Harap bijak dalam memilih bacaan, sebagian konten ini berunsur dewasa 21+
Demi menyelamatkan panti asuhan yang akan di gusur, Fatimah rela menikah dengan pria setengah baya berusia 50 tahun. Tetapi laki - laki itu sama sekali tak pernah menyentuhnya. Kenapa ? dan ada rahasia apa di balik pernikahannya....
Lalu bagaimana reaksi Glenn Wijaya Liem yang melihat Ayahnya sendiri menikahi wanita yang diam-diam ia cintai sejak tiga tahun yang lalu.... kuy ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan aku
"Selamat siang bang Jago ?" sapa Mira siang itu ketika baru masuk ke ruangannya Glenn.
Glenn yang mendengar sapaan Mira yang tak biasa itu nampak memicingkan matanya, "Maksud saya selamat siang Direktur." Mira segera menginterupsi perkataannya sendiri, memang kadang bibir ceplas ceplosnya itu sulit untuk di ajak kerjasama.
"Ada apa ?" tanya Glenn dingin.
"Saya mau minta tanda tangan Direktur, ini adalah laporan keuangan minggu ini." Mira menyerahkan berkas di tangannya.
"Tinggalkan saja saya akan mengeceknya dulu."
"Baik Direktur kalau begitu saya permisi." pamit Mira kemudian ia melangkahkan kakinya keluar tapi baru beberapa langkah Glenn memanggilnya lagi.
"Di mana Fatimah ?" tanya Glenn sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Mungkin masih makan siang Direktur."
"Baiklah, kamu bisa keluar." ucapnya.
"Baik Direktur." sahut Mira kemudian ia keluar dan menutup pintu ruangan tersebut.
"Kemana dia, beraninya keluyuran di jam kerja." gerutu Glenn.
Fatimah yang sedang berjalan tertatih terlihat sangat pucat karena menahan kesakitan di kakinya, sepertinya high heels wanita tersebut terlalu lancip hingga bisa melukai kakinya padahal ia memakai kaos kaki.
Sambil berjalan ia mengingat-ingat wanita tadi seperti tidak asing baginya, tapi ia lupa kapan pernah melihatnya. Lalu ia berusaha untuk selalu berpikir positif mungkin benar wanita tadi tidak sengaja, karena ia sendiri juga terburu-buru tadi.
Sesampainya di meja kerjanya, Fatimah ingin melepaskan sepatunya dan melihat luka di kakinya tapi Glenn sudah datang dan membentaknya.
"Apa kamu sudah bosan kerja di sini ?" teriak Glenn yang seketika membuat Fatimah langsung berdiri dari duduknya.
"Maaf Direktur."
"Kamu sudah terlambat 30 menit, perusahaan tidak mentolerir karyawan yang tidak menghargai waktu."
"Maaf Direktur, saya janji tidak akan mengulanginya lagi." terlihat penyesalan di wajah Fatimah, hingga membuat Glenn tak tega untuk memarahinya lebih lanjut tapi jika karyawan lain mungkin ia akan menyemprotnya habis-habisan.
"Buatkan saya kopi, sekarang !!" perintah Glenn lalu ia masuk kembali ke ruangannya.
Fatimah segera melangkah menuju Pantry untuk membuat kopi, sepertinya laki-laki itu juga belum makan siang jadi ia membawakan beberapa kue di atas nampan.
Dengan langkah tertatih Fatimah membawa nampan yang di atasnya sudah ada satu piring kecil kue dan dan kopi, setelah mengetuk pintu dan mendengar sahutan dari dalam ia segera membuka pintu dan masuk.
"Ini Direktur kopinya." Fatimah meletakan di meja kerjanya yang kosong.
Glenn hanya diam saja, matanya masih fokus ke layar monitor di depannya.
"Kalau begitu saya permisi." ucap Fatimah.
"Kenapa kamu tadi terlambat ?" tanya Glenn yang seketika membuat Fatimah berbalik badan dan menatapnya.
"Maaf saya tidak lihat jam." sahut Fatimah beralasan.
"Ceroboh." sentak Glenn.
"Maaf saya tidak akan mengulangi lagi." ucap Fatimah tapi Glenn sama sekali tidak menanggapinya karena matanya masih fokus dengan layar komputernya.
"Kalau begitu saya permisi." lanjutnya lagi kemudian ia berlalu pergi dengan jalan yang sedikit pincang.
Glenn yang melihat cara jalannya Fatimah yang tidak seperti biasa, dia segera memanggilnya kembali. "Tunggu !!"
"Ya." sahut Fatimah yang sudah berada di ambang pintu, lalu ia memutar kepalanya untuk melihat Glenn kembali.
Glenn beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Fatimah, matanya langsung tertuju pada kakinya yang sudah berlumuran darah.
"Kakimu kenapa ?"
