Meyra merasa sangat aneh karena kini dia berada di sebuah pulau yang dia tidak tahu entah di mana, sejauh mata memandang hanya ada lautan saja.
Setelah dia mencari tahu, ternyata Meyra terdampar di dunia lain. Demi bisa kembali ke bumi, dia rela menerima tawaran untuk menikah dengan siluman singa jantan yang dia temui di sana.
"Apakah aku bisa pulang ke bumi jika menikah denganmu?"
"Tentu saja, aku juga bisa membantumu untuk mengungkapkan kejahatan yang menimpa ayahmu."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Langsung kita kepoin yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan Liliana
Lion terlihat melerai pelukannya, lalu dia tersenyum seraya menatap wajah ibunya dengan lekat. Dia bisa melihat binar rindu di wajah ibunya, sama seperti ayahnya yang selalu merindukan Liliana.
"Dia tidak baik-baik saja, seperti ada setengah jiwanya yang hilang," jawab Lion.
Tatapan mata Liliana semakin sendu, dia benar-benar merasa bersalah terhadap lelaki yang dia cintai itu. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Andai saja bisa dia ingin bertemu dengan Lucas, dia ingin meminta maaf karena sudah menikah lagi dengan William tapa bercerai dengan dirinya.
"Ibu ingin bertemu dengannya, tapi tidak bisa. Pintu ke sana sudah tidak ada," kata Liliana dengan sendu.
Lion terdiam, dia memperhatikan wajah Liliana yang teramat sangat merindukan ayahnya itu.
Melihat Lion yang hanya diam saja, Liliana terlihat kecewa. Dia menyangka jika Lion tidak mau menganggap dirinya sebagai ibunya.
"Kenapa diam saja, apa kamu tidak merindukan Ibu?" tanya Liliana dengan sedih.
Lion kembali tersenyum, dia mengelus lembut punggung Liliana. Dia seolah sedang menguatkan ibunya yang sedang sedih itu.
"Sangat Ibu, aku sangat rindu." Lion memeluk Ibunya dengan erat, dia menumpahkan kerinduan yang selama ini dia tahan.
Rasa bahagia langsung menyeruak sampai ke dalam dasar hatinya, dia sangat senang karena bisa langsung bertemu dan merasakan pekukan hangat dari ibunya itu.
"Ibu juga rindu," kata Liliana seraya membalas pelukan putranya.
Akhirnya setelah dua puluh lima tahun lamanya, Liliana bisa memeluk putranya kembali. Anak. lelaki yang dulu dia lahirkan.
"Jika Ibu ingin bertemu dengan ayah, minta tolong saja pada Meyra," ucap Lion.
Mendengar apa yang dikatakan oleh putranya, Liliana terlihat melerai pelukannya. Kemudian dia menatap Lion dengan tatapan wajah heran.
Bagaimana bisa dia meminta bantuan kepada Meyra, pikirnya. Padahal Meyra hanya manusia biasa dan bukan turunan dari siluman Singa atau apa pun itu.
Bukan hanya Liliana yang merasa heran, Meyra juga merasa heran mendengar namanya dikatakan oleh suaminya tersebut.
Dia tidak paham kenapa Lion malah meminta Liliana untuk meminta tolong kepada dirinya yang tidak tahu apa-apa, pikirnya.
"Kok, Meyra?" tanya Liliana.
Dia benar-benar merasa tidak percaya dengan apa yang Lion katakan, karena itu menurutnya adalah hal yang mustahil.
"He'em, kenapa aku?" tanga Meyra menimpali.
Dia merasa bingung kenapa Lion mengatakan jika dirinya yang bisa membuka pintu menuju ke dunia siluman Singa itu, padahal dia saja bisa masuk ke dalam dunia itu karena mendapatkan undangan dari suaminya tersebut.
"Ya ampun, Meyra, Sayang. Aku saja bisa menjadi manusia seutuhnya karena kamu, jika untuk membuka pintu untuk masuk ke dunia ayah, tentu itu adalah hal yang mudah bagimu," jawab Lion.
Meyra sebenarnya tidak paham, tapi dia berusaha untuk mengerti. Dia juga mengingat perkataan ayah mertuanya, jika dirinya bisa mengajak Lion kapan saja untuk berkunjung.
Itu artinya dia memang bisa membuka pintu untuk masuk ke sana, hanya saja dia belum mengerti bagaimana caranya.
"Begitu, ya. Lalu, bagaimana dengan pintu menuju ke dunia di mana ayah dan Ibu terjebak, apa aku bisa membukanya?" tanya Meyra.
Dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan kedua orang tuanya, dia benar-benar merindukan mereka.
"Kamu juga bisa membukanya, jika saat kamu datang ke bukit bunga ada titik cahaya yang datang," jawab Lion.
Binar bahagia langsung terlihat di mata Meyra, dia sungguh berharap semoga titik cahaya itu segera datang.
"Benarkah? Kalau begitu kita harus secepatnya ke bukit bunga, siapa tahu aku bisa melihat titik cahaya itu," kata Meyra bersemangat.
Jika Meyra terlihat begitu bersemangat, berbeda dengan Liliana. Dia terlihat menunduk lesu, dia sangat takut jika Meyra tidak mau mengantarkan dirinya untuk bertemu dengan Lucas.
"Terus, bagaimana dengan ibu?" tanya Liliana.
Liliana terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk, dia menunduk seraya meremat kedua tangannya secara bergantian.
Melihat akan hal itu, Lion terlihat mengernyitkan dahinya. Dia tidak paham dengan apa yang diinginkan oleh ibunya.
"Maksudnya?" tanya Lion.
"Ibu mau bertemu dengan Lucas," jawab Liliana dengan pelan.
Dia tersenyum mendengar apa yang diinginkan oleh ibunya tersebut, tapi tetap saja dia merasa khawatir dengan suami dari ibunya yang saat ini.
"Lalu, bagaimana dengan William?" tanya Lion.
"Ibu tidak tahu," jawab Liliana semakin lesu.
Lion terlihat menghela napas berat melihat wajah ibunya yang terlihat kebingungan, rasanya dia ingin membawa Liliana lari dari William. Karena walau bagaimanapun juga William terlihat begitu terobsesi terhadap ibunya, dia juga terlihat tidak pernah memberikan kasih sayang yang tulus.
Namun, di balik itu semua Lion juga paham jika William merasa tidak dicintai oleh Liliana makanya dia bersikap kasar seperti itu terhadap ibunya.
William tidak pernah melihat cinta di mata Liliana untuk dirinya, karena Lion sangat tahu jika ibunya masih mencintai Lucas sampai saat ini. Sama seperti Lucas yang masih mencintai Liliana dan selalu setia menunggu istrinya.
"Kita ke bukit bunga sekarang, siapa kita antarkan Tante Liliana dulu." Meyra berusul.
"Ibu adalah ibunya Lion, Mey. Kenapa masih panggil Tante?" tanya Liliana penuh protes.
"Maaf, Ibu mertua. Ayo kita bersiap, Sayang." Meyra menarik lengan Lion.
"Oke," jawab Lion.
"Kami ke kamar sebentar, mau ganti baju. Ibu mertua tunggulah di ruang keluarga," kata Meyra.
"Oh, oke," jawab Liliana bersemangat.
Lion dan Meyra tersenyum, kemudian mereka langsung berjalan menuju kamar untuk ganti baju. Sedangkan Liliana terlihat berjalan menuju ruang tengah, dia ingin menunggu anak dan menantunya.
Namun, baru saja dia duduk di ruang tamu, tiba-tiba saja William datang dan menghampiri dirinya dengan wajah penuh amarah.
"Bagus! Tadi malam kamu tidak pulang, malah menginao di rumah Lolita. Sekarang bukannya pulang malah datang ke rumah orang," bentak William.
Liliana sampai berjingkat kaget kala mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, apalagi saat melihat kemarahan pada wajah suaminya tersebut.
"Maafkan aku, tadi malam kamu terlihat sangat emosi. Aku hanya memberikan waktu agar kamu bisa lebih tenang," kata Liliana.
"Aku sudah lebih tenang, kemarilah!" kata William dengan suara yang mulai melembut. Dia terlihat kasihan melihat wajah Liliana yanh terlihat begitu ketakutan.
Liliana menurut, dia bangun dan langsung mendekati suaminya. William tersenyum, kemudian dia berkata.
"Kita pulang!" ajak pria itu.
Mendapatkan ajakan seperti itu dari suaminya, terus terang saja Liliana merasa sanagt takut.
"Ta--tapi, aku dan Meyra akan pergi untuk--"
Belum sempat Liliana menyelesaikan ucapannya, William sudah terlebih dahulu memungkas ucapannya.
"Nanti lagi kamu boleh pergi, sekarang ikut aku dulu. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk kamu," kata William.
***
Selamat siang kesayangan, selamat beraktifitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki, jangan lupa tinggalkan like dan juga komentarnya, sayang kalian semua.