Diam-diam Khalisa Lyn mencintai Luth, tetangganya. Sayangnya Luth tidak menyadari hal itu. Cinta dalam diam membuat Lyn serba salah saat Luth justru melamar Afiqa, gadis lain.
Sembilan belas tahun Lyn dan Luth saling kenal, bermain bersama, dan bersahabat, namun tidak sekali pun Lyn melihat Luth yang terlihat cool itu dekat dengan wanita, namun tiba-tiba lamaran itu mengejutkannya. Lebih mengejutkan lagi saat Lyn tahu bahwa gadis yang dilamar Luth tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butuh Pembuktian
"Maaf, Mas Luth. Aku nggak suka nenas," tolak Afiqa lembut. "Tapi nggak apa-apa, nanti aku kasih ke Mas Alfa."
"Masak sih nggak suka? Kamu cium aja dulu aromanya, nanti pasti berubah pikiran." Luth mendekatkan bibir gelas ke hidung Afiqa, sontak Afiqa menampiknya.
Afiqa menutup hidungnya dengan telapak tangan. Namun aroma jus sudah terlanjur terhirup hingga ia tampak mual.
"Fiqa, kamu kenapa?"
"Aku nggak suka aroma jus itu. Bikin pusing, mual jadinya."
"Oke. Ya udah aku nggak maksa." Luth menutup gelas jus dan menjauhkannya dari Afiqa. "Biar aku aja yang minum." Luth menyedotnya sambil tersenyum. "Maaf, aku nggak tanya kamu dulu sebelum membawakan minuman untukmu. O ya, sekarang masih merasa mual?"
Afiqa masih menutup area mulut dan hidung dengan telapak tangan. "Dikit."
"Kalau gitu kita ke dokter, kita periksa apa yang terjadi denganmu. Kenapa efek mencium aroma kental minuman ini bisa sampai begini?" Luth meraih lengan Afiqa.
"Enggak. Nggak usah. Entar juga baikan sendiri kok. ini cuma eneg aja. Nggak usah berlebihan sampai ke dokter juga kali Mas." Afiqa tersenyum tipis.
Dari sikap Afiqa yang langsung mual saat mencium aroma jus, serta penolakan gadis itu saat hendak diajak periksa ke dokter, menunjukkan kecurigaan bagi Luth.
Tapi Luth membantah kecurigaan itu saat ia mengawasi ekspresi wajah Afiqa yang tampak tenang, sesikit pun tidak memperlihatkan kegugupan atau menyembunyikan sesuatu. Gadis itu biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa.
"Aku boleh tanya sesuatu? Tapi plis, kamu jangan marah," ucap Luth.
"Apa, Mas?"
"Aku percaya sama kamu Afiqa, kamu pasti nggak akan ngecewain aku, juga keluargaku. Sebab aku tahu kamu adalah gadis baik-baik yang selalu menjaga kehormatan. Tapi ada isu yang mengatakan kalau kamu itu sedang hamil sekarang."
Afiqa tampak terkejut. Raut wajahnya langsung menegang. "Dan Mas Luth percaya?"
"Aku nggak percaya dengan isu itu. Jelas isu itu bertolak belakang dengan sifatmu, gadis terhormat yang selalu menaga harga diri. Aku marah mendengar isu ini Tapi demi kehormatanmu, juga kebaikan hubungan kita di mata semua orang, aku ingin kamu membuktikan bahwa isu itu nggak bener. Kita ke dokter kandungan sekarang, kita buktiin ke para penggibah itu bahwa kamu nggak hamil."
Afiqa terdiam. Tampak gusar. "Dari mana kamu dengar isu nggak bertanggung jawab itu, Mas Luth?"
"Di lingkunganku, isu itu udah diperbincangkan. Aku ingin kehormatan kita dijaga dengan membuktikan kebenaran."
"Kenapa Mas Luth menggubris berita nggak bener itu? Biarkan aja mereka memfitnah, nggak perlu dipeduliin. Semua itu hanya akan membuat hidup kita lelah saat harus mempedulikan setiap omongan orang. Anggap mereka memupuk amal untuk kita."
"Afiqa, mau nggak mau kita hidup bertetangga, mati pun tetangga yang ngurusin. Saat ini akulah yang bersosialisasi dengan mereka, aku yang mendapat imbas dari isu ini. Mereka harus dibungkam dengan bukti kebenaran supaya kita bisa tenang. Kalau kita bisa membuktikan bahwa ucapan mereka nggak benar, kenapa kita nggak lakukan itu? Aku sebagai calon suamimu, butuh bukti untuk menjelaskan ke mereka. Ayo, ikut aku ke dokter dan kita lakukan USG. Hasil USG akan menjadi bukti akurat yang membungkam isu itu, oke?" bujuk Luth.
Afiqa lama terdiam. Meremas ujung bajunya. Namun kemudian ia mengangguk. "Baik. Kita ke dokter kandungan."
BERSAMBUNG