NovelToon NovelToon
GARA-GARA NGGAK CANTIK

GARA-GARA NGGAK CANTIK

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:406k
Nilai: 4.9
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sepekan lagi menjelang hari H, tiba-tiba Arif membatalkan rencana pernikahan dengan alasan Rara terlalu baik.

Belum sempurna sembuh luka hati Rara, Arif kembali memberikan kejutan dengan menikahi mantan model di kantor mereka.

Rara mencoba move on, menata kembali hidupnya, tetapi Arif tidak melepaskan Rara begitu saja. Ia membuntuti kemanapun Rara pergi hingga sebuah tuduhan ditujukan pada Rara.

Dua orang lelaki baik membantu Rara keluar dari masalah demi masalah yang ditimbulkan Arif. Ialah Ken dan Rangga. Lalu siapakah yang akhirnya menjadi pendamping hidup Rara? Lelaki baik yang bisa menerima ia apa adanya meski Rara merasa enggak cantik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Tuduhan Arif

"Aku adalah anak korban perceraian. Semenjak dulu selalu membatasi pertemanan dengan lelaki sebab aku tidak bisa percaya pada lelaki manapun karena ayahku sendiri tidak pernah ada untukku.

Tetapi Arif mengubah semuanya. Entah kapan tepatnya, aku bisa membuka hati untuknya. Tapi ternyata itu semua harus berakhir begitu saja. Padahal besar sekali harapanku agar ialah yang mengobati trauma itu. Ialah yang akan membuka mataku bahwa tidak semua laki-laki itu tak bertanggung jawab. Heh, aku hanya terlalu naif saja." perlahan aku menghapus air mata terakhir yang turun.

"Sudah?" tanya Ken.

"Maaf, enggak seharusnya aku curhat sama kamu, Ken. Tadi hanya benar-benar merasa sesak."

"Enggak apa-apa Ra. Kamu boleh cerita apa saja padaku. Oh ya, kalau kamu ingin benar-benar merasa lega. Lebih baik sekarang ke mushalla. Salat Ra. Seberat apapun masalah kamu, tempat curhat yang paling baik adalah Allah. Pergilah ... aku enggak bisa menghilangkan beban di hati kamu."

Aku menuruti apa yang Ken katakan. Pergi ke mushalla kantor. Salat, lalu menangis sejadi-jadinya.

Ada banyak hal yang kuceritakan pada Allah. Tentang luka dan kecewa yang ditorehkan papa. Mungkin inilah saatnya aku berdamai dengan diri sendiri. Kalau kekecewaan itu tetap dipendam, maka lama-kelamaan hanya akan jadi penyakit. Aku hanya harus ikhlas.

Benar saja, usai berdoa dan meluapkan semua perasaan di hati, ada ini terasa begitu lega sekali. Hanya saja efeknya adalah mata yang bengkak.

"Ra, kamu enggak apa-apa?" tanya Ken saat aku kembali.

"Gara-gara kamu mataku jadi seperti ini." kataku, sambil menunduk, khawatir ada yang curiga.

Bukannya menjawab, anak baru itu malah terkekeh. "Jangan lupa, sebentar lagi kamu presentasi." katanya, lalu lanjut fokus pada komputernya.

Ya ampun, bagaimana aku bisa menangis sejadi-jadinya padahal sebentar lagi harus presentasi. Bisa-bisa semua orang tahu kalau aku habis nangis dan tatapan iba itu akan terus tertuju padaku. Padahal aku tak semalaman itu juga.

***

Hanya satu hari setelah pernikahannya, Arif masuk kerja. Iya, dia sudah masuk kerja padahal dapat jatah cuti sepekan. Aku yakin tidak salah melihat orang, ialah yang ada di koridor saat aku baru datang dan langsung ke pantry. Bukan karena ingin menghindar, tapi karena memang pengen membuta minuman dulu sebelum mulai kerja.

Aku enggak akan mempedulikannya lagi. Dia hanyalah orang asing yang benar-benar sudah tidak punya jejak apapun di hidupku. Kata-kata itu terus kubatinkan di dalam hati.

Sebenarnya aku memang sudah bisa bersikap normal. Segala kekecewaan yang kemarin terasa sudah perlahan aku hapus. Kini aku hanya ingin melangkah lanjut ke depan. Tetapi kadang orang-orang di sekitar kita saja yang membuta kondisinya semakin dramatis, meski kita baik-baik saja.

"Ra, kamu beneran enggak apa-apa?" tanya Anita, pagi ini, saat kami sama-sama menghabiskan teh hangat.

"Hm. Aku enggak apa-apa kok. Yang kemarin sudah aku lupakan." jawabku.

