Apa Jadinya jika sekelompok orang dengan berbagai pandangan tapi satu tujuan dan si satukan dalam satu Agensi bernama JULID VANGKE. Sebuah institusi penegak keadilan. Yang digawangi oleh, Khodijah, Romlah, Caitlyn, Jukaykha, Jaenab dan Ijah.
Tugas mereka cukup berat, karena harus membasmi para penjilat tak berguna pemakan dana Bansos yang seharusnya dialirkan untuk Masyarakat yang membutuhkan. Para penjilat yang mereka beri nama Keledai Dungu itu ternyata memiliki banyak akal untuk melakukan Playing Victim.
Mampukah para detektif Julid Vangke membuktikan kebusukan mereka?
Karya ini hanya fiktif belaka. Terinspirasi dari banyaknya kasus yang terjadi dimasyarakat biasa😍Dilarang Baper! Ini hanya guyonan semata😍Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Kentut telah membuat ide Ijah menjadi cemerlang. Ijah pun segera membisikkan ide itu pada semua anggota tim Julid Vangke.
Mereka semua mengangguk setuju dengan ide Ijah. Kali ini Julaikha dimasukkan dalam misi dan dia menjadi bom untuk si keledai dungu. Esmeralda dan Jaenab juga turut meramaikan suasana. Sementara anggota yang lain, mereka menunggu saat yang tepat untuk beraksi.
Kali ini Charlies angels, alias tiga Julid Vangke angel itu yang akan maju lebih dulu untuk membuat si keledai dungu malu, lalu mengakui kesalahannya. Walau mereka tau tidak semudah itu membuat maling mengaku. Kalau maling semua ngaku, yang ada penjara bakal penuh.
"Seriusan ieu teh? Ana harus hitut disana?" tunjuk Julaikha pada tempat ramai yang menunjukkan komunitas komunitas bertemakan syetar membahana.
Komunitas tersebut adalah kontes kecantikan. Sebenarnya mereka bertiga enggan, tapi karena ada si keledai dungu disana. Its time for action!
Julaikha, Jaenab dan Esmeralda berdandan sesyantik mungkin di dalam acara tersebut. Terbukti mereka sangat syetar dan bersinar begitu datang kesana, mencuri perhatian semua orang. Termasuk si keledai dungu.
Odah Saodah Mukodah, Amat Supramat, Ningsih Ambarawaria, Ntun Marotun, Kokom Markonah.
"Iuh…ngapain mereka ikut ikutan di mari? Pede banget mereka, iuhh.." Amat si tureh lambe, melambai-lambaikan tangannya ala manjalita. Amat tidak menyukai keberadaan tiga wanita yang menjadi bahan perhatian semua orang disana.
"Lihat tuh bajunya kek karung goni begitu, mana pantaslah ikut acara kayak gini!" kata si Ntun Marotun seraya mengibaskan rambutnya ala iklan sampo jadi duta shampo lain. Hehehe. Rambutnya begitu shining, semriwing, aduhai.
"Oh jelas, kita lebih berkelas dan level kite lebih tinggi daripada mereka." ucap Kokom tak mau kalah dengan si Ntun yang tebar pesona. Dia juga ikut-ikutan si Ntun.
"Bener pisan, urang sadayana didieu lebih kece badai daripada si tilu babadotan eta." ujar Ningsih lalu tersenyum menyeringai. Terlihat gigi-giginya yang ompong, hitam, iuh.
"Udah udah, stop! Acara udah mau mulai, yuk tebarkan pesona kita! Jangan lupa, kita mainkan drama supaya orang-orang gak tau busuknya kita." Odah memimpin para keledai dungu. Gayanya sungguh percaya diri, tak lupa ia selalu membawa cerutu nenek moyangnya. Kulitnya begitu pucat dan kering kerontang.
Sedangkan si Amat yang masih berpura-pura tidak akrab dan tengah ada konflik dengan geng keledai dungu lainnya. Memilih untuk memisahkan diri disisi lain.
Amat menjadi penonton saja, ia duduk di pojokan. Satu persatu anggota Keledai dungu menunjukkan kebolehannya diatas panggung.
"Tong hilap dukung aing! Sarjana ikhlas di candung." kata Odah dengan bangganya, sambil tersenyum dan menepuk-nepuk dadanya. Bajunya tampak merah merona, dengan hiasan rambut tusuk konde ala emak-emak zaman old.
Di samping si Odah ada Ningsih yang menjadi teman duelnya. Ningsih melambai-lambaikan tangannya ke depan, seolah para penonton adalah fansnya. Padahal mah bukan. Ningsih berasa artis yang sedang jumpa fans.
"Tong hilap dukung akoh juga ya, klik REG spasi Ningsih sarjana tukang halu, kirim kak aherat! Hahahaha…" Ningsih tertawa terbahak-bahak, sungguh kampungan.
Kemudian si Odah jalan lenggak-lenggok, berjalan menuruni panggung. Diikuti oleh si Ningsih. Saat mereka akan turun dari atas panggung, tiba-tiba suara memalukan yang cukup keras muncul tak jauh dari belakang panggung.
DUUUUUTTTT….
"Anjayy! Bau naon ieu…" Odah menutup hidungnya
"Bau bau busuknya bau kematian," timpal si Ningsih setuju.
Sementara dibelakang panggung, Julaikha, Jaenab, Esmeralda menahan tawa mereka ketika Odah dan Ningsih menjadi pusat perhatian semua orang karena suara kentut di Julaikha.
"Haaaahhh leganya, untung we tadi tuang heula jengkol jeng peuteuy." Julaikha mengelus ngelus perutnya yang baru saja mengeluarkan gas beracun, eh salah gas buangan.
"Pantesan bau banget! Ayo ah kabur, nanti keburu ketahuan si dungu." Jaenab masih menahan tawa, membayangkan bagaimana si Odah dan Ningsih dipermalukan didepan umum, bukan karena kesalahan mereka.
Sumpah demi apapun, kini si Odah dan si Ningsih jadi korban alias kambing hitam dari keganasan gas beracun Julaikha yang memukau dan mematikan. Rasakan!
"Dah, maneh HITUT?!" Tuduh Ningsih tak mau disalahkan. Ningsih melotot pada Odah. Dia malu karena semua orang menatapnya dengan jijik.
"Lah! Lainan kamu yang kentut? Gue mah enggak!" Odah marah dan menolak tuduhkan si Ningsih.
Akhirnya terjadilah drama ala ikan terbang, jambak Jambakan rambut di atas panggung dan membuat semua heboh. Ah tak lupa si Esmeralda, bagian seksoy fotografi dan medsos, mengabadikan semua itu.
"Hehe, ini hanya pemulaan…mempermalukan terlebih dahulu kemudian menghancurkan." Esmeralda melihat ponselnya yang baru saja menangkap pemandangan spektakuler disana.
"Biar nyaho mereka!" Julaikha mengepalkan tangannya dengan erat dan gemas.
Jaenab hanya senyum-senyum menyaksikan semua itu. Lalu Julaikha tiba-tiba memegang perutnya.
"Hayu balik, urang hayang pup."
Bersambung...
Sukses bwt kk
makannya mad jangan suka makan duit haram saat kamu menerima karma nya kamu tersiksa kan tapi saat kamu melakukan kejahatan itu kamu senang dan tak memikirkan apapun
akhirnya perjuangan kalian menemukan titik akhir juga dengan tertangkapnya para geng meresahkan 😁😁😁
kebanyakan bikin ulah sih
sokoooooor tuman kelamaan kalian senang di atas penderitaan orang lain saat nya kalian memetik apa yang kalian tanam