NovelToon NovelToon
Perindu Senja

Perindu Senja

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:53.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ata~Tenareten

Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.

Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benaknya Terusik

Sedikit rasa sakit mengusik benaknya, namun melihat Indri yang tersenyum penuh makna menatapinya, membuatnya legah seakan-akan rasa yang kian lama terpendam akhirnya terucap tuntas.

"Yuk... Marilah kita mengelilingi taman ini menatapi terang dan indahnya bintang malam yang mengisi langit biru, " ajaknya sembari menarik tangan Indiri tanpa menghiiraukan lagi Metallo keduanya temannya yang berada di tempat nongkrongan.

Indri hanya tertunduk diam mengikuti langkahnya, dilain sisi dia merasakannya kenyaman yang begitu damai dalam benaknya, walau harapannya untuk menghabiskan malam bersama Metallo tak kesampaian.

****

Selang beberapa menit kemudian Metallo keluar dari dalam rumahnya. Tatapannya tertuju kepada mereka berdua yang berada di taman, 'Syukurlah... akhirnya malam ini mereka bisa menghabiskannya dengan indah,' ia sedikit senang oleh karena saudaranya dapat menemani Indri, sebab Faelo kerap kali memberitahukan apa yang dirasakannya terhadap Indri kepadanya.

"Nasibmu Faelo... Malam ini engkau tidak menerima pukulan darinya," gumannya sembari menggelengkan kepala pelan mengingat pukulan yang Faelo terima dari Indri di malam kemarin. Ia kemudian mengarahkan kembali pandangannya kepada Festo dan Mey seraya berjalan menghampiri mereka.

Langkah kaki Metallo terhenti ketika tiba di tempat itu, kedua alis matanya terangkat menatapi Mey penuh tanya sebab terlihat jelas raut wajah jenuh Mey nampak jelas dalam lamunan, "Mey, kenapa melamun? Hm..." pekiknya sembari ngebodi Mey.

Seketika Mey terperanjat dikagetkan olehnya, "Ah... Aku bosan menunggu," dia memalingkan wajah dari Metallo sembari membalikkan badan membelakangi Metallo.

Mey terlihat sedikit kecewa terhadapnya sebab tidak bisa menghabiskan malam bersama, mengingat Festo tidak ada menemaninya dan dia juga tahu bahwa Metallo tidak mau membiarkan Festo sendirian di tempat nongkrongan itu.

Jikalau mereka berdua memutuskan untuk menikmati indahnya malam tanpa memikirkan teman mereka itu, maka yang pasti Festo merasa sedikit terpuruk dan hal itu tidak mungkin di biarkan oleh Metallo.

Ia kemudian memegang bahu Mey serta memutar balikan badan dia, "Mey... Aku tahu kamu pasti kecewa karena tak ada yang menemani Festo malam ini hingga kita tidak bisa menghabiskan malam bersama, bukan?"

Mey tertunduk diam mendengarkannya, sedangkan Festo seketika menghentikan petikan Gitarnya dan menatapi mereka berdua secara bergantian.

Metallo mengelus-elus kepala Mey sebelum mencubit kedua pipi Mey dengan manja. Senyuman lebarnya berhasil membuat Mey mengingat kembali mimpi yang dulu pernah menghantuinya.

"Mey... Percayalah kepadaku, jikalau mimpi dapat menjadi kenyataan maka kita dapat dipersatukan... Jikalau jalan hidup ini berpatok pada mimpi, maka yakinlah... Masih ada seribu malam untuk kita," ia kemudian melepaskan tangannya sembari menggelengkan kepala pelan sembari mengalihkan pandangannya pada bintang malam.

"Sungguh aku tidak mengerti dengan jalan hidup ini... Tapi percayalah Mey, aku akan mencari sebuah kepastian agar tidak ada satupun diantara kita yang tersakiti."

Mendengarkan ucapan yang tak disengaja dari Metallo tentang sebuah mimpi yang menghantuinya, membuat dia yakin dan percaya bahwa Metallo memanglah takdirnya, 'Jikalau engkau memimpikan sesuatu yang sama denganku, kenapa harus mencari sebuah kepastian? Bukankah itu sungguh pasti?' benak Mey penuh tanya.

Mey kemudian merapatkan dirinya, sedangkan kepalanya disandarkan di lengan kanan Metallo. Sesaat dia menatapi Metallo dengan penuh makna sebelum mengalihkan pandangannya pada indahnya bintang.

"Metallo... Malam begitu damai, dipenuhi bintang yang menghiasi indahnya langit biru... Sebuah kepastian itu selalu ada di ujung senja... Harapku semuanya indah pada waktunya," dia kemudian menghela nafas panjang, matanya kini berbinar-binar menatapi Metallo, "Disana... Di ujung senja... Semoga engkau tetap berdiri menanti kepastian yang menghampiri... Bertahanlah untuknya yang akan menemani engkau menatap indahnya bintang Kejora disaat senja menghampiri.

*****

Merdu suara burung dan gemercak air dari genteng rumah, bagaikan birama yang indah menyambut pagi.