"Hai Ra, hai Nit! sapa seseorang yang barusan jadi pembicaraan kami.

Arif. Ia kini ada di hadapan kami. Dengan santainya duduk di meja yang sama, meletakkan bubur ayam yang baru ia beli. Lalu mulai menyantapnya.

Hanya beberapa suap ia menyendok buburnya. Lalu diam, kemudian mengangkat kepalanya. Menatap aku dan Anita bergantian.

"Kalian kenapa?" tanyanya.

"Enggak." kataku, lalu beralih pada cangkir tehku. Benar-benar manusia aneh. Bisa-bisanya dia sok tidak terjadi apa-apa. Astagfirullah, sabar Rara!

"Kok sudah masuk Rif?" tanya Anita.

"Enggak apa. Mau ngasih kejutan saja sama kalian, habisnya kalian juga kompak ngasih kejutan ke aku. Enggak pada datang di nikahanku. Ini pasti ide Rara, kan?" Arif menunjukku.

"Aku? Enggak." jawabku.

"Rara enggak ngomong apa-apa kok. Kami saja yang sepakat, enggak datang ke acara pernikahan peng ... ahhhh, aku takut berprasangka buruk, tapi gimana ya?" Anita memancing Arif.

"Enggak usah main sindir-sindir Nit, aku enggak ngelakuin kesalahan apapun. Aku hanya korban!" seru Arif. Ia lalu berdiri dari duduknya, menatapku sekilas, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan makanannya yang belum habis semuanya.

"Dih, aneh sekali. Kenapa menyebut dirinya korban. Jelas-jelas kamu korbannya. Iya, kan Ra?" tanya Anita.

"Udah Nit, jangan bahas ini lagi." aku pun ikut berlalu, setelah menghabiskan teh dalam gelasku.

Enggak Rara, kamu enggak perlu memikirkan apapun yang barusan dikatakan Arif. Biarkan saja ia dengan kehidupannya, toh ia sudah punya kehidupan sendiri, sudah punya istri. Aku harus menghargai Monika. Kamu enggak perlu peduli, apalagi sakit hati. Allah lebih tahu segala-galanya. Aku terus membatin sampai ke ruangan.

Siapa sangka, rubrik yang baru saja aku kelola kini jadi bahan perbincangan pemakai dunia maya. Beberapa pesan juga mulai masuk. Mulai dari curhatan pengalaman mereka sediri, pengalaman orang terdekat, hingga dukungan agar rubrik ini bisa jadi penyemangat. Aku menjadikan ini semua sebagai cambuk, bahwa begitu banyak orang-orang yang mengalami kegagalan, mereka harus disupport agar selalu berada dalam koridor yang benar.

"Wow Ra, rubrik kamu masuk trending lho di media sosial. Jadi bahan perbincangan orang-orang!" seru Aya, sambil melahap nasi Padang yang baru diantarkan oleh OB untuk menu makan siang kami.

"Alhamdulillah. Aku harap banyak manfaat yang bisa diambil orang-orang." kataku dengan penuh antusias.

"Bisa-bisa kamu naik pangkat lho gara-gara ini!" ungkap Dini.

"Aku enggak berani berharap banyak Din, kan cuma staff biasa." kataku. Memang benar beberapa waktu lalu kak Gita pernah membocorkan tentang isu bahwa aku akan dipromosikan, mungkin bakal jadi supervisor. Tetapi benar atau enggaknya aku tidak berharap banyak. Sekarang hanya ingin bekerja sebaik mungkin untuk masa depanku nanti.

"Ra!" lagi-lagi dia.

Setelah muncul di pantry lalu pergi begitu saja, kini ia muncul di hadapan aku dan ketiga sahabatku seperti tidak terjadi apa-apa. Memang benar aku sudah biasa saja, tapi kan harusnya ia segan atau setidaknya jaga jarak dulu.

"Mau apa kamu?" Aya langsung bangkit, siap untuk melayangkan tinjunya.

"Aku nggak cari ribut." jawab Arif, santai sekali.

"Terus mau apa?" Aya masih berdiri di hadapan Arif.

"Kalian kenapa sih? Katanya sudah ikhlas, kok masih nyimpan dendam?" tanya Arif lagi.

Sikapnya itu memang sangat mengesalkan, seolah-olah apa yang dilakukan kemarin hanya kesalahan kecil yang tidak patut dibesar-besarkan.

"Memang kami sudah ikhlas. Bahkan Rara sudah move on dari kamu, Rif. Cuma ya enggak gini juga. Tahu diri dong Rif, jaga jarak kek!" ungkap Aya, seolah paham isi hatiku.

