Marcelo, seorang anak pengusaha terkenal jatuh cinta pada seorang gadis sederhana. Sayangnya cintanya tidak direstui oleh sang ibu, sehingga dia harus berpura-pura gila agar bisa bersatu dengan gadis itu.
Demi cintanya, Mitha rela menikah dengan laki-laki gila dan hidup menderita karena mertua yang menjadikannya seorang pembantu di rumah mewahnya.
Mampukah Mitha bertahan demi cintanya pada Celo sang suami? Yuk ikuti kisah selanjutnya dalam Cinta Gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CG# 20
Bingung antara mengantarkan wanita cantik itu atau menjual sayuran terlebih dahulu. Tengkulak itu belum juga menanggapi ucapan wanita yang akan mereka bawa sampai di kota. Keduanya terdiam sampai beberapa waktu.
Mitha yang melihat kebimbangan dua orang itu, akhirnya bertanya.
"Apakah jarak kota Kecil dengan kota yang akan kita datangi jauh?"
Dua lelaki itu saling pandang, bingung harus menjawab apa. Jarak tempuh kota yang akan mereka tuju dengan kota Kecil membutuhkan waktu dua belas jam. Mereka berdua seorang tengkulak yang mendapatkan dagangan setelah membuat janji dengan petani.
Jika mereka tidak datang tepat waktu, maka akan kehilangan barang dagangan untuk dijual di kota. Untuk itulah, dua orang tengkulak itu sulit untuk mengantar Mitha ke kota Kecil.
"Nona, maafkan kami belum bisa mengantar ke sana sampai seminggu ke depan karena kami sudah memiliki janji dengan beberapa petani di tempat yang berbeda. Kami akan mengatur ulang jadwal kami agar tidak kehilangan supplier dan reseller. Bagaimana?"
"Mitha menurut baiknya saja, Paman. Saya hanya minta tolong tidak mungkin saya dengan tidak tahu diri menyita perhatian Paman sehingga Paman menderita kerugian," jawab Mitha dengan senyum manisnya.
Kepulangan Mitha ke rumah orang tuanya pun ditunda sampai pria paruh baya yang berprofesi sebagai tengkulak itu menyelesaikan urusannya. Untuk sementara waktu, istri Celo itu tinggal bersama Burhan. Burhan memiliki tiga anak yang lebih muda dari Mitha, kini anak-anak itu masih duduk di bangku SMA dan SMP.
Anak dan istri Burhan menyambut baik kehadiran Mitha di rumah sederhana itu. Selama tinggal di rumah tersebut, dia membantu Lastri mengurus rumah. Sementara Elis, anak mereka sekolah berangkat pagi pulang sore hari.
Lastri senang karena ada yang membantunya beberes rumah dan juga mengajari anak-anaknya belajar. Elis memiliki dua orang adik laki-laki, masing-masing kelas sepuluh SMA dan kelas tujuh SMP.
"Neng Mitha ternyata pintar semuanya. Sudah cantik, pinter ngurus rumah, pinter sekolah lagi," puji Lastri pada anak Cakrawala dan Sekar.
Malam ini, Mitha baru saja selesai mengajari Banu, anak Burhan dan Lastri yang paling kecil. Dia setiap malam selalu mengajari Banu mengerjakan tugas dari sekolah.
"Kalau nggak pinter ngurus rumah nggak disayang suami, Bu. Begini saja masih salah di hadapan ibu mertua apalagi kalau cuma bisa dandan dan minta uang," jawab Mitha apa adanya.
"Loh, Neng Mitha sudah menikah?" tanya Lastri terkejut mendengar wanita muda itu sudah menikah.
"Hehehe ... sudah, Bu. Lulus sekolah langsung menikah. Tapi ya begitulah!"
"Yang sabar, Neng. Semua itu sudah ada yang mengatur, kita hanya bisa berdo'a dan berusaha. Hasil akhir tetap Yang Maha Kuasa yang menentukan," nasehat Lastri.
Sejak kedatangan Mitha di rumah Burhan, banyak tetangganya yang membicarakan bapak tiga anak itu. Para tetangga bahkan ada yang menuduh wanita cantik itu sebagai istri kedua Burhan. Gosip itu pun akhirnya sampai ke telinga Lastri dan Burhan.
"Demi Allah Bu, Bapak nggak pernah selingkuh. Bapak hanya menolong perempuan itu. Ada yang menculik dia lalu dibuang ke hutan, tanpa membawa apa-apa."
