NovelToon NovelToon
My Posesif Brothers And Husband

My Posesif Brothers And Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:19.5k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyyah Ramadhani

Halo guys! ini karya pertama aku, jadi jika masih banyak typo mohon di maklumi yah😄




Bagaimana jadinya jika kalian mempunyai saudara-saudara yang sangat menyayangi juga memanjakanmu tapi juga sangat posesif padamu. Tentu saja kalian pasti sangat senang karena selalu di sayangi dan di perhatikan tapi kalian juga pasti agak kesal karena keposesifan mereka bukan?

Itulah yang di rasakan oleh Seorang gadis cantik bernama AQUEENA PUTRI REVANO di adalah putri satu-satunya di keluarga REVANO. Dia memiliki Tiga orang Abang yang sangat menyayangi tapi juga posesif padanya. Di tambah lagi dia menikahi seorang pria tampan yang sudah menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya, dia juga sangat mencintai dan menyayangi Queen tapi jangan lupakan keposesifannya pada Queen. Dia adalah ALVIANO DAVID DANENDRA.

Penasaran dengan ceritanya?
Silahkan buka dan baca ceritanya
Jangan lupa like dan komen yah 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyyah Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan Menyentuh Hati

Kediaman Revano

Malam datang cepat. Hujan ringan mulai turun, membasahi kaca jendela kamar Aqueena. Di luar, suara air menyentuh genteng terdengar seperti bisikan-bisikan yang menenangkan, tapi tidak untuk hatinya. Queen duduk sendirian di atas ranjang, berselimut hangat, ditemani cahaya redup lampu meja dan secangkir teh yang tak tersentuh.

Ponselnya tergeletak di atas buku jurnalnya. Ia belum membuka pesan terakhir dari Alviano sejak pagi.

“Kalau aku datang besok, kamu mau dengar aku bicara?”

Ia hanya membalas "Aku gak janji."

Dan setelah itu… tidak ada lagi pesan. Tidak ada tanda tanya. Tidak ada permintaan lanjut.

Tapi entah kenapa, Queen merasa seperti sedang menunggu. Menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu bentuknya.

 

Sementara itu — kediaman Danendra

Alviano duduk di kursi kerja kamarnya, layar laptop menyala tapi tak disentuh. Jari-jarinya bermain dengan pena hitam, sesekali ia mengetuk meja pelan. Ada ratusan hal di pikirannya, tapi satu wajah tak bisa pergi dari sana.

Aqueena.

Dia mengerti Queen sedang berusaha menjaga hatinya. Tapi itu bukan alasan untuk membiarkannya terluka dalam diam.

Lalu ia mengetik sesuatu. Bukan sekadar kalimat pendek. Tapi pesan panjang.

Pesan yang mungkin tidak akan dibaca. Tapi ia ingin Queen tahu.

 

Pukul 21.47

Queen mendengar bunyi notifikasi. Jantungnya otomatis bereaksi. Ia mengambil ponsel… dan benar.

Dari Alviano.

Pesan panjang. Terlihat dari pratinjau.

Dengan ragu, ia membuka.

Aqueena,

Aku tahu kamu mungkin muak dengan semua ini. Mungkin kamu berpikir aku pengecut karena diam saat kamu marah. Atau kamu mengira aku sengaja membiarkan semuanya menggantung. Tapi tidak.

Hari itu... saat kamu melihatku dengan Nadine, kamu mungkin berpikir aku milik masa lalunya. Padahal kenyataannya, dia bukan bagian dari masa laluku, karena aku bahkan tak pernah membiarkannya masuk sejak awal.

Aku tahu kamu tidak percaya begitu saja. Dan kamu berhak untuk itu.

Tapi aku ingin kamu tahu, aku bukan pria yang mudah tertarik. Aku tidak mencari, dan aku tidak mengejar. Sampai kamu datang. Tiba-tiba. Tanpa aba-aba.

Aku tidak tahu sejak kapan, tapi kamu mengganggu pikiranku. Senyummu. Nada suaramu. Bahkan caramu bicara ketus. Kamu bukan perempuan pertama yang hadir di sekitarku, tapi kamu yang pertama membuatku ingin belajar mengenal lebih jauh.

Dan untuk seseorang sepertiku, itu bukan hal biasa.

Aku tidak tahu bagaimana cara membuatmu percaya. Aku bahkan belum tahu apakah kamu akan membiarkanku bicara. Tapi jika kamu memberi aku waktu bahkan hanya lima menit aku akan bercerita. Bukan untuk memaksa kamu kembali bicara. Tapi agar kamu tahu… apa yang aku rasakan bukan main-main.

