Indah Della Safitri, wanita yang kini tak muda lagi harus melewati hari-harinya bersama penyakit yang baru saja ia ketahui.
Sklerosis Ganda adalah penyakit yang divoniskan oleh Syadam pada Della. Penyakit sklerosis ganda atau multiple sclerosis adalah gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang. Multiple sclerosis akan menimbulkan gangguan pada penglihatan dan gerakan tubuh.
Penyakit itu mulai menyapa Della, hingga membuat Della sangat menderita. Perjuangan Della untuk tetap hidup melawan rasa sakit itu juga menjadi poin utama pada cerita ini.
Yang lebih menyakitkan lagi bagi Della panggilan akrabnya yakni dokter yang menangani kondisi tubuhnya adalah mantan kekasih yang selama ini pergi meninggalkan Della. Dan apesnya, Della tak berdaya menghadapi dokter Syadam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dandalion
Meriahnya suasana pesta tak mampu menghibur keadaanku. Kebahagian yang hadir tak mampu membawaku kepada kepuasan yang sangat kuimpikan. Hingga kapankah aku akan seperti ini? Aku iri pada bunga dandelion yang terbang ditiup oleh semilir sang bayu. Meski ia telah gugur, tapi bunga yang memiliki nama latin Taraxacum itu masih tampak cantik saat kita memandangnya menari lepas di angkasa. Akankah aku menjadi seperti dandalion itu ketika aku mati nanti.
Aku merasa ajalku kian dekat, mungkin aku tak 'kan lagi bisa membahagiakan kedua orang tuaku yang sejak beberapa kali terakhir ini memintaku untuk segera melepas masa lajangku. Ayah, Ibu! aku bahagia menjadi salah satu manusia yang lahir dari dari pernikahan kalian. Maafkan aku yang mungkin tak bisa memberimu kebagian terakhir yang kalian inginkan.
Segera ku bergegas meninggalkan kamar mandi rumah orang ini dan segera pergi meninggalkan tempat ini secepat mungkin karena aku tak ingin melihat wajah penuh kesedihan Aluna.
Aluna, maafkan aku! Diriku ini tak bermaksud untuk menolak serta menghancurkan kebahagiaan dan kasih sayang darimu Nak! tapi ketidakmampuanku melawan penyakit ini menjadikanku sosok Tante yang menyedihkan untuk Aluna. "Ini semua kesalahku." rutukku pada diriku sendiri tepat di depan cermin rumah orang kaya ini.
Secepat mungkin aku mulai keluar dari bagian rumah orang lain ini. Dari arahan pekerja di rumah inilah aku bisa sampai ke tempat ini. Aku keluar dari rumah konglomerat ini secepatnya dan segera mencari batang hidung Andrian, sang dokter gigi idola semua penghuni rumah sakit yang saat ini menjadi teman pestaku.
Kaki ini melangkah pasti dan pandangan ini mulai menyapu tempat acara hanya untuk mencari keberadaan Andrian. Sejak kejadian itu, aku ingin segera pergi dari tempat terkutuk ini untuk membebaskan diriku.
"Siapa yang kamu cari?"
Aku berjingkrak dan terlonjak karena kaget mendengar sebuah pernyataan dari orang yang berada di belakang posisiku kini. Tanpa sadar aku menoleh ke belakang dan menemukan sosok dokter bedah syaraf itu sedang berdiri tepat di belakangku. Pria dengan setelan merah jambu itu memberiku tatapan penuh selidik yang terkesan cukup berbeda dari sebelumnya.
"Emm Andrian ..." Aku menjawabnya sambil menunjuk sembarang arah guna memperkuat jawabanku. Mungkin aku ragu, ya aku ragu mengapa ia mendatangi keberadaanku dan membuat hati ini salah tingkah.
"Aku sudah mengusirnya!" Syadam menjawabnya tanpa sedikitpun merasa bersalah padaku. Begitu mudahnya pria ini mengucapkan hal yang dianggapnya begitu remeh.
"Oh benarkah? Kalau begitu sebaiknya saya pamit juga!"
Kulirik ponsel yang saat ini masih berada di dalam genggaman tanganku. Aku mencoba menemukan jawaban yang sesungguhnya. Jawaban yang mampu menawarkan dahaga kekhawatiran dariku.
