yg lupa diri br jd manager.. kara mah udah jd anak sultan pas brojol😄😄
Lesmana
lahh balik lah ke rmh ibu nya , pulkam sono yg jauh😁😁
Lesmana
laahh oon bnr si siska , itu mah bukan nyelamatin reputasi , tp malah ngancurin reputasi sndr😄😄
Lesmana
aku suka kara manggil rio dgn nama nya aja tnp embel2 mas lg.. ora pantes panggil mas , laki sableng gitu😄😄
Lesmana
anda lagi ?? emang kpn rio prnh dtng ke rmh kara ?? 😁😁 yg dtng kmrn kan ibu rio , beda atuh✌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!