Jika malam ini kamu belum siap, tidak apa-apa. Tapi besok aku akan datang. Aku akan berdiri di depan restoran kamu, sendirian. Menunggu. Dan jika kamu tidak muncul, aku akan pulang. Tapi jika kamu datang… aku akan anggap itu sebagai tanda bahwa kamu masih memberi aku kesempatan.

Alviano.

 

Queen menatap layar ponsel lama sekali. Jantungnya tak berhenti berdetak cepat. Setiap kalimat terasa seperti pelukan yang menyentuh sisi rapuhnya. Ia menelan ludah.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Lalu… satu tetes jatuh.

Disusul tetes kedua.

Lalu ketiga.

Tangisnya pecah dalam diam.

“Kenapa kamu bisa ngomong sejujur itu sekarang...” bisiknya dengan suara bergetar.

Ia menutup wajah dengan tangan. Tak ingin suaranya terdengar oleh siapa pun di rumah.

 

Sementara itu — ruang tengah rumah Revano

Alvaro yang sedang menyeduh kopi malam-malam, menatap ke arah tangga dengan dahi mengernyit.

Ia mendengar langkah kaki Queen naik turun, lalu suara pintu ditutup pelan.

Alex melintas dari ruang kerja dan ikut mendengar.

“Queen?” tanya Alex singkat.

Alvaro mengangguk. “Sepertinya.”

Mereka saling berpandangan. Keduanya tahu... adik mereka sedang tidak baik-baik saja. Tapi Queen bukan tipe yang bisa ditekan untuk bercerita. Ia harus didekati dengan waktu, dan penuh kesabaran.

 

Kembali ke kamar Queen

Ia membuka jendela sedikit, membiarkan udara dingin masuk. Ponsel masih di tangannya.

Ia membaca pesan itu lagi. Kalimat demi kalimat.

Ia tidak membalas. Tidak malam itu.

Tapi pikirannya sudah melayang ke esok hari.

Ke depan restorannya.

Ke kemungkinan bahwa pria itu benar-benar akan menunggunya.

Dan entah kenapa…

Hatinya ingin percaya.

 

Kamar Queen

Waktu menunjuk pukul 23.56.

Queen masih duduk di tepi tempat tidurnya, memeluk lutut. Ponsel diletakkan di samping bantal, pesan itu masih terbuka.

Angin malam menyelinap lewat celah jendela yang terbuka. Rambut panjangnya sedikit terurai berantakan, tapi dia tidak peduli.

Untuk pertama kalinya, dia tidak berusaha terlihat baik-baik saja.

Tangisnya telah berhenti. Tapi matanya masih sembap, kelopak merah, dan pipinya dingin. Dia merasa... kosong. Tapi juga penuh.

Penuh dengan emosi yang tidak dia pahami.

Dia ingin marah.

Tapi juga ingin memeluk.

Dia ingin menolak.

Tapi juga ingin mendengar langsung suara pria itu esok hari.

"Kenapa... kenapa harus kamu yang datang tiba-tiba?" bisiknya pelan.

Ia memeluk diri sendiri.

Kalau boleh memilih, Queen ingin semua ini tidak pernah terjadi. Ingin ia tidak pernah bertemu pria bernama Alviano. Karena sejak kehadiran itu, semuanya berubah.

Dulu, ia tahu siapa dirinya. Ia tahu batas-batas yang ia buat. Tapi sejak Alviano masuk, batas itu mulai kabur. Emosi yang dulu mudah ia kendalikan, kini berubah liar hanya karena satu pesan.

 

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pelan di pintu mengejutkan Queen.

Ia buru-buru menyeka matanya, mengatur napas. "Siapa?"

“Mommy, sayang.” Suara lembut dari luar.

Queen menatap jam. Hampir tengah malam. Kenapa Mommy belum tidur?

Pintu terbuka pelan. Clara Alesya Revano masuk sambil membawa secangkir susu hangat.

“Aku lihat lampu kamarmu masih menyala,” ucapnya pelan. “Kamu belum tidur?”

Queen menggeleng pelan. “Enggak ngantuk, Mom.”

Clara duduk di samping ranjang, menatap wajah anak gadisnya yang terlihat jelas sedang menyimpan sesuatu.

“Matamu merah,” ujar sang ibu pelan.

Queen menggigit bibir. Ia terlalu lelah untuk berbohong. Jadi ia hanya mengangguk pelan.

Mommy tidak mendesak. Ia hanya menyodorkan susu itu. “Minum ini dulu.”

Queen menerimanya. Hening sejenak di antara mereka.

