Terkadang Tuhan mematahkan hatimu untuk menjauhkanmu dari jodoh yang salah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quemeela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Arsan
Hari ini aku mengajak Nina keluar, kami pergi bersama teman SMAku yang lain, entah mengapa setelah putus dari Arsan, aku jadi semakin Akrab dengan Nina, aku mampir di rumah Nina, selain aku ada juga pacarnya Nina, tak berselang lama, Arsan dan gadis itu juga pulang.
Gadis itu sibuk mencoba jilbab baru dan sepatu baru di depan kami semua, “wah, aku jadi semakin tinggi” dia menekankan kata tinggi saat mencoba sepatunya, “apa dia sedang menyindirku” gumamku dalam hati, aku hanya diam memperhatikan televisi tanpa mempedulikannya begitu pun Nina dan pacarnya, aku senang tidak ada yang mempedulikannya
Arsan mengantar gadis itu pulang, ponselku berbunyi, “jangan ganggu kak Arsan lagi” pesan dari nomor yang tak di kenal, gadis itu dari mana dia mendapatkan nomorku, pasti dia dapat dari Arsan, aku sangat sakit hati, aku mengatakan pada gadis itu, dialah yang harus menjauhi Arsan, karena aku yang lebih dulu dengan Arsan, aku juga mengatakan bahwa ibu Arsan tidak suka padanya, dan meminta aku untuk menjauhkan Arsan darinya, dia tidak merespon pesanku yang ku kirim panjang lebar
Aku tau aku tidak boleh membawa nama ibu Arsan dalam pertengkaran kami, namun amarah, kepedihan dan dia telah memaksaku melakukan ini
Aku sedang duduk di ruang tamu di rumah Nina, tiba-tiba Arsan menyodorkan ponsel ke arahku, “kamu yang mengirim pesan ini” ujar Arsan marah, “i,,iya” jawabku gugup, “kenapa kamu bawa-bawa nama mama” tanya Arsan lagi dengan nada yang lebih marah lagi, “aku tidak punya pilihan, dia yang yang menghubungiku dengan tidak sopan duluan” ujarku membela diri, “tapi kamu jangan bawa nama mama, kamu tau dia menangis padaku, dan
mengatakan mama tidak suka padanya” ujar Arsan kesal, dia terlihat sangat kacau sekali, “tapi itu kenyatannya Arsan” jawabku tegas, dia terlihat bingung, tidak tau harus berkata apa lagi, dia berpaling dan menutup pintu kamarnya dengan keras.
Terdengar dari luar, dia sedang melampiaskan kemarahannya di dalam kamar, dia melempar beberapa barang, aku merasa ketakutan mendengarnya, walaupun sudah satu tahun lebih mengenalnya aku tidak pernah melihatnya semarah ini, banyak sekali sifat Arsan yang baru ku ketahui setelah putus dengannya, “aku ingin pulang” gumamku lirih
Tak lama kemudian, datang teman Arsan, dia adalah Ilham, laki-laki berbadan kekar, mahasiswa veteran di kampus, dia sudah semester 12 namun belum lulus juga, diantara teman Arsan yang lain, aku paling akrab dengannya, dia sering meminta bantuanku, karena aku punya keahlian dalam bidang elektronik, dia meminta bantuanku untuk memperbaiki ponselnya.
“aku ingin pulang” bisikku pada Nina, Nina mengernyit dan menggelengkan kepalanya, aku tidak ingin berlama-lama lagi disini bagaimana kalau Arsan menyakitiku, aku tetap ingin pulang walaupun Nina tidak menginzinkanku, “kak antar aku pulang” pintaku pada Ilham, “ayo” jawab Ilham
Aku bersiap ingin pulang, tiba-tiba Arsan membuka pintu kamarnya, aku katakutan, aku bersembunyi di belakang Ilham, yang kebetulan tadi berada di depanku, aku takut Arsan akan menyakitiku
“Jangan pulang, kamu disini aja” ujar Arsan, aku kaget, aku kira dia marah padaku dan ingin menyakitiku, tapi entah kenapa dia melarangku pergi, “tapi, aku ingin pulang” ujarku kaku, aku masih merasa ketakutan, “kamu tau aku sedang marahkan? Apa kamu ingin aku lebih marah lagi?” tanya Arsan muram, dia terlalu mengintimidasiku, aku hanya menggelengkan kepalaku, “bagus, kalau begitu menurutlah, jangan pergi, malam ini menginap saja disini bersama Nina”
Ilham dan pacar Nina sudah pergi, Nina berada di kamar mandi, sedangkan aku masih duduk di kursi di ruang tamu, sambil memandang ke layar tv yang ada di depanku, Arsan duduk di depanku, dia kemudian menggenggam tanganku, aku hanya memperhatikan apa yang akan dilakukannya, dia membawa tanganku mendekat ke wajahnya “maaf” ucapnya lirih, kemudian dia mencium tanganku
Dia baik padaku jika tidak ada gadis itu, mungkin akan lebih baik jika dia mengusirku pergi, namun dia malah meminta aku yang tidak bisa pergi untuk tetap tinggal, dia bisa lepas dariku, tapi dia tak ingin aku lepas darinya