Haii, ayuk dukung saya.
Disini saya akan menceritakan kisah cinta pertama Ayra Syifania dengan seorang cowok.
Pertemuannya dengan seseorang yang bernama Arsen.
Saat melihat wajah cantik dan lugu Ayra, membuat nya tertantang untuk mendekati gadis itu.
Tapi apakah usahanya berhasil?
Bagaimana cerita cinta mereka dimulai.
Kita coba baca yuk... 😚😚
Cerita ini hanya cerita fiktiv jika ada kesamaan tempat dan nama tokoh, itu faktor ketidaksengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Aɪɴᴜʀ Rᴏʜᴍᴀɴ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
"Ngeselin banget. Punya Keponakan satu selalu bikin pusing." gumam Gerald sambil memainkan ponselnya dengan gelisah.
Dia sedang mencari keponakannya yang menghilang di Taman Bermain. Sore tadi dia mengajak keponakannya bermain di tempat itu. Setelah menyusuri beberapa tempat, Gerald melihat 2 orang yang dia kenal sedang asyik bercengkrama.
Hatinya seolah mendidih, ada rasa iri dan juga benci yang bercampur jadi satu.
Dia sangat iri, karena sebenarnya sejak dulu dia sangat menyukai Ayra. Namun, dia selalu mengganggu Ayra. Sengaja membuat masalah dengan Ayra, karena itu cara dia agar bisa dekat dan mencari perhatian Ayra.
Wajahnya sudah memerah, mengepalkan kedua tangannya, rasanya dia ingin memukuli Arsen saat ini juga. Lalu dia berjalan menghampiri Ayra dan juga Arsen yang sedang berpelukan.
"Yooo Ayra! kita bertemu lagi." sapa Gerald dengan senyuman licik.
"Gerald!" seru Ayra dan Arsen secara bersamaan, lalu mereka saling pandang. Ternyata mereka sama-sama mengenal sosok Gerald.
"Oh, ternyata kalian pacaran." ucap gerald menyeringai.
"Pergi lo dari sini! ganggu orang pacaran aja." usir Arsen sambil merangkul bahu Ayra.
Mendengar kata - kata pacaran, sontak Ayra terkejut. Dia memandang wajah Arsen dengan tatapan bingung. Gerald merasa kesal. Dia mengangkat tanganya hendak memukul wajah Arsen. Namun, Ayra dengan sigap menangkis pukulan Gerald, lalu dia menarik tangan Gerald dan memutarnya ke belakang punggung Gerald
"Gue nggak mau bikin onar di sini. Urusan lo sama gue. Gue masih punya hutang pukulan sama lo. Lo siapin aja rumah sakit yang bagus, biar lo nggak mati ditangan gu." seru Ayra sembari melepaskan tangan Gerald.
Gerald semakin marah dibuatnya, bisa-bisanya dia selalu dikalahkan oleh gadis mungil yang ada didepannya. Lalu datang seorang anak kecil laki-laki menghampiri mereka.
"Om, ayo kita pulang." ajak anak kecil itu sambil menarik-narik jaket Gerald. Dengan hati yang masih menahan amarah, Gerald menggendong anak itu dan pergi meninggalkan Ayra dan Arsen.
Kini Arsen dan Ayra kembali duduk di temapt semula. Dengan santainya Arsen meminum minumannya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Ayra semakin geram dibuatnya.
"Kenapa lo bilang kita pacaran?" tanya Ayra polos.
"Gue nggak bilang tuh." jawab Arsen cuek.
"Lah tadi lo bilang ke Gerald kita pacaran." ucap Ayra gemas.
"Gue cuma mengulangi kata-kata dia aja." sangga Arsen santai.
"Kenapa?" tanya Ayra.
"Pengen aja.” jawab Arsen cuek.
"Nanti pada salah paham, dikira kita pacaran beneran." protes Ayra.
"Biarin." ucap Arsen cuek.
Nampak Ayra tidak puas dengan jawaban Arsen. Dia kesal dan mengepalkan kedua tanganya, lalu dia berdiri dan mengacak-acak rambut Arsen gemas.
Arsen tidak terima. Dia meletakan minumannya, lalu mencubit kedua pipi Ayra dengan gemas. Hati yang awalnya kesal kini melebur menjadi tawa bahagia.
Mereka bercanda sampai lelah dan akhirnya mereka kembali ketempat semula.
Arsen melirik Ayra dengan senyuman tipis, dia merasa bahagia hari ini.
Dia tidak menyadari perasaannya sendiri. Yang dia tahu hanya ingin terus mengganggu Ayra, membuatnya marah dan ingin melihatnya tersenyum. Bagi Arsen, Ayra tampak sangat menggemaskan saat marah.
