Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?
Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.
Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.
Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.
"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB20 - Apa Kabarmu?
Karena Ranking Votenya naik, saya up untuk kalian ^^
.
.
"Dave," panggil seseorang dari arah berlawanan.
Dave terhenti, begitu pula dengan Davina. Sekilas Dave memperhatikan Davina dan kemudian, kembali memperhatikan orang yang memanggilnya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Dave?" Pria berparas tampan dengan tubuh tegap itu berjalan mendekati Dave. Hingga, tubuh Davina terlihat di kedua manik matanya.
"Davina," seru Williams. Ya, dia adalah Williams. Sahabat Dave satu-satunya yang waras. Cuma Williams pria baik-baik di antara sahabat mereka yang jarang mengencani atau mempermainkan hati perempuan dengan sesuka hati mereka.
Davina terkesiap. Kedua matanya tak sejalan dengan ingatannya. Dave lalu berjalan mendekati Williams.
"Aku sedang ingin menemui Istriku." Dave menarik salah satu sudut bibirnya.
"Ouuu ... ayo ke ruanganku," ajak Williams.
"Tidak perlu, Will. Aku cuma mampir sebentar. Aku berangkat, lain kali aku akan menerima ajakanmu." Dave tersenyum. Kedua kakinya berjalan menuju lift. Tak lama, kakinya kembali terhenti dan kembali mendekati Williams.
"Hemmmm ... aku titip istriku. Jangan berani-berani menggodanya." Kedua mata Dave seakan menghunus tepat di kedua manik mata Williams.
Williams tercengang tidak percaya. Kemudian, dia tertawa seakan ada yang lucu.
"Kau gila?! apa otakmu kekurangan makanan?"
"Oh ayolah Will ... aku cuma takut saat kau memandangi istriku saat di rumah sakit waktu itu."
"Pergi kau sana! mungkin kau benar-benar sudah gila." Williams habis kesabaran dengan tingkah Dave yang jarang bisa serius.
"Baiklah ... aku pergi untuk kembali." Dave mengedipkan kedua matanya dan langsung berjalan menuju pintu lift yang sudah terbuka.
Williams hanya menggelengkan kepalanya. Setelah itu, dia kembali membawa pandangannya ke arah di mana Davina sebelumnya berdiri. Tapi, tubuh itu sudah tidak berada di posisinya.
"Silahkan jalan, Pak." Seusai kepergian Dave, Relin mendekati Williams. Sekretaris yang setia mengikuti kemanapun dia pergi.
Williams mengangguk dan berjalan dengan di damping Relin.
"Tolong periksa staff bernama Davina. Di bagian mana dia bertugas." Perintah Williams.
"Baik Pak," jawab Relin sopan.
Kedua kaki Williams tiba-tiba kembali terhenti.
"Sepertinya tidak usah Lin. Sudah saya temukan orangnya." Williams mendapati Davina yang sedang berfokus pada komputernya.
Saat mengetahui kedatangan Williams, semua staff dan karyawan bangkit dari duduknya. Kemudian, menatap pada Williams selaku CEO perusahaan.
"Vin ... berdiri," panggil Aldi.
"Apaan sih lo!" Davina sama sekali tidak sadar akan kedatangan Williams selaku CEO perusahaan.
"Vin! Berdiri, lo gak tau semua orang berdiri!" Dinda semakin takut. Saat kedua kaki Williams berjalan menyusuri lorong kubikel mereka dengan perlahan. Tatapannya tertuju pada meja Davina.
Davina yang akhirnya mendengar suara Dinda, pun menoleh ke arah sekelilingnya. Spontan kedua kakinya membawa tubuhnya untuk berdiri.
'Duh ... ****** gue. Itu bukannya si cowok yang ada di rumah sakit waktu itu ya? yang meluk-meluk gue supaya gak jadi bunuh diri itu? kok dia bisa di sini sih?'
Williams terhenti tepat di depan Davina. Davina dia menunduk malu.
"davina." Mendengar suara lembut dari Williams, Davina memberanikan dirinya mengangkat wajahnya.
"I-iya Pak," balas Davina gugup.
Williams pun tertawa. Seluruh staff menatap bingung dengan keakraban yang di berikan Williams di depan mereka.
"Akhirnya saya tidak salah orang. Hemmm ...," katanya dengan berpangku tangan dan menatap Davina. "Kenapa kamu bisa di sini?"
Kedua mata Davina membeliak.
'Bukankah itu pertanyaan gue tadi?'
"Aggghhh ... saya bekerja di sini, Pak." Williams tersenyum kembali. Relin mendekati Williams dan berbisik, "Pak ... seluruh staff sedang memperhatikan anda. Bukankah ini pertama kalinya anda tampil di depan para staff, Anda?"
