NovelToon NovelToon
Naughty Sugar

Naughty Sugar

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: AzieraHill

COVER FROM PINTEREST

Max Winston menikahi Elena Gilbert bukan semata-mata untuk mempertahankan mansion tua nan mewah milik keluarga Gilbert. Tanpa Elena ketahui, Max telah jatuh cinta padanya sejak lama dan terus memperhatikannya selama 7 tahun. Mansion tua keluarga Gilbert memang salah satu alasan, tapi alasan terbesarnya hanya Max yang mengetahuinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

[18] Saat Malam Tanpamu

**ELENA POV **

Aku menatap lampu di kamarku karena tidak bisa tidur. Di luar hujan dan ruangan semakin dingin karena tidak ada yang memelukku malam ini. Max, kenapa dia tidak pulang? Apakah perkataanku tadi cukup keterlaluan? Tapi bukankah aku benar? Dia memasang wajah melas seperti itu hanya ingin menjebakku. Setelah nanti aku terperangkap dan sulit keluar. Dia akan melukaiku dan kembali mengulangi apa yang pernah dia lakukan pada Kak Irene.

Tapi… kenapa hatiku begitu khawatir memikirkannya? Apa yang sedang dia lakukan di luar sana? Apa dia sungguh tidak akan pulang malam ini? Aku pun bangun dari baringanku, menarik baju satinku yang sangat tipis dan berjalan menuju jendela. Hujan semakin deras dan tidak tahu kenapa aku terus memikirkannya? Apa aku telepon saja?

Lama aku berpikir, akhirnya aku pun keluar dari kamar. Semua ruangan terlihat sudah redup, tapi aku turun menuruni tangga menuju lantai satu. Akan aku hubungi dia dengan telepon rumah. Begitu aku sudah berada di bawah, aku terdiam sejenak, kembali berpikir apakah lebih baik menghubunginya atau tidak. Bagaimana jika aku yang melewati batas? Batas-batas di mana seorang pasangan yang tidak saling mencintai, tapi saling mengkhawatirkan. Max memang sangat jelas selalu mengatakan kekhawatirannya padaku, tapi aku… aku tidak bisa membiarkan perasaanku begitu saja; berkembang seperti bunga yang setiap hari Max siram dengan baik. Aku hanya tidak mau apa yang terjadi pada Kak Irene terulang lagi.

“Nona?” suara seseorang membuatku membalikkan tubuhku dan menemukan Jon yang tengah menggedong Ryan.

“Oh Jon, kau mengagetkanku,” kataku menggaruk leherku sendiri. “Ada apa dengan Ryan?” tanyaku.

“Sulit tidur, sedangkan besok dia harus sekolah. Sejak kecil dia memang seperti ini dan sekarang saya cukup sulit menggendongnya karena berat badannya terus naik,” ucap Jon dan aku hanya mampu terkekeh mendengarnya.

“Apa yang sedang Nona lakukan larut malam seperti ini?” tanya Jon. “Maaf jika membuat Nona tidak nyaman dengan saya mengatakan ini, tapi saya sudah ditugaskan Tuan untuk terus menjaga Nona. Bahkan di malam hari saya akan terus memantau Nona.”

Aku melebarkan senyumku. Kekhawatiran Max terlalu berlebihan, tapi entah kenapa membuatku merasa semakin tidak enak dengan perlakuanku tadi sore di ruangan Max.

“Nona? Sebaiknya Anda kembali ke kamar. Biar saya antar,” kata Jon dan aku menggelengkan kepalaku.

“Aku mau menghubungi Max. Malam ini dia tidak pulang,” kataku mengangkat gagang telepon rumah dan menempelkannya ke telingaku.

“Tuan memang tidak pulang malam ini Nona. Pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan dan meminta Nona untuk istirahat karena hari ini sudah datang melihat casting.”

Perlahan jari-jariku kaku. Tidak biasanya Max tidak menyampaikannya pada Tina atau mungkin Tina tidak sempat memberitahuku?

“Apakah Max menghubungimu? Kenapa dia tidak memberitahuku?” tanyaku padanya.

“Maaf Nona, saya kira Tuan sudah mengatakannya pada ibuku. Tuan hanya memintaku untuk lebih ketat menjaga Nona ketika dia tidak ada,” ucap Jon membuatku menutup gagang telepon yang tadi aku pegang kembali ke tempat semula.

“Oh begitukah?” tanyaku sedikit merasa kecewa karena dia tidak menyampaikan pesan apapun padaku.

“Nona, ayo ke kamar,” kata Jon dan aku mengangguk pelan.

Aku terus memikirkan perasaan Max tadi sore sepanjang menuju kamar. Aku tidak tahu, apakah dia sedang menghindariku? Atau benar-benar sibuk dengan pekerjaannya. Hanya dengan memikirkan dua kemungkinan itu membuatku tidak enak hati.

