JANGAN DIBACA!!!
ASLI, BUKAN TIME TRAVEL, YA!
HANYA KISAH ASAL PENUH PERKETYPOAN!
KALAU UDAH BACA, YA JANGAN NYESEL! BISA MENYEBABKAN MUAL DADAKAN, GANGGUAN SUSAH TIDUR, DIABETES BERLEBIHAN, DAN BUCIN DADAKAN.
(Gejala di atas berdasarkan survey dari zaman kuno hingga saat ini).
Bagai bulan yang tertutup awan, aku harus membuang semua hal tentangku, semua jati diriku, dan melanjutkan hidup sebagai kembaranku sendiri.
Terasa susah. Namun, itulah yang harus kulakukan. Hanya karena paksaan sang ayah dan juga kesalahan yang sepenuhnya bukan milikku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Heboh, Gila, Luar biasa!
Perkenalan singkat Rian di pagi hari membuat ribut sebagian karyawan. Tentangan pasti ada karena usia Rian yang terbilang masih muda, tapi banyak karyawan yang angkat tangan. Mereka berpikir, terserah yang punya perusahaan mau mengangkat siapa, mau dikasih jabatan apa, asal kerjaan mereka tak terganggu, itu tak masalah sama sekali buat mereka. Kebanyakan golongan diam saja, mereka hanya memperhatikan apa yang akan dilakukan Rian sebagai karyawan baru di perusahan.
Rian mengurus semua masalah kantor ayahnya dengan cepat, dengan kuasa yang diberikan oleh Herman, dia telah memecat beberapa karyawan yang terbukti menggelapkan dana perusahaan. Semua bukti bisa dia dapatkan dari hasil dia membaca dokumen-dokumen yang diberikan oleh sekretaris ayahnya.
Salah satu direktur yang telah lama bekerja di perusahaan ayahnya pun terkena pemecatan secara tak hormat, protes jelas dilakukan. Orang itu bahkan mendatangi ruangan bosnya, Herman. "Anda tak bisa berbuat seperti ini kepada saya?" katanya penuh emosi setelah membuka pintu hingga menimbulkan suara yang nyaring.
"Dia masih bocah! Hanya karena dia anak anda, bukan berarti dia lebih bisa dipercaya dan dibiarkan berbuat semaunya?!" lanjutnya berteriak sambil menunjuk Rian yang baru saja memasuki ruang kerja ayahnya dengan santai.
"Maaf, meski saya masih muda, tapi saya paham tak ada perusahaan yang ingin memelihara tikus yang menggerogoti kantong perusahaan!" balas Rian disertai senyum simpul.
"Itu tidak benar! Saya sangat setia pada perusahaan! Kamu hanya asal melakukan apapun yang kamu inginkan, bukan?" desaknya mengelak.
"Sayangnya saya memiliki bukti kesalahan anda, tuan!" kata Rian sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang memegang map coklat.
"Buk–bukti itu bisa saja kamu palsukan! Ya, benar, itu pasti palsu!" kata orang itu dengan nada suara yang bergetar.
Rian menatap tajam orang tersebut. "Jika anda masih memiliki rasa malu, maka diamlah!" desis Rian dengan suara datar.
"Lihat, anak anda tak bisa mengatakan apapun karena saya benar!" ucap orang itu tak mau mengaku, dia malah ingin membuat Rian yang disalahkan.
Herman mengangkat tangannya, membuat karyawan yang ada di depannya diam. "Saya tak menyangka anda juga terlibat!" ucapnya tegas.
"Pergilah! Apa yang diputuskan Rian, itu juga keputusan saya!" lanjut Herman sepenuhnya mengabaikan karyawan di depannya.
"Ta–ta–tapi ...," ucap orang itu gugup, dia masih ingin membela diri.
"Pergi sebelum keamanan mengusir anda!" potong Herman cepat.
Orang itu tersentak kaget, kemudian dia pergi meninggalkan ruangan Herman. "Jangan lupa kembalikan apa yang sudah masuk ke kantong anda, tuan! Atau kami akan menempuh jalur hukum untuk mendapatkannya kembali," ucap Rian mengingatkan dengan suara sedikit keras.
Usai orang tadi pergi, Rian duduk di kursi yang ada di depan ayahnya. Tentu saja itu perintah sang ayah. "Dalam satu hari kamu hampir menyelesaikan semua kekacauan di sini. Hebat sekali, Rian!" puji Herman.
"Rian hanya tak suka membuang waktu untuk hal percuma dad," balas Rian cepat.