Kuberharap tak terjadi apa-apa dengan Andrian. Siapapun wanita beruntung nanti yang berhasil mendapatkan hatinya, sungguh kuharap ia akan menyayangi Andrian dengan sepenuh hati. Nyatanya baik aku maupun dia tak ada sebuah kejelasan dalam hubungan di antara kami berdua. Umpan pun disambut ikan, belum sempat aku menghubungi dokter gigi tampan nan rupawan itu sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselku. Beruntungnya pesan itu dari Andrian.
"Indah ... ada hal penting yang harus diselesaikan. Tetaplah di sana karena aku telah meminta Bu Nety untuk menemanimu, bila hal penting ini telah selesai aku akan kembali menjemput kamu."
Pesan dari Andrian ini terasa begitu menggoncang jiwa ini. Jiwa sepi yang baru saja terisi harapan, kini harus rela menelan pahitnya kehidupan. Dan aku tersadar dari lamunanku atas ucapan Syadam barusan, bahwa ia telah mengusir Andrian.
Tak ada alasan lagi aku tetap mendiami tempat ini. Tak ada sedikitpun hakku berada di sini. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk segera enyah jauh-jauh dari tempat ini. Lagipula kesadaran serta kekuatanku telah pulih seperti sedia kala.
"Sejak kapan kamu mulai merasakan gejala seperti tadi Dell?"
Syadam mengikuti langkahku keluar dari kediamannya. Karena kaki jenjangnya pria itu mampu memperpendek jarak di antara kami berdua hingga ia kini tepat berjalan di sampingku.
"Gejala apa? Aku nggak papa!"
Segera kupacu langkah ini secepat mungkin meninggalkan kediaman pria yang kini berjalan sejajar denganku. Lagi pula, aku tak ingin mengatakan apa yang saat ini kurasaan pada Syadam. Dia kira dia siapa? Jangan datang bila kau ingin menyakiti!
"Aku doktermu, dan akulah orang yang paling tahu keadaanmu!"
"Oke, oke aku tahu!"
Langkah kaki ini berhenti mana kala perjalan kami telah sampai di sisi kanan jalan besar tepat di depan rumah pria itu. Aku enggan melanjutkan pembicaraan dengan Syadam, saat ini hal yang paling aku pikirkan tak lain dan tak bukan adalah Andrian. Mungkinkah ia kecewa karena telah kutinggalkan terlalu lama di kamar mandi?
Untung saja takdir masih memihak padaku. Karena tanpa aku harus memohon agar Tuhan mengirimkan bantuan berupa kendaraan padaku, yakni taksi!
Segera saja aku melambaikan tanganku guna memesan kendaraan umum itu sebagai alat transportasi untukku.
"Della jangan main kucing-kucingan dengan saya!"
bentak pria itu padaku. Bukan berucap saja, Syadam juga menutup pintu belakang taksi saat aku ingin masuk ke dalamnya.
Heran! aku heran dengan sikapnya. Sikap yang tak biasa ini.
"Saya akan bayar biaya pembatalan pesanan ini!" Syadam lalu membuka dompet kulit dari dalam saku celananya dan mengulurkan beberapa lembar uang kertas pada supir taksi tersebut.
"Katakan padaku apa hubungan kamu dengan dokter Andrian?" pertanyaan dengan nada tinggi itupun tak pernah ku dapati dari diri Syadam sebelumnya. Kedua netra-nya membuka lebar seakan ingin membunuhku dengan tatapan itu.
"Dia temanku!"
"Jawab jujur Dell!"
"Atas dasar apa kau menginterogasi aku seperti ini? Kau pikir siapa dirimu?"
...****...
Derai gemuruh rasa memenuhi relung kalbu
Ketika secuil laku membeku memenuhi setiap penjuru
Gurau senda lesap terbawa ego mendalam
Seakan menjadi saksi luapan terpendam
Bermanja dalam sebuah kata
Waktu bersama tak mampu mengurai makna
Segala duka kini menekan seakan berteriak
Memaksa sesak menyeruak
Perlahan rindu menyusup setiap denyut jantung
Rasakan debar sepanjang hening
Cemburu tak terucap menyambar
Cengkrama pun jadi serasa hambar
Cemburu adalah bahasa yang susah di terjemahkan dalam bahasa apapun.
Meski cemburu adalah bagian
tanda dari sebuah cinta
Cemburu juga bisa sebuah belenggu dari cinta itu sendiri.
🌼🌼🌼
akuuu datang TOOR 🥰
semangat 💪🏻