“Jon, besok pagi antarkan aku ke kantor Max. Hubungi Rain sebelum kita berangkat dan tanya apakah Max ada di kantor.”

“Baik Nona. Selamat malam!” ucap Jon menutup pintu kamarku yang malam ini sangat dingin tanpa Max di sisiku.

Tuhan! Perasaan apa ini? Kenapa aku terus memikirkannya?

 

 

***

Jon mengatakan bahwa Max sangat sibuk hari ini. Dia tidak bisa ditemui pagi ini dan entah kenapa membuatku jengkel mendengarnya. “Tina, bawa kembali bekalnya!” kataku dengan nada kesal. Padahal aku sudah menyiapkan bekal makan pagi untuknya, tapi apa dia bilang? Dia sibuk? Aku pastikan kalau dia memang menghindariku. Lihat! Dia mualai bermain tarik ulur denganku! Kemarin baru saja dia seperti menyatakan perasaannya padaku, tapi sekarang apa?

“Nona, meski pagi ini Tuan tidak ditemui. Sekretaris Rain mengatakan Tuan akan pulang cepat. Hari ini akan ada reading bersama kru program after married, kemudian Tuan meminta Nona untuk stand by membantu beberapa kru memasang kamera di beberapa tempat di rumah ini. Nanti mereka akan bicarakan pemasangan kamera dengan Nona setelah sampai,” ucap Jon dan aku mengangguk mengerti.

“Baiklah, kalau begitu kita tidak perlu ke kantor. Aku akan membaca naskahku dan menunggu para kru datang. Kira-kira mereka sampai jam berapa?”

“Siang nanti Nona jam 12.”

“Max?”

“Jam 3 sore, Nona.”

Aku mengangguk lalu pergi menuju kamarku. Mengambil naskah yang isinya hanya menjelaskan beberapa adegan yang akan kami ambil di episode awal. Aku juga membaca beberapa catatan dari penulis skenario. Mereka tidak memaksaku untuk acting terlalu dibuat-buat. Semuanya akan dibuat senatural mungkin tanpa ada paksaan.

Well, kalau begini, aku rasa harus siap dihujat oleh netizen karena terkadang aku refleks bersikap acuh pada Max atau mungkin kasar padanya. Max benar, mungkin setelah program ini tayang di TV, aku akan menerima banyak cacian karena tidak cocok menjadi pasangannya. Terkadang, saking aku takut dengan apa yang terjadi. Aku sampai tidak tahu harus bersikap seperti apa Max dan aku tidak tahu mana sikap Max yang benar-benar tulus ataupun yang hanya berpura-pura. Aku takut… ya aku sangat takut.

***

Aku ketiduran saat menunggu kru TV yang katanya akan memasang beberapa kamera di beberapa tempat di rumah. “Bodoh!” aku memukul kepalaku sendiri.

Cepat aku turun dari ranjang, tapi… kenapa aku ada di atas ranjang? Bukankah tadi aku di atas sofa?  Aku pun melihat ke seluruh ruangan kamar dan mendengar suara Max di luar.

“Dia sudah pulang?”

Aku lihat jam di dinding menunjukkan pukul satu siang. Sementara Jon bilang, Max akan pulang nanti sore, lalu kenapa dia sudah di rumah? Aku pun segera menyusul ke sumber suara. Aku lihat Max sedang menunggu salah satu kru memasang kamera di depan kamar kami.

“Kau sudah bangun?” suara Max dengan tangan yang dia masukkan ke dalam kantung celananya. “Dasar kerbau! Aku kan sudah bilang untuk menunggu para kru datang,” ucapnya membuatku mendengus kesal yang disambut senyuman oleh kru TV.

“Tidak apa-apa. Lagi pula ada banyak yang membantu di sini. Sepertinya pelayan di sini juga tahu aturan-aturan yang tertulis dan tidak tertulis di rumah ini. Tadi mereka yang membantu kami memasang beberapa kamera di rumah ini. Mereka juga melarang beberapa tempat pribadimu, salah satunya kamar ini.”

Max nampak tersenyum lebar membanggakan dirinya tak pernah salah memilih orang-orang yang bekerja dengannya. Toh, kenyataannya memang begitu. Mereka memang bekerja dengan baik. Aku tidak pernah menemukan kecacatan dari pelayan Max. Mereka melakukan hal dengan sangat rapi dan tak mengecewakan.

“Kamar ini memang sangat pribadi,” ucap Max seraya merangkul bahuku dan menariknya sangat dekat.

Semalam aku tidak bisa mencium aroma tubuhnya sekarang rasanya entah kenapa sedikit merasa terbayar. Ah tidak! Aku rasa ini gila! Tidak mungkin aku candu padanya.

