Sukma hilang hutan dan gunung yang terletak di Sumatra bagian selatan Lampung.
Gunung dan hutan yang meninggalkan seribu tanda tanya
Konon masih banyak warga dan masyarakat yang mengharapkan kepulangan sanak saudaranya, yang telah lama menghilang bertahun-tahun di dalam hutan tersebut.
Sukma hilang yang terkenal akan cerita mistisnya, seakan tidak hilang tergerus oleh perkembangan zaman.
Hingga sampai saat ini masih banyak warga dan masyarakat yang mempercayai mitos-mitos gunung dan hutan tersebut, bahwa siapapun yang hilang atau tersesat di dalamnya , tidak akan pernah bisa kembali untuk pulang .
Kisah ini menceritakan beberapa muda-mudi yang hilang di telan kegaiban hutan Sumatra tersebut .
Apakah mereka semua bisa keluar dari hutan yang mengerikan itu ???
Tetap ikuti ceritanya !!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dosy irwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Kembalinya setan kebaya merah
Mereka yang mulai tersadar, perlahan berkumpul bersama di depan perapian. Cahaya api kuning temaram menyinari wajah mereka yang begitu pucat. Mereka hanya duduk terdiam termenung menatap perapian dengan api yang menari-menari di atas batang kayu yang perlahan mulai menjadi arang. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Begitu hening, hanya terdengar sesekali suara kecil letupan bara api dan suara angin yang memainkan dedaunan dan ilalang liar.
“ Aku kangen mamah “ ucap Fira memecah keheningan, dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
“ Sama fir, kita semua juga kangen keluarga kita ” jawab Asma yang sedikit mendekat ke arah Fira sambil merangkul tubuhnya dan mengusap-usap lengan Fira.
“ Terus gimana nih sekarang? “ tanya Boy sambil menatap satu persatu wajah teman-temannya.
“ Sebaiknya sekarang kita semua istirahat sejenak. Kita kumpulin tenaga untuk lanjutin perjalanan menuju puncak. Gimana? ” ujar Dodi yang memberikan solusi kepada teman-temannya.
Namun mereka semua hanya diam tak memberikan sebuah keputusan, terlihat jelas ketakutan di wajah mereka, merasa khawatir akan sesuatu terjadi kepada diri mereka saat mereka pulas beristirahat.
"Gua takut Dod, gua takut sewaktu kita tidur malah terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Bagaimana?" sahut Dewo.
"Yang lo bilang benar Wo. Gak ada yang menjamin keselamatan kita kalo kita beristirahat berbarengan, tapi kita butuh energi untuk mulai perjalanan. Gua yang jaga kalian, kalian istrahat aja, gua udah cukup istrahat di rumah Mbah" ucap Dodi mengaskan.
"Gua temenin Dodi jaga deh" sambung Wawan sambil mengangkat tangan kanannya.
Entah apa yang merasuki Wawan, pria yang terkenal selalu mementingkan dirinya sendiri, kini menawarkan diri untuk menjaga teman-teman lainnya untuk beristirahat.
Mereka semua hanya saling lempar pandang, merasa bingung melihat Wawan yang terlihat berbeda malam itu. Apakah dia takut akan terjadi sesuatu kepada dirinya jika tertidur ? Atau Wawan sudah memiliki rasa solidaritas karena kejadian yang sudah menimpa mereka?
"Sekarang sebaiknya lekas istrahat. Jangan buang-buang waktu. Kita istrahat dua jam, setelah itu kita mulai perjalanan ke puncak" tegas Dodi sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
Tanpa membuang waktu mereka semua setuju dengan solusi yang di berikan oleh Dodi. Mereka segara mencari tempat untuk merebahkan tubuh mereka, mencoba beristrahat di tengah pengawasan Dodi dan Wawan yang berjaga mengawasi keadaan.
Malam itu terasa seperti malam biasanya. Dingin, sunyi dan gelap sudah menjadi teman akrab yang menemani malam mereka. Suara-suara hewan malam terus bersahutan mendominasi suasana malam itu. Sesekali Dodi melirik, meperhatikan Wawan yang sedang diam memainkan api di hadapannya.
"Gua nyesel ikut kalian kesini" celetuk Wawan sambil memainkan api dengan ranting di tangannya.
Namun, Dodi hanya diam memandangi perapian tak menjawab keluhan dari temannya tersebut.
"Gua belum mau mati, gua harus bisa selamat dari sini dengan cara apapun" sambung Wawan memancing pembicaraan.
"Sudah kodratnya kita sebagai manusia pasti mati. Sebaiknya jangan terlalu mengeluh kita berusaha sama-sama untuk selamat dari tempat ini" jawab Dodi sambil menambahkan kayu di perapian yang mulai mengecil.
"Makasih udah mau nemenin gua untuk jaga kawan-kawan kita" ungkap Dodi sambil menatap wajah Wawan.
