Cinta monyet yang meninggalkan luka dan trauma di hati seorang pemuda bernama Ahmad Dzaki. Karena perasaan bersalah atas apa yang menimpa wanita yang dicintainya, Dzaki memilih menjauh dan berubah menjadi sosok arogan, kasar dan dingin.
Setelah 18 tahun, akhirnya Dzaki bertemu kembali dengan Aleya, gadis yang dicintainya. Namun pertemuan itu justru semakin membuat Dzaki sakit hati dan menyesal. Akankah Dzaki dan Aleya bisa bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilmi Syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Hati ke Hati (2)
"Halo.."
"Aleya"
"Haloo.."
Aleya masih menatap Dzaki, meminta Dzaki untuk membuka kunci pintu mobil untuknya.
"Aleya, kamu baik-baik aja kan"
Dzaki tahu kalau orang yang menelepon itu adalah Beni, ada perasaan tidak rela di dalam hatinya. Tapi dia tidak ingin memperkeruh suasana.
Klik, suara kunci pintu mobil terbuka, Aleya menghela nafasnya
"Halo iya mas" Aleya keluar dari mobil
"Kamu lagi ngapain, mas kira ada apa-apa tadi"
"Aku gak papa kok mas"
"Kamu lagi dimana? Udah pulang kan?"
"Aku masih diluar mas"
"Diluar? sama siapa?"
Aleya menelan ludahnya
"Sama Pak Dzaki mas, Pak Dzaki mau ngomong sesuatu sama aku"
"Udah selesai belum?"
"Udah mas"
"Ya udah, kamu kirim alamatnya, mas yang jemput kamu, mas berangkat sekarang"
"Gak usah mas, nanti malah jadi gak enak sama Pak Dzaki" Aleya menolak dengan lembut
"Aleya, mas khawatir sama kamu"
Setelah meyakinkan Beni bahwa dia baik-baik saja, akhirnya Beni mengalah dan membiarkan Aleya pulang diantar oleh Dzaki.
Aleya sudah duduk kembali di dalam mobil, tatapannya tertuju pada layar besar yang ada di depannya. Layar besar itu sedang menampilkan sebuah film komedi romantis, biasanya dia akan tertawa sampai mengeluarkan air mata jika menonton film komedi bersama Dinda. Tapi kali ini otaknya sedang tidak merespon cerita lucu itu.
Dia teringat kata-kata terakhir yang Beni ucapkan sebelum menutup telepon
"Mas percaya sama kamu, Aleya. Kali ini mas mengerti, tapi tolong jangan terlalu sering membuat mas cemburu seperti sekarang"
Beni mengucapkannya dengan sangat lembut, tapi kalimat itu menancap tepat di hati Aleya.
"Aku menolak tawaran Mas Beni karena merasa gak enak hati sama Pak Dzaki, tapi aku nggak menjaga perasaan Mas Beni di saat yang bersamaan, maafin aku mas" gumam Aleya.
Dadanya memanas, air mata sudah tergenang di pelupuk matanya.
"Pak, boleh kita pulang sekarang?" tanya Aleya.
"Ok" Dzaki menyalakan mesin mobil, mulai melaju meninggalkan bioskop menuju rumah kontrakan Aleya
Tidak ada percakapan antara mereka selama perjalanan pulang. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Mobil sudah terparkir di depan gang tempat kontrakan Aleya. Gangnya hanya muat untuk sepeda motor sehingga mau tidak mau Dzaki hanya bisa mengantarnya sampai di ujung gang itu.
Sebelah tangan Aleya sudah memegang pintu mobil, bersiap membukanya dan segera menyelamatkan diri dari suasana yang membuatnya sesak.
"Makasih pak" Ucap Aleya sambil bersiap membuka pintu mobil
"Aleya" suara Dzaki serak dan terdengar sangat berat
Aleya kembali memutar badannya yang sudah siap melarikan diri, dia menatap Dzaki yang berdehem beberapa kali, ingin menormalkan pita suaranya yang tiba-tiba ikut tegang.
"Aku boleh nanya sesuatu?" tanya Dzaki kemudian
Aleya melihat ke sekeliling, takut kalau ada yang melihat mobil mereka terparkir terlalu lama dan mengundang pikiran buruk tentang mereka.
"Kamu pernah gak rindu sama aku?"
Aleya melongo menatap Dzaki, tidak habis pikir jika pria yang ada di depannya menanyakan hal seperti itu. Aleya hanya diam, dia terguncang dengan pertanyaan Dzaki yang sangat tiba-tiba
"Kamu tahu kan kalau aku sayang sama kamu?" Lanjut Dzaki
Aleya hanya diam, pikirannya kacau, hatinya tiba-tiba gamang.
"Aleya"
"Aleya, tatap aku" Dzaki terus memborbardir Aleya yang mematung menatap tangannya yang sudah dia remas sendiri sejak tadi.
Aleya menoleh lalu membalas tatapan Dzaki, air mata sudah tergenang di pelupuk matanya, bibirnya gemetar.
"Sama sekali gak ada kesempatan buat aku?" Suara Dzaki lirih, ada rasa putus asa yang tersirat dari tatapannya. Dzaki yang selama ini dikenal dingin dan angkuh kini terlihat tidak berdaya, benar-benar lemah karena merasakan sakitnya patah hati.