Ibu Esi telah lama menyiapkan seluruh sarapan untuk mereka berdua kini mulai melantunkan nyanyian menunggu hadirnya sang surya, sedangkan Metallo yang baru saja bangkit dari remah(malam) panjangnya, langsung bergegas ke depan teras rumahnya, di genggamannya ada secangkir kopi yang menemani damainya pagi yang cemerlang.

Kuning sekarat(kecil) menghiasi timur raya, senda bakti mengusik jiwanya ketika pahit kopi mengisi mengisi waduk(lambung). Ia termenung dalam ersloji(suasana damai), membayangi remah(malam) yang telah berlalu.

'Damaikan bakti ini padamu pagiku... Ukirlah senda nan t'lah berlalu... Bawa kenanglah dalam waktu... senangkanlah dia akan daku...' benaknya.

Sedikit demi sedikit raut wajah Mey mulai terlintas di hadanpanya, begitu pula mimpi yang dulu pernah menghantuinya yang membuatnya merasa bahwa Mey sekarang benar-benar ada di hadapannya.

"Mey... Semuanya begitu indah, jikalau melewati hari bersamamu. Tapi kenapa jawabannya selalu ada di ujung senja. Malam yang telah lenyap tak pernah kusesali, karena bersamamu aku bahagia walau tidak bisa kita lewati bersama. Apakah jawaban yang pasti selalu ada di ujung senja atau mungkin di penghujung waktu? Lalu untuk apa mencari yang belum tentu menjadi sebuah kepastian?" ia menggelengkan kepalanya pelan.

"Hey... Jawab aku!" pintanya sebelum sadar bahwa yang berada di hadapannya hanyalah bayang dari Mey.

Amarah membara ketika mengetahui bahwa ia berbicara dengan bayangan hingga membuatnya berdiri dari tempat duduk dan mulai melangkah menuju ke taman bunga, tatapannya memerah terarah pada hadirnya surya.

"***Senda, sendayu air mengalir ikuti alunan

Jiwa meruah musik bergelora

Sambuti sang kekal

Teri, trinisma merintih masa berkesudahan

Andai kau kenangi dayuan menghampiri

Seribu masa kuberbakti

Tulus setia jiwa kuserahkan

Dayu, dayuni usia menikam papatah hati

Waktu menjamu dekapi kerinduan

Hasrat mati menepaki nadi

Buram mata terlarut raga

Laru, laruni idaman sanggar Ilahi

Puji kenang naungi syukur

Terajut waktu menuai impian

Andai kau kenangi aku tersenyum

Dunia terbuai aku khianati."

.............☆Manusiaku seribu nama☆***.............

Suaranya begitu lantang mengisi damainya ruang pagi. Dayuannya membuatnya merasakan penyesalan yang sangat dalam mengusik benak.

Entah apa yang merasukinya hingga ia terlihat sangat kecewa. Langkah kakinya ke arah tempat duduknya mulai melemah seperti orang yang tak makan berhari-hari. Ia mati raga, mati rasa bahkan pagi yang indah seketika menjadi sebuah kehampaan yang selalu mengusik dirinya.

"Jikalau lenyap... Aku akan cari, sampai ke tepian pun aku tidak akan berhenti. Jikalau semuanya hanya mimpi yang telah terobsesi, aku tidak peduli," kini raut wajah Gadis yang menghantuinya terlintas sesaat di hadapannya ketika ia menutupi mata.

Perlahan ia duduk dan mengangkat pelan gelas berisi kopi yang telah ia minum setengah dari isinya. Tatapannya penuh makna dengan sedikit senyuman yang menghiasi wajahnya, membayangi pahitnya hidup bagaikan hitamnya kopi.

"Jalanku... Jalan menuju mimpi. Dimana dunia tak pernah tahu, tentang kopi tanpa gula manun manis rasanya," sedikit tawa menggelegar ketika tatapannya terarah kembali pada sang surya.

Bersamaan dengan itu, suasana kedamaian pagi perlahan-lahan bungkam dan yang ada hanyalah sembahhana yang terisi beribu pertanyaan dalam benak.

1
Reaz
semagat Thor.../Ok//Good/
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Abu Yub
luar biasa
Abu Yub
Aku kasih bintang masuk ngak dedek
Abu Yub
Aku mampir dedek/Rose//Rose/
Abu Yub
sedih
Abu Yub
dapat melihat
Abu Yub
Tumben
Abu Yub
indah namun aneh
Larina
Turut prihatin dengan keadaan listrik di wilayah Metallo, ternyata cukup payah
Larina
mereka sama-sama menarik nya
Larina
pH no,, dia salah sangka
KIA Qirana
Wah, kalian jadi lebih sakit kan, terjatuh, dan tertimpa 🤔🤔
Adinda
Kasihan Mey, jiwanya jadi murung
ALONE ⭕
Astaga, itu para ibu-ibu rombengan banget mulutnya
Zelyn ⭕
Hey Metallo sabarlah sedikit
Nina ♋
Apa aku seindah senja 🤔🤔🤔
Dhina ♑
Sungguh miris keadaan Mey.
Dikelilingi kebencian
Jazz ♋
Dia siapa
Jazz ♋
Pukulan kamu sungguh dahsyat Mey
Jazz ♋
Karena tidak ada cara lain untuk menyadar........

Thor, itu maksudnya bagaimana ya??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!