"Gua juga cape sebenarnya, tapi gua gak mau ambil resiko, daripada gua tidur malah terjadi sesuatu, mending gua jaga sama lo" balas Wawan sambil menunjukan wajah yang sinis.
Dodi hanya tersenyum kecil mendengar pernyataan Wawan, lalu diam seakan tidak ingin membahas lebih lanjut tentang perbincangan mereka. Waktu sudah berlalu satu jam semenjak teman-teman lainnya beristirahat, tiba-tiba Dodi berdiri dan memalingkan tubuhnya.
"Woy mau kemana lo ?" tanya Wawan yang penasaran.
"Gua buang air kecil bentar Wan. Nitip kawan-kawan, gak lama kok" jawab Dodi sambil menolehkan wajahnya ke arah Wawan.
"Iya tapi jangan lama-lama, gua gak mau jaga sendirian disini" balas Wawan dengan ketusnya.
"Ia tenang aja" sahut Dodi sambil melangkahkan kakinya menjauh ke tempat yang lebih gelap.
Wawan yang sendiri di depan perapian memutar pandangannya, merasa takut dan khawatir akan sesuatu yang ada di balik kegelapan. Wawan terus mengedarkan pandangannya mengamati sekelilingnya, memperhatikan setiap sudut hingga satu persatu teman-temannya yang sedang tertidur pulas. Pandangan matanya terus berputar, hingga matanya terhenti pada sosok Fira yang sedang terkulai nyenyak tak jauh darinya.
Pandangannya begitu tajam, bola matanya diam tak bergerak sambil menelan ludah memperhatikan Fira yang begitu pulas dengan tidurnya. Terbesit niat buruk di kepalanya untuk melampiaskan nafsunya sebagai lelaki. Wawan terus memandangi tubuh Fira dengan begitu liar. Kembali Wawan memalingkan pandangannya memperhatikan teman-teman lainnya, memastikan bahwa teman lainnya juga sudah tertidur pulas.
Melihat adanya kesempatan, Wawan mengendap-endap mendekati Fira yang tidak jauh dari dirinya. Wawan melangkah dengan perlahan-lahan, berusaha memperkecil suara pijakan kakinya di tanah. Sesekali Wawan melihat ke arah Dodi yang masih belum juga kembali.
Sekali lagi, Wawan menoleh kearah teman-teman lainnya, memastikan tidak ada yang melihat perbuatan bejatnya itu. Dengan tangan bergetar pelan, Wawan mengerayangi tubuh Fira. Wawan terus menggerayangi tiap jengkal bagian tubuh Fira. Darahnya berdesir kencang mengalir keseluruh tubuh, nafasnya terengah-engah dan matanya diselimuti kabut *****.
Wawan yang sudah lupa akan daratan, seketika tubuhnya tertarik kuat terjermbab terpelanting ke belakang. Dodi yang melihat perbuatan Wawan tanpa ampun memberikan pelajaran kepada temannya tersebut.
Dodi terus memukul wajah Wawan tanpa memberikan selah sedikit pun untuk bernafas, tak sedikit pun Dodi memberi kesempatan Wawan untuk melawan. Dodi terus memukul wajah Wawan hingga darah segar mengalir deras keluar dari hidung dan bibirnya.
Dewo dan Boy terbangun kaget, karena mendengar adanya kegaduhan. Mereka segera berlari memegangi tubuh Dodi, mencoba melerai perkelahian tersebut.
Dodi yang ditarik menjauh terus menendang-nendangkan kakinya, berusaha terus ingin memukul Wawan yang sudah terkulai lemas di tanah.
"Dod sadar, kenapa lo?" pekik Dewo sambil merangkul kuat Dodi dari belakang.
"Bajingan!!" teriak Dodi meronta-ronta ingin melepaskan diri dari rangkulan Dewo.
Fira dan Asma berdekatan terlihat takut melihat Dodi yang tidak seperti biasanya. Sedangkan Boy mencoba membantu Wawan yang sudah terkulai lemas di tanah.
"Dod udah lo kenapa ?? Lo mau bunuh Wawan ? Istighfar Dod" pekik Dewo sambil berusaha kuat memegangi tubuh Dodi yang terus meronta-ronta.
"Dod udah, tolong jangan berkelahi" ucap Asma sambil menangis.
Dodi yang seperti kesetanan perlahan mereda, lalu menyimpuhkan lututnya di tanah. Lemas sambil menundukkan wajahnya.
"Astaghfirullahaladzim" lirih Dodi mengucap istighfar sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Dod lo kenapa?" tanya Dewo terduduk di samping Dodi.
Namun tak ada jawaban yang keluar dari mulut Dodi, dia hanya terus beristighfar mencoba menenangkan dirinya.
Wawan yang sudah berlumuran darah hanya bisa menahan kesakitan di sekujur tubuhnya, sambil meminta tolong dipapah oleh Boy untuk sedikit menjauh dari Dodi.
"Aduh aduh" rintihan Wawan sambil memegangi pipinya.