"Move on? Yakin? Aku nggak percaya Rara sudah move on!" kata Arif dengan penuh percaya diri.

"Aku udah enggak peduli dengan apa yang terjadi kemarin, Rif." kataku dengan santai.

"Kalau kamu sudah move on, kenapa kamu bikin rubrik khusus untuk orang-orang patah hati? Kamu belum move on kan Ra? Udahlah, jujur saja!" Arif memaksaku mengakui sesuatu hal yang tidak benar.

"Terserah kamu mau percaya atau enggak." aku tidak peduli, ia mau percaya atau enggak. Yang penting aku memang sudah tidak punya perasaan apapun lagi padanya.

"Kalau begitu buktikan!" tantang Arif.

"Apa?" Aya kini maju.

"Aku mau gabung di grup rubrik Rara supaya bisa membuktikan bahwa ia benar-benar sudah move on." kata Arif.

"Hahaha, gila ya kamu Rif. Enggak akan pernah!" kata Aya.

"Kalau begitu benar. Rara belum bisa melupakan aku. Iya kan Ra? Sudahlah, mengaku saja!" kata Arif.

"Aku enggak butuh fotografer." kataku.

"Aku bisa jadi editor. Bagaimana? Kamu mau ngelak apa lagi?"

Ya Tuhan ... aku benar-benar heran. Kenapa ada manusia seperti Arif. Dia yang datang mendekat, lalu menbuangku begitu saja. Kini saat aku siap menata hidup baru, ia datang lagi. Mau kamu apa sih Rif?

1
Euis Yohana
kaya di sinetron2 pemeran utamanya sabaaaaaar bgt,,pdhl di dunia nyata aku blum tuh liat orang yg sabaaaaaar bgt gitu kalo d zolimi,,
Euis Yohana
baru jg sebulan nikahnya,,KK ku jg 3 bln br hamil ,,kalo aku sih KB dl karena blum mau punya takut kaya KK pertamaku susah lahirannya,,,
Euis Yohana
Rara jgn gitu jg SM Ken,,Ken hanya ingin kamu bahagia ,,memang uang bkn segalanya tp kalo g punya uang jg puyeng Ra ...jd maafin Ken ,,,ya...
Euis Yohana
turutin kata Dinda Ra,,karena dia keluargamu kan ,,sedang papamu dan istrinya br baiknya PD kmu inget2 kemarin"mereka gimn sikapnya pd kamu,mama SM dinda
Euis Yohana
memang sepertinya papa Ama ibu tirinya baik karena Rara nikah SM orkay...mau manfaatin bwat keluarga si Wira itu mah ya,,,,
Euis Yohana
iya,,pelakor ya,,kaya ga da laki lain aja pdhl cowo kan banyak yg single kenapa mau SM yg punya istri coba ga HBS pikir aku...🤕
Euis Yohana
Amiiiiin...lacaaaaaar ,,,,
Euis Yohana
dah Dig dug beuuh jantungku Alhmdllh,,,datang jg Ken ..hash ..
Euis Yohana
ada apa lg ini Thor ,,kasian Rara ,,jgn kacau lg atuh....
Euis Yohana
Tah gini visualnya asli Indonesia bkn or-kor Mulu masa cerita d indo orangnya Korea🤭
Euis Yohana
ga yg cewe ga cowoknya ga tau malu bgt ....apalagi si Arif ...hadeuuuuh ...kan maen😆
Euis Yohana
kak Gita and friend bantu ngomong atuh ke Ken jelasin ...
Euis Yohana
iiiih...si Arif ..Arif ...kunaon eta jelema nya hayang di geprek kitu ...😤🤬
Euis Yohana
ngapain jg di pikirin apa yg mau di ucapkan Ken SM si Arif biarin aja ,,paling jg di pecat dia ,,,😤
Euis Yohana
bicarakan aja Ama Ken kalo kamu masih takut kecewa lg,apalagi membuat mama kecewa jgn cuma bicara di dlm hati donk Ra...😶
Euis Yohana
kayanya Ken bos besarnya deh,,,jangan jangan jodoh Rara pa polisi
Euis Yohana
ada ya Thor orang kaya si Arif ga punya malu banget tuh orang ,,,pengen gua gibeng,cincang cincang buat pakan buaya😆🤯
Euis Yohana
jangan jangan Ken adalah bos besarnya yaaaa...
Euis Yohana
eeeuuuhh ..kenapa ga ada yg nendang mukanya si Arif siiich ...kesel aku da 🤬😤
Euis Yohana
ngomongnya di depan papa donk Din,,jgn sama mamah ,,kasian mamah tambah keteken perasaannya ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!