Apakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidaApakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidak akan ada ucapan sakinah mawadah warahmah, dalam pernikahan.
Bertahan dalam pernikahan yang memberi tangis kesedihan bukan hanya bentuk kebodohan, tetapi bentuk dari perjuangan dalam mencapai pernikahan yang bahagia. Karena tidak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa masalah. Begitu juga pernikahan antara Zaara dan suaminya–Arjuna.
Malam pertama pernikahan yang harusnya memberikan Zara kebahagiaan, justru memberikan luka yang begitu menyakitkan untuk Zara, saat Zara mengetahui jika suaminya mencintai wanita lain.
Apakah Zara memilih menyerah? Tidak. Karena Zara mencoba bertahan dan berjuang untuk pernikahannya.
Apakah perjuangan Zara akan berbuah manis? Entahlah.
Ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Saat ini, Juna dan Zara tengah sarapan. Zara terus menatap Juna dan itu disadari oleh Juna yang balas menatapnya. "Ada apa?" tanya Juna pelan.
"Mas, apa aku boleh pulang ke rumah orang tuaku?" ucap Zara gugup.
Wajah Juna menegang mendengar pertanyaan Zara, berbagai pikiran mulai menyelimutinya.
"Kenapa? Kamu tidak betah berada di sini?" tanya Juna menghentikan aktivitas makannya lalu menatap serius pada Zara.
"Tidak, Mas. Bukan seperti itu, aku hanya merindukan keluargaku. Sudah hampir empat bulan aku tidak pulang," terang Zara sebelum Juna salah paham.
Juna yang mendengar itu kembali terdiam, apa yang Zara katakan benar adanya Mereka sudah hampir empat bulan menikah, dan selama empat bulan itu juga Juna sudah mengkhianati pernikahannya. Itulah yang ada di pikiran Juna saat mendengar kata empat bulan yang Zara ucapkan.
"Baiklah. Berapa lama?" tanya Juna.
"Mungkin satu minggu. Apa Mas mau ikut?" tawar Zara pada Juna yang terdiam mendengarnya.
Satu minggu bermalam di rumah mertuanya, maka Juna tidak akan bisa menemui Laura dan Juna tahu betul jika Laura akan marah jika tidak bertemu Juna. Juna bingung harus menjawab apa atas ajakan Zara, jika menolak maka keluarga Zara bisa saja berpikir buruk tentangnya, jika menerima maka Laura akan sangat marah padanya.
"Mas, tidak mengapa jika kamu tidak bisa Aku tahu kamu sibuk. Tolong jangan terbebani karena ucapanku," ucap Zara lagi berusaha tersenyum meskipun hatinya merasa kecewa.
"Bukan seperti itu, sayang. Kenapa harus satu minggu?" ucap Juna kembali bertanya.
"Mungkin Mas Juna lupa. Sepupu ku di kampung akan menikah minggu depan, kami semua akan pulang ke Jambi," jawab Zara lagi-lagi membuat Juna terdiam.
"Mas tidak perlu khawatir, keluarga ku pasti akan mengerti jika mas berhalangan untuk hadir," ucap Zara lebih dulu berkata daripada mendengar ucapan Juna yang pasti akan menolak ajakannya sebab Zara tahu jika Juna tidak akan bisa meninggalkan Laura.
"Za," cicit Juna pelan.
"Tidak apa-apa, Mas tidak perlu memikirkan itu. Aku akan menjelaskan pada keluargaku," ucap Zara memberikan senyum terbaiknya pada Juna, meskipun hatinya kembali menangis.
"Kapan kamu akan pergi?" tanya Juna lagi.
"Jika boleh, hari ini setelah Mas Juna pergi ke kantor," jawab Zara.
"Baiklah, aku minta maaf karena aku tidak bisa mengantarmu, Za. Ada meeting pagi ini," ucap Juna pada Zara yang masih saja tersenyum seakan semuanya baik-baik saja.
'Maafkan aku, Za. Aku selalu saja membohongimu. Aku tidak bisa ikut bersamamu karena Laura sangat cemburu setiap kali aku bersamamu,' batin Juna.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku minta maaf karena satu minggu kedepan aku tidak bisa menyiapkan semua kebutuhan, Mas Juna. Apa tidak masalah?" tanya Zara masih saja perhatian pada Juna.
Juna yang mendengar itu bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Zara, mendaratkan satu kecupan di dahi Zara. "Tidak masalah, Sayang," ucapnya.
"Aku harus pergi, aku sudah terlambat. Sampaikan salamku pada semuanya. Aku akan berusaha datang jika semua pekerjaanku selesai atau bisa di tinggal," ucap Juna lagi mengulurkan tangannya pada Zara yang dengan cepat mengecup punggung tangannya.
"Hati-hati, Mas. Jaga dirimu," ucap Zara kembali ditanggapi Juna dengan mengecup dahinya.
Setelah Juna pergi, Zara meminta pelayan untuk membersihkan bekas makan mereka. Zara tetap berusaha bersikap tenang, menaiki anak tangga menuju kamar mereka, lalu melepaskan tangisnya setelah berada di kamar.
Zara akui jika Zara sangat merindukan keluarganya, tetapi tak dipungkiri juga jika Zara berharap Juna akan melarangnya pergi atau justru ikut pergi bersamanya. Namun semua itu tidak seperti yang Zara inginkan.
"Kamu tahu semua tidak akan terjadi. Kenapa kamu masih saja berharap, Za? Dia mencintai wanita itu. Bukan kamu," ucap Zara dengan air matanya yang semakin deras mengalir.
Beberapa saat berlalu, Zara menghentikan tangisnya dan memutuskan untuk segera bersiap agar bisa bertemu dengan keluarganya. Bersama dengan orang-orang yang Zara sayangi setidaknya akan membuat Zara bahagia dan sedikit melupakan kesedihannya. Itulah yang Zara pikirkan sekarang.
Setelah satu jam, Zara keluar dari kamarnya dengan menenteng tas jinjing di sebelah kanan dan menyeret koper kecil dengan tangan kirinya. Pelayan yang melihat itu dengan cepat menghampiri Zara, terutama Ina yang merasa cemas melihat Zara menyeret koper.
"Non Zara akan pergi?" tanyanya.
"Ada keluargaku yang menikah di kampung, Bi. Aku akan pulang. Aku titip mas Juna dan rumah ya Bi, selama aku tidak ada," ucap Zara dengan lembut pada pelayan.
"Tuan tidak ikut bersama Non Zara?" tanya pelayan lainnya.
"Mas Juna sedang banyak pekerjaan di kantor. Jika waktunya senggang, mas Juna akan menyusul," jawab Zara tersenyum.
Tak ada lagi yang bertanya setelah mendengar jawaban Zara. Semua pelayan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing yang menerka alasan sebenarnya Juna tidak ikut bersana Zara, sekalipun Zara sudah menjelaskan alasan Juna.
Ina yang jelas tahu apa alasan Juna sebenarnya, hanya bisa menatap iba pada Zara. "Hati-hati. Bibi doakan semoga semuanya berjalan lancar," ucap Ina.
"Terima kasih, Bi. Aku pergi," pamit Zara.
Perfect deh.....
ada season kedua kah???
ternyata selama itu kamu pergi , gimana keadaan papa Emir juga Juna sekarang....