[Tidak lanjut]
Asano Yuji, tiba-tiba meninggal karena kesalahan teknis Dewa. Sebagai permintaan maaf Dewa memberikannya kesempatan untuk reinkarnasi dan hidup kembali, tapi....
"Kenapa aku berada di tubuh seorang putri kerajaan? Apakah Dewa mempermainkanku."
Bagaimana hidupku setelah ini? Aku laki-laki lo! Kenapa aku malah menjadi perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Special Chapter 3 ( Alex POV)
Menurutmu apa bagian terburuk dan menakutkan di dunia ini?
Menjadi miskin, kelaparan, dibenci, dijauhi, atau kematian?
Kalau aku sendiri akan menjawab, hal paling terburuk dan tidak ingin kualami lagi adalah Perpisahan.
Tepat pada hari ulang tahunku yang ke enam, malam hari yang seharusnya menjadi kebahagiaan serta hal paling menyenangkan malah menjadi hal yang paling ingin terlupakan.
Malam hari itu aku mendengar kabar angin kedua orang tuaku Mati karena berpetualang.
'Alex kami akan segera pulang untuk hari ulang tahunmu jadi tunggu kami, ya'
Tepat sekitar satu minggu sebelum aku ulang tahun. Aku mendapatkan Surat yang tertulis demikian.
Kedua orang tuaku akan pulang setelah beberapa tahun lamanya. Fakta itu membuatku sangat senang.
Ayah dan Ibu sudah pergi semenjak aku berumur sekitar empat tahun. Saat aku masih sangat kecil.
Aku sendiri tidak tahu kenapa mereka meninggalkan anak kecil sepertiku hanya untuk pergi berpetualang.
Orang normal pasti membenci orang tua seperti itu, berpikir bahwa mereka mengabaikan mereka. Tapi berbeda denganku.
Fakta bahwa mereka bebas adalah hal paling keren menurut sudut pandangku, mereka tidak terikat apapun dan bisa pergi kemanapun, bukankah itu artinya keren.
Aku memiliki pemandangan tentang kebebasan yang berbeda, tidak seperti anak lain. Liana juga sering mengatakan ingin berpetualang, tapi hal yang dia maksud berbeda denganku.
Dia hanya ingin tampak keren tanpa mengerti arti dari kebasasan sesungguhnya, karena itulah aku sedikit sensitif ketika dia ingin pergi dan berkata hal seperti berpetualang. Dan juga aku takut jika sesuatu terjadi kepadanya.
'Aku akan menemani di sini jadi jangan bersedih.'
Pada hari itu tepat saat pemakaman kedua orang tuaku, Liana satu-satu sosok yang menami meskipun sedang hujan yang deras, dia membagikan payung serta menunggu bersamaku di makam.
Hingga hujan benar-benar reduh, pada awalnya aku tidak tahu kenapa dia melakukan hal sejauh itu untuk orang asing sepertiku.
Kami bahkan tidak pernah saling berbicara dan hanya saling menatap lalu pergi begitu saja.
Tapi kehangatan dari payung yang dia berikan kepadaku pada hari itu adalah kenyataan, perasaan hangat yang kurindukan dari ibu ada di tatapan dan hawa keberadaannya.
Karena itulah aku berjanji tidak akan membiarkannya mati. Meskipun aku tidak terlalu ingin masuk akademi, tapi akan kulakukan hanya demi dia tidak pergi seperti orang tuaku.
...***...
Mataku perlahan terbuka, terbangun dari mimpi aku menatap atap-atap kamar yang telah mulai hancur.
Semenjak kematian orang tuaku tentu kondisi rumah menjadi berantakan, meskipun aku berusaha untuk membersihkan, namun tentu orang malas sepertiku merasa kesusahan.
Berterima kasih atas tetanggaku yang berada di sebelah, dia sering membersihkan halaman rumah walaupun hanya sedikit.
Jika tidak mungkin rumah ini sudah bobrok..
Untuk sekarang mari lupakan perihal atap yang hampir hancur itu dan mari lakukan aktivitas seperti biasanya.
Pagi hari yang cerah adalah waktu yang tepat untuk berjalan kaki tanpa tujuan jelas.
Hanya menikmati suasana pagi yang sejuk dan segar memberikan perasaan istimewa bagiku. Banyak orang berlalu lalang, memenuhi jalan, meskipun begitu aku tidak kebaratan sama sekali.
Ditengah kerumunan aku menatap sosok pria dewasa yang terlihat menyedihkan dengan langkah yang sempoyongan. Dia terlihat seperti orang yang mabuk.