"Sa-saya..." tanpa aba-aba Glenn langsung membopong Fatimah dan mendudukkannya di atas sofa.
"Kamu lancang sekali sudah menyentuhku." sentak Fatimah tidak terima.
"Ini bukan pertama kalinya aku menyentuhmu bahkan aku sudah merasakan manisnya bibirmu, jadi diam lah !!" Glenn duduk berjongkok dan memeriksa kakinya.
"Dasar mesum." gumam Fatimah.
"Bodoh, kenapa kamu membiarkan kaki terluka seperti ini. Siapa yang melakukannya ?"
"Hanya tersandung." sahut Fatimah dingin ia masih tidak terima Glenn menyentuhnya.
Meski Fatimah menolak keras tapi Glenn tetap memaksa untuk membuka sepatunya satu persatu lalu kaos kakinya yang sudah berlumuran darah itu, ia bergidik ngeri ketika melihat darah yang sebagian sudah mengering.
Sedangkan Fatimah sedikit terharu ketika mendapat perhatian dari Glenn, rasanya lama sekali ia tidak pernah mendapat perhatian seperti ini dan matanya sudah berkaca-kaca.
"Apa sakit sekali ?" tanya Glenn ketika melihat Fatimah hampir menangis.
"Aku tidak apa-apa, aku bisa obati sendiri."
"Diamlah, aku akan memanggil dokter !!" Glenn segera berdiri dan berlalu ke kamar mandi untuk mencuci tangannya yang terkena sedikit noda darah, setelah itu ia menelepon dokter agar segera ke kantornya.
Selang beberapa saat dokter sudah masuk ke dalam ruangannya. "Hey bro, siapa yang sakit ?" tanya dokter itu yang di ketahui bernama Jimmy, ia adalah sahabat sekaligus dokter keluarga tuan Candra.
"Cepat periksalah dan jangan banyak tanya !!"
Dokter Jimmy segera memeriksa Fatimah yang sedang duduk di atas sofa dengan bertelanjang kaki. "Kenapa bisa luka seperti ini apa kamu tertusuk benda tajam ?"
"Tidak dok, cuma tersandung tadi di kantin karena berjalan terburu-buru." sahut Fatimah dengan alibinya.
"Apa perlu di jahit bro ?" tanya Glenn yang sedang berdiri tak jauh dari Fatimah dan matanya masih tak berpaling dari kakinya.
"Sepertinya tidak karena lukanya tidak terlalu dalam."
"Tapi kenapa darahnya begitu banyak keluar ?" tanya Glenn lagi.
"Mungkin tadi sebelumnya ia terlalu banyak bergerak, jadi darahnya terus-menerus keluar." sahut dokter Jimmy yang seketika membuat Glenn merasa bersalah.
"Maafkan aku." batin Glenn dalam hati, ia memperhatikan Fatimah yang menggigit bibirnya karena menahan sakit ketika dokter tersebut membersihkan lukanya.
Selang beberapa saat dokter sudah membalut lukanya. "Sudah selesai nona, usahakan jangan terlalu banyak gerak dan terkena air biar lukanya cepat kering." ucap dokter itu kemudian ia beranjak dari duduknya.
"Terima kasih banyak dok." ucap Fatimah dengan tersenyum manis dan itu membuat Glenn seketika menatap tajam padanya.
"Sama-sama nona cantik." sahut dokter Jimmy yang tertegun ketika melihat senyum Fatimah.
"Udah kelar kan bro, ayo ku antar !!" sahut Glenn sambil menarik lengan sahabatnya itu.
"Astaga buru-buru sekali, aku belum sempat nulis resepnya." protes dokter Jimmy tak terima.
"Tulis sambil jalankan bisa." sahut Glenn yang masih menarik dokter Jimmy untuk keluar dari ruangannya.
"Tidak sopan sekali." gerutu dokter Jimmy sambil berlalu.
"Apa dia kekasihmu ?" tanyanya lagi ketika berjalan menuju lift.
"Bukan, dia cuma sekretarisku."
"Benarkah, kita dari kecil selalu bersama dan baru kali ini aku lihat kamu sangat mengkhawatirkan seorang wanita."
"Dia cuma sekretarisku nggak lebih." Glenn menekankan kata-katanya yang memperjelas kalau mereka tidak ada hubungan.
"Kalau begitu apa aku boleh mengenalnya ?" goda dokter Jimmy.
"Jangan macam-macam, cepat pergi dari sini."
Dokter Jimmy terkekeh melihat sikap sahabatnya itu yang terlihat sekali sangat cemburu, bagaimanapun ia merasa senang berarti sahabatnya itu masih normal. Karena selama ini Glenn terkenal dingin dan cuek terhadap lawan jenis, bahkan mungkin laki-laki itu belum pernah merasakan ciuman dengan seorang wanita. Pikirnya.
awal yang menarik semoga ceritanya bagus hingga akhir