Merasakan kesedihan Dzaki dari tatapan matanya membuat perasaan Aleya menjadi semakin tidak karuan.
Aleya tidak menjawab satupun pertanyaan yang dilontarkan Dzaki, bukan tidak mau tapi dia tidak tahu harus memilih jawaban yang seperti apa. Aleya membuka pintu mobil.
"Saya permisi pak" Aleya pamit
"Kamu sayang sama Beni, kamu yakin bisa bahagia dengan dia?" Dzaki kembali memberikan pertanyaan yang memojokkan Aleya.
"Jangan bawa-bawa nama Mas Beni" entah kenapa Aleya merasa sakit hati. Benteng pertahanan Aleya runtuh, air matanya tumpah membasahi pipinya.
Kini dia menatap tajam ke Dzaki.
"Setidaknya mas Beni nggak pernah ninggalin aku"
"Kalau kamu sayang sama aku, kenapa kamu pergi? Kenapa baru muncul sekarang untuk minta maaf sama aku, kenapa nggak minta maaf dari dulu? kemana kamu selama ini? kemana kamu saat aku butuh kamu?" suara Aleya pelan namun penuh penekanan.
"Aku minta maaf Aleya, aku salah, aku mau memperbaiki semuanya" Dzaki mencoba memegang tangan Aleya, tapi langsung ditepis.
Aleya tidak peduli dengan ucapan Dzaki, dia menutup wajahnya, sambil sesegukan
"Aku dengan bodohnya menyalahkan diri sendiri karena pergi begitu saja, tapi ternyata kamu yang ninggalin aku, Dee. Kamu gak tahu berapa kali aku berharap kamu datang mencari aku" Aleya semakin terisak
Tanpa Dzaki sadari, air mata sudah membasahi pipinya. Dia tidak pernah menyangka telah meninggalkan luka yang begitu menyakitkan untuk Aleya.
Tangannya meremas setir mobil dengan keras, ingin rasanya dia menggenggam tangan Aleya, memeluknya erat. Tapi itu pasti akan membuat Aleya semakin benci padanya.
Aleya menarik nafas
"Bagi aku semua hanya masa lalu. Perasaan kamu mungkin hanya rasa bersalah yang disalah artikan. Dan juga..."
Aleya menelan ludahnya, suaranya tercekak
"Kamu seharusnya memperbaiki diri kamu terlebih dulu"
Aleya menghela nafasnya lalu meninggalkan Dzaki. Air matanya sudah tidak bisa dibendung. Ada sedikit rasa sesal yang muncul dalam hatinya membayangkan Dzaki yang mungkin akan sakit hati setelah mendengar ucapannya, tapi jauh di dalam lubuk hatinya dia berharap Dzaki bisa menjalani kehidupannya dengan lebih baik.
Aleya berjalan menyusuri gang menuju rumah kontrakannya sambil sesegukan.
Baru saja Aleya memasuki pekarangan rumah, dia sudah disambut oleh Beni dan Dinda yang sedang duduk di teras.
"Kamu kenapa nangis?" Dinda panik, sementara Beni hanya menatap Aleya tanpa mengatakan apapun. Keningnya berkerut, dia terlihat cukup emosi melihat Aleya menangis seperti itu, terutama karena Dzaki.
"Kamu duduk dulu, aku ambilin air minum" Dinda meninggalkan Aleya dan Beni di teras
Ditengah perasaannya yang masih kacau, Aleya bingung menghadapi Beni yang diam seribu bahasa. Aleya sesekali menarik nafas panjang, dan mengusap matanya yang masih sembab.
"Minum dulu Aleya", Dinda menyodorkan segelas air putih ke Aleya
"Kalo gitu kalian ngobrol aja, aku masuk dulu ya Mas Ben" Dinda mengusap punggung Aleya yang masih minum, berharap sahabatnya bisa merasa lebih baik
"Makasih Din" Ucap Beni tenang
Setelah Dinda masuk, Beni masih saja diam
"Sebaiknya mas pulang dulu, aku gak papa kok. Aku juga bakal tepatin janji aku mas" Ucap Aleya menunduk
"OK, sebaiknya kita bicara setelah kita berdua tenang" Beni secara tidak langsung mengakui bahwa dirinya juga sedang kalut.
Beni berdiri dari tempat duduknya
"Aleya.. Mas harap ini terakhir kalinya melihat kamu nangis karena laki-laki lain" Ucap Beni datar lalu berjalan menuju sepeda motornya yang terparkir di dekat teras.
Aleya merasa seperti di tampar oleh kata-kata Beni, wajahnya terasa panas dengan perasaan yang tidak menentu.
Dia lalu masuk ke kamarnya dan langsung membenamkan diri di kasur. Setelah merasa cukup tenang, Aleya menuju kamar mandi yang terletak di samping dapur. Membersihkan diri, berganti pakaian lalu menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Di penghujung shalatnya, Aleya berdoa sambil terisak.
Bersambung...
Sudah Ku tinggalkan like banyakkk juga.dan fav
Ku juga menunggumu di Karya Ku ...Saling Dukung yukk....
MAKASIH..
..Banyakkk