Begitu juga dengan Ayra, disela-sela mereka berkelahi dia memperhatikan Arsen dengan hati yang tidak karuan. Dia selalu nyaman di dekat laki-laki yang selalu mengganggu hidupnya itu. Jantungnya selalu berdetak kencang saat mereka berdekatan. Arsen selalu dingin dengan gadis lain. Namun, berbeda saat bersama Ayra, dia bisa tersenyum dan tertawa lepas walau awalnya mereka harus berkelahi terlebih dulu. Itu yang membuat Ayra senang. Karena hanya dia yang bisa melihat senyum Arsen yang menawan.
"Dia ganteng banget kalau lagi senyum.” batin Ayra sambil tersenyum tipis.
"Eh, gue mikir apa sih?!" batin Ayra sambil menggeleng-geleng kepalanya.
"Lo kenapa?" tanya Arsen bingung melihat tingkah Ayra.
"Ng.. Nggak apa-apa." jawab Ayra.
"Oh ya, kenapa lo waktu itu ngado gue Toa sirine?" tanya Ayra penuh sidik.
"Buat ngusir preman." jawab Arsen cuek.
"Idihh, ngapain?! Gue jago berantem lagi." ucap Ayra bangga.
"Percaya deh." ucap Arsen malas.
"Apa dia bener-bener udah ngelupain gue?" tanya Arsen dalam hati.
"Embb... Kenapa gue selalu ngerasa muka lo tuh nggak asing ya?! Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ayra.
"Pernah." jawab Arsen.
"Eh seriuss?! Dimana-dimana?" tanya Ayra penasaran.
"Sirine." jawab Arsen memberi kode.
"Sirine?" Ayra tampak berpikir dan berusaha mengingat.
"Udah inget?" tanya Arsen.
"Lo tuh yang bener dong kalau ngasih tau. Jangan bertele-tele!" seru Ayra sambil memukul lengan Arsen. Arsen pun kesal dibuatnya.
"SIRINE.. SIRINE.. SIRINE..!! " teriak Arsen ditelinga Ayra. Membuat Ayra menutupi telinganya karena sakit. Lalu Arsen bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dengan hati kesal.
"Dasar cewek nggak peka!" umpat Arsen dalam hati.
Kini Ayra tampak sudah mengingat sesuatu, dia berlari mengejar Arsen. Lalu dia menarik tangan Arsen, membuat Arsen membalikan tubuhnya.
"Jadi lo cowok yang pernah gue tolongin di gang waktu itu?" tanya Ayra. Arsen hanya diam dan melipat kedua tanganya di dada sambil memajukan bibirnya kesal.
"Ahaha kenapa lo nggak bilan?!" ucap Ayra sambil tertawa melihat tingkah Arsen yang seperti anak kecil.
"Tau ah. Dasar nggak peka!" seru Arsen seraya membalikan tubuhnya dan melangkah pergi.
"Haha dasar tukang ngambek.” ucap Ayra sambil tertawa geli.
"Hey tungguin gue!" Ayra berlari menyusul Arsen lalu dia melompat ke punggung Arsen dengan mengalungkan tanganya ke leher Arsen. Sontak Arsen menangkap kaki Ayra, tubuhnya terhuyung ke depan karena kaget.
"Gendong gue sampai parkiran, dan Anterin gue pulang. Let's go..! hehe.." seru Ayra sambil tertawa. Arsen hanya tersenyum dan menggendong tubuh Ayra.
Sesampai diparkiran, Ayra turun dari gendongan Arsen. Dia memakai helm nya lalu naik ke jok motor belakang dan memeluk Arsen erat. Arsen melajukan motornya dengan hati yang berbunga-bunga.
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Ayra. Saat Ayra turun dan membuka helmnya, tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Muncullah Mama dan Papa Ayra yang hendak membeli wedang ronde di seberang jalan.
"Eh kalian baru pulang?" tanya Roland.
"Iya,Pa.” jawab Ayra sambil mencium punggung tangan mama dan papanya.
"Malam Om Tante." sapa Arsen sopan sambil mencium punggung tangan kedua orang tua Ayra.
"Kalian kencan kemana aja?" tanya Ria setengah bercanda.
"Eh, kita nggak kencan Ma. Kita main." jawab Ayra tidak terima.
"Nak Arsen, Om senang kalian bisa dekat. tapi om belum mengizinkan Ayra buat pacaran dulu. Biar fokus sama sekolahnya. Apa kamu mau menunggu Ayra sampai lulus sekolah?" tanya Roland setengah mencandai Arsen.
Dia tahu mereka berdua saling tertarik. Dan dia tidak mempermasalahkan kedekatan puterinya dengan Arsen. karena Arsen anak yang baik dan juga putra dari sahabatnya, Angel dan William.
"Papa ngomong apaan sih?!" seru Ayra. Dia terkejut dengan ucapan Papanya.
"Ah iya Om, Arsen akan menunggu Ayra sampai lulus sekolah. Hehehe... " jawab Arsen sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Ayra sangat malu dengan jawaban Arsen. Dia bingung kenapa Arsen bisa berbicara seperti itu. Lalu dia langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa menghiraukan Arsen dan kedua orang tuanya.
