NovelToon NovelToon
OM KEN YANG PERKASA

OM KEN YANG PERKASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:190.1k
Nilai: 5
Nama Author: YuKa Fortuna

Kenneth memutuskan untuk mengasuh Keyra ketika gadis kecil itu ditinggal wafat ayahnya.
Seiring waktu, Keyra pun tumbuh dewasa, kebersamaannya dengan Kenneth ternyata memiliki arti yang special bagi Keyra dewasa.
Kenneth sang duda mapan itupun menyayangi Keyra dengan sepenuh hatinya.
Yuk simak perjalanan romantis mereka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuKa Fortuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20. Dilema Kenneth

20

Kenneth Cedric Miles, London City___

Sudah delapan hari Kenneth berada di London.

Delapan hari tanpa tidur layak.

Delapan hari tanpa suara Keyra memanggil namanya.

Delapan hari tanpa rumah yang terasa seperti rumah.

Ia berdiri di depan jendela kaca kantor pusat Miles Enterprise. menatap kota London dari lantai 39. Gedung-gedung tinggi menjulang seperti menghakimi, dan cuaca kelabu seakan mencerminkan pikirannya.

Di belakangnya, layar-layar monitor menampilkan grafik menurun, email darurat, dan tumpukan laporan kerugian yang membuat kepalanya berdenyut.

“Mereka meretas semuanya,” lapor salah satu orang kepercayaan nya, Paul- wajahnya kusut. “Server cadangan juga bocor. Beberapa investor menarik dana. Kita harus bergerak cepat, Tuan.”

Kenneth memejamkan mata, menarik napas panjang.

Selama bertahun-tahun ia hanya mengelola perusahaan dari jarak jauh, dengan panggilan, rapat virtual, dan kunjungan sesekali. Ia ingin fokus membesarkan Keyra, memberikan gadis itu stabilitas yang tak pernah ia punya di masa kecilnya.

Namun kini, kenyataan menghantamnya.

Keras.

Nyaris mematahkan.

“Siapa pelakunya?” tanya Ken dengan suara rendah, terkontrol, tanda ia sedang berada di batas emosi.

“Kami belum tahu. Yang jelas… seseorang dari dalam membantu mereka.”

Pengkhianatan.

Tentu saja.

Ken mengepalkan tangan. “Periksa semua staf. Seluruh divisi IT, legal, bahkan administrasi. Tidak ada yang boleh luput.”

Paul mengangguk cepat lalu bergegas keluar.

Begitu pintu tertutup, Ken akhirnya duduk, memijat pelipisnya.

Ia menunduk, bahunya jatuh.

Dalam sepi ruangan besar itu, untuk pertama kalinya ia tampak rapuh.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan baru.

“Keyra masih demam. Dia terus memanggil nama Tuan.” Elvira.

Ken mematung.

Detak jantungnya langsung berubah kacau.

Sial.

Sial.

Ia ingin pulang.

Saat itu juga.

Menembus jarak, menembus waktu, menembus semua ini.

Tapi ia tidak bisa.

Perusahaannya masih kacau.

Investor menekan.

Saham turun.

Server down.

Ratusan karyawan menunggu dia membuat keputusan.

Dan yang paling menyakitkan...

... ia tidak bisa memberi kabar pada Keyra karena ponselnya sedang berada di bawah enkripsi lanjutan demi keamanan internasional. Sebagian besar komunikasinya harus lewat perangkat khusus kantor.

Ia menatap pesan Elvira lama sekali.

Seakan kata-kata itu menyalakan api panik di setiap inci dirinya.

“Keyra… sweetheart…” gumamnya lirih, nyaris tidak terdengar. “I’m sorry.”

Ia bersandar ke kursi, memejamkan mata keras-keras.

Segalanya terasa salah.

Ia tidak ada di sisi gadis itu saat ia sakit.

Ia tidak ada saat Keyra menangis.

Tidak ada ketika ia rapuh.

Ia bahkan tidak tahu… apakah Keyra membencinya sekarang.

Dan ironisnya, di tengah semua tekanan global ini, peretasan, kerugian, ancaman investor, kemungkinan sabotase internal,

Yang paling membuatnya sulit bernapas adalah bayangan Keyra sendirian di kamar.

Memanggil namanya.

Menunggunya pulang.

Gadis remaja itu yang masih ia anggap sebagai gadis kecilnya.

Ken menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Bertahan sedikit lagi, Keyra,” ucapnya berat, penuh rasa bersalah. “Begitu ini selesai… Om akan pulang. Om janji.”

Namun janji itu menggantung di udara.

Sebab ia tahu, masalah ini tidak akan selesai dalam waktu singkat.

Sesuatu yang ia bangun sejak masa pendidikan, hingga menjadi sebesar sekarang dan akhirnya mengalami masalah besar. Tentu tidak mudah untuk membuatnya pulih.