"Ho-ho, anak pintar, anak pintar! Kamu itu kebanggaan kami satu-satunya, Rian!" timpal sang ayah dengan nada ceria. Sungguh puas rasanya memiliki anak yang hebat, membanggakan, cekatan, dan pintar. Tentu saja masih banyak hal bagus lainnya yang tak bisa dijabarkan secara detail tentang anaknya itu.
"Rian kembali dulu, dad!" kata Rian, dia pergi setelah sang ayah mengangguk. Rian sama sekali tak menanggapi perkataan Herman tentangnya barusan, dia tahu pujian tadi bukan miliknya. Rian berjalan kembali ke ruangannya diiringi berbagai tatapan dari para karyawan, bisik-bisik terdengar membuat keributan kecil tentang dirinya yang terlalu berani mengeluarkan para karyawan di perusahaan dalam satu hari.
Rian tak peduli, dia hanya ingin semuanya cepat selesai. Dia terlalu malas merespon bagaimana orang lain akan menanggapi apa yang dia lakukan. Dia tak salah, dia hanya mengeluarkan hama yang menggangu. Para atasan yang menggelapkan dana, memasukkan uang dari sana-sini ke kantong masing-masing. Atasan yang tak bekerja, tapi mendapatkan bonus dari hasil kerja bawahannya. Atasan yang suka mengganggu karyawan wanita dan berbuat jahat pada karyawan pria. Atasan yang tak pernah ada di tempat, padahal bawahannya lembur setiap saat. Rian hanya mengeluarkan orang-orang jahat tak tertolong dan membuat perusahaan lebih nyaman dan bersih.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Rian pulang pukul sembilan malam, dia lembur menyeleksi siapa saja yang bakal didepaknya besok. Desita menyambut kepulangan anaknya dengan sukacita. "Rian, kamu pulang terlalu malam, sayang," ucapnya sambil memeluk singkat sang anak.
"Mommy belum tidur?" ucap Rian tak membalas pelukan ibunya.
"Bagaimana bisa tidur, kalau anak kesayangan mommy belum pulang?" balas Desita cepat.
"Daddy mu saja pulang tepat waktu, kenapa kamu harus lembur, Rian?" lanjut Desita.
Rian tersenyum tipis. "Ada yang harus Rian selesaikan, mom!" kata Rian.
Desita mengangguk. "Kamu sudah makan? Kalau belum, mau mom suruh pelayan siapkan?"
"Tak perlu, mom. Rian susah makan tadi," ucap Rian.
"Rian mau istirahat saja, ya mom," lanjut anak itu. Desita mengangguk, membiarkan Rian kembali ke kamarnya.
Di kamarnya, Rian langsung mandi dan kemudian berbaring di tempat tidur. Dia terlalu lelah untuk melakukan hal lainnya, hanya beberapa detik setelah kepalanya menyentuh bantal, Rian telah jatuh tertidur dengan nyenyaknya.
Keesokan harinya, gosip baru mulai menyebar. Gosip yang tadinya menyatakan Rian tak bisa apa-apa selain mengandalkan dukungan ayahnya untuk mencari kesenangan di perusahaan. Kini berubah menjadi gosip tentang tuan muda yang tampan dan berbakat, karyawan lain puas dengan keputusan anak muda itu. Dengan memecat atasan yang tak bertanggung jawab, Rian telah membuat suasana kerja yang lebih produktif. Sang ayah juga mengatakan, jika Rian bisa menunjuk seseorang untuk mengisi posisi kosong yang ditinggalkan oleh beberapa atasan. Tentunya sesuai pengamatan Rian sendiri, mau itu masih muda, karyawan baru, pria, atau wanita, tak masalah. Asal semua Rian yang pilih, maka Herman akan menyetujuinya.
Kini mereka seperti memiliki ikon untuk perusahaan tempat mereka bekerja. Idola baru yang diutus untuk memberantas masalah yang tersembunyi di sudut perusahaan. Tindakan Rian terlalu hebat, keberanian anak muda itu termasuk gila, dan apa yang dilakukannya kemarin membuat kehebohan yang tak bisa dikatakan kecil. Terlalu heboh bahkan, bukan hanya menjadi gosip di kantornya, tapi kantor lain pun juga menceritakan hal ini. Tentunya dengan penjelasan dengar dari teman atau kerabat yang bekerja di sana, begitulah alasan mereka bisa bergosip.
Sekali lagi Rian tak peduli dengan gosip yang beredar. Mau baik atau buruk semua tak masalah baginya. Dia tak bisa membuat semua orang menyukai dan mendukung apa yang dia lakukan, pasti ada pihak yang tak suka padanya, bukan.
ayang bebeb disuruh jd tukang parkir 😝😝😝😝