"Ya sudah, Arsen pulang dulu Om, Tante." izin Arsen dan mencium punggung tangan kedua orang tua Ayra.
"Baiklah. Ini sudah malam, kamu hati-hati. Jangan ngebut. Salam buat Ayah dan Bundamu, ya." ucap Ria.
"Iya, Tante. Asalamualaikum." ucap Arsen.
"Waalaikumsalam." ucap papa Roland dan mama Ria serentak.
Sementara di kamar, Ayra merentangkan tubuhnya di atas kasur. Dia tersenyum meninggat kejadian hari ini bersama Arsen. Ada rasa bahagia saat mengingat ucapan Arsen pada Ayahnya.
"Apa maksudnya Si Kampret satu itu bilang mau nungguin gue sampai lulus sekolah? Hahaha.... Bikin hati gue nggak tenang aja, sial." gumam Ayra sambil tak berhenti tertawa.
Lalu dia membuka galery ponselnya. Dia melihat foto-foto berdua bersama Arsen yang dia ambil saat di museum, di bioskop dan juga taman bermain.
Dia tidak menyangka orang yang sangat menyebalkan itu adalah orang yang pernah dia tolong.
Di tempat lain, tampak Gerald sedang memukuli samsak yang ada di dalam kamarnya. Dadanya terasa sesak mengingat Ayra sedang berpelukan dengan Arsen.
"Aarrggh.. Sial!" seru Gerald sambil meninju samsak dengan kerasnya.
Dia duduk di bibir kasur sambil meminum air putih di dalam gelas. Lalu dia membanting gelas itu ke lantai hingga menjadi pecahan-pecahan kecil seperti hatinya saat ini.
"Ayra, gue nggak akan biarin lo jadi milik orang lain!" tegas Gerald sambil mengepalkan tanganya.
Di kediaman keluarga William.
Arsen baru saja sampai di rumahnya. Dia masuk mengendap-endap melalui pintu samping. Tampak ruangan itu sedikit gelap. Arsen merasa lega. Dia pikir keluarganya sudah tidur. Tiba-tiba lampu menyalah dan dia berhenti karena kaget.
"Dari mana kamu?" tanya Ayah William. Sambil melipat kedua tanganya di dada.
"Eh, Ayah. Hehehe... " ucap Arsen nyengir.
"Jangan cengengesan! Jawab Ayah, dari mana saja kamu seharian ini?" tanya William dengan nada sedikit meninggi.
"Main sama temen." jawab Arsen dengan wajah datarnya.
"Apa kamu tahu, Bunda mu menangis seharian memikirkan kamu yang selalu kabur-kaburan." omel William.
"Maaf." ucap Arsen.
"Haiisshh.. Kenapa kamu salalu membuat kami khawatir seperti ini sih?!" ucap William.
"Aku hanya ingin menikmati hidupku yang singkat ini." ucap Arsen.
"Tolong jangan bicara seperti itu, nak. Ayah sudah persiapkan semuanya. Kita segera berangkat ke China, bagaimana?" William menawari.
"Nanti aku pikirkan lagi, aku capek. Aku ke kamar dulu, yah." ucap Arsen sembari berjalan menuju kamarnya.
"Baiklah, jangan lupa minum obatmu." ucap William.
"Kenapa susah sekali membujuk anak itu, keras kepala." batin William sambil memijit pelipisnya pusing.
Sementara di kamar, Arsen langsung masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah selesai, dia keluar dari kamar mandi dan duduk bibir kasur lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia mengingat kejadian-kajadian hari ini. Dan tingkah Ayra yang lucu, membuat hatinya terasa bahagia. Dia tersenyum melihat foto-foto dirinya bersama Ayra. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ternyata ada pesan dari Ayra.
*Ayra"
[Uda sampai?]
*Arsen*
[Udah, kenapa? Lo masih kangen sama gue?]
*Ayra*
[Idihh. PD banget lo.]
*Arsen*
[Jujur aja.]
*Ayra*
[Nggak! Gue cuma nurutin perintah nyokap gue, suruh nanyain, lo udah sampai apa belum. Takutnya lo nyungsep di got!]
*Arsen*
[Alesan]
*Ayra*
[Serahh ah. Gue capek, mau bobok cantik. Bye!]
Arsen tersenyum membaca balasan dari Ayra. Tiba-tiba dia merasa kepalanya sedikit pusing. Segera dia bangun terduduk. Dia merasa ada yang menetes di ditangannya. Ternyata itu adalah darah yang keluar dari lubang hidungnya. Segera dia mengambil tissue yang ada di atas meja, dia menyumpalnya dan mendongakan kepalanya.
Lalu dia baangun menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan tangannya. Setelah itu dia keluar, mengambil obat dan meminumnya. Lalu dia membaringkan tubuhnya yang lemas di atas kasur dan akhirnya dia pun terlelap.
📽To be continue🎞
hai bang!