Tidak ada kisah Cinta di dunia ini yang seindah kisah novel..
Tidak ada yang tahu.. Seperti apa dan bagaimana proses masa depan kita terjadi..
Namun ada juga beberapa kisah yang serupa dengan kisah di novel..
Karena beberapa kisah novel memang pernah terjadi di dunia nyata..
"Kadang sesuatu yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebencian yang terlalu dalam ini membuatku terjatuh.
Tapi memang begitu kenyataannya laki-laki itu menyebalkan dan aku muak melihat tingkah gilanya itu, dasar laki-laki aneh dia!
Jika bisa saat itu juga aku mematahkan lehernya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku...."
_Shica Mahali_
"Jangan dilihat dari luar. Maka kau akan semakin penasaran dengan apa yang ada didalamnya.
Aku menyesal telah menyakiti perasaannya.
Aku tidak mengira kalau ini buah dari kesalahanku.
Maafkan aku, boleh aku mengenalmu lebih jauh lagi?
Tapi aku......"
_Raihan Alfarizi_
PERINGATAN!!!
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
"...Kemarahan yang terpendam terlalu lama, akan menjadi benih dendam yang berkepanjangan... "
_Aryatama Arbano Adiwijaya_
***
Raihan pulang dengan menaiki motornya. Selama diperjalanan, dia memikirkan kekonyolan ayahnya yang menelantarkan dirinya dan kakaknya, tapi juga membayar tagihan sekolahnya.
"Tuan Abdurrachman yang tidak waras, apa dia tidak punya pekerjaan lain?" gerutu Raihan.
Tanpa Raihan sadari, mobil Shica mengikuti dari belakang.
"Aku harus tau tentang semua yang berhubungan dengan pria gila itu" gumam Shica.
Mobil Shica terus mengikutinya.
Kini, motor Raihan memasuki gang.
Terpaksa Shica memarkirkan mobilnya karena mobilnya tidak akan muat di gang tersebut.
Alhasil, Shica kehilangan jejak Raihan. Dia pun memilih berjalan kaki.
"Hhh, kemana orang gila itu pergi?" batin Shica.
Langkahnya terhenti melihat gadis kecil berteriak minta tolong.
Ternyata seorang gadis kecil yang hampir tenggelam disebuah kolam ikan. Shica gemetar melihatnya. Dia juga tidak bisa berenang.
Namun, dia tidak tega melihat gadis kecil itu. Dia segera turun kekolam ikan yang airnya selengan Shica. "Untung kolam ikannya dangkal. Aku 'kan tidak bisa berenang." gumam Shica.
Dia mengulurkan tangannya dan meraih gadis kecil itu. Gadis kecil itu segera berpegangan erat pada Shica.
"Kenapa kamu bisa berada didalam kolam ini?" tanya Shica.
"Tadi, aku hanya berjalan-jalan ditepi kolam ini.. Hiks hiks" tangis gadis kecil itu.
"Sutss, jangan nangis, ya." Shica memeluk gadis kecil itu.
"Siapa namamu, cantik?" tanya Shica.
"Lala," jawab gadis kecil itu.
"Nama yang manis. Ya sudah, sekarang tunjukkan jalan menuju rumahmu. Aku akan mengantarmu," kata Shica sambil menggendong tubuh mungil Lala tanpa memperdulikan seragamnya yang kotor karena lumpur kolam ikan.
"Iya," jawab Lala.
◆◆◆
Mereka sampai. Riska terkejut melihat putrinya kotor dan basah.
"Lala, apa yang terjadi nak? " tanya Riska.
"Begini Kak, tadi Lala terjatuh ke kolam ikan." jawab Shica kaku.
"Kamu siapa dek?" tanya Riska.
"Saya.. Emm, nama saya Shica, Kak. Eh, Kakak yang jualan nasi goreng itu 'kan? Aku pelanggan kakak. Kakak ingat?" jawab Shica diakhiri pertanyaan.
"Oh iya, silakan masuk Nona," kata Riska. "Tidak, Kak. Panggil Shica saja." kata Shica.
Riska tersenyum kemudian mengangguk. Mereka memasuki rumah sederhana itu.
Shica menatap ke sekeliling. Memperhatikan setiap sudut di rumah sederhana itu.
"Terimakasih sudah menolong Lala. Lala memang bandel," kata Riska.
"Tidak apa-apa, Kak." kata Shica.
"Kamu mandi dulu, ya. Nanti masuk angin. Biar kakak minjemin baju buat kamu," kata Riska.
"Terimakasih, Kak."
Setelah mandi dan berganti pakaian dengan pakaian milik Riska, Shica kembali ke ruang tengah.
Dia mendapati Riska sedang mengiris bumbu.
"Silahkan duduk." kata Riska
Shica duduk berhadapan dengan Riska dan memperhatikan apa yang dilakukan Riska.
"Aku jadi melenceng dari tujuan awalku," batin Shica.
"Sepertinya, baju seragam kamu sama kaya baju seragam milik adek saya." kata Riska.
"Begitu, ya." jawab Shica.
"Iya, apa kamu mengenal adek saya? Namanya Raihan." kata Riska.
"Apa jadi..." kata-kata Shica tidak diteruskan. Dia tidak mengira akan masuk ke rumah yang benar.
"Jadi apa? " tanya Riska.
"Ah, tidak. Maaf kak kalau boleh saya tahu kenapa dia jarang sekolah?" tanya Shica tanpa basa-basi.