"Hemmmm ... Davina! kamu ke ruangan saya."
"Sayaaaa???" Davina menunjuk pada dirinya sendiri.
"Iya,kamu. Kenapa kaget?" Williams menahan senyumnya.
"Ba-baiklah Pak," balas Davina dengan memejamkan singkat kedua matanya. Willimas menatap pada seluruh karyawan dan staffnya.
"Semuanya ... kembalilah bekerja. Maaf, hari ini memang tidak ada pemberitahuan sama sekali akan kedatangan saya. Tapi, saya akan menginfokan. Mulai hari ini, saya akan berada bersama kalian. Saya sendiri yang akan mengelola perusahaan. Tolong kerja samanya, selamat bekerja." Williams memberikan senyumannya. Matanya kembali menatap Davina, kemudian berjalan menuju ruangannya. Relin sedikit kesal, saat Williams tersenyum ke arah Davina. Williams itu jarang akrab dan jarang tersenyum ke perempuan manapun. Termasuk dengan Relin, sekretarisnya yang berada dekat dengannya selama Williams menetap di Roma.
"Lo kenal sama atasan kita?" tanya Aldi.
"Hemmm ... gue juga baru tau ini, kalau dia atasan kita." Davina bersiap untuk keruangan Williams.
"Kok bisa kenal sih Vin?" tanya Dinda.
"Panjang ceritanya. Nanti gue cerita sama lo." Davina hendak berjalan menuju ruangan Williams.
"Lo siapanya Pak Williams, Vin?" sambung Savira menghentikan kaki Davina.
Kedua mata Davina tiba-tiba menatap kesal. Davina membulatkan matanya dengan bibir yang di cebikkan. Rasyid pun memandangi reaksi Davina yang menghujam dengan kebencian. Davina sama sekali tidak memperdulikan tatapan keduanya. Dengan santai, kakinya berjalan dengan langkah pasti menuju ruangan Williams. Ada semburat kesedihan terpancar di wajah Savira. Davina masih tidak bisa memaafkan kedua sahabatnya.
"Sabar ya Vir. Salah lo sih,menikung sahabat sendiri," celetuk Aldi.
"Jaga mulut lo, Al." Rasyid menatap dengan tidak suka.
"Terserah lo lah. Gue juga uda anggap lo berdua cuma rekan kerja doang." Aldi berbicara tanpa memandang wajah Rasyid. Seolah, komputer di depannya seperti wajah Rasyid.
"Sudalah jangan ribut. Ini memang salah gue," kata Savira ke Rasyid. Rasyid hanya bisa berdiam. Rasyid sendiri, sebenarnya merasa bersalah dengan Davina. Selama ini, perhatian Rasyid memang sangat berlebihan sebagai seorang sahabat sekaligus seorang kakak. Dia tidak bisa menyalahkan Davina, karena memang dialah yang menjadi titik utama perpecahan sahabatnya.
Tokkk ... Tokkk ... Tokkk ...
Tak lama pintu terbuka. Davina pun sedikit menunduk saat pintu di buka oleh Relin.
"Silahkan masuk, Nona." Relin memasang senyum palsu.
"Terima kasih." Davina melangkah dengan kaki yang terasa berat. Di sana, Williams kembali tersenyum, saat mendapati kedatangan Davina yang terlihat sangat anggun.
"Maaf Pak," kata Davina.
Williams bersedekap dan tampak tersenyum ke arah Davina.
"Untuk?" tanyanya.
Davina terkesiap.
"Egh ... untuk tadi. Maafkan saya yang hanya fokus pada komputer saya."
Williams tertawa kecil.
"Kenapa kamu polos sekali. Bukan untuk itu saya memanggil kamu, Vin. Duduklah," perintah Williams sambil bangkit berdiri menuju sofa.
"Ngah ...?"
"ayo duduk di sini," ajak Williams lagi
"Ba-baik Pak." Davina menunduk sambil berjalan menuju sofa.
"Lin ... tolong tinggalkan kami berdua. Kembalilah dengan tugas kamu. Kalau saya butuh, saya akan kembali memanggil kamu." Relin terlihat sangat jengkel. Tapi, dia mampu menahan rasa jengkelnya.
"Baik Pak," balas Relin. Sekilas dia menatap Davina dan Williams yang memandang lembut ke Davina.
"Selama gue bersama Williams, tidak pernah gue lihat dia tersenyum seperti itu." Relin merasa kalah saing dari Davina.
Setelah Relin berlalu dari ruangan Williams. Williams membuka percakapan santainya dengan Davina.
"Bagaiaman kabarmu, Vin?" tanya Williams dengan kedua manik mata memandang sendu ke Davina.
Bersambung
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