“Aku bingung, Mom,” gumam Queen akhirnya.

Clara menatapnya lembut. “Tentang perasaan kamu?”

Queen terdiam. Lalu mengangguk.

“Seseorang membuat kamu merasa... rapuh?”

“Lebih dari itu, Mom,” suara Queen pelan. “Aku merasa... seperti aku sedang berdiri di tepi jurang. Dan dia adalah satu-satunya yang bisa menarik aku mundur, atau... menjatuhkanku lebih dalam.”

Clara menarik napas pelan, lalu menggenggam tangan putrinya.

“Sayang, mencintai seseorang bukan tentang kepastian di awal. Tapi keberanian untuk bertahan saat kamu belum punya jawabannya. Kalau dia berniat datang padamu untuk menjelaskan, dengarkan. Bukan karena kamu lemah, tapi karena kamu kuat untuk memilih.”

Queen menatap ibunya. “Tapi... kalau semua ini hanya bikin aku makin terluka?”

“Berarti kamu pernah mencoba. Dan kamu tahu batas hatimu sendiri.”

 

Malam itu, setelah Mommy meninggalkan kamar, Queen membuka pesan Alviano sekali lagi.

“...aku akan berdiri di depan restoran kamu, sendirian. Menunggu.”

Ia mengembuskan napas panjang.

Apakah ia akan datang esok hari?

Apakah ia punya cukup keberanian untuk melihat mata pria itu dan berkata, “Aku mau dengar kamu bicara”?

Ia tidak tahu.

Tapi malam itu, Queen menuliskan satu kalimat di jurnalnya

“Kalau dia benar-benar datang, mungkin… aku akan memberinya waktu lima menit.”

 

Keesokan paginya — pukul 07.12

Langit masih abu-abu. Hujan semalam menyisakan tanah basah dan embun di kaca jendela. Queen berdiri di depan cermin panjang kamarnya. Tidak mengenakan gaun mahal atau riasan tebal.

Hanya kemeja putih longgar, celana kulot krem, dan rambut yang diikat rendah. Wajahnya segar, meski sembap matanya masih sedikit terlihat.

Ia berdiri lama di sana.

Lalu mengambil ponsel, membuka galeri foto.

Tidak ada foto mereka. Tidak ada swafoto berdua. Tapi ia berhenti di satu gambar tangkapan layar dari peta lokasi restoran... yang dulu dikirim Alviano saat dia tanya alamat lengkap restoran milik Queen.

Ia tersenyum kecil.

Dan untuk pertama kalinya...

Queen berharap...

seseorang benar-benar akan datang.

 

1
🍾⃝ ͩɪᷞᴄͧᴀᷡ ͣ§͜¢•🦢🍒𝐁⃟⃝ᰲ⃞ca⚔
lanjutttt kaaaa
🍾⃝ ͩɪᷞᴄͧᴀᷡ ͣ§͜¢•🦢🍒𝐁⃟⃝ᰲ⃞ca⚔
lanjutttt kaaa gregett bangetttt sumpahh
🍾⃝ ͩɪᷞᴄͧᴀᷡ ͣ§͜¢•🦢🍒𝐁⃟⃝ᰲ⃞ca⚔: wkwk ok ka
total 2 replies
🍾⃝ ͩɪᷞᴄͧᴀᷡ ͣ§͜¢•🦢🍒𝐁⃟⃝ᰲ⃞ca⚔
lanjuttt kaaa apa sii niatnya Elvira sumpah kek ga tau malu pen rebut suami orang
🍾⃝ ͩɪᷞᴄͧᴀᷡ ͣ§͜¢•🦢🍒𝐁⃟⃝ᰲ⃞ca⚔: wkwkwk emang ka
total 2 replies
🍾⃝ ͩɪᷞᴄͧᴀᷡ ͣ§͜¢•🦢🍒𝐁⃟⃝ᰲ⃞ca⚔
lanjuttttt kaaaa
Shofiyyah: okeii author lgi proses nulis ini
total 1 replies
Anonim
sangat bagus dan luar biasa, mulai dari penggunaan kosakatanya yang teratur dan jalan ceritanya yang tidak berbelit-belit😍
F_NL
liat tokoh2nya berasa halu kuadrat...oppa2 ganteng 🤩
Yeojax Swag
next, semangat
sooya
next smngt
Shofiyyah: balikk kakk, ini sudah aku lanjut lagii
total 1 replies
soyaaa__
Lanjut..
Shofiyyah: Oke nnti aku next👌😊
total 1 replies
soyaaa__
aku mampir😊
Shofiyyah: Terimakasih sudah mampir di novel author 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!