“Iya kan, Sugar?” bisiknya di telingaku membuatku melotot ke arahnya dan hampir mendorongnya seperti yang sering aku lakukan, tapi Max menahannya. Matanya memberikan isyarat ke arah kru yang sedang memperhatikan kami.

“Hahaha, ishh yaiyalah pribadi!” kataku langsung memukul dadanya memanja. “Kita tidak mungkin berbagi cerita di dalam kamar juga kan? Memancing mereka dari depan kamar pun sudah cukup. Selebihnya biar mereka menebak apa yang terjadi di dalam sana,” kataku terdengar sangat bodoh, tapi Max tertawa keras.

“Kau benar-benar semakin hari semakin menggemaskan!”

Max menarik tubuhku hingga berhadapan dengannya lalu mendekatkan wajahnya padaku. Dia menempelkan hidung kami membuatku tak kuasa untuk memejamkan mata karena tidak kuat dengan apa yang Max lakukan. Dia benar-benar pintar mengambil hati semua orang agar mau bekerja sama dengannya, tapi kenapa hatiku berdebar? Bahkan acara ini sama sekali belum dimulai. Max kurang ajar! Apa yang dia lakukan padaku?!

“Uhh! Aku tidak tahan dengan keuwuan kalian,” canda sang kru perlahan turun dari tangga yang refleks aku langsung pegang.

“Terima kasih,” ucapnya padaku seraya mengambil tangga yang dia gunakan tadi. “Aku rasa program ini benar-benar akan mendapatkan rating yang sangat tinggi! Semua penonton pasti sudah tidak sabar!”

Max terkekeh seraya mengacak rambutku. “Aku juga sudah tidak sabar membagi kemesraan kami berdua pada semuanya. Aku ingin menunjukkan pada orang di luar sana bahwa aku bisa sukses sampai sekarang karena ada wanita hebat di sampingku dan wanita itu adalah… istriku,” ucap Max membuatku langsung menatap ke atas; arah wajahnya yang tersenyum semringah pada beberapa kru yang kini pada berdatangan dan tentu dengan kamera yang sudah menyala.

Setelah itu, aku tidak tahu apa yang dia katakan karena semuanya seperti berlalu tidak sama sekali masuk ke dalam telingaku. Aku hanya bisa menatap Max yang sesekali tersenyum, memegang pipiku, mengelusnya, mencium, dan juga mendaratkan kecupannya pada bibirku.

Max, apa yang sedang dia rencanakan kali ini untukku? Dia bilang, dia sukses karena ada wanita hebat di sisinya? Sedangkan dia sudah sukses jauh sebelum menikah denganku. Kini anehnya aku tidak bisa menilai apakah itu buruk atau justru sebaliknya.

 

 

Geys! Jangan lupa baca karyaku yang lain loh! Ada 4 karya yang udah selesai jadi jangan takut digantungin heehehe.  Nyesel deh kalau enggak baca wkwkw. Jangan lupa like, komen, share dan juga follow aku ya!

Btw, kalau kalian bingung caranya gimana sih caranya bisa baca karyaku yang lain? Kalian bisa search aja dengan judul di atas atau kalian bisa klik foto profilku nanti pilih karya dan akan muncul karya2ku^^

1
RithaMartinE
luar biasa
RithaMartinE
sukaa 😍
Uli arta
crita2 mu sangat bagus thor,mkanya ak bri like,hadiah,vote.trus berkarya thor
Cahaya Warna
lugas
evita19
aku suka ceritanya gak ribet, singkat padat dan jelas konfliknya juga gak muluk muluk, best untuk author semangat terus dalam berkarya untuk author
Rinna Aprilliana
ceritanya bagus
🌻Richantix🌻
yo to q baper meneh
🌻Richantix🌻
padahal seng di kbari elena nyapo q seng moco malah q seng baper🤦
🌻Richantix🌻
siap"el hukuman menantimu
🌻Richantix🌻
jo asal nyosor to max le dandan kuwi lho suwi
🌻Richantix🌻
mulakno jo oyeng kesel to
Winda Nurmayani
bagus..simpel
Winda Nurmayani
aku jg kl ndk suami dan ndk peluk..paginya ngambek
Winda Nurmayani
ceritanya bagus
Ati3 Nuri
berasa setting d luar negeri y ini
jap nam
thanks Thor..padat, singkat & jelas.
Nofriyanti Vivi
suka dg visualnya,😘
Noorhied
makin seru, menarik... apalagi untukku penggemar novel barat, 👍👍👍
Li
hati2 lah max,karna musuh terberatmu adalah teman dekatmu
zovay
yah ini aneh, bisa-bisanya aku baru ketemu novel sebagus ini sekarang 🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!