"Sekarang tempatkan diri kamu pada posisinya. Jika kamu dibuang sama orang tuaku, saat kamu hamil muda, mengandung anakku. Kalau kamu cemburu karena mendengar omongan orang. Aku akan menyuruh Tejo untuk mengantarkan Mitha ke terminal beli tiket bus ke kota Kecil." Burhan tampak emosi saat istrinya mencurigai dia telah menikahi wanita yang ditolongnya.
Mitha yang mendengar pertengkaran Burhan dan istrinya pun merasa bersalah karena telah merepotkan suami istri itu. Selain itu, dia heran saat pria paruh baya itu mengatakan dirinya hamil muda. Dia tidak merasakan adanya tanda-tanda kehamilan.
"Tidak usah diantar, Pak. Biar saya pulang jalan kaki saja. Siapa tahu nanti di jalan bisa menumpang mobil yang searah menuju kota Kecil," sahut Mitha dari bilik kamar Elis.
"Kakak jangan pergi! Nanti kalau kakak pergi siapa yang akan mengajari kami mengerjakan tugas sekolah nantinya?" ucap Banu, Elis dan Budi bersamaan.
Mereka bertiga berdiri di depan pintu kamar Elis dengan tangan saling menjalin. Ketiga anak Burhan sudah terlanjur nyaman dengan keberadaan Mitha di rumah sederhana itu. Semua itu karena Mitha tidak ada niat buruk sedikit pun pada keluarga yang telah menolongnya.
"Kakak harus pergi dari sini, suami kakak pasti mencari kakak. Kalian harus rajin belajar dan membantu ibu. Ingat jasa ibu yang begitu besar pada kita!" pesan Mitha pada ketiga anak Burhan.
Dini hari, Mitha berangkat ke terminal bus di antar Burhan karena sekalian jalan berangkat ke perkebunan di mana dia sering mengambil sayuran untuk dijual. Berhubung terminal masih sepi, Mitha ditinggalkan di sebuah warung kecil yang buka dua puluh empat jam. Sebelum pergi, Burhan memberikan sejumlah uang untuk membeli tiket bis.
Selama menunggu bus dengan tujuan kota kecil datang, Mitha membantu pemilik warung menyiapkan menu sarapan untuk dijual. Sebenarnya perempuan muda itu masih mengantuk, tetapi dia merasa tidak enak jika menumpang tidur pada saat pemiliknya sedang sibuk memasak.
***
Sudah lebih satu minggu Celo dirawat di rumah sakit karena tubuhnya menolak setiap makanan yang masuk. Dia hanya bisa minum air jahe hangat saja, selain itu perutnya akan mual lalu muntah sampai lemas.
"Sebenarnya anak saya sakit apa, Dok? Dia hanya tidak makan satu setengah hari kenapa lambungnya tidak bisa diisi makanan lagi? Apa tidak ada obat yang ampuh untuk menghilangkan mualnya, Dok? Saya tidak tega melihat anak saya seperti ini." Damian mencecar dokter yang merawat sang anak dengan berbagai pertanyaan.
Dokter itu tersenyum menanggapi orang tua pasien yang begitu rewel. Dia sudah biasa menghadapi keluarga pasien seperti Damian. Jadi, hanya bisa tersenyum dan bersabar.
"Lambung Celo sebenarnya tidak mengalami gangguan. Hasil lab juga menyatakan dia tidak mengalami sakit apapun. Kalau boleh tahu, apakah anak Bapak sudah pernah menikah atau melakukan hubungan badan dengan kekasihnya?"
"Kenapa dokter bertanya seperti itu?" Damian balik bertanya pada sang dokter muda itu.
"Jika saya perhatikan lebih teliti, sepertinya pasien ini mengalamai sindrom kehamilan simpatik. Untuk itulah saya bertanya apakah dia sudah pernah menikah atau belum. Jadi, mohon kerja samanya agar saya bisa bekerja dengan lebih maksimal." Dokter muda itu menjelaskan diagnosa sementaranya pada Damian.
Mendengar itu Damian tersenyum lebar, dia merasa bahagia karena dengan begitu akan segera memiliki cucu.
"Iya, Dok. Dia memang sudah menikah, tapi istrinya menghilang diculik oleh orang tak bertanggung jawab. Sampai sekarang belum juga ditemukan," jawab Damian, pada awalnya dia bahagia dengan dugaan dokter itu. Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi kesedihan mengingat sampai saat ini keberadaan sang menantu belum ditemukan.
"Saya turut berduka atas menghilangnya menantu Bapak. Semoga dia cepat ditemukan dan mereka bisa berkumpul kembali. Karena obat anak Bapak saat ini hanya istrinya," ucap dokter muda itu dengan tulus.
sukses selalu Thor
Laras baik untungnya
meski banyak rintangan yang selama ini menghalangi,akhirnya semua bisa bahagia.
semau sendiri.