"Hhh, jadi benar, dia sering bolos." gumam Riska. Dia memasuki kamar dan mengambil sebuah album foto kemudian menunjukkannya pada Shica.
"Dia anak yang baik Shica. Dia sangat menyayangiku." kata Riska.
Shica membuka album itu dan melihat wajah kecil Raihan.
Shica tersenyum melihat wajah polos Raihan.
"Sampai sekarang pun kau selalu bertampang polos tanpa dosa meski kau membuat kesalahan." batin Shica.
"Itu, foto ayah dan ibu kami." kata Riska.
"Foto pernikahan orang tua anda?" tanya Shica.
"Iya, hanya ada foto itu dirumah ini." jawab Riska.
"Hmm," Shica bergumam.
"Mereka menelantarkan kami," kata Riska.
"Apa! Jadi.." gumam Shica.
"Dia selalu bertingkah konyol kan dikelasnya? Itu hanya topeng yang dia gunakan untuk menutupi kesedihannya." kata Riska.
Alis Shica terangkat mendengar itu.
"Dia berbeda dengan anak yang lain. Sejak usianya 7 tahun dia bersamaku." kata Riska.
"Apa karena ini dia jadi gila? Tidak mungkin. Dia gila juga mungkin sebagian dari topengnya," batin Shica.
"Awalnya, aku bertemu seorang pemuda. Dia sangat baik dan aku benar-benar sangat mencintainya. Aku membawanya pada orang tuaku dan mengatakan pada mereka kalau kami akan menikah. Tapi, orang tuaku tidak setuju. Karena pria yang kucintai adalah pria sederhana. Mereka mengusir kami. Tapi, Raihan yang saat itu berusia 7 tahun berteriak dan meminta orang tua kami menghentikan kepergianku dengan pria pilihanku.. " Riska menghela napas sejenak.
".. Mereka tidak mendengar, aku dan pria pilihanku memilih kawin lari.. Saat usia pernikahan kami menginjak 2 tahun, Raihan datang ke rumah dan dia bilang dia telah kabur dari rumah dan memilih ikut denganku. Aku dan suamiku menerimanya. Selama ini orang tua kami tidak pernah memberikan apapun pada kami. Kecuali kemarin.. Aku menelepon Papa untuk biaya sekolah Raihan."
"Ehemmm," suara deheman.
Shica dan Riska terkejut kemudian menoleh.
Ternyata Raihan, dia datang dengan ekspresi yang begitu geram.
Shica sangat ketakutan melihat ekspresi Raihan yang tidak seperti biasanya.
"Jadi, Kakak yang menelpon Tuan Abdurrachman yang angkuh itu, huh!" geram Raihan.
Shica menelan salivanya. Riska bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Raihan.
"Raihan, dengarkan kakak dulu," kata Riska. Raihan mencengkram kedua lengan Riska.
Shica terkejut dengan tindakan Raihan. Shica melihat Raihan agak kasar, meskipun terhadap kakaknya sendiri.
"Sudah kubilang 'kan, Kak. Jangan hubungi pria itu lagi, jika memang Kakak tidak mampu aku bisa keluar dari sekolah itu!" kata Raihan.
Shica tercengang. "Raihan tidak boleh keluar dari sekolah. Nanti bagaimana kata Pak Andra?" batin Shica.
"Raihan.. "
"Kakak! Aku sudah memutuskan hubungan dengan keluarga Abdurrachman, sekarang kakak malah menghubunginya lagi," geram Raihan.
"Raihan, tolong kendalikan dirimu. Dia kakakmu." kata Shica berusaha membantu.
"Diam!" bentak Raihan.
Shica terhenyak. Karena untuk pertama kalinya Raihan membentaknya dengan begitu keras.
"Ini semua karenamu! Sejak bertemu denganmu di SMP, hidupku jadi konyol dan sial seperti ini!" Raihan membentak Shica.
Shica terpundur, karena takut akan kemarahan Raihan. Buliran bening menggenang dipelupuk matanya. Raihan mendekat dan mencengkram lengan Shica.
Shica meringis kesakitan. "Raihan, kau menyakitiku." kata Shica pelan.
"Kau yang menyakitiku! Kau, waktu itu kau pergi begitu saja! Kau membuatku tersiksa! Kau sungguh menyebalkan!" teriak Raihan.
Shica terkejut mendengar ucapan Raihan. Apa Raihan memang memperdulikan dia sejak SMP? Namun saat ini Shica sedang sangat ketakutan akan kemarahan Raihan. Dia menangis.
"Semua ini karenamu! Nona Mahali!"
Plakkkk
Tamparan hangat diterima oleh Raihan. Bukan Shica yang melakukannya.
Tapi Riska.
Riska yang menampar wajah Raihan, adiknya.
"Jaga ucapanmu! Dia kemari untuk membantumu! Menolongmu! Shica kemari karena dia peduli padamu!" bentak Riska.
Raihan memegang pipinya yang perih dan panas.
Shica mengelap air matanya yang mengalir membasahi pipinya.
By
_Ucu Irna Marhamah_
Sicha sebenar tidak pernah mencintai reynaldi, dengan jelas dia menunjukkan dia masih mencintai pria lain didepan suaminya, hak reynaldi tidak dia berikan tapi saat reynaldi mengambil paksa sicha berkoar sebagai korban, tapi pada satu jadi istri raihan dia senang hati beri hak raihan selalu bermeraan dengan raihan
Sicha tidak layan untuk reynaldi seharusnya reynaldi bisa dapat wanita yang lebih menghargainya