"Asma, Fira tolong bantuin Wawan" pinta Boy yang terlihat begitu khawatir melihat keadaan Wawan.
Asma dan Fira berlari kecil menghampiri Boy yang sedang memegangi wajah Wawan di pangkuannya.
"Dod coba jelasin kenapa bisa seperti ini" tanya Dewo sambil memegang pundak Dodi.
Dodi hanya memandangi wajah Dewo tanpa memberikan sedikit pun jawaban. Lalu Dewo mengangkat tubuh Dodi untuk segera berdiri, dan mengajaknya duduk berdua di depan perapian.
Asma, Fira dan Boy terlihat sibuk mengobati luka yang ada pada tubuh Wawan, sesekali terdengar suara desis kesakitan dari mulut Wawan.
"Wan kok bisa lo berantem sama Dodi di situasi kaya gini sih ?" tanya Boy sambil mengelap luka di wajah Wawan.
"Aduh... Gak tau, Dodi kemasukan setan kali, tiba-tiba langsung mukul gua" jawab Wawan sambil merintih mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
"Mana lagi yang sakit ?'' sambung Asma khawatir.
"Ih Dodi kok bisa kaya gitu sih?" tutur Fira yang sibuk mengobati luka Wawan.
"Dod jawab kenapa lo bisa kaya gini" tanya Dewo lagi yang sudah duduk berdua di depan perapian bersama Dodi.
"Gua gak mungkin ngelakuin hal itu tanpa alasan Wo" jawab Dodi sambil menatap jauh ke depan, lalu menolehkan wajahnya ke arah Dewo yang terlihat menunggu jawaban.
"Apa alasannya kalo gitu ?" tanya Dewo mengerutkan keningnya semakin penasaran.
"Gua gak bisa ngasih tahu alasannya, sebaiknya bantu Wawan supaya cepat baikan. Setelah itu kita mulai perjalanan" ucap Dodi sambil membuang pandangannya ke arah Wawan.
Dewo yang masih digelayuti rasa penasaran segera pergi menghampiri Wawan, meninggalkan Dodi sendiri di depan perapian membiarkannya untuk menenangkan diri.
"Wan kaya mana keadaan lo ? Udah mendingan ?" tanya Dewo.
"Iya udah lumayan sekarang" jawab Wawan sambil mengusap hidungnya.
Dodi masih terlihat sendiri termenung di depan perapian, teman-teman lainnya hanya saling lirik merasa aneh dengan kelakuan Dodi malam itu.
Dalam situasi yang begitu canggung, terdengar suara wanita memanggil-manggil dari kejauhan.
"Wan wawaaaannnnn" terdengar suara centil cekikikan wanita, seperti menggoda sambil memanggil nama Wawan.
Wawan yang mengetahui betul siapa pemilik suara itu, langsung terbangun ketakutan. Mereka semua bergidik merinding mundur perlahan sambil memperhatikan kegelapan yang mengelilingi mereka.
"Wannnn Wawan, kamu jahat Wan. Leher aku sakit, sini dong lepasin kayu yang ada di leher ku" suara itu kembali terdengar dari arah kegelapan sambil tertawa-tawa.
Mereka semua terlihat begitu panik, mereka berkumpul berdempetan di depan perapian sambil menarik baju satu sama lainnya.
"Wo parang yang dititipin Mbah mana?" tanya Dodi kepada Dewo yang begitu pucat pasi ketakutan.
"Di situ Dod" jawab Dewo sambil menunjuk ke satu arah.
Dodi lekas keluar dari rombongan berlari menuju tempat parang yang dititipkan oleh wanita tua itu berada, mencoba meraih senjata untuk melindungi dirinya dan teman-temannya.
Dodi berputar mencari-cari di sekitaran tempat yang ditunjuk oleh Dewo, namun parang yang dimaksud belum juga ditemukan. Tak putus asa, Dodi terus mencari-cari keberadaan parang tersebut hingga terlihat lempengan besi itu tak jauh dari dirinya. Hanya berjarak beberapa meter saja, parang itu sudah dapat digapai oleh Dodi. Namun, dari kegelapan muncul jarik berwarna coklat tua dihiasi dengan atasan berwarna merah berdiri dekat dengan parang yang akan digapai oleh Dodi.
Dodi mengedarkan pandangannya dari bawah, dari ujung kaki hingga ujung kepala sosok tersebut. Wajahnya begitu mengerikan, rambutnya gimbal berantakan, matanya merah melotot marah. Wanita kebaya merah itu kembali menampakan dirinya dengan kayu yang tertancap di lehernya dengan mata yang seakan penuh dendam.
Turut berduka kak, semoga almarhum diterima disisi yg Maha kuasa, kakak & keluarga senantiasa diberikan keluasan hati serta kesabaran menerima takdir
Semangat kak ✊ lekas kembali melanjutkan cerita aku menunggu 😊
semangat ya
tetap semangat ya kak💪💪