Dan setiap detik yang berlalu tanpa ia di sisi Keyra…

adalah siksaan tersendiri.

**

Kenneth baru saja keluar dari ruang rapat krisis ketika pintu suite roomnya diketuk.

Ia membuka pintu pelan, dan di sana berdiri seorang wanita paruh baya yang anggun, rambut peraknya disanggul rapi.

Lady Margareth Miles.

Ibunya.

"Aku dengar kondisi perusahaanmu berantakan," ucap sang ibu lembut, masuk tanpa menunggu undangan. "Jadi tentu saja… Aku harus datang dan memastikan kau tidak tumbang."

Ken menghela napas. "Aku baik-baik saja."

“Tidak, kau tidak.” Lady Margareth menatap dalam-dalam. “Matamu… terlalu banyak beban di sana.”

Ken tidak menjawab. Ia hanya melepas jas dan duduk, menekan pelipisnya.

Sang ibu duduk di depan Ken, memperhatikannya lama, lalu berkata pelan,

“Sekarang ceritakan… apa yang sebenarnya terjadi? Perusahaanmu... dan gadis itu.”

Ken tersentak kecil.

“…Gadis itu?”

“Ya, Keyra,” jawab sang ibu santai. “Nama yang terus kau sebut dalam beberapa hari terakhir, bahkan hampir sepanjang waktu.”

Ken menegang.

Lady Margareth menyilangkan kaki dan menatap putranya seperti seorang detektif berpengalaman.

“Ada apa dengan hubungan kalian? Kau tampak… terlalu mencemaskan dia. Gadis berusia enam belas tahun... hmm.”

Ken menarik napas panjang, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

“Keyra hanya… tanggung jawabku. Jacob menitipkannya padaku. Itu saja.”

Ibunya mengangkat alis. “Tanggung jawab, hm? Sampai kau kehilangan fokus rapat karena terus memeriksa pesan? Sampai kau marah besar ketika tahu ponselmu tak bisa dipakai menghubungi Indonesia?”

Ken menutup wajahnya dengan satu tangan. “Mom, jangan berlebihan.”

“Aku hanya bertanya, Kenneth.”

Nada sang ibu lembut, namun tajam seperti biasanya.

“Kau terlihat sangat… terpaut padanya.”

Ken menggeleng. “Dia masih muda. Dan dia sendirian. Aku tidak ingin dia merasa ditinggalkan lagi.”

Lady Margareth tersenyum tipis. “Kau berbicara seperti seseorang yang sedang jatuh cinta, nak.”

“Bukan begitu.”

Kali ini Ken menjawab sedikit terlalu cepat.

Sedikit terlalu defensif.

Ibunya langsung menangkap itu.

Ken berdeham dan menegaskan dengan suara terkontrol, “Keyra seperti keluarga. Aku mengurusnya… karena itu amanah Jacob. Tidak lebih.”

Lady Margareth menunduk, memerhatikan Ken seolah membaca pikirannya yang paling dalam.

“Kalau begitu,” ucapnya akhirnya, “mengapa matamu terlihat seperti mata seseorang yang kehilangan separuh jiwanya hanya karena tidak bisa bertukar kabar dengan sang gadis?”

Ken terdiam.

Jantungnya memukul rusuknya keras, namun ia tetap menjaga wajahnya datar.

“Mom…”

Ia menarik napas tremor kecil.

“Keyra… masih anak-anak dalam banyak hal. Dan aku… tidak boleh… tidak boleh memikirkan apa pun selain masa depannya.”

Lady Margareth memejamkan mata, lalu mengangguk perlahan.

“Aku mengerti. Kau menjaga batasan kalian. Mungkin dua tahun lagi, cerita kalian akan berbeda.”

“I don't know,” desis Ken. “Aku tidak boleh menjadi pria yang menyulitkan hidupnya.”

Setelah hening beberapa saat, Lady Margareth berdiri dan menyentuh bahu anaknya.

“Aku percaya padamu,” katanya lembut. “Tapi satu hal yang aku tahu pasti, kau tidak pernah mengkhawatirkan siapapun seperti ini sebelumnya.”

Ken menutup mata.

Dalam hening, ia sadar ibunya benar.

Ia terlalu peduli.

Terlalu mencemaskan.

Terlalu terikat.

Namun ia tetap berkata, dengan suara yang nyaris patah,

“Aku hanya ingin Keyra aman. Itu saja.”

Lady Margareth tidak menjawab lagi.

Karena ia tahu, putranya sedang berbohong pada dirinya sendiri.

**

Hari demi hari tanpa kabar dari Ken membuat Keyra seakan berjalan tanpa arah.

Awalnya ia menunggu, siang, malam, bahkan saat ia duduk di taman sambil membawa buku, matanya selalu melirik layar ponsel, berharap ada notifikasi baru.

Tapi tak ada apa pun.

Setiap pagi ia bangun dengan harapan tipis, dan setiap malam ia tidur dengan dada yang makin berat.