Apa aku akan menolong? Tentu tidak! Dia pasti akan membawa hal yang merepotkan. Jadi aku memutuskan untuk mengabaikannya dan berjalan menjauh.
Tapi...
"Oi, anak yang di sana, bisa bantu sesuatu sebentar?" Dengan wjah yang pucat dan membiru dia bertanya.
Sumpah orang ini menyedihkan. Apa orang seperti ini adalah orang dewasa? Tentu menyadari ini aku mengerutkan kening.
"Ada apa?"
Dia terlihat menatap sekitar seolah perkataan ini adalah hal yang tidak layak di dengar oleh orang lain. Dia meneguk ludah dan menatapku.
"Mari kita ganti tempat!"
"Hah ...? Tunggu, oi apa yang kamu lakukan!?"
Tanpa menunggu persetujuanku dia langsung menggeretku, membawa ke salah satu gang sepi. Di sana dia terlihat bernapas lega.
Sepertinya dia benar-benar tidak ingin mengatakan hal ini di tempat umum.
"Jadi apa yang kamu inginkan?"
Dia terdiam. Keheningan mengitari kami untuk beberapa waktu, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk berkata.
"Bocah beri aku uang."
Tanpa punya rasa malu dia merentangkan tangan ke arahku. Posisi yang dia lakukan saat ini benar-benar mirip pengemis.
"Hah! Kamu bercanda kan?"
Mana ada di dunia ini orang random yang meminta uang ke orang yang pertama kali mereka temui. Apalagi ke anak kecil, apa dia tidak punya rasa malu?
"Aku tidak bercanda... beri aku uang."
"Aku tidak punya dasar bodoh! Orang dewasa macam apa kamu ini? Lagipula untuk apa uang itu?"
Aku tidak bisa menahan amarah yang membandung. Awalnya aku sempat berpikir bahwa dia akan memberikan permitaan dan pembicaraan yang serius, tapi serius dia berhasil membuatku kecewa.
"Ini demi kedamaian dunia..."
Demi dunia? Mendengar hal tersebut orang ini tampak mengeluarkan aura yang serius. Mungkin acara yang sebenarnya akan dimulai.
" ya dunia judi."
Dan seperti yang kuharapkan lagi-lagi ini diluar ekspetasiku.
"Hah Judi katamu? Anda benar-benar tidak tahu malu. Bagaimana bisa kamu meminta uang demi hal buruk seperti itu."
Mendengar ocehanku pria itu hanya mengorek kupingnya dan membuat pose seperti pengemis.
"Sudah diam dan berikan saja uangmu! Kamu punya banyak, kan? Lagipula anak sepertimu pasti hidup enak. Semua sudah disiapkan oleh orang tua. Jadi setidaknya berikan aku rezekimu sedikit bukan masalah yang besar, kan?"
Aku mengigit bibir dan mengepalkan tangan. Orang ini salah paham besar, dia berpikir bahwa aku merupakan anak manja yang sama seperti yang diluar.
Tanpa mengetahui bahwa kedua orang tuaku...
Memikirkan hal tersebut air mataku telah berjatuhan, membanjiri mukaku. terlihat pria itu tampak terkejut atas respon yang diluar duagaan tersebut, dia menelan ludah seolah merasa bersalah.
"A-aku bahkan tidak punya orang tua! Bodoh!"
Berkat terikan tersebut pria itu terdiam dan menatapku. Tidak ini bukan tatapan sedih yang biasa orang berikan, ini adalah senyuman yang seperti berkata bahwa 'aku paham perasaanmu' ini terbukti dari wajahnya yang terlihat seperti terpaksa untuk tersenyum.
Berbalik badan pria tua tersebut menghela napas.
"Maaf... aku tidak tahu tentang hal tersebut."
Aku tidak merespon dan menyeka air mataku.
"Yang lebih penting, maukah kamu keluar sebentar bersamaku? Bantu aku mencari uang, jika kamu menderita karena sendirian setidaknya bersamaku kamu tidak akan merasakan hal seperti itu."
Perkataan dari orang yang baru pertama kali kujumpai tersebut terdengar sangatlah hangat, dia seolah bersikap memahamiku daripada memberikan rasa kasihan. Inilah yang membuatku mataku terbuka lebar.
"Jadi apa jawabanmu."
Aku tidak seperti ingin bersama dengan dia, tapi jika benar ini bisa mengisi rasa bosan dan kesepianku maka pergi sebentar dengannya mungkin bukan masalah besar.
"Ya."
Mendegar jawaban tersebut dia tersenyum bangga. "baiklah ikuti aku."