Shahira atau lebih akrab dipanggil Ira. Dia dijuluki perawan tua, karena belum juga menikah bahkan diusianya yang sudah menginjak 34 tahun. Dia menjadi bahan gunjingan ibu ibu komplek.
Shahira pernah di lamar, tapi gagal karena ternyata pria yang melamarnya menyukai adiknya, Aluna.
Tapi, kemudian Ira dilamar lagi oleh seorang nenek untuk menjadi istri dari cucu kesayangannya. Nenek itu pernah di tolong Shahira beberapa waktu yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 Siapa yang bohong?
Sesuai janji, Aluna mengajak Ira bertemu di cafe depan rumah sakit. Tadinya Ira hendak mengunjungi apartemen adiknya itu, tapi ternyata Aluna mengajaknya bicara di luar.
Dengan Aluna yang seakan menyembunyikan tentang apartemennya membuat beberapa pertanyaan baru muncul di kepalanya. Seperti, mengapa Aluna tidak memberitahu tentang apartemen? Apakah Aluna sengaja karena tidak ingin menyakitinya? Ataukah karena diam diam Aluna benar benar mencoba merebut Nicho darinya?
Berbagai pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, membuat Ira merasa sangat pusing dan tidak bersemangat. Dia bahkan hampir melupakan tujuan utamanya menemui adiknya itu.
"Kakak kenapa, kok dari tadi diam saja. Katanya mau membahas hal penting?"
Ira tersenyum getir menanggapi pertanyaan Aluna. Pertanyaan itu juga menyadarkannya dari perdebatannya dengan dirinya sendiri, antara harus membahas masalah itu sekarang atau dilain waktu.
"Kak, apa kakak tidak enak badan?"
"Gak kok dek, kakak baik baik saja."
Sebentar mereka kembali diam, karena pesanan mereka sedang di letakkan oleh pelayan di atas meja mereka.
"Dek..."
"Iya kak."
"Adek jangan marah ya kalau kakak nanya tentang hal ini..."
"Memangnya pertanyaan apa sih kak. Sepertinya serius nih permasalahannya."
Ira terlihat ragu, "Adek jawab jujur ya. Kakak akan menerima apapun itu selama adek jujur."
"Apa aku pernah bohong sama kakak?"
"Setahu kakak sih gak pernah."
"Ya udah, tanyain aja sekarang kak."
Huh
Terdengar helaan napas berat dari Ira. Tentu itu membuat Aluna mulai menerka nerka tentang hal apa yang akan ditanyakan oleh kakaknya itu.
"Adek sekarang tinggal di apartemen, kan?" itu pertanyaan pertama untuk membuka pembicaraan serius itu.
Aluna tampak seakan dia terkejut karena kakaknya tahu tentang apartemen.
"Kakak tahu dari mas Nicho ya?"
"Iya."
"Mas Nicho ngomong apa sama kakak?"
"Gak, bukan gitu. Kakak gak sengaja mendengar mas Nicho bicara sama sekretarisnya untuk mencarikan adek apartemen."
"Kak..." Aluna meraih kedua tangan Ira yang terasa berair dan sedikit gemetar.
"Maafkan aku karena tidak langsung memberitahu kakak. Tapi, sebenarnya mas Nicho yang memintaku untuk merahasiakan dari kakak. Mas Nicho mengancam akan menceraikan kakak kalau aku menolak pemberiannya dan mengatakan tentang apa yang dia lakukan sama aku."
Kalimat itu jelas bohong. Tapi, Ira tidak tahu siapa yang berbohong sekarang. Apakah suaminya yang bohong atau malah Aluna yang berbohong padanya.
"Kak, percaya sama aku. Aku tidak punya rasa apapun sama mas Nicho. Tapi..."
Aluna menatap raut wajah Ira yang tampak tenang, tapi matanya menunjukkan keraguan.
"Adek yakin tidak punya perasaan apapun sama mas Nicho?"
Aluna tersenyum, tangannya mengelus punggung tangan kakaknya itu untuk meyakinkan bahwa dia benar tidak punya rasa apapun sama Nicho.
"Kak, mana mungkin aku punya perasaan lain selain menganggap mas Nicho sebagai kakak iparku."
"Tapi, kenapa adek tidak langsung memberitahu tentang apartemen dan kamar hotel?"
"Itu karena aku takut sama ancaman mas Nicho, kak. Dan aku pikir selama kakak tidak tahu semuanya akan baik baik saja. Aku menerima semua pemberian mas Nicho karena terpaksa dan takut dengan ancamannya itu. Aku gak mau mas Nicho menceraikan kakak..."
"Tapi, kakak gak mau bertahan dengan laki laki yang tidak mencintai kakak, dek."
Kalimat itu membuat Aluna terdiam. Ujung matanya sedikit bergetar, beruntungnya Ira tidak menyadarinya dan Aluan segera tersenyum manis.
"Aku benci sama mas Nicho sejak tahu dia hanya terpaksa menikahi kakak dan mengatakan dia menyukai aku. Tapi, aku tidak mau dia menceraikan kakak begitu saja. Sudah cukup kakak sedih dengan omongan tetangga, jadi aku pikir kakak harus mempertahankan pernikahan kakak..."
"Tapi mas Nicho tidak mencintai kakak dek, mas Nicho menyukai adek."
"Aku tidak mempunyai rasa apapun sama mas Nicho kak. Aku pastikan itu dan aku sudah mengatakan dengan tegas sama dia."
"Lalu, apa yang harus kakak lakukan sekarang, dek?"
Ira tampak putus asa, dia tidak setenang tadi. Pikirannya kacau. Dia bingung harus percaya pada Aluna atau Nicho.
"Kak, sementara bertahanlah dulu sampai mas Nicho sendiri yang lelah dan mengakui perasaannya sama kakak. Sampai saat itu, kakak harus tetap berusaha mengambil hati mas Nicho. Buat mas Nicho jatuh cinta sama kakak dan aku akan terus menolaknya. Percaya sama aku, kak."
Huh
Semuanya semakin rumit setelah mendengar penjelasan Aluna. Bukan menemukan jawaban yang ingin dia dengar, malah membuatnya semakin bingung.