Rasa rindu itu bukan lagi sekedar rindu… tapi seperti luka yang makin dalam.

Sementara itu, Rafael selalu ada. Selalu.

Entah bagaimana, cowok itu seperti punya radar yang tahu kapan Keyra sedang patah, kapan ia butuh ditemani, kapan ia butuh tertawa.

Ia menemani Keyra makan siang, memastikan gadis itu makan obat, mengantarkannya jalan-jalan keluar rumah agar tak terus-terusan murung, bahkan mengambilkan selimut ketika Keyra tertidur di sofa.

Ia tidak pernah memaksa Keyra menceritakan apa yang membebaninya.

Ia hanya… hadir. Dengan cara yang halus dan sabar.

Ada kalanya Rafael mengerjainya sedikit.

“Kalo kamu terus ngelamun gitu, aku panggilin dukun, loh.”

Keyra membalas dengan tatapan malas, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit.

Di lain waktu, Rafael melakukan hal-hal kecil yang menghangatkan,

membawa bunga liar yang ia petik di jalan,

menuliskan sticky note lucu berisi lelucon receh,

mengajarinya permainan kartu konyol hingga Keyra tertawa terpingkal-pingkal,

atau sekadar duduk diam menemani tanpa berkata apa pun.

Dan meskipun Keyra tahu, meskipun hatinya tetap untuk Ken, ia tak mampu menyangkal satu hal,

Rafael membuat hari-harinya terasa tidak seburuk yang ia kira.

Ia menerima Rafael di sisinya… sebagai sahabat yang peduli, sebagai seseorang yang mampu membuatnya merasa tidak sepenuhnya sendirian.

Namun jauh di dalam hatinya, Keyra tetap memeluk nama yang sama.

Ken.

Nama yang membuat dadanya terasa hangat sekaligus menyakitkan setiap kali terlintas.

Nama yang belum juga muncul sejak hari ia menghilang...

Sampai kapan Keyra akan menanggung beban batin ini?

.

YuKa/ 111225

1
Anti Noor
Waaahhh!! Gaya teraniaya 🤭
mbak mell
aduhh ken sayang, bakal terjadi sesuatu yang gong nanti nya dong xixixix
mbak mell
plisss key, kamu yang ngomong gitu aku yang malu😭😭
D.Nafis Union
Rafael sm Rayya sama² gak jelas kmn arahnya.
Ken emang paling pinter mancing Keisya. Makasih neng, lupa blm komen 😄
Lilik Juhariah
miris jadi Rayya
Lilik Juhariah
kasihan Rayya sampe merendahkan diri gitu , padahal pikiran Rafael gak ke dia, jangan sampe kamu menyesal Raffa saat Rayya udah lelah
Kedan Bawel 🍒
🤣🤣🤣🤣.. Kucing di pancing pake ikan, mana mungkin di tolak iya kan Rafael..? 🤣🤣
Rafael gak minta, tp dia menyerahkan diri kok.. Embat lahh.. 🤣🤣🤣
Kedan Bawel 🍒: Ken mencoba fantasi yg berbeda.
Dengan mengikat Keyra sebagai objek fantasi nya..
Ken, jgn terlalu banyak gaya..
Tohh, rudal nya menancap ke titik target yg sama.. 🤣🤣
total 1 replies
BunNa1
yesss kedua😘😘😘
BunNa1
om Ken nih ada aja gebrakannya🤭🤭🤭
BunNa1
kasihan sm Rayya sih. dia kayaknya tulus sm Rafael, tp di hati Rafael tetep Keyra. kamu akan nyesel Raf klo Rayya udah capek n ninggalin kamu
Arum Widya
selamat pagi dan salam sehat , damai sejahtera...
akhirnya bisa komen disini lagi... 🤗🤗
Arum Widya
first comment... 🤗..
tumben...
Arum Widya: yeayyy.. 👏👏
total 2 replies
Arum Widya
raf.. coba dech. ngajak ngomong raya baik"... ngomong dari hati ke hati. toh sekarang keyra udah happy ama om ken. jadi mending you move on. kalau bukan dengan Rayya. bisa dengan wanita lain. ☺
Arum Widya
Rayya masih ngebet bae... udah tau rafaelnya enggak mau. tp Rafael juga sih.. udah gak mau tetep aja ngacung... 🙄🙄
Arum Widya
🫣🫣🫣....
apa yang terjadi.... kenapa harus di ikat. kan kasihan...? 🤔🤔🤔..
YuKa Fortuna
makasih kk🥰
Lilik Juhariah
'bukan karena kamu meminta , tapi karena aku memilih " , kalimat ini luar biasa , bagaimna menghargai perasaan pasangannya ,
YuKa Fortuna: makasih kk🥰
total 1 replies
ollyooliver
lanjuttt
YuKa Fortuna: ok kk
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
tembak didalam ya🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
untuk